Teilen

Bab 4

Makjos
Saat lembaran surat operasi itu terjatuh, Stacy refleks memungutnya, lalu segera menyimpannya kembali. Namun, tulisan "operasi" di surat itu tetap tertangkap oleh mata tajam Willy.

Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah sudah meloncat sampai ke tenggorokan. Bahkan di telinganya hanya terdengar gema detak jantungnya sendiri. Dia bergumam cukup lama, barulah berhasil memikirkan alasan yang terdengar cukup masuk akal.

Dengan ragu-ragu, dia membuka mulut. "Nggak apa-apa, cuma ada sedikit masalah pada gigi. Perlu dilakukan operasi kecil yang sederhana. Dokter bilang, masalah gigi sebaiknya ditangani pada awal kehamilan. Kalau nggak, nanti bisa jadi merepotkan."

Stacy sengaja menyinggung soal kehamilan. Benar saja, setelah mendengarnya, wajah Willy langsung menjadi masam dan dia tidak melanjutkan pertanyaannya.

Keningnya sedikit mengendur, tetapi wajahnya tetap dingin. Dengan nada datar dan asing, dia berkata, "Aku antar kamu ke rumah sakit untuk periksa lagi."

"Ah, nggak perlu, nggak perlu. Om urus saja kerjaan sendiri. Aku ...." Stacy buru-buru melambaikan tangan. Kepanikannya terlihat jelas.

"Aku bilang ke rumah sakit, kamu nggak dengar?"

Mendengar nadanya jelas memberat, Stacy hanya bisa mengikuti di belakang dengan takut-takut dan menutup mulut.

Saat melewati ruang tamu, Willy tiba-tiba berhenti dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada para senior yang masih membicarakan pernikahan.

Di dalam kepalanya, Stacy sedang memikirkan bagaimana jika nanti di rumah sakit dia ketahuan berbohong. Tanpa sadar, dia menabrak Willy.

Bagian tubuhnya yang lembut tepat menempel di punggung Willy. Sebuah perasaan aneh seketika muncul, membuat wajah Willy menjadi sangat canggung. Dia sampai berdeham pelan.

Beberapa senior yang duduk di sofa tampak sangat puas melihat kepedulian Willy padanya. Hanya satu orang yang menyadari kejanggalan kecil pada Willy. Tatapan Hilda meredup. Dia diam-diam mengepalkan tangannya.

Awalnya Willy berniat mengantar Hilda pulang sekalian, tetapi dia justru mengajukan diri untuk ikut ke rumah sakit.

"Willy, Stacy 'kan perempuan. Kalau kamu ikut ke rumah sakit, pasti ada banyak hal yang merepotkan. Kalau aku ikut, setidaknya bisa membantu."

Sebenarnya Stacy tidak ingin Hilda ikut. Duduk satu mobil dengannya saja sudah membuatnya tidak nyaman. Namun, dia tidak bisa menunjukkannya terlalu jelas.

Pengetahuan Willy soal kehamilan sangat minim. Namun, Hilda berbeda. Mereka sama-sama perempuan. Kalau sampai Hilda menemukan kejanggalan sedikit saja, itu akan menjadi masalah besar.

Stacy duduk di kursi belakang dengan pikiran kalut. Di kursi penumpang depan, Hilda juga tidak berbicara lagi, melainkan memainkan hiasan kecil di dalam mobil.

Willy punya obsesi kebersihan. Mobilnya selalu beraroma bersih dan segar, dengan interior bergaya mewah minimalis. Sebaliknya, Hilda justru menyukai benda-benda kecil dan selalu ingin mendekor ulang mobil yang terasa dingin itu.

Namun, Willy sama sekali tidak pernah setuju. Dia begitu keras kepala sampai-sampai parfum mobil pun tak pernah dia ganti.

Pernah suatu kali Stacy kelaparan hingga hipoglikemia. Baru saja dia membuka sebungkus biskuit di dalam mobil, Willy langsung merebutnya dan melemparkannya ke luar jendela.

"Di mobilku nggak boleh makan," kata Willy.

Stacy hanya bisa menahan rasa tidak nyaman akibat gula darah rendah sambil mengacak-acak tasnya, berharap menemukan sebutir permen untuk menyelamatkan diri. Namun, pada akhirnya dia tidak menemukan apa pun. Dia menahan sepanjang jalan hingga tiba di rumah, hampir pingsan.

Sekarang Hilda bukan hanya mengubah interior mobil menjadi gaya yang dia sukai, bahkan aroma parfumnya pun sudah diganti. Ternyata, perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai memang sejelas ini.

Hati Stacy tiba-tiba terasa nyeri. Dia menekan dadanya, lalu memalingkan kepala menatap ke luar jendela.

Saat mereka keluar tadi, hujan sudah mulai turun. Kini, hujan semakin deras. Butiran air besar menghantam bodi mobil hingga menimbulkan bunyi keras. Mobil melaju menuju rumah sakit. Hati Stacy kembali diliputi kegelisahan.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 24

    Setelah keluar dari ruang dokter, wajah Willy dipenuhi keputusasaan.Ternyata sejak di dalam negeri dia sudah dijatuhi vonis mati. Datang ke sini untuk berobat hanyalah harapan terakhir. Namun, harapan terakhir itu pun hancur.Dia berjalan terhuyung-huyung kembali ke ruang rawat, tepat berpapasan dengan Wilbert yang baru kembali.Melihat ekspresinya, Wilbert langsung tahu bahwa dia sudah mengetahui semuanya."Willy, dokter bilang selama kamu mau menjalani pengobatan dengan aktif, masih ada harapan."Namun, kalimat itu saat ini terdengar begitu pucat dan tak berdaya.Willy mengangkat kepala lagi. Wajahnya sudah basah oleh air mata. "Kak, aku belum ingin mati. Aku bahkan belum berhasil mendapatkan kembali Stacy. Aku nggak terima ...."Dia memeluk kakaknya dan menangis tersedu-sedu. Baru setelah kelelahan menangis, dia kembali berbaring di ranjang untuk beristirahat.Dia menjadi jauh lebih serius menjalani pengobatan. Tingkat medis rumah sakit ini sudah kelas dunia, tetapi dia tetap meras

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 23

    Willy menatap Stacy tanpa berkedip. Dia tampak sedikit lebih tinggi, wajahnya juga terlihat lebih berisi. Sepertinya setelah meninggalkannya, hidup Stacy tetap berjalan dengan baik.Memikirkan hal itu, hati Willy diliputi rasa getir. Stacy bukan lagi gadis kecil yang dulu selalu suka menempel padanya.Dia mengangkat tangan, ingin seperti dulu mengusap kepala Stacy. Namun, tangan yang sudah terulur itu akhirnya ditarik kembali. "Stacy, aku ....""Om Willy, sudah lama nggak ketemu." Stacy melangkah maju menyapanya, lalu menoleh ke belakangnya sambil memanggil, "Om Wilbert."Dua panggilan om itu terucap tanpa pembedaan, begitu alami. Hati Willy yang semula berdebar seketika mendingin, tetapi dia tidak boleh menyerah.Kali ini, dia datang berobat dengan alasan sakit. Ini adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk mendapatkan Stacy kembali."Stacy, aku ingin bicara berdua denganmu sebentar, boleh?"Stacy tidak langsung menjawab, melainkan melirik Wilbert di belakangnya.Wilbert mengangguk

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 22

    Willy yang semula lesu tiba-tiba kembali bersemangat, mendesak kakaknya agar segera mengatur keberangkatan ke luar negeri.Melihat sikapnya yang begitu antusias, seharusnya Wilbert merasa senang. Namun, senyuman di wajahnya justru lebih pahit daripada tangisan. Jika Willy tahu kondisi penyakitnya yang sebenarnya .... Dia tidak berani melanjutkan pikiran itu.Di ranjang rumah sakit, Willy terus memainkan jepit rambut di tangannya sambil berulang kali memanggil nama Stacy dengan suara lirih. Melihat penampilan adiknya yang begitu penuh perasaan, wajah Wilbert dipenuhi kekhawatiran mendalam.Setelah mengambil keputusan, Wilbert menelepon Stacy yang berada di luar negeri. "Halo, Stacy, ini Om Wilbert. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."Stacy baru saja menyelesaikan satu rangkaian eksperimen. Dia cukup terkejut menerima panggilan ini.Sebelum meninggal, Indra pernah berpesan kepada orang-orang Keluarga Jinara agar tidak memberitahukan kabar kematiannya kepada Stacy. Indra tah

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 21

    Sejak Indra meninggal dunia, Willy hampir tinggal di perusahaan. Dia jarang pulang ke rumah lama. Setiap kali kembali ke sana, dia selalu teringat hal-hal yang menyedihkan. Dia tidak berani membiarkan dirinya rileks walaupun sesaat. Karena begitu berhenti bekerja, dia akan tenggelam dalam kerinduan yang tak berujung.Dalam waktu singkat, Willy berhasil membawa Grup Jinara ke tingkat yang baru, tetapi semua itu ditukar dengan kesehatan tubuhnya. Enam bulan kemudian, penampilannya menjadi begitu kurus dan menyedihkan.Suatu pagi, setelah selesai memimpin rapat pagi dengan jajaran eksekutif perusahaan, dia tiba-tiba roboh di ruang rapat. Ketika dia kembali sadar, sudah dua hari berlalu. Di atas ranjang rumah sakit, Willy bermimpi sangat panjang.Dalam mimpinya, dia melihat Stacy yang berusia 18 tahun, pada hari pesta ulang tahunnya, menyatakan cinta kepadanya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerimanya. Stacy begitu bahagia sampai melompat dan berputar-putar, lalu jatuh ke dalam pel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 20

    "Pulang? Om, aku nggak akan kembali ke Keluarga Jinara lagi. Tapi aku nggak akan melupakan jasa Keluarga Jinara kepadaku. Suatu hari nanti, ketika aku sudah mampu, aku pasti akan membalas budi kalian."Nada bicara Stacy tegas, membuat sedikit semangat yang baru saja muncul di hati Willy seketika lenyap."Kalau nggak ada urusan yang benar-benar penting, aku harap kamu nggak menggangguku lagi. Beban kuliahku sangat berat."Setelah menutup telepon, Stacy menghela napas panjang. Dulu dia merasa om kecilnya berbeda dengan pria lain. Tenang, tegas, dan pandai berpikir.Namun sekarang, dia baru menyadari pria tetaplah pria. Dulu dia bisa tergila-gila pada Hilda, ke depannya dia juga bisa tergila-gila pada perempuan lain.Stacy masih sangat muda. Masa depannya penuh dengan kemungkinan tak terbatas. Dia tak mau langkah hidupnya terhambat oleh urusan cinta dan perasaan. Dia tidak mengerti kenapa dirinya di kehidupan sebelumnya begitu bodoh, menaruh seluruh harapan pada satu orang pria. Padahal,

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 19

    Willy melancarkan pengejaran tanpa henti terhadap Stacy, sampai-sampai membuatnya benar-benar kewalahan.Dia mengira setelah semuanya dijelaskan dengan jelas, om kecilnya ini seharusnya sudah mengerti. Namun siapa sangka, Willy justru berkata ingin mengejarnya dan akan melamarnya.Entah bagaimana, hal yang dulu pernah dia khayalkan berkali-kali justru datang saat dia sudah menyerah pada perasaan itu.Akhirnya, dia benar-benar mengerti cinta yang dulu dia berikan kepada Willy memang merupakan sebuah beban baginya, karena sekarang dia sendiri sudah merasakan beban itu.Stacy hanya bisa menyatakan sikap dengan tegas agar dia menyerah, tetapi Willy justru seperti disuntik hormon, sama sekali tidak mau mendengarkan.Willy khawatir akan mengganggu studinya, jadi dia hanya menelepon Stacy saat waktu makan pagi, siang, dan malam. Setiap panggilan penuh dengan permohonan maaf yang tulus."Stacy, aku tahu kamu masih ngambek. Wajar kamu marah padaku, aku memang salah. Sekarang aku benar-benar men

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status