Share

Bab 5

Author: Ansa
Renata pulang seorang diri. Setelah selesai merapikan barang-barangnya, barulah dia menemui konsultan hukum yang tinggal di dekat kompleks kediaman tentara.

"Renata, 'kan Komandan Kristo udah ambil surat permohonan cerainya dari tadi?"

Renata tertegun, tidak langsung mengerti apa yang dimaksud orang itu.

"Kamu ngomong apa?"

"Tadi pagi Komandan Kristo datang suruh aku siapkan surat permohonan cerai secepatnya. Katanya dia mau ceraikan kamu, terus barusan datang lagi buat ambil suratnya. Aku juga merasa aneh, padahal tiga tahun lalu Komandan Kristo bilang nggak akan pernah ceraikan kamu lagi ...."

Mendengar ucapan pengacara itu, Renata malah tertawa.

Padahal tadi siang di pos kesehatan, pria itu masih bilang tidak akan menceraikannya.

Tapi, tahu-tahu langsung menyuruh pengacara menyiapkan surat perjanjian cerai. Ironis sekali!

Setelah cukup lama berdiam diri, Renata baru perlahan bersuara, "Oke."

Begitu sampai di rumah, Renata akhirnya runtuh juga.

Dia mendongak, tatapannya tertuju pada bingkai foto di kepala ranjang.

Di foto itu, Kristo memakai setelan jas kemeja, tampak gagah dan bersemangat, sedangkan dia mengenakan kemeja bermotif bunga, tersenyum begitu bahagia.

Namun, senyuman itu justru membuat hatinya teriris.

Dia sekalian mengambil gunting, merobek foto pernikahan mereka berdua, lalu melemparkan serpihan-serpihan kertas itu dengan emosi ke arah pintu kamar.

Tampak bersamaan, pintu kamar didorong dari luar, lalu sosok Kristo muncul di hadapannya.

Tepat saat itu, bingkai foto melayang dan mengenai tubuhnya.

Foto pernikahan jatuh berantakan di lantai. Pria itu menunduk, melihat foto yang sudah sobek-sobek, lalu membungkuk tanpa bersuara untuk memungutnya.

"Renata."

Saat Kristo melangkah masuk sambil menyamping, Renata baru melihat wanita di belakangnya.

Persis seperti tiga tahun lalu, Kristo kembali membawa Winny pulang ke rumah.

Wanita itu menggendong anaknya sambil hati-hati berkata, "Kristo, bicara baik-baik sama Renata, jangan sampai kalian bertengkar gara-gara aku."

Usai bicara, dia membuntuti asisten rumah tangga menuju kamar yang pernah ditempatinya dulu.

"Tadinya aku mau biarkan Winny tetap tinggal di pos kesehatan, tapi karena kamu udah tahu, aku juga nggak tega biarkan dia sendirian di sana."

Kristo menata kembali foto itu, lalu berbalik mendekati Renata dan berkata dengan nada lembut, "Untung aja anaknya nggak apa-apa. Winny tahu kamu nggak sengaja, jadi dia mau maafin kamu. Renata, janji ya sama aku, nanti-nanti jangan buat hal yang melukai anak itu lagi, ya?"

Renata menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pria itu ikut membisu sejenak, sebelum akhirnya mengeluarkan surat permohonan cerai itu.

"Renata, Winny nggak punya niat aneh-aneh kok. Dia cuma mau menggelar syukuran sebulan bayinya secara terang-terangan. Jadi, bisa nggak kita cerai dulu? Nanti kalau syukuran bayinya udah selesai, kita rujuk lagi. Cuma sebulan, paling lama sebulan. Begitu anak kita lahir, aku bakal langsung ajak kamu rujuk."

Renata melirik kolom tanda tangan, Kristo rupanya sudah membubuhi tanda tangannya di sana.

Di detik ini, dia tidak merasa sedih ataupun kecewa, yang tersisa hanyalah rasa lega.

"Boleh."

Dia mengangguk, lalu meraih pulpen di sampingnya dan membubuhi tanda tangannya di atas kertas itu.

Ini kedua kalinya dia menandatangani surat permohonan cerai dengan Kristo. Dia bersumpah tidak akan ada yang ketiga kalinya.

Rujuk?

Mimpi!

"Renata, kamu baik banget."

Kristo menggenggam surat permohonan cerai yang sudah ditandatangani itu dengan gembira, lalu hendak memeluk Renata.

Namun, Renata melangkah mundur perlahan sambil berkata pelan, "Sana kasih lihat ke Winny, dia pasti senang banget."

"Nggak salah lagi kamu memang Renata-ku, selalu dermawan dan baik hati! Aku bakal langsung kasih lihat ke Winny."

Kristo bergegas berbalik keluar dari kamar.

Menatap punggung pria itu, sudut bibir Renata terangkat membentuk ukiran senyum menyindir.

"Kristo ya Kristo, apa kamu nggak tahu, kalau seorang wanita udah nggak peduli lagi sama kamu, itu tandanya dia udah nggak cinta lagi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 23

    "Renata ...."Kristo tahu perkataan apa pun yang diucapkannya tidak akan pernah bisa menyampaikan rasa penyesalannya.Dia berlutut di tanah tepat di hadapan Renata, menatapnya dengan kedua mata yang memerah darah, "Aku tahu aku ngomong apa pun udah nggak ada gunanya, tapi kamu tega lihat anak sekecil ini tumbuh tanpa sosok ayah?""Siapa bilang dia nggak punya ayah?"Renata mengangkat alisnya, "Nanti aku bakal ketemu lelaki yang jauh lebih baik, dia bakal punya ayah. Walaupun nggak ada, dia juga nggak bakal sudi mengakui bajingan kayak kamu sebagai ayahnya! Kristo, kalau kamu masih punya sedikit aja hati nurani, sekarang juga balik dan jangan pernah muncul lagi di depan aku sama putriku! Kalau nggak, aku bakal bawa putriku pindah ke tempat yang nggak bakal pernah bisa kamu temukan!""Harus banget kayak gini?"Kristo menangis, dia benar-benar merasakan rasa sakit yang teramat dalam."Kenapa nggak bisa kayak tiga tahun lalu, kasih aku kesempatan terakhir sekali lagi? Sekali ini aja, boleh

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 22

    "Renata, bayinya belum meninggal, 'kan? Bayi kita belum meninggal, 'kan?""Renata, keluar ketemu aku! Aku mau lihat bayi kita, kenapa kamu tega bohongi aku! Kenapa bayinya belum meninggal, tapi kamu bilang udah meninggal!"Dia seperti orang gila menarik-narik pagar besi sambil berteriak keras, hingga para tetangga sekitar berhamburan keluar untuk menonton.Di dalam rumah, Renata sedang memangku bayinya sambil mengajak bermain. Saat mendengar suara berisik Kristo, sudut bibirnya mengukir segaris senyum sindiran.Pria itu masih punya muka buat bertanya kenapa?Kalau hari itu anak buahnya tidak luluh dan membawanya ke pos kesehatan.Jangankan bayinya, nyawanya sendiri mungkin sudah melayang.Bayi ini adalah buah perjuangan yang hampir menukarkan nyawanya, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kristo."Berengsek si Kristo ini, aku harus keluar buat hajar dia sampai sadar!"Kevin mengomel dan berniat menerobos keluar, tapi Renata yang melihat pria itu dikerumuni tetangga akhirnya mem

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 21

    "Si Kristo ini sebenarnya mau ngapain sih?"Begitu mengetahui hal ini, Kevin langsung mengomel, mau mendatangi rumah seberang untuk membuat perhitungan dengan Kristo.Renata tidak bisa melakukan apa-apa selain memintanya untuk tetap tenang.Kristo baru saja menyuruh asisten rumah tangga untuk memasukkan dan menata furniture barunya, begitu berbalik dia melihat Kevin sudah berdiri di belakangnya."Ayah! Akhirnya Ayah mau ketemu sama aku.""Tunggu dulu, ada baiknya Komandan Kristo jaga tata cara manggil orang. Kamu sama anakku udah cerai, aku bukan ayahmu, seterusnya juga nggak bakal jadi ayahmu."Kevin memotong ucapannya, lalu bertanya dengan suara berat, "Aku mau tanya, kamu beli rumah ini sebenarnya mau ngapain?""Ayah, aku tahu aku salah. Kedatanganku kali ini cuma mau mohon ampun dan minta maaf sama Renata."Kristo mengerutkan dahi, nadanya terdengar begitu rendah dan memohon, "Kalau Renata nggak mau maafkan aku, aku bakal tinggal di sini selamanya, sampai dia mau maafkan aku.""Hal

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 20

    Di kediaman Keluarga Adista.Waktu sudah sore saat Kristo sampai.Dia menaiki kereta seharian penuh hingga tubuhnya terasa sangat lelah.Namun, tanpa beristirahat sedikit pun, dia langsung bergegas menuju kediaman Keluarga Adista.Tiga tahun lalu, dia juga menjemput Renata dari tempat ini.Waktu itu di hadapan ayah dan ibu Renata, dia berjanji seumur hidup ini tidak akan pernah mengecewakan Renata lagi.Namun, baru tiga tahun berlalu, dia sudah membuat kesalahan lagi.Bahkan kesalahan kali ini jauh lebih parah ketimbang tiga tahun lalu.Dia tidak cuma malu bertemu Renata, tapi juga tidak punya muka lagi di hadapan ayah dan ibunya."Permisi Pak, cari siapa ya?"Asisten rumah tangga Keluarga Adista melihat pria itu celingukan di depan pintu, lalu menegurnya penuh waspada, "Kalau nggak ada urusan tolong pergi, atau saya panggilkan polisi."Itu adalah asisten rumah tangga baru yang tidak mengenali Kristo."Saya suaminya Renata, saya mau cari dia.""Kamu mantan suaminya nona kami?"Nasib da

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 19

    "Hahaha!"Kristo mendadak tertawa.Sampai di titik ini rasanya memang sudah pantas dapat karma dia, rasakan sendiri akibatnya!"Kristo, dengarkan penjelasanku dulu, kamu beneran salah dengar, anak itu anakmu!"Winny memberanikan diri berjalan mendekat untuk memegang lengannya, tapi langsung ditepis kasar oleh pria itu."Jangan sentuh aku, cewek murahan dan menjijikkan! Aku kasih kamu kesempatan terakhir, jujur sama aku, anak itu beneran anakku atau bukan!""Jangan sampai setelah hasil tes DNA keluar baru kamu menyesal, saat itu udah terlambat.""Kristo!"Begitu kalimat itu terucap, Winny seketika berlutut di hadapannya sambil menangis sesenggukan, "Waktu itu kecelakaan, hari itu aku telepon suruh kamu datang ke rumahku, tapi kamu nggak mau, aku emosi terus pergi minum-minum. Pas bangun tidur, aku ... itu beneran kecelakaan! Aku sama sekali nggak kenal sama cowok itu, setelah itu aku juga nggak pernah berhubungan lagi sama dia!""Kamu harus percaya sama aku, walau anak ini nggak ada hub

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 18

    Di dalam mobil, saat Kristo mendengar kabar dari anak buahnya, raut wajahnya sudah berubah sangat suram.Padahal stasiun kereta sudah tepat berada di depan mata, waktu keberangkatan kereta pun sudah makin dekat.Tapi, Winny malah nekat main gila mau mati segala!Kalau wanita itu mau mati sendiri ya terserah, ini malah mau bawa bayinya mati bersama. Wanita itu benar-benar sudah gila!"Gimana ini Komandan Kristo, apa kita tetap ke stasiun?""Winny itu orang gila, dia bisa melakukan hal gila apa aja. Kalau aku beneran pergi, dia mungkin benar-benar bakal bawa anak itu mati bareng."Kristo mengalihkan pandangannya dari stasiun, suaranya terdengar gemetar, "Putar balik.""Siap!"Mobilnya baru mau sampai di dekat rumah ketika anak buahnya menelepon lagi, mengabarkan kalau Winny kehabisan banyak darah dan sudah dilarikan ke pos kesehatan, sementara bayinya baik-baik saja.Karena sudah kelewatan jam keberangkatan, Kristo terpaksa menyusul pergi ke pos kesehatan.Baru tiba di depan pintu kamar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status