Share

Bab 2

Penulis: Ningresia
Emma tidak mendapatkan dessert yang dijanjikan. Oscar menghilang selama satu hari satu malam.

Saat mereka bertemu lagi, itu sudah sore hari berikutnya. Tanpa masuk ke rumah sama sekali, pria itu duduk di dalam mobil. Ekspresinya tanpa keanehan sedikit pun. "Emma, lihat mobil baruku."

Oscar tampak lelah, matanya agak merah. Namun, ekspresinya membawa semacam kegembiraan aneh.

Emma duduk diam di kursi penumpang, mencium aroma parfum manis yang bukan miliknya di dalam mobil.

Mobil melaju kencang menuju sirkuit balap di pinggiran kota. Di tengah gemuruh mesin yang memekakkan telinga, Oscar menggenggam pergelangan tangan Emma dan membawanya menembus kerumunan.

Sampai sebuah suara lemah menghentikan mereka ....

"Kak Oscar! Kak Emma!"

Ayla mengenakan baju balap yang kebesaran. Lengan bajunya dilipat berkali-kali. Wajahnya kotor terkena debu, tetapi matanya bersinar terang.

Di belakangnya ada seorang pemuda berambut pirang.

Oscar melepaskan tangan Emma, berkata dengan santai, "Kenzo lagi ngejar Ayla. Dia maksa aku datang buat dukung."

Dia menoleh ke Emma, seperti menjelaskan, "Dia penakut. Ini pertama kali dia nonton balapan, jadi takut."

Pandangan Emma melintas pada bekas merah yang tersembunyi di bawah kerah Ayla, lalu beralih ke Oscar. Ekspresinya tenang.

Tiba-tiba, Emma tersenyum tipis. Dia tak pernah menyangka Oscar bisa setidak tahu malu ini. Apa dia begitu yakin Emma tidak akan pernah mengetahui hubungan gelap mereka?

Emma tidak menjawab, hanya memalingkan wajah. Untuk pertama kalinya, dia mengabaikan tangan Ayla yang terulur dan langsung menatap ke arah lintasan balap.

Tak disangka, rival bebuyutan Oscar juga datang. Keduanya bersaing dalam segala hal, tetapi Oscar belum pernah kalah.

Pria itu bersandar di samping mobil sport ungu mencolok, mengangkat dagunya ke arah Oscar. "Mana mobil barumu? Kita taruhan satu ronde. Siapa yang mau kamu bawa di kursi penumpang?"

Kerumunan tiba-tiba hening. Semua mata tertuju pada mereka.

Oscar bahkan tidak ragu satu detik pun. "Ayla, sini."

Mata Ayla langsung berbinar. Dia berlari kecil mendekat ke sisi Oscar. Jarinya mencengkeram ujung lengan bajunya dengan gugup.

Oscar secara alami merangkul bahunya, lalu mengangkat alis ke arah rivalnya. "Dia saja. Yang menang ...."

"Bebas minta apa pun."

Sorakan langsung meledak.

Tak ada yang ingat, sebulan lalu saat mobil balap khusus ini tiba, Oscar pernah meletakkan kunci di tangan Emma, memeluknya dari belakang dan mengumumkan di depan umum, "Orang pertama yang duduk di kursi penumpang mobil ini hanya boleh istriku."

Saat itu, telinga Emma memerah, merasa Oscar terlalu pamer. Namun sekarang, Oscar merangkul bahu Ayla dan membawanya ke dalam mobil balap. Garis wajahnya terlihat tegas di bawah cahaya terang.

Emma berdiri di tempat, melihat Ayla duduk dengan canggung tetapi penuh antusias di posisi yang bahkan belum pernah dia duduki. Sementara Oscar membungkuk membantunya memasang sabuk pengaman, yang ternyata masih menggunakan sabuk pengaman edisi terbatas yang Emma berikan.

Balapan dimulai. Secepat kilat, dua mobil sport meraung menuju garis akhir. Mobil Oscar seperti panah hitam. Mesin menderu, mobil hampir mencapai garis finis.

Namun, teriakan Ayla di kursi penumpang tiba-tiba meninggi. "Kak Oscar, aku takut!"

Mobil sport hitam itu mendadak mengerem. Ban bergesekan mengeluarkan suara nyaring, asap putih mengepul. Dalam waktu singkat itu, mobil balap ungu milik rivalnya melesat melewati garis finis.

Seluruh tempat menjadi sunyi. Ini adalah pertama kalinya Oscar kalah. Angin malam terasa dingin, membawa bau karet terbakar yang pekat dari lintasan.

Rivalnya turun dari mobil dengan santai, berjalan ke jendela mobil Oscar. Tangan yang memegang rokok menunjuk ke arah Ayla yang masih ketakutan.

"Serahkan dia kepadaku." Dia tersenyum santai, nada bicaranya nakal. "Sudah janji, pemenang bebas minta apa saja."

Wajah Ayla langsung pucat. Jarinya mencengkeram lengan Oscar erat-erat, "Kak Oscar, aku nggak mau ...."

Oscar tidak melihatnya. Dia membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil. "Ganti yang lain, dia nggak bisa."

Rival itu mengangkat alis, tersenyum penuh makna, lalu pandangannya perlahan mengarah ke tribune penonton.

"Kalau begitu ...." Dia memanjangkan nada suaranya, menatap melalui asap rokok ke arah Emma yang berdiri di tengah kerumunan. Wanita itu tampak tenang dengan aura yang berbeda.

Seketika, Emma merasakan semua tatapan langsung tertuju padanya.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 18

    Setelah kembali ke dalam negeri, Oscar membeli semua lukisan Emma dengan harga tinggi. Karya-karya awalnya serta seluruh seri "Malam Kutub". Total 14 lukisan. Semuanya disumbangkan tanpa imbalan kepada museum seni.Dalam perjanjian donasi hanya ada satu syarat tambahan. Dipamerkan secara permanen, tetapi tidak boleh mengungkap identitas penyumbang.Kurator menanyakan alasannya.Saat itu, Oscar sudah sangat kurus dan wajahnya pucat. Suaranya sangat pelan saat menyahut, "Lukisan-lukisan ini seharusnya dilihat, tapi nggak perlu diketahui siapa yang membuatnya bisa dilihat."Pada hari penandatanganan, cuacanya cerah. Pena menggores kertas, mengeluarkan suara halus.Setelah menulis huruf terakhir, Oscar mendongak dan melihat ke luar jendela. Musim semi di ibu kota telah tiba, bunga magnolia bermekaran.Dia memandang lama, lalu berkata pelan, "Seperti ini sudah cukup."Emma membeli sebuah rumah tua di Provence. Bangunannya sangat tua, tetapi tamannya luas, dipenuhi lavender dan pohon zaitun.

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 17

    Di luar jendela, hujan turun. Di dalam negeri, hujan akhir musim gugur turun deras, udara dingin menusuk.Oscar teringat lama sekali dulu, juga di hari hujan seperti ini, Emma meringkuk di sofa menggambar sketsa. Saat dia pulang dalam keadaan basah, Emma meletakkan pensilnya dan mendekat, lalu menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya.Gerakannya sangat lembut. Ujung jarinya sesekali menyentuh dahinya, terasa hangat. Waktu itu, apa yang dia katakan? Sepertinya dia mengeluh bahwa Emma membuang-buang waktunya, lalu mendorongnya dan masuk ke ruang kerja.Sekarang dipikir-pikir, momen seperti itu tak akan pernah ada lagi seumur hidup.Oscar berdiri lama. Suara hujan berderai, seperti hitungan mundur yang panjang.Ayla sudah gila, neneknya telah meninggal, Emma telah pergi. Dia tetap tinggal di sini, menjaga rumah yang penuh dengan kenangan dan dosa, seperti menjaga sebuah makam besar yang sunyi.Oscar tiba di Norwegia saat malam kutub. Dia menyewa sebuah apartemen, setiap hari memand

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 16

    Pada hari persidangan, kursi pengunjung cukup penuh.Ayla mengenakan seragam tahanan yang tidak pas di tubuhnya. Rambutnya dipotong pendek secara asal-asalan, memperlihatkan dagu yang runcing dan kurus.Hakim membacakan satu per satu dakwaan. Menghasut untuk melukai, pemerasan, pencemaran nama baik, pelanggaran privasi ....Saat itu, Ayla tiba-tiba berdiri, mencengkeram pagar sambil berteriak, "Aku melakukan semua ini demi cinta! Aku mencintainya sampai gila! Emma itu siapa? Dia pura-pura angkuh, pura-pura suci, padahal dalam hatinya ...."Petugas menahannya. Ayla meronta, matanya merah, seperti binatang yang terjebak.Dokumen putusan sangat panjang. Karena beberapa kejahatan digabungkan, hukuman penjara menjadi 12 tahun.Saat mendengar 12 tahun, Ayla tertegun sejenak, lalu mulai tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa sampai batuk, sampai air mata keluar.Dia menatap ke arah kursi kosong di barisan belakang, lalu bergumam, "Dia bahkan nggak pernah datang menemuiku."Ruang kunjungan tahana

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 15

    Oscar menyewa tim humas s terbaik, memantau seluruh internet selama 24 jam. Semua kata kunci negatif terkait "Emma" dan "mantan istri Tuan Muda Keluarga Demetrius", dalam waktu tiga menit setelah muncul akan ditekan ke bawah atau diganti dengan cara teknis.Beberapa akun pemasaran yang selama ini mencari keuntungan dari membocorkan privasi selebritas pun langsung diblokir dalam semalam.Masalah yang ditimbulkan Ayla lebih banyak. Setelah usahanya memeras ibu Oscar gagal, dia kembali mengalihkan target ke mitra kerja Keluarga Demetrius, mengirim email massal dengan klaim bahwa dia memegang rahasia bisnis Keluarga Demetrius.Oscar langsung menyuruh orang mengumpulkan seluruh rantai bukti, beserta laporan lengkap insiden di arena balap, lalu menyerahkannya ke polisi.Hari ketika pemberitahuan pembukaan kasus turun, Ayla sedang makan mi instan di kamar sewaannya. Saat polisi mengetuk pintu, dia menjatuhkan mangkuknya. Kuah panas tumpah ke seluruh tubuhnya. Dia melarikan diri.Ponselnya ter

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 14

    Pada malam pembukaan pameran di Milan, galeri dipenuhi orang. Emma berdiri di sudut ruang pameran, melihat kerumunan berdiri di depan lukisan.Lukisan berukuran dua kali tiga meter itu memenuhi satu dinding penuh. Di sisi kiri adalah aliran merah gelap yang bergolak. Lapisan cat tebal menciptakan tekstur yang menyesakkan. Di sisi kanan adalah warna putih murni, rata seperti salju pertama.Emma mengenakan gaun panjang hitam sederhana. Rambut panjangnya disanggul longgar, memperlihatkan garis rahang yang tegas.Hans berjalan mendekat dan berbisik, "Art Times ingin mengatur wawancara eksklusif.""Tolak saja, karya ini sudah menyampaikan semua yang perlu dikatakan.""Kamu yakin? Ini kesempatan bagus ...."Emma menoleh menatapnya. Tatapannya tenang di bawah cahaya lampu galeri. "Hans, aku sudah cukup bernilai. Aku nggak butuh itu."Di kejauhan, orang-orang sedang membicarakan identitas pelukisnya."Katanya perempuan, masih muda.""Gaya sekeras ini nggak seperti lukisan perempuan."Emma diam

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 13

    Gelombang besar yang terjadi di internet sama sekali tidak dipedulikan oleh Emma. Dia baru saja menyelesaikan sapuan terakhir lukisan barunya.Dalam wawancara majalah bulanan, ada pertanyaan pribadi yang pernah diajukan. "Setelah melewati badai seperti itu, apakah Anda masih percaya pada cinta?"Emma menatap layar lama sekali. Di luar jendela adalah pemandangan pegunungan kota kecil Swiss di akhir musim gugur. Daun pohon ek sudah berubah menjadi kuning keemasan.Dia teringat bertahun-tahun lalu, ada yang pernah menanyakan pertanyaan serupa. Saat itu, bagaimana dia menjawab? Sepertinya dia tersipu, lalu berkata pelan, "Percaya."Dia mengetik sesuatu.[ Pernah percaya. Kemudian lebih percaya pada cat dan kanvas. Mereka nggak akan mengkhianati, hanya diam menampung semua warna. ]Setelah email terkirim, dia menutup komputer dan masuk ke studio lukis.Di dalam negeri, di rumah Keluarga Demetrius.Ayla yang diserang balik oleh opini publik akhirnya nekat mencari ibu Oscar karena sudah buntu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status