Share

Membuang Bulan Demi Batu Biasa
Membuang Bulan Demi Batu Biasa
Author: Ningresia

Bab 1

Author: Ningresia
Siapa yang tidak kenal Oscar? Di ibu kota, dia adalah anggota Keluarga Demetrius yang paling berandal pada generasi ini.

Di usia 18, dia sudah berani menaikkan harga untuk melawan ayah kandungnya sendiri di pelelangan demi merebut barang antik. Di usia 20-an, dia bermain balap sampai hampir kehilangan nyawa di kaki Gunung Alpen.

Kecepatannya berganti pasangan bahkan lebih cepat daripada brand mewah merilis koleksi baru. Dia pernah berkata, "Pernikahan itu kain pembungkus kaki dari abad lalu. Siapa mau pakai, pakai saja."

Namun tiga tahun lalu, Oscar justru berlutut di depan rumah Emma. Pada malam hujan deras, selama 12 jam penuh, hanya agar Emma mau melihatnya sekali saja.

Emma sangat cantik, memiliki aura keluarga terpelajar yang elegan, seperti anggrek langka yang dirawat dengan penuh perhatian. Gadis seperti ini sebelumnya tidak pernah disentuh Oscar. Semua orang menunggu Emma menangis, membuat keributan, bahkan mengancam bunuh diri.

Sampai pada lamaran yang menghebohkan seluruh kota itu, Oscar membuat semua orang bungkam dengan sebuah berlian merah muda langka. Di bagian dalam cincin, dia mengukir sendiri satu per satu kata.

[ Tahanan Oscar, hukuman seumur hidup. ]

Tiga tahun setelah menikah, dongeng milik Emma pun tidak berakhir. Oscar mencintainya dengan sangat mendalam. Semua orang berkata, "Raja iblis dari Keluarga Demetrius itu benar-benar sudah dijinakkan oleh Emma."

Emma pun percaya demikian. Sampai sehari setelah hari jadi pernikahan mereka, Emma keluar untuk melukis di alam.

"Hei! Yang lagi gambar di sana!"

Emma mengangkat kepala, melihat seorang pemuda berambut pirang memegangi perutnya dengan keringat memenuhi dahinya. "Tolong bantu aku! Antar tas ini ke sana, temanku lagi butuh!"

Emma melewati jalan kecil dan melihat sebuah tanah lapang. Di sana terparkir sebuah mobil hitam modifikasi yang terlihat sangat keren. Mobil itu berguncang sedikit. Kaca mobil berlapis gelap, tak terlihat bagian dalamnya.

"Sial, ke mana anak itu pergi? Mana barangnya?" Dari dalam mobil terdengar suara pria yang serak, dipenuhi nafsu yang membara.

Napas Emma terhenti. Itu Oscar.

Tak lama kemudian, suara perempuan terdengar pelan dan ragu. "Kak Oscar, jangan marah .... Nggak pakai itu juga boleh, 'kan?"

Suasana menjadi hening sejenak. Kemudian, terdengar tawa rendah dari mulut pria itu. Tawa yang sangat genit. "Berani juga kamu."

Suara gadis itu semakin pelan dan agak hati-hati. "Aku lebih berani dari Kak Emma ya?"

Oscar menjawab dengan santai, "Ganggu suasana saja, ngapain sebut dia. Dia takut hamil, banyak aturan, nggak seru."

"Benarkah?" Gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa bangganya, "Kalau begitu ... sekarang kamu merasa aku seru?"

"Jangan banyak omong." Mobil itu tiba-tiba berguncang lagi. Suara Oscar langsung menjadi parau. Tak lama kemudian, guncangan mobil berubah menjadi keras dan cepat, diiringi desahan yang bertubi-tubi.

Kantong plastik di tangan Emma jatuh ke tanah, isinya berserakan. Dia menunduk. Ternyata itu kondom.

Emma tidak tahu bagaimana dia bisa pulang ke rumah. Jari-jarinya gemetar hingga tak mampu menggenggam ponsel. Layar menyala, menampilkan obrolan dengan Oscar. Pesan pagi ini masih ada.

[ Sayang, nanti malam aku bawakan dessert, tunggu aku pulang ya. ]

Minggu lalu saat dia datang bulan, Oscar bahkan keliling kota tengah malam untuk membelikan obat. Sebulan lalu saat Oscar pergi balap ke luar kota, dia menelepon video tengah malam. Sorot matanya liar tetapi suaranya lembut saat berkata, "Emma, aku kangen kamu."

Setiap kata terdengar tulus, setiap detail membangun ilusi seorang pria yang berubah menjadi setia. Namun, semuanya palsu.

Perut Emma tiba-tiba terasa mual. Air mata jatuh. Dia tak bisa menahan diri hingga membungkuk dan muntah kering.

Yang lebih ironis, gadis di mobil itu juga dia kenal. Ayla adalah gadis yang dia temui setengah tahun lalu saat pergi melukis di daerah pegunungan. Tubuhnya kurus kecil, matanya besar. Dia selalu terlihat sedikit takut saat menatap orang.

Emma membawanya keluar dari pegunungan, merasa iba padanya, jadi memperlakukannya dengan sangat baik. Dia membelikan Ayla pakaian, mengajarinya berdandan, bahkan menyewakan apartemen kecil untuknya. Emma langsung membayar biaya sewanya selama setahun.

Pernah suatu kali Emma meminta Ayla mengantarkan lukisan dan kebetulan Oscar ada di sana. Ayla mengenakan gaun pemberian Emma, memanggil dengan gugup, "Pak Oscar."

Oscar bahkan tidak mengangkat kelopak matanya. Dia hanya mengerutkan kening pada Emma, "Dari mana kamu dapat anak ini? Tatapannya aneh, kelihatannya nggak baik. Jangan sering-sering bawa dia ke rumah."

Saat itu, Emma masih mengomel dengan manja, "Jangan selalu mikir orang seburuk itu. Ayla hidupnya nggak mudah, aku cuma bantu dia."

Oscar berdecak, merangkul pinggangnya, lalu menunduk menciumnya. "Kamu terlalu baik. Di dunia ini, orang baik gampang ditindas. Kalau nggak ada aku yang melindungimu, kamu bakal jadi apa?"

Ciumannya membawa rasa dominasi yang familier, tetapi saat menyentuhnya, berubah menjadi lembut.

Tubuh Emma melemas dalam pelukannya. Dia mengira di mata dan hati Oscar sekarang hanya ada dirinya. Bahkan rasa cemburu sekecil itu pun terasa manis.

Namun, dia tak pernah menyangka pada akhirnya justru dua orang ini menghancurkan dunia sempurna yang dia bangun dengan susah payah, dengan cara paling kotor dan menjijikkan.

Tring .... Suara ponsel memutus ingatan Emma. Panggilan dari rumah lama Keluarga Demetrius, Mira.

"Nyonya akhirnya sadar. Dia terus menyebut namamu. Katanya ingin melihatmu sekali lagi, takut nanti nggak sempat lagi ...."

Nenek Oscar, Sandra. Wanita yang akan memukul Oscar dengan tongkat saat dia bertingkah nakal, tetapi memperlakukan Emma seperti cucu kandungnya. Sandra juga adalah guru seni yang membimbing Emma masuk ke dunia seni, mewariskan hampir seluruh ilmunya untuk Emma.

Namun, orang sebaik itu kini hidupnya sedang menghitung mundur karena sakit parah.

Emma pun menelepon pengacaranya. "Pak Ruben, perjanjian perceraian bisa mulai disiapkan. Tapi sebelum aku mengabari, untuk sementara jangan lakukan apa pun. Setelah mengantar Nenek untuk terakhir kalinya, aku akan pergi."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 18

    Setelah kembali ke dalam negeri, Oscar membeli semua lukisan Emma dengan harga tinggi. Karya-karya awalnya serta seluruh seri "Malam Kutub". Total 14 lukisan. Semuanya disumbangkan tanpa imbalan kepada museum seni.Dalam perjanjian donasi hanya ada satu syarat tambahan. Dipamerkan secara permanen, tetapi tidak boleh mengungkap identitas penyumbang.Kurator menanyakan alasannya.Saat itu, Oscar sudah sangat kurus dan wajahnya pucat. Suaranya sangat pelan saat menyahut, "Lukisan-lukisan ini seharusnya dilihat, tapi nggak perlu diketahui siapa yang membuatnya bisa dilihat."Pada hari penandatanganan, cuacanya cerah. Pena menggores kertas, mengeluarkan suara halus.Setelah menulis huruf terakhir, Oscar mendongak dan melihat ke luar jendela. Musim semi di ibu kota telah tiba, bunga magnolia bermekaran.Dia memandang lama, lalu berkata pelan, "Seperti ini sudah cukup."Emma membeli sebuah rumah tua di Provence. Bangunannya sangat tua, tetapi tamannya luas, dipenuhi lavender dan pohon zaitun.

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 17

    Di luar jendela, hujan turun. Di dalam negeri, hujan akhir musim gugur turun deras, udara dingin menusuk.Oscar teringat lama sekali dulu, juga di hari hujan seperti ini, Emma meringkuk di sofa menggambar sketsa. Saat dia pulang dalam keadaan basah, Emma meletakkan pensilnya dan mendekat, lalu menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya.Gerakannya sangat lembut. Ujung jarinya sesekali menyentuh dahinya, terasa hangat. Waktu itu, apa yang dia katakan? Sepertinya dia mengeluh bahwa Emma membuang-buang waktunya, lalu mendorongnya dan masuk ke ruang kerja.Sekarang dipikir-pikir, momen seperti itu tak akan pernah ada lagi seumur hidup.Oscar berdiri lama. Suara hujan berderai, seperti hitungan mundur yang panjang.Ayla sudah gila, neneknya telah meninggal, Emma telah pergi. Dia tetap tinggal di sini, menjaga rumah yang penuh dengan kenangan dan dosa, seperti menjaga sebuah makam besar yang sunyi.Oscar tiba di Norwegia saat malam kutub. Dia menyewa sebuah apartemen, setiap hari memand

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 16

    Pada hari persidangan, kursi pengunjung cukup penuh.Ayla mengenakan seragam tahanan yang tidak pas di tubuhnya. Rambutnya dipotong pendek secara asal-asalan, memperlihatkan dagu yang runcing dan kurus.Hakim membacakan satu per satu dakwaan. Menghasut untuk melukai, pemerasan, pencemaran nama baik, pelanggaran privasi ....Saat itu, Ayla tiba-tiba berdiri, mencengkeram pagar sambil berteriak, "Aku melakukan semua ini demi cinta! Aku mencintainya sampai gila! Emma itu siapa? Dia pura-pura angkuh, pura-pura suci, padahal dalam hatinya ...."Petugas menahannya. Ayla meronta, matanya merah, seperti binatang yang terjebak.Dokumen putusan sangat panjang. Karena beberapa kejahatan digabungkan, hukuman penjara menjadi 12 tahun.Saat mendengar 12 tahun, Ayla tertegun sejenak, lalu mulai tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa sampai batuk, sampai air mata keluar.Dia menatap ke arah kursi kosong di barisan belakang, lalu bergumam, "Dia bahkan nggak pernah datang menemuiku."Ruang kunjungan tahana

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 15

    Oscar menyewa tim humas s terbaik, memantau seluruh internet selama 24 jam. Semua kata kunci negatif terkait "Emma" dan "mantan istri Tuan Muda Keluarga Demetrius", dalam waktu tiga menit setelah muncul akan ditekan ke bawah atau diganti dengan cara teknis.Beberapa akun pemasaran yang selama ini mencari keuntungan dari membocorkan privasi selebritas pun langsung diblokir dalam semalam.Masalah yang ditimbulkan Ayla lebih banyak. Setelah usahanya memeras ibu Oscar gagal, dia kembali mengalihkan target ke mitra kerja Keluarga Demetrius, mengirim email massal dengan klaim bahwa dia memegang rahasia bisnis Keluarga Demetrius.Oscar langsung menyuruh orang mengumpulkan seluruh rantai bukti, beserta laporan lengkap insiden di arena balap, lalu menyerahkannya ke polisi.Hari ketika pemberitahuan pembukaan kasus turun, Ayla sedang makan mi instan di kamar sewaannya. Saat polisi mengetuk pintu, dia menjatuhkan mangkuknya. Kuah panas tumpah ke seluruh tubuhnya. Dia melarikan diri.Ponselnya ter

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 14

    Pada malam pembukaan pameran di Milan, galeri dipenuhi orang. Emma berdiri di sudut ruang pameran, melihat kerumunan berdiri di depan lukisan.Lukisan berukuran dua kali tiga meter itu memenuhi satu dinding penuh. Di sisi kiri adalah aliran merah gelap yang bergolak. Lapisan cat tebal menciptakan tekstur yang menyesakkan. Di sisi kanan adalah warna putih murni, rata seperti salju pertama.Emma mengenakan gaun panjang hitam sederhana. Rambut panjangnya disanggul longgar, memperlihatkan garis rahang yang tegas.Hans berjalan mendekat dan berbisik, "Art Times ingin mengatur wawancara eksklusif.""Tolak saja, karya ini sudah menyampaikan semua yang perlu dikatakan.""Kamu yakin? Ini kesempatan bagus ...."Emma menoleh menatapnya. Tatapannya tenang di bawah cahaya lampu galeri. "Hans, aku sudah cukup bernilai. Aku nggak butuh itu."Di kejauhan, orang-orang sedang membicarakan identitas pelukisnya."Katanya perempuan, masih muda.""Gaya sekeras ini nggak seperti lukisan perempuan."Emma diam

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 13

    Gelombang besar yang terjadi di internet sama sekali tidak dipedulikan oleh Emma. Dia baru saja menyelesaikan sapuan terakhir lukisan barunya.Dalam wawancara majalah bulanan, ada pertanyaan pribadi yang pernah diajukan. "Setelah melewati badai seperti itu, apakah Anda masih percaya pada cinta?"Emma menatap layar lama sekali. Di luar jendela adalah pemandangan pegunungan kota kecil Swiss di akhir musim gugur. Daun pohon ek sudah berubah menjadi kuning keemasan.Dia teringat bertahun-tahun lalu, ada yang pernah menanyakan pertanyaan serupa. Saat itu, bagaimana dia menjawab? Sepertinya dia tersipu, lalu berkata pelan, "Percaya."Dia mengetik sesuatu.[ Pernah percaya. Kemudian lebih percaya pada cat dan kanvas. Mereka nggak akan mengkhianati, hanya diam menampung semua warna. ]Setelah email terkirim, dia menutup komputer dan masuk ke studio lukis.Di dalam negeri, di rumah Keluarga Demetrius.Ayla yang diserang balik oleh opini publik akhirnya nekat mencari ibu Oscar karena sudah buntu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status