مشاركة

Bab 2

مؤلف: Selamat
Renna bertanya sambil mengusap perutnya, "Bagaimana hasil pemeriksaan kehamilannya? Perkembangan bayinya baik? Oh ya, pihak rumah sakit bilang akan mengundang seorang dokter kandungan terhebat untuk menangani persalinanku sepenuhnya. Mana orangnya?"

"Ini dia, namanya Cla ...."

Aku segera memotong ucapan perawat itu, "Catatan pemeriksaan kehamilan perlu ditandatangani oleh anggota keluarga."

Renna menggoyang ponselnya. "Suamiku sedang rapat, tapi sebentar lagi dia akan menelepon. Kalau ada hal-hal penting yang perlu disampaikan, kalian bisa ...."

Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, ponsel Renna berdering. Renna sengaja menyalakan pengeras suara agar semua orang bisa mendengar suara James yang serak.

"Renna, pemeriksaan kehamilannya lancar?"

Kuku jariku menancap ke telapak tangan. Dahulu, suara ini pernah membujukku minum obat dengan lembut saat aku demam tinggi di tengah malam, tetapi kini suara ini berbicara dengan wanita lain di telepon dengan penuh perhatian.

Renna menjawab dengan manja, "Lancar, tapi dokter bilang ibu hamil perlu menjaga suasana hati tetap bahagia agar bayi bisa berkembang sehat ...."

James tertawa. "Baik, aku mengerti. Tuan putriku, tadi aku sudah membeli Manor Mawar yang kamu suka itu. Senang?"

"Senang. Terima kasih, Sayang. Muah!" jawab Renna dengan antusias dan melayangkan sebuah ciuman.

Aku terhuyung-huyung mundur dan menabrak troli peralatan sampai baki logam berderak keras.

Renna mengernyitkan alisnya. "Dokter, kamu kenapa? Baik-baik saja, 'kan?"

"Baik-baik saja."

Aku meraih map rekam medis dan berlari keluar.

Dari belakang, terdengar tawa sinis dari Renna. "Apa nama dokter kalian ini? Kenapa begitu nggak stabil? Jangan-jangan gelar dokter kandungan terhebat itu palsu."

Saat hujan deras menghantam wajahku, aku sedang berdiri di bawah gedung Grup Polin dan berniat bertanya pada James mengapa berselingkuh. Dinding kaca memantulkan wajahku yang pucat, bertumpuk dengan bayangan lima tahun lalu saat James berlutut dengan satu lutut untuk memakaikan cincin di jariku.

"Bos, soal Nona Renna ...."

Saat terdengar samar-samar suara yang familier, aku segera bersembunyi di balik pot bunga.

Terlihat penasihat James sedang menundukkan kepala dengan hormat sambil berkata, "Tapi, soal pihak Nyonya, bagaimana kalau dia sampai menuntut cerai saat tahu tentang Renna?"

Terdengar suara langkah sepatu kulit James Polin mendekat. "Dia nggak akan. Dia sangat mencintaiku, dia nggak bisa hidup tanpaku. Meskipun dia ingin bercerai, aku juga nggak akan membiarkannya pergi. Yang lebih pentingnya, dia nggak akan mengetahuinya. Aku sudah menyiapkan semuanya di luar negeri. Beberapa hari lagi, aku akan mengirim Renna ke luar negeri."

Asisten itu menyeka keringat. "Tapi, bagaimana kalau seandainya ...."

"Nggak ada seandainya."

James memperingatkan, "Jaga mulutmu baik-baik. Renna sudah janji padaku akan bersikap patuh, nggak akan membocorkan hubungan rahasia kami ini."

James Polin menggigit cerutu dan mengisapnya dalam-dalam, lalu mengibaskan tangan memberi isyarat agar orang-orang pergi.

"Mengerti," jawab penasihat itu, lalu membungkuk dan mundur.

Aku menggigit pergelangan tanganku dengan kuat sampai rasa amis darah menyebar di mulut. Saat itu, ponselku tiba-tiba bergetar dan ternyata itu dari kakak senior di pusat medis di Califarila.

"Clara, kamu benar-benar sudah mempertimbangkan baik-baik untuk bergabung dengan tim kami?"

Suara hujan menenggelamkan isakku dan aku menatap ke arah lift tempat James menghilang. "Tiga hari lagi aku akan naik pesawat ke Lavas. Aku harap kalian bisa membantuku menghapus identitas kependudukan di dalam negeri agar aku menghilang dan nggak ada seorang pun yang bisa menemukanku."

Kakak senior itu langsung menyetujuinya. "Tentu saja bisa."

Aku tahu James tidak akan membiarkanku pergi, sehingga aku akan menghilang diam-diam. Clara Lestari akan lenyap dari dunia ini.

Dari kantor pulang ke rumah, perjalanan yang biasanya aku tempuh dalam satu jam pun kini menjadi empat jam. Selama perjalanan itu, air mataku tidak berhenti mengalir. Meninggalkan seseorang yang pernah sangat aku cintai bukan hal yang mudah.

Saat aku tiba di rumah, James berlari mendekat dan memelukku.

"Kamu ke mana saja? Aku hampir gila mencarimu," kata James dengan setelan yang kusut, rambut berantakan, dan mata memerah.

Aku mencium aroma parfum yang sangat familier di tubuhnya. Itu milik Renna, bau parfum yang manisnya menyengat sampai menusuk hidung.

"Mobilku mogok dan ponselku kehabisan baterai, jadi aku pulang jalan kaki. Aku agak capek," kata aku sambil perlahan-lahan melepaskan diri dari pelukan James.

"Tuan putriku pasti capek sekali ya. Nanti aku bantu pijat kamu. Kamu lupa ya, hari ini adalah hari jadi pernikahan kita. Lihat, aku membelikanmu hadiah," kata James sambil mengangkat wajahku.

Begitu kotak beludru dibuka, terlihat sepasang anting rubi. Aku mengenali desainnya, satu seri dengan cincin merpati darah yang dipakai Renna.

"Aku tahu tanganmu akan melakukan operasi, jadi kurang nyaman. Aku sengaja minta desainer mengubahnya jadi anting-anting. Satu-satunya di dunia," kata James sambil mengusap cuping telingaku.

Aku menatap mata James cukup lama. Jelas-jelas rubi itu sudah diberikan pada Renna, sedangkan anting-antingku hanya sisa pinggirannya. Namun, cara James berbicara seolah-olah aku memiliki segalanya.

"Batu itu terlihat begitu besar, kenapa jadi anting-anting yang begitu kecil?" tanyaku sambil berpura-pura tidak peduli.

Mungkin tidak menyangka aku akan mempermasalahkan detail seperti ini, James sempat tertegun sejenak baru segera bereaksi. "Kecil ya? Nggak kecil kok. Nanti aku akan tanya, jangan-jangan desainernya menyembunyikan batunya."

Saat mengatakan itu, ekspresi Janice terlihat penuh amarah dan siap menelepon untuk memarahi.

Saat itu, perutku tiba-tiba perutku bergejolak hebat, sehingga aku mendorong James dan berlari ke kamar mandi.

"Lara? Apa kamu salah makan?" tanya James sambil mengetuk pintu dari luar dengan cemas.

Aku bersandar di kloset sambil berusaha muntah, tetapi aku mendengar ponsel James yang berada di ruang tamu bergetar. Melalui celah pintu, aku melihat James melirik layar ponselnya.

James mengernyitkan alisnya dan ragu sejenak, lalu tetap mengangkatnya. Di layar itu, tertulis nama Tuan Putri Renna. Dia pun berkata dari balik pintu, "Ada urusan mendesak di kantor. Aku segera kembali menemanimu merayakan hari jadi."

Setelah mendengar suara pintu tertutup, aku baru berani menggenggam alat tes kehamilan yang tergeletak di wastafel sejak pagi. Dua garis pada alat tes itu adalah hadiah yang sebenarnya ingin aku berikan pada James. Anakku malah datang setelah ayahnya berselingkuh dan tepat saat aku memutuskan untuk melepaskan pernikahan ini.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 7

    Aku menggandeng Yoshua, lalu berbalik dan hendak pergi. Namun, James tiba-tiba maju dan meraih pergelangan tanganku. Aku segera melepaskan tangannya sampai membuatnya terhuyung-huyung dan menabrak tiang lampu di pinggir jalan."Lara ...."James berkata dengan suara bergetar dan mata merahnya menakutkan. "Aku salah, benar-benar salah ...."Aku tersenyum sinis. "Pak, sepertinya kamu sudah mengkhianati kekasihmu. Kalau sudah mengkhianati dan menyakiti, itu nggak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Aku nggak tahu siapa itu Lara yang kamu maksud, tapi aku rasa dia pasti nggak mau melihatmu."James tiba-tiba berlutut di tanah, lalu kedua tangannya mencengkeram ujung celanaku dengan erat. "Lara, aku akan melakukan apa pun yang kamu suruh, asalkan kamu nggak meninggalkanku."Yoshua hendak maju, tetapi aku mengangkat tangan dan menghentikan Yoshua.James melanjutkan, "Lara, tolong jangan pura-pura nggak mengenalku, jangan abaikan aku ...."Aku menarik napas dalam-dalam, merasa terus melarikan dir

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 6

    Sebulan kemudian, aku berdiri di lorong rumah sakit di Califarila dan bau disinfektan tidak membuatku sesak napas lagi. Apa yang dikatakan Jilia benar, langit di sini memang biru dan cahaya matahari yang hangat menyinari jas putihku."Dokter Clara, pasien di ranjang nomor tiga dalam kondisi kritis!"Saat seorang perawat berlari mendekat, buku rekam medis yang aku pegang hampir saja terjatuh. Begitu memasuki ruang bersalin, aku melihat pasien mengalami pendarahan hebat dan seprai sudah menjadi warna merah karena darah. Jemariku secara refleks mulai memeriksa, lalu berkata dengan suara bergetar, "Siapkan transfusi darah, hubungi bank darah, dan beri tahu ruang operasi.""Dokter Clara?" panggil seseorang dengan lembut dari belakang.Saat menoleh, aku melihat ternyata orang itu adalah kakak senior, Yoshua. Dia mengenakan baju operasi hijau gelap dan tatapan di balik kacamata berbingkai emas terlihat fokus serta tenang."Aku yang akan menjadi dokter utama, kamu bantu aku sebagai asisten," k

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 5

    James mundur dengan terhuyung-huyung sampai punggungnya menghantam dinding yang dingin. Dia langsung tenggelam dalam penyesalan dan jantungnya seolah-olah diremas oleh tangan yang tak kasatmata hingga dia kesulitan bernapas.Seperti orang gila, James berlari kembali ke kantor dan menendang meja kerja sampai terbalik. Berkas-berkas serta komputer berserakan di lantai dan bingkai foto kaca pecah menjadi serpihan, lalu setiap kepingnya memantulkan wajahnya yang berubah."Cari. Tutup seluruh kota. Kerahkan semua kekuatan. Meskipun harus membalikkan tanah, aku juga harus menemukannya," teriak James sampai urat lehernya menonjol.Para anggota mafia belum pernah melihat bos mereka begitu kehilangan kendali, mereka menundukkan kepala dan menjawab secara serentak.James meninju dinding sampai jemarinya langsung berdarah. Selama tiga hari tiga malam itu, bandara, pelabuhan, stasiun, dan semua titik yang mungkin menjadi jalur keluar diperiksa habis-habisan. Namun, bayangan Clara tetap tidak terli

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 4

    Karena bau disinfektan yang menusuk hidung hingga terasa perih, aku tiba-tiba membuka mata dan wajah sahabatku, Jilia, perlahan-lahan menjadi jelas dalam pandanganku."Kamu sudah sadar?"Jilia segera menahan tubuhku yang hendak bangun. "Jangan sembarangan bergerak, kamu baru saja selesai operasi."Aku menatap retakan di langit-langit, lalu berkata dengan suara serak, "Anakku ...."Jilia menggenggam tanganku dengan erat dan matanya memerah. "Sudah nggak ada, tapi kamu masih hidup."Rasa nyeri menjalar dari perutku, seperti sebuah pisau perlahan-lahan mengiris dagingku. Aku memejamkan mata, lalu air mata mengalir dari pelipis ke bantal.Jilia meletakkan berkas di meja samping ranjang. "Aku sudah bilang ke Kakak Senior soal urusanmu. Dia membantumu menunda tanggal masuk kerja. Tunggu sampai kamu pulih, kamu baru pergi. Dia juga bilang identitasmu sudah dihapus, James nggak akan bisa menemukan Clara Lestari lagi."Aku menatap mata Jilia yang memerah, lalu menggenggam tangan Jilia dengan ku

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 3

    Seolah-olah hatiku ditusuk banyak pisau, aku duduk kaku di sofa dan menatap foto pernikahan di dinding sampai fajar menyingsing. Air mataku mengalir semalaman dan James juga tidak pulang semalaman. Di ponselku, hanya ada unggahan Instagram terbaru dari Renna yang bertuliskan bayinya bilang rindu Papa dan foto yang menyertainya adalah James mencium perutnya.Satu malam berlalu, aku akhirnya membuat keputusan. Aku akan mempertahankan bayiku dan membawanya ikut menghilang bersamaku. Aku pergi ke rumah sakit untuk mengajukan surat pengunduran diri."Dokter Clara, hari ini langsung pergi ya?"Kepala bagian menyerahkan berkas dengan ragu, lalu menghela napas. "Tinggallah satu hari lagi. Rekan-rekan di bagian ini masih ingin berpamitan denganmu."Aku menggenggam pena dengan erat sampai jemariku memucat. "Baik."Di ruangan VIP yang bau disinfektannya menusuk hidung, Renna sedang mencoba tas kulit buaya edisi terbatas saling bercermin. Begitu melihatku masuk, dia langsung meninggikan suaranya.

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 2

    Renna bertanya sambil mengusap perutnya, "Bagaimana hasil pemeriksaan kehamilannya? Perkembangan bayinya baik? Oh ya, pihak rumah sakit bilang akan mengundang seorang dokter kandungan terhebat untuk menangani persalinanku sepenuhnya. Mana orangnya?""Ini dia, namanya Cla ...."Aku segera memotong ucapan perawat itu, "Catatan pemeriksaan kehamilan perlu ditandatangani oleh anggota keluarga."Renna menggoyang ponselnya. "Suamiku sedang rapat, tapi sebentar lagi dia akan menelepon. Kalau ada hal-hal penting yang perlu disampaikan, kalian bisa ...."Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, ponsel Renna berdering. Renna sengaja menyalakan pengeras suara agar semua orang bisa mendengar suara James yang serak."Renna, pemeriksaan kehamilannya lancar?"Kuku jariku menancap ke telapak tangan. Dahulu, suara ini pernah membujukku minum obat dengan lembut saat aku demam tinggi di tengah malam, tetapi kini suara ini berbicara dengan wanita lain di telepon dengan penuh perhatian.Renna menjawab d

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status