Share

Bab 4

Author: Ansa
Keluar dari pos kesehatan, Renata menyusuri jalanan untuk berjalan pulang ke kompleks kediaman tentara.

Baru sampai di depan pintu, dia melihat Kristo berdiri di sana dengan dahi berkerut rapat.

"Kamu dari mana aja?" Nada bicaranya sedikit melembut, "Kamu beneran nggak enak badan?"

Dia tadinya ingin marah, tapi wajah wanita itu tampak pucat pasi, benar-benar seperti sedang sakit.

Nada bicara Renata terdengar tenang, "Iya, tadi kamu sendiri yang dorong aku sampai jatuh, kamu nggak ingat?"

Kristo baru teringat, dia tadi tidak sengaja menabraknya.

"Maaf, tadi aku terlalu panik, kamu ada yang luka nggak?"

Renata tidak menjawab, dia hanya bertanya, "Gimana keadaan anaknya Winny?"

"Untung aja nggak apa-apa, kalau nggak, itu menyangkut nyawa orang."

Kristo menarik napas dalam-dalam, melangkah mendekatinya, lalu berkata dengan suara lembut, "Nanti-nanti jangan emosian lagi, ya? Anaknya masih kecil banget, kamu kok tega-teganya kasar sama dia?"

Renata mendongak, menatap pria di hadapannya, lalu mendadak merasa pria ini sangat asing.

"Di matamu, aku orang yang kayak gitu, ya? Kalau aku bilang Winny yang sengaja menyodorkan anaknya buat aku pukul, kamu percaya nggak?"

"Renata!" Wajah Kristo seketika berubah muram, "Bisa nggak berhenti fitnah Winny? Udah tiga tahun, kenapa kamu masih aja kayak gini?"

Sudah diduga, pria itu tidak percaya.

Dia teringat tiga tahun lalu, saat Winny pertama kali datang ke rumah, wanita itu sengaja menyiramkan air panas ke tubuhnya sendiri lalu menuduh Renata yang melakukannya.

Kemudian saat pergi ke toko serba ada bersama, Winny jatuh dari anak tangga lalu menuduh Renata yang menengkasnya.

Bahkan ada satu kali Winny memegang gunting dan melukai dirinya sendiri, lalu menangis sambil berkata bahwa Renata ingin membunuhnya.

Berulang kali difitnah, berulang kali pula pria itu membela Winny. Dia pikir setelah rujuk kembali semuanya akan berbeda, tapi tidak disangka, tetap saja sama seperti dulu.

Renata benar-benar sudah lelah.

"Kristo, tadi kamu bilang setuju buat cerai, apa itu masih berlaku?"

Mendengar ucapan cerai darinya, Kristo bergegas membujuknya, "Renata, kamu udah hamil delapan bulan, ngapain lagi ribut-ribut mau cerai? Ucapan aku tadi cuma emosi sesaat, kamu jangan masukin ke hati, aku nggak bakal ceraikan kamu."

Renata balik bertanya, "Kamu nggak takut anakmu dikatain anak haram sama orang-orang?"

Kristo tertegun, "Aku cuma nggak mau cerai sama kamu, orang yang paling aku cintai itu cuma kamu. Sama Winny, aku cuma sebatas tanggung jawab. Yadi itu temanku, sebelum meninggal dia titipkan Winny sama aku, aku nggak bisa lepas tangan gitu aja. Dia punya depresi, kamu 'kan tahu sendiri."

Renata mendadak tertawa, "Punya depresi, makanya harus tidur sama kamu? Harus punya anak juga sama kamu? Kristo, kamu sama sekali nggak punya batasan ya sama dia?"

Renata tentu tahu Winny mengidap depresi.

Tiga tahun lalu, justru karena depresi wanita itulah Renata dan Kristo ribut besar hingga hendak bercerai.

Setelah suami Winny meninggal, Kristo membawanya pulang ke rumah.

Selama rentang waktu itu, wanita itu tidak mengizinkan Kristo berhubungan intim dalam bentuk apa pun dengan Renata.

Tidak boleh bergandengan tangan, tidak boleh berpelukan, tidak boleh berciuman, bahkan berhubungan suami istri pun tidak boleh.

Setiap kali Kristo mengabaikannya sedikit saja, Winny akan mencoba bunuh diri atau melukai dirinya sendiri.

Lama-kelamaan Kristo makin dekat dengannya, saat malam hari bahkan menginap di kamarnya untuk menemaninya.

Renata juga bisa cemburu dan bisa marah, tapi pria itu hanya membalas santai, "Yadi itu teman baikku, Winny orang yang paling Yadi sayangi, aku juga nggak punya pilihan lain, kamu nggak bisa ngertiin aku apa?"

Renata terus bersabar, hingga akhirnya dia menyaksikan sendiri mereka berhubungan badan di atas ranjangnya.

Saat itulah dia tidak sanggup lagi menahannya dan menuntut perceraian!

Tidak disangka tiga tahun sudah berlalu, pria itu masih ingin menggunakan alasan yang sama untuk berselingkuh secara terang-terangan.

Sungguh sangat menjijikkan!

"Anak itu udah lahir, nanti aku nggak bakal nyentuh dia lagi. Kalau kamu nggak suka, akta kelahiran anaknya bisa diurus di tempat lain ...."

Belum selesai Kristo berbicara, wanita yang berdiri tidak jauh dari sana seketika menangis.

"Kristo, yang kamu omongin itu beneran? Kamu nggak mau nampung aku sama anak kita lagi, 'kan?"

Winny mengenakan pakaian tipis, berdiri lemas di tempatnya seolah bisa ambruk kapan saja.

"Aku paham, aku bakal bawa anak ini pergi jauh-jauh, nanti kami nggak bakal muncul lagi di depanmu."

Winny berlari pergi sambil menangis. Kristo mengerutkan dahi, baru saja hendak melangkah, lengannya sudah ditahan oleh Renata.

Suaranya gemetar saat memohon padanya untuk yang terakhir kali, "Kristo, jangan pergi."

"Renata, maaf, aku takut Winny kenapa-napa."

Kristo sempat ragu, tapi pada akhirnya tetap mengempaskan tangan Renata dan mengejarnya tanpa ragu.

Renata menatap telapak tangannya yang kosong, hatinya benar-benar sudah mati total.

Kristo, karena kamu begitu tidak rela melepaskannya, kalau begitu biarlah aku mengambil anak ini dan membuang ayahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 23

    "Renata ...."Kristo tahu perkataan apa pun yang diucapkannya tidak akan pernah bisa menyampaikan rasa penyesalannya.Dia berlutut di tanah tepat di hadapan Renata, menatapnya dengan kedua mata yang memerah darah, "Aku tahu aku ngomong apa pun udah nggak ada gunanya, tapi kamu tega lihat anak sekecil ini tumbuh tanpa sosok ayah?""Siapa bilang dia nggak punya ayah?"Renata mengangkat alisnya, "Nanti aku bakal ketemu lelaki yang jauh lebih baik, dia bakal punya ayah. Walaupun nggak ada, dia juga nggak bakal sudi mengakui bajingan kayak kamu sebagai ayahnya! Kristo, kalau kamu masih punya sedikit aja hati nurani, sekarang juga balik dan jangan pernah muncul lagi di depan aku sama putriku! Kalau nggak, aku bakal bawa putriku pindah ke tempat yang nggak bakal pernah bisa kamu temukan!""Harus banget kayak gini?"Kristo menangis, dia benar-benar merasakan rasa sakit yang teramat dalam."Kenapa nggak bisa kayak tiga tahun lalu, kasih aku kesempatan terakhir sekali lagi? Sekali ini aja, boleh

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 22

    "Renata, bayinya belum meninggal, 'kan? Bayi kita belum meninggal, 'kan?""Renata, keluar ketemu aku! Aku mau lihat bayi kita, kenapa kamu tega bohongi aku! Kenapa bayinya belum meninggal, tapi kamu bilang udah meninggal!"Dia seperti orang gila menarik-narik pagar besi sambil berteriak keras, hingga para tetangga sekitar berhamburan keluar untuk menonton.Di dalam rumah, Renata sedang memangku bayinya sambil mengajak bermain. Saat mendengar suara berisik Kristo, sudut bibirnya mengukir segaris senyum sindiran.Pria itu masih punya muka buat bertanya kenapa?Kalau hari itu anak buahnya tidak luluh dan membawanya ke pos kesehatan.Jangankan bayinya, nyawanya sendiri mungkin sudah melayang.Bayi ini adalah buah perjuangan yang hampir menukarkan nyawanya, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kristo."Berengsek si Kristo ini, aku harus keluar buat hajar dia sampai sadar!"Kevin mengomel dan berniat menerobos keluar, tapi Renata yang melihat pria itu dikerumuni tetangga akhirnya mem

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 21

    "Si Kristo ini sebenarnya mau ngapain sih?"Begitu mengetahui hal ini, Kevin langsung mengomel, mau mendatangi rumah seberang untuk membuat perhitungan dengan Kristo.Renata tidak bisa melakukan apa-apa selain memintanya untuk tetap tenang.Kristo baru saja menyuruh asisten rumah tangga untuk memasukkan dan menata furniture barunya, begitu berbalik dia melihat Kevin sudah berdiri di belakangnya."Ayah! Akhirnya Ayah mau ketemu sama aku.""Tunggu dulu, ada baiknya Komandan Kristo jaga tata cara manggil orang. Kamu sama anakku udah cerai, aku bukan ayahmu, seterusnya juga nggak bakal jadi ayahmu."Kevin memotong ucapannya, lalu bertanya dengan suara berat, "Aku mau tanya, kamu beli rumah ini sebenarnya mau ngapain?""Ayah, aku tahu aku salah. Kedatanganku kali ini cuma mau mohon ampun dan minta maaf sama Renata."Kristo mengerutkan dahi, nadanya terdengar begitu rendah dan memohon, "Kalau Renata nggak mau maafkan aku, aku bakal tinggal di sini selamanya, sampai dia mau maafkan aku.""Hal

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 20

    Di kediaman Keluarga Adista.Waktu sudah sore saat Kristo sampai.Dia menaiki kereta seharian penuh hingga tubuhnya terasa sangat lelah.Namun, tanpa beristirahat sedikit pun, dia langsung bergegas menuju kediaman Keluarga Adista.Tiga tahun lalu, dia juga menjemput Renata dari tempat ini.Waktu itu di hadapan ayah dan ibu Renata, dia berjanji seumur hidup ini tidak akan pernah mengecewakan Renata lagi.Namun, baru tiga tahun berlalu, dia sudah membuat kesalahan lagi.Bahkan kesalahan kali ini jauh lebih parah ketimbang tiga tahun lalu.Dia tidak cuma malu bertemu Renata, tapi juga tidak punya muka lagi di hadapan ayah dan ibunya."Permisi Pak, cari siapa ya?"Asisten rumah tangga Keluarga Adista melihat pria itu celingukan di depan pintu, lalu menegurnya penuh waspada, "Kalau nggak ada urusan tolong pergi, atau saya panggilkan polisi."Itu adalah asisten rumah tangga baru yang tidak mengenali Kristo."Saya suaminya Renata, saya mau cari dia.""Kamu mantan suaminya nona kami?"Nasib da

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 19

    "Hahaha!"Kristo mendadak tertawa.Sampai di titik ini rasanya memang sudah pantas dapat karma dia, rasakan sendiri akibatnya!"Kristo, dengarkan penjelasanku dulu, kamu beneran salah dengar, anak itu anakmu!"Winny memberanikan diri berjalan mendekat untuk memegang lengannya, tapi langsung ditepis kasar oleh pria itu."Jangan sentuh aku, cewek murahan dan menjijikkan! Aku kasih kamu kesempatan terakhir, jujur sama aku, anak itu beneran anakku atau bukan!""Jangan sampai setelah hasil tes DNA keluar baru kamu menyesal, saat itu udah terlambat.""Kristo!"Begitu kalimat itu terucap, Winny seketika berlutut di hadapannya sambil menangis sesenggukan, "Waktu itu kecelakaan, hari itu aku telepon suruh kamu datang ke rumahku, tapi kamu nggak mau, aku emosi terus pergi minum-minum. Pas bangun tidur, aku ... itu beneran kecelakaan! Aku sama sekali nggak kenal sama cowok itu, setelah itu aku juga nggak pernah berhubungan lagi sama dia!""Kamu harus percaya sama aku, walau anak ini nggak ada hub

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 18

    Di dalam mobil, saat Kristo mendengar kabar dari anak buahnya, raut wajahnya sudah berubah sangat suram.Padahal stasiun kereta sudah tepat berada di depan mata, waktu keberangkatan kereta pun sudah makin dekat.Tapi, Winny malah nekat main gila mau mati segala!Kalau wanita itu mau mati sendiri ya terserah, ini malah mau bawa bayinya mati bersama. Wanita itu benar-benar sudah gila!"Gimana ini Komandan Kristo, apa kita tetap ke stasiun?""Winny itu orang gila, dia bisa melakukan hal gila apa aja. Kalau aku beneran pergi, dia mungkin benar-benar bakal bawa anak itu mati bareng."Kristo mengalihkan pandangannya dari stasiun, suaranya terdengar gemetar, "Putar balik.""Siap!"Mobilnya baru mau sampai di dekat rumah ketika anak buahnya menelepon lagi, mengabarkan kalau Winny kehabisan banyak darah dan sudah dilarikan ke pos kesehatan, sementara bayinya baik-baik saja.Karena sudah kelewatan jam keberangkatan, Kristo terpaksa menyusul pergi ke pos kesehatan.Baru tiba di depan pintu kamar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status