Teilen

Bab 5

Makjos
"Aduh!"

Pada saat itu, Hilda yang duduk di kursi penumpang depan tiba-tiba berteriak kaget.

"Willy, gimana ini? Aku lupa tutup jendela! Pot tanaman hijau yang kamu kasih masih di ambang jendela. Hujannya deras sekali. Kalau sampai rusak, aku bakal sedih setengah mati!"

"Itu tanaman kecil yang kamu tanam sendiri pada hari ulang tahunku. Itu adalah harapanku untuk terus hidup. Berkat tanaman itu, aku bisa melewati setiap malam saat depresiku kambuh. Aku menyayanginya bahkan lebih dari diriku sendiri!"

Melalui kaca spion, Stacy menyadari bahwa pandangan Hilda tepat mengarah padanya. Dia tiba-tiba mengerti, Hilda sengaja melakukannya.

"Aku langsung putar balik dan antar kamu pulang!" jawab Willy tanpa berpikir sedikit pun.

"Mm! Kamu memang yang terbaik!" Kegembiraan di wajah Hilda sama sekali tidak bisa disembunyikan, tetapi tak lama kemudian dia kembali melirik ke kursi belakang dengan ragu-ragu.

Dengan suara pelan, dia berkata, "Tapi Stacy jadi ikut buang-buang waktu dengan kita. Apa nggak mengganggu jadwalnya ke dokter?"

Mobil mendadak berhenti dengan bunyi decit di pinggir jalan. Willy menunjuk Stacy dengan dingin dan berkata, "Turun. Pergi sendiri ke rumah sakit. Ada payung di bagasi."

Stacy hanya tertegun sejenak, lalu mengiakan pelan dan membuka pintu mobil.

"Tapi, gaun baru yang kupakai hari ini juga hadiah ulang tahun darimu. Kalau sampai basah, gimana dong?"

Saat Hilda mengucapkan itu, Stacy baru saja turun dari mobil. Willy tidak memberinya kesempatan untuk mengambil payung, langsung menginjak pedal gas dan melaju pergi.

"Payungnya masih berguna, nggak bisa kuberikan padamu."

Air yang menggenang di jalan terciprat tinggi oleh mobil. Stacy mundur beberapa langkah untuk menghindar. Begitu mengangkat kepala, dia beradu pandang dengan wajah Hilda yang cantik di balik kaca jendela mobil. Senyuman puas itu belum sempat menghilang dari wajahnya.

Stacy menghela napas tak berdaya dan segera berlindung di bawah kanopi toko di pinggir jalan. Hujan turun terlalu deras. Begitu turun dari mobil, dia sudah basah kuyup.

Saat ini, dia menggigil kedinginan. Ditambah lagi tubuhnya masih sangat lemah setelah aborsi, dia pun berjongkok dengan lemas sambil memeluk dirinya sendiri.

Biasanya, tempat ini cukup mudah untuk mendapatkan taksi. Namun, hujan deras yang datang tiba-tiba membuat jalanan yang tadinya lancar menjadi macet dan taksi kosong sangat sedikit. Dia melirik orang-orang di sampingnya yang terus menyegarkan aplikasi pemesanan kendaraan.

Tampaknya, hari ini mustahil untuk pulang dengan taksi. Dia pun menahan dingin yang menusuk dan memaksa diri sendiri berdiri, lalu berjalan menembus hujan.

Namun, belum berjalan jauh, perut bagian bawahnya langsung dilanda nyeri hebat disertai rasa dingin yang menjalar. Seharian dia belum makan apa pun. Operasi aborsi yang dilakukan pagi tadi pun belum sempat memberinya waktu istirahat sedikit pun. Kali ini, dia benar-benar tak sanggup lagi. Pandangannya menghitam, lalu dia roboh di tengah hujan deras.

Saat Stacy membuka mata kembali, yang terlihat adalah dinding putih bersih dan wajah dingin Willy yang muram. Dia terkejut, segera meloncat turun dari tempat tidur, barulah menyadari ada jarum yang tertancap di punggung tangannya.

Dengan cemas, Stacy menyentuh perut bagian bawahnya. Apakah urusan aborsinya akan ketahuan?

"Siapa yang menyuruhmu turun dari tempat tidur? Kembali berbaring! Sudah 18 tahun masih saja nggak tahu jaga makan. Apa kamu nggak tahu hipoglikemiamu kambuh lagi?"

Begitu mendengar kata hipoglikemia, ketegangan Stacy baru sedikit mereda. Di bawah tatapan Willy, dia menurut dan kembali berbaring di tempat tidur.

Barulah saat itu dia memperhatikan sekeliling. Ini bukan rumah sakit, melainkan rumah Hilda.

"Om, bukannya kamu mengantar Hilda pulang? Kenapa malah ...."

Willy memotong perkataannya dengan tidak sabar, "Kenapa malah balik lagi dan membawamu ke sini? Apa kamu tahu kamu sudah membuat masalah sebesar apa untukku? Sampai-sampai aku dimarahi habis-habisan oleh kakekku!"

Barulah Stacy tahu, ternyata saat dia pingsan, ponsel yang masih digenggamnya tak sengaja menelepon kontak darurat. Kontak daruratnya adalah Indra. Dulu, Indra sendiri yang menyarankannya untuk menjadikannya sebagai kontak darurat.

Dia bilang, semua orang di rumah pasti ada waktunya sibuk. Hanya dirinya yang paling senggang. Jadi, dia selalu bisa menerima telepon Stacy selama 24 empat jam.

Tak disangka, dia justru tak sengaja menelepon Indra. Telepon tersambung, tetapi tidak ada suara balasan sama sekali. Indra pun segera menelepon Willy. Begitu tahu bahwa Willy justru meninggalkannya di tengah jalan, Indra langsung murka.

Begitu menutup telepon, Willy segera berbalik arah. Bahkan dia tidak mendengar pertanyaan Hilda sama sekali. Pikirannya dipenuhi oleh Stacy. Stacy tidak boleh sampai kenapa-napa. Kalau tidak, kakeknya pasti akan memukulinya sampai mati!

Tak lama kemudian, dia menemukan Stacy yang sudah pingsan tidak jauh dari tempat dia menurunkannya. Dia tahu penyakit hipoglikemia Stacy sudah lama.

Awalnya dia ingin langsung membawanya ke rumah sakit, tetapi Hilda berkata jarak ke rumah sakit masih cukup jauh dan jalanan sedang macet. Lebih baik pergi dulu ke rumahnya yang dekat, lalu memanggil dokter keluarga untuk menanganinya.

Begitulah akhirnya Stacy berbaring di kamar tamu rumah Hilda. Stacy sendiri tidak menyangka kejadian seperti ini bisa terjadi.

"Maaf, Om. Aku sudah merepotkanmu. Sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik, jadi aku nggak akan mengganggu kalian lagi." Stacy meminta maaf dengan tulus, juga tulus ingin memberi mereka ruang.

Di kehidupan sebelumnya, dia selalu cemburu karena Hilda. Karena itu, mereka bertengkar berkali-kali dan Willy selalu memarahinya karena dianggap tidak tahu diri.

Namun sekarang, ketika dia sudah tahu diri, Willy justru tampak semakin marah. "Sudah seperti ini, kamu masih sempat memikirkan orang lain?"
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 24

    Setelah keluar dari ruang dokter, wajah Willy dipenuhi keputusasaan.Ternyata sejak di dalam negeri dia sudah dijatuhi vonis mati. Datang ke sini untuk berobat hanyalah harapan terakhir. Namun, harapan terakhir itu pun hancur.Dia berjalan terhuyung-huyung kembali ke ruang rawat, tepat berpapasan dengan Wilbert yang baru kembali.Melihat ekspresinya, Wilbert langsung tahu bahwa dia sudah mengetahui semuanya."Willy, dokter bilang selama kamu mau menjalani pengobatan dengan aktif, masih ada harapan."Namun, kalimat itu saat ini terdengar begitu pucat dan tak berdaya.Willy mengangkat kepala lagi. Wajahnya sudah basah oleh air mata. "Kak, aku belum ingin mati. Aku bahkan belum berhasil mendapatkan kembali Stacy. Aku nggak terima ...."Dia memeluk kakaknya dan menangis tersedu-sedu. Baru setelah kelelahan menangis, dia kembali berbaring di ranjang untuk beristirahat.Dia menjadi jauh lebih serius menjalani pengobatan. Tingkat medis rumah sakit ini sudah kelas dunia, tetapi dia tetap meras

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 23

    Willy menatap Stacy tanpa berkedip. Dia tampak sedikit lebih tinggi, wajahnya juga terlihat lebih berisi. Sepertinya setelah meninggalkannya, hidup Stacy tetap berjalan dengan baik.Memikirkan hal itu, hati Willy diliputi rasa getir. Stacy bukan lagi gadis kecil yang dulu selalu suka menempel padanya.Dia mengangkat tangan, ingin seperti dulu mengusap kepala Stacy. Namun, tangan yang sudah terulur itu akhirnya ditarik kembali. "Stacy, aku ....""Om Willy, sudah lama nggak ketemu." Stacy melangkah maju menyapanya, lalu menoleh ke belakangnya sambil memanggil, "Om Wilbert."Dua panggilan om itu terucap tanpa pembedaan, begitu alami. Hati Willy yang semula berdebar seketika mendingin, tetapi dia tidak boleh menyerah.Kali ini, dia datang berobat dengan alasan sakit. Ini adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk mendapatkan Stacy kembali."Stacy, aku ingin bicara berdua denganmu sebentar, boleh?"Stacy tidak langsung menjawab, melainkan melirik Wilbert di belakangnya.Wilbert mengangguk

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 22

    Willy yang semula lesu tiba-tiba kembali bersemangat, mendesak kakaknya agar segera mengatur keberangkatan ke luar negeri.Melihat sikapnya yang begitu antusias, seharusnya Wilbert merasa senang. Namun, senyuman di wajahnya justru lebih pahit daripada tangisan. Jika Willy tahu kondisi penyakitnya yang sebenarnya .... Dia tidak berani melanjutkan pikiran itu.Di ranjang rumah sakit, Willy terus memainkan jepit rambut di tangannya sambil berulang kali memanggil nama Stacy dengan suara lirih. Melihat penampilan adiknya yang begitu penuh perasaan, wajah Wilbert dipenuhi kekhawatiran mendalam.Setelah mengambil keputusan, Wilbert menelepon Stacy yang berada di luar negeri. "Halo, Stacy, ini Om Wilbert. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."Stacy baru saja menyelesaikan satu rangkaian eksperimen. Dia cukup terkejut menerima panggilan ini.Sebelum meninggal, Indra pernah berpesan kepada orang-orang Keluarga Jinara agar tidak memberitahukan kabar kematiannya kepada Stacy. Indra tah

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 21

    Sejak Indra meninggal dunia, Willy hampir tinggal di perusahaan. Dia jarang pulang ke rumah lama. Setiap kali kembali ke sana, dia selalu teringat hal-hal yang menyedihkan. Dia tidak berani membiarkan dirinya rileks walaupun sesaat. Karena begitu berhenti bekerja, dia akan tenggelam dalam kerinduan yang tak berujung.Dalam waktu singkat, Willy berhasil membawa Grup Jinara ke tingkat yang baru, tetapi semua itu ditukar dengan kesehatan tubuhnya. Enam bulan kemudian, penampilannya menjadi begitu kurus dan menyedihkan.Suatu pagi, setelah selesai memimpin rapat pagi dengan jajaran eksekutif perusahaan, dia tiba-tiba roboh di ruang rapat. Ketika dia kembali sadar, sudah dua hari berlalu. Di atas ranjang rumah sakit, Willy bermimpi sangat panjang.Dalam mimpinya, dia melihat Stacy yang berusia 18 tahun, pada hari pesta ulang tahunnya, menyatakan cinta kepadanya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerimanya. Stacy begitu bahagia sampai melompat dan berputar-putar, lalu jatuh ke dalam pel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 20

    "Pulang? Om, aku nggak akan kembali ke Keluarga Jinara lagi. Tapi aku nggak akan melupakan jasa Keluarga Jinara kepadaku. Suatu hari nanti, ketika aku sudah mampu, aku pasti akan membalas budi kalian."Nada bicara Stacy tegas, membuat sedikit semangat yang baru saja muncul di hati Willy seketika lenyap."Kalau nggak ada urusan yang benar-benar penting, aku harap kamu nggak menggangguku lagi. Beban kuliahku sangat berat."Setelah menutup telepon, Stacy menghela napas panjang. Dulu dia merasa om kecilnya berbeda dengan pria lain. Tenang, tegas, dan pandai berpikir.Namun sekarang, dia baru menyadari pria tetaplah pria. Dulu dia bisa tergila-gila pada Hilda, ke depannya dia juga bisa tergila-gila pada perempuan lain.Stacy masih sangat muda. Masa depannya penuh dengan kemungkinan tak terbatas. Dia tak mau langkah hidupnya terhambat oleh urusan cinta dan perasaan. Dia tidak mengerti kenapa dirinya di kehidupan sebelumnya begitu bodoh, menaruh seluruh harapan pada satu orang pria. Padahal,

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 19

    Willy melancarkan pengejaran tanpa henti terhadap Stacy, sampai-sampai membuatnya benar-benar kewalahan.Dia mengira setelah semuanya dijelaskan dengan jelas, om kecilnya ini seharusnya sudah mengerti. Namun siapa sangka, Willy justru berkata ingin mengejarnya dan akan melamarnya.Entah bagaimana, hal yang dulu pernah dia khayalkan berkali-kali justru datang saat dia sudah menyerah pada perasaan itu.Akhirnya, dia benar-benar mengerti cinta yang dulu dia berikan kepada Willy memang merupakan sebuah beban baginya, karena sekarang dia sendiri sudah merasakan beban itu.Stacy hanya bisa menyatakan sikap dengan tegas agar dia menyerah, tetapi Willy justru seperti disuntik hormon, sama sekali tidak mau mendengarkan.Willy khawatir akan mengganggu studinya, jadi dia hanya menelepon Stacy saat waktu makan pagi, siang, dan malam. Setiap panggilan penuh dengan permohonan maaf yang tulus."Stacy, aku tahu kamu masih ngambek. Wajar kamu marah padaku, aku memang salah. Sekarang aku benar-benar men

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status