Share

Memberi Jatah Para Pewaris Cantik
Memberi Jatah Para Pewaris Cantik
Penulis: Leva Lorich

1. Awal Sebuah Pekerjaan

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-17 13:20:28

“Saya umumkan pada kalian semua bahwa mulai detik ini, Ronald Satria akan menjadi Caretaker di dalam mansion ini,” ucap Pengacara Buan lantang. “Semua kekayaan dan aset peninggalan Pak Hermawan akan sepenuhnya dikelola oleh Ronald,” lanjut sang pengacara membacakan surat penunjukannya.

Semua tercengang!

Setiap pasang mata di ruang tamu mansion itu tertuju pada Ronald.

“Kenapa harus dia, Pak Buan? Bukankah warisan bisa segera dibagikan?“ sanggah Bianca keras.

Pengacara Buan tersenyum tenang. “Bianca, statusmu dan Citra nggak kuat. Kalian berdua cuma anak bawaan dari istri pertama Pak Hermawan, bukan anak kandung!“ jawabnya tegas.

“Bagaimana dengan Bu Arumi? Dia 'kan istri keduanya ayah,” Citra menambahkan.

Buan kembali tersenyum. “Hanya istri di bawah tangan. Bukan istri sah secara hukum!“

Semua tercekat mendengar jawaban Buan.

Mereka tak sepenuhnya bisa menerima kehadiran sosok Ronald yang terasa asing.

“Dia masih muda, hanya beberapa tahun di atasku kayaknya. Apa hebatnya dia?!“ Bianca masih tidak terima. Ia menatap tajam ke arah Ronald.

“Usia bukan ukuran, Bianca. Dan aku menunjuknya juga bukan asal tunjuk. Aku paham betul sejauh mana kejujuran dan jiwa loyalitasnya,” ujar Buan sambil melirik Ronald yang masih duduk diam.

“Jujur saja nggak cukup, Pak. Kekayaan Paman Hermawan sangat besar. Butuh otak yang cerdas dan gigih,” bantah Septa, salah satu keponakan Hermawan.

Buan tak menanggapi. Ia tak peduli sebesar apapun penolakan mereka—keputusannya sudah bulat.

Buan sangat tahu bahwa Ronald yang merupakan perwira sarjana bukanlah pemuda yang bodoh.

Lebih dari itu, kegigihan, keuletan, dan ketangguhan Ronald sudah teruji karena dia adalah mantan tentara yang terbiasa terdidik keras—tahan banting.

“Keputusan ini sudah final. Ronald dilindungi secara hukum sebagai pengelola resmi atas semua kekayaan Pak Hermawan hingga nantinya ditemukan sosok pewaris yang layak!“ pungkas Buan tanpa kompromi.

Ia kemudian melangkah pergi setelah menepuk bahu Ronald sebagai bentuk dukungan.

Ronald segera berdiri dari kursinya setelah Buan menghilang dari pandangan.

“Rapat keluarga aku akhiri. Silakan kalian kembali ke kamar masing-masing!“ ucap Ronald tanpa basa-basi.

Ronald kemudian berjalan masuk ke ruang kerjanya di dalam mansion tersebut.

Di dalam ruang kerja, Ronald berpikir cepat. Ia harus menjalankan amanah Hermawan dengan sebaik-baiknya.

Ronald tak pernah berpikir akan menerima penunjukan seperti itu.

Dalam benaknya masih hangat tersimpan saat-saat terakhir ia mendapatkan surat pensiun dini dari militer karena cedera tulang panggul di usianya yang masih 25 tahun.

Saat Pengacara Buan, sahabat mendiang ayah Ronald, menawarkan hal tersebut, ia sempat menolak.

Namun karena faktor kebutuhan finansial yang cukup krusial sejak ia menganggur, akhirnya ia menerima penunjukan tersebut.

Tok!

Tok!

Terdengar ketukan ringan dari balik pintu ruang kerja Ronald.

“Masuk!“ ujar Ronald pendek.

Seorang wanita cantik berusia awal tiga puluhan masuk. Dia adalah Arumi, istri muda Hermawan.

“Apa aku ganggu, Ronald?“ sapa Arumi lembut.

Ia sengaja tersenyum manis dan sedikit membusungkan dadanya.

Ronald sedikit tercekat menatap bagian yang membusung itu. Matanya nanar seperti seekor serigala yang haus darah.

“Ohh, nggak kok, Bu Arumi. Silakan,” jawab Ronald datar menutupi debaran jantungnya.

“Aku cuma mau bilang… sebagai penghuni baru mansion ini, pasti kamu perlu mengenal seluk beluknya secara keseluruhan. Silakan cari aku kalau butuh bantuan,” Arumi menawarkan, kali ini dengan menghempaskan buah pantat sekalnya ke kursi di depan Ronald.

Ronald kembali tercekat. Arumi menyilangkan kakinya dengan santai, membuat paha putihnya sedikit terbuka dibalik rok spannya.

Tanpa diminta, pedang pembunuh naga miliknya yang tersimpan rapi di balik celana segera bangkit menggeliat.

“Tentu, Bu. Aku bakal mencarimu kalau pas butuh bantuan,” balas Ronald sambil sesekali mencuri pandang ke arah paha Arumi yang terbuka.

Arumi mengangguk anggun, kemudian beranjak berdiri, mendekat ke posisi Ronald.

“Tak perlu terlalu formal begitu, Ronald. Kita hampir sepantaran. Kamu hanya sedikit lebih muda dariku,” bisik Arumi di dekat telinga Ronald.

Hembusan napas hangat seketika menerpa telinga dan tengkuknya.

Ronald menegang. Ia seperti ingin merengkuh Arumi saat itu juga jika tak teringat bahwa itu adalah hari pertamanya bekerja di mansion tersebut.

Arumi semakin berani. Jemarinya yang lentik kini bermain-main di dada Ronald yang masih tertutup kemeja dan jas.

“Atau mungkin kamu butuh hal lain? Aku pasti bersedia bantu,” ucap Arumi dengan nada suara sedikit mendesah.

Pikiran Ronald melayang. Ia jelas paham tentang maksud dari perkataan Arumi.

'Astaga! Dia bener-bener wangi dan montok!' teriak batin Ronald meronta.

“Pokoknya, kalau kamu 'butuh', cari aja aku, Ronald,” lanjut Arumi memberikan tawaran menggiurkan.

Pikiran Ronald seketika buntu. Ia hampir saja menangkup wajah Arumi, namun, tak lama kemudian Arumi melenggang pergi dengan lenggok pinggul yang sangat indah.

Arumi sengaja memancing Ronald dengan pesona kematangannya.

Belum hilang keterkejutan Ronald pada tingkah berani Arumi, wanita lain muncul di ambang pintu yang tidak ditutup oleh Arumi.

“Apa yang rubah betina tadi katakan padamu?“ tanya Bianca tajam. Matanya melotot ke arah Ronald.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   7. Melihat Kondisi Perkebunan

    "Loh, kok kamu balik lagi, Citra?" Ronald membuka pintu dengan gerakan cepat setelah merapikan celananya yang berantakan. Ia tampak berusaha mengatur napasnya agar kembali teratur. Citra tidak langsung menjawab. Matanya melirik melewati bahu Ronald, menembus ruangan hingga menangkap sosok Arumi yang sedang duduk di tepi meja kerja sambil merapikan daster satinnya yang kusut. Keadaan Arumi yang tampak berantakan dengan rambut sedikit acak-acakan sudah cukup menjelaskan apa yang hampir saja terjadi di dalam sana. "Jepit rambutku ketinggalan di dalam, kayaknya jatuh pas tadi kita lagi asyik," jawab Citra sengaja memperdengarkannya pada Arumi. Ia melangkah masuk, melewati Ronald begitu saja. Matanya kembali tertuju pada Arumi. Sambil memungut jepit rambut kecil dari lantai, Citra menatap mantan istri muda dari mendiang ayah tirinya itu dengan tatapan dingin. "Sebaiknya kalian berdua itu tidur aja, istirahat yang bener. Jangan diskusi terus malam-malam begini, nanti malah jadi k

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   6. Wasit Gulat

    “Jangan biasa mikir picik mulu deh, Kak. Dikit-dikit nuduh, dikit-dikit curiga. Padahal aku ini adikmu sendiri,” bantah Citra merasa tersinggung. Bianca hanya menatap datar ke arah Citra tanpa terpancing sedikitpun. “Demi uang, saudara bisa jadi lawan, kerabat bisa jadi saingan. Sori ya, Citra, aku nggak bisa percaya seratus persen sama semua orang di sini!“ Wajah Citra berubah kaku begitu mendengarnya. “Kalau nggak percaya sama aku, ngapain nyariin aku? Ngapain penasaran sama urusanku? Apa jangan-jangan kamu juga pengen dapet warisan lebih banyak?!“ sinisnya dengan nada suara meningkat. Bianca masih merasa tak terima. “Citra! Kenapa kamu sekarang mulai berani ngebantah aku sejak pria asing ini datang?“ tanyanya dengan kening berkerut. Citra tersenyum sumbang tanpa suara. “Aku biasa aja kok, nggak ada yang berubah. Kamu tuh, Kak, justru makin kesini makin aneh dah!“ Bianca justru mendengus kasar, melipat tangan di bawah bukit indahnya yang sekal hingga menyembul dari balik

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   5. Saling Curiga

    Ronald menoleh dan mendapati Citra yang menempelkan dada dengan lembut ke punggungnya.“Aku kan udah ngomong tadi, Ron. Wanita disini itu pada susah diatur. Kamu tahu sendiri 'kan sekarang?!“ ucap Citra sembari mengelus dada Ronald. “Pokoknya di sini itu harus ekstra sabar,” imbuhnya.Emosi di dada Ronald seketika turun drastis, bukan karena perkataan Citra, tapi karena rasa nikmat yang mulai menjalar dari gesekan dada kenyal Citra.Begitu melihat Ronald yang kembali tenang, Citra segera melepaskan dekapannya.“Kamu belum makan malam loh, Ron. Mau kubawakan ke sini?“ tawar Citra kembali memberikan perhatiannya.Ronald hanya mengangguk tipis.Citra pun pergi mengambilkan makanan untuk Ronald.Tak lama berselang, gadis cantik itu kembali datang dengan nampan di tangan.“Mau makan sendiri apa disuapin nih?“ goda Citra berusaha mencairkan suasana.Ronald tersenyum. “Sekali-kali kayaknya boleh juga disuapin sama cewek secantik kamu,” jawab Ronald yang mulai kembali dalam mode 'serigala hau

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   4. Upaya Mendisiplinkan

    Ronald tak mampu menjawab. Matanya terkunci pada paras cantik Citra yang memabukkan.Pikirannya juga terkunci pada sensasi empuk semriwing yang ditimbulkan oleh gesekan dada Citra.Citra dengan tenang mulai berani mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir Ronald.Cupp!Ronald pun tak tinggal diam. Ia menyambut kecupan itu dan memberikan respon positif.Ia dengan penuh hasrat mengimbangi permainan bibir Citra untuk saling bertukar saliva, membelitkan lidah.“Ehmmm, Ronald,” lenguhan Citra mulai terdengar di sela-sela pertalian lidah keduanya.Tangan Ronald yang tergantung bebas segera bergerak ke belakang tubuh Citra, meraih bongkahan pejal di bawah pinggul gadis cantik tersebut dan mulai memainkan peran.Tubuh Citra sedikit tersentak tatkala tangan besar mantan tentara itu menimbulkan sensasi geli di area belakang tubuhnya.Deru napas keduanya semakin memburu meresapi sensasi yang tercipta. Ciuman meningkat semakin dalam dan menggelora.“Ohhhh, mmmh, Ronald,” desahan Citra berpadu

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   3. Fakta Baru

    Ronald tercengang. Baru saja ia 'bermain singkat' dengan Arumi, dan sekarang Diana mengajak masuk ke kamarnya?“Apa maksud kamu, Diana? Obrolan penting macam apa yang harus dilakukan di dalam kamar seorang janda?“ tanya Ronald penasaran.Diana langsung tergagap mendapati tatapan tajam Ronald. “Oh, anu…. aku, aku hanya ingin lebih privasi biar nggak di dengar yang lainnya,” jawabnya terbata.Ronald semakin tajam menatap. “Di ruangan kerjaku kurang privasi?“ sindir Ronald.Diana menunduk. “Bu-bukan begitu, maksudku—”“Diana! Bukankah hari ini tugasmu mengawasi koki keluarga? Kenapa kamu justru asyik ngobrol sama Ronald? Kamu mau merayunya ya?“ suara lembut namun tajam Arumi menyela.Diana reflek mundur satu langkah. “K-kak Arumi, aku hanya menyapa dia sebentar,” balas Diana berbohong.Tanpa menunggu pertanyaan memojokkan berikutnya dari Arumi, Diana langsung balik badan dan melangkah menuju dapur.Ronald menemukan ada sedikit kejanggalan pada Diana. 'Diana kayak lagi nyembunyiin sesuatu

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   2. Keunikan Para Penghuninya

    “Hanya tegur sapa biasa. Nggak ada yang penting,” jawab Ronald datar, tanpa merasa tertekan oleh intimidasi yang ditunjukkan gadis berusia dua puluh tiga tahun tersebut.“Aku tekanin ya, jangan terlalu baik sama wanita itu. Dia itu rubah yang pinter bermain lidah!“ ucap Bianca tegas dan sengit.Meski cantik, Bianca memiliki karakter liar dan temperamental. Anak tiri sulung Hermawan itu selalu memusuhi Hermawan dan semua orang di rumah itu, kecuali mendiang ibu kandungnya.“Nggak ada yang boleh mengintervensi aku, Bianca. Aku adalah hukum di mansion ini!“ tepis Ronald berusaha terlihat teguh.“Oh, jadi kamu merasa sok paling berkuasa di mansion ini sekarang ya? Bagus banget!“ Bianca tersenyum sinis. “Tapi satu yang perlu kau tahu, Ronald. Kamu cuma alat dari Hermawan busuk itu. Kamu nggak akan bisa bikin aku tunduk!“ sentak Bianca, kemudian melangkah lebar meninggalkan ruangan tersebut.'Wow! Menarik banget. Baru sehari di sini tapi udah ketemu dua wanita unik. Nanti, wanita macam apa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status