Share

Bab 5 Balas dendam

Author: Jackie Boyz
last update Last Updated: 2025-05-27 19:53:03

"Ummmmhhh, ummmmhh, ummh!" Vira meronta dan memukuli dada Bram hingga kemeja rapi Bram berubah menjadi kusut.

Bram menarik pinggang Vira hingga merapat ke dalam pelukannya lalu menekan tubuh Vira hingga terlentang di sofa ruangan utama.

Pintu depan juga sudah ditutup, Bram sama sekali tidak takut kalau tindakannya itu bakalan ketahuan. Sudah lama dia tahu bahwa Vira lebih sering tinggal seorang diri di kediaman besar itu.

"Om, mau ngapain lagi!" Bentak Vira.

"Kamu suka main kasar? Apa kamu kira aku bakalan menerima penolakanmu? Hah?" Tanya Bram sambil menahan kedua tangan Vira di kedua sisi kepala Vira.

Kenapa harus Om Bram? Kenapa harus suami dari Mbak Ningrum? Kenapa bukan pria lajang saja? Keluh Vira dalam hatinya. Bram terus menciuminya tanpa henti, ketika penolakan Vira berubah menjadi kepasrahan Bram segera melepaskan tahanan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Vira.

"Om, oh, jangan, tadi pagi masih sakit,"

"Kamu harus ingat momen ini baik-baik, tubuhmu hanya boleh menjadi milikku! Hanya aku Vira, hanya Bram Hendarto!"

Vira tidak menyahut, dia hanya bisa memeluk punggung Bram ketika Bram berusaha mendapatkan apa yang pria itu inginkan.

"Vir, aku sangat menginginkanmu!" Desis Bram pada telinga Vira.

"Om, nggak boleh, Om,"

Momen ini begitu membekas dan bermakna bagi Bram Hendarto. Pagi tadi dia terburu-buru karena cemas Adinda curiga, tapi kali ini dia ingin lebih menikmatinya.

Apakah tanpa sadar aku telah jatuh cinta pada Vira, meski awalnya aku hanya ingin main-main tapi kemarahanku saat aku ingin menjelaskan pada Vira siang ini tiba-tiba berubah menjadi perasaan gemas. Kenapa rasanya aku ingin membuat gadis ini hanya menerima sentuhan dariku? Apakah ini hanya sikap egoisku semata? Apakah aku terlalu serakah? Meski niatku hanya ingin membalas Guntoro. Tapi perasaanku yang seperti ini begitu tulus, dan seperti .... cinta pertama!

Vira menatap tubuh kekar dan atletis Bram yang kini tengah berada di atasnya. Wajah tampan Bram terlihat sempurna menjadi idola wanita. Vira larut dalam gairah tak betepi. Sejenak kewarasannya hilang entah ke mana. Perkataan kasarnya yang tadi dia lontarkan pada Bram menjadi tidak berarti.

"Om, aku nanti malam aku masih ada jadwal memberikan les, kakiku rasanya sangat sakit," rengek Vira pada Bram.

"Aku akan mengakhirinya tapi kamu harus janji balas pesanku, kirimkan nomor rekeningmu padaku, oke?"

"Ta, tapi,"

Setelah selesai Vira segera membersihkan sofa dan mengenakan bajunya kembali. Begitu juga Bram, pria itu sekarang duduk santai sambil menyandarkan punggungnya.

"Om kenapa minta nomor rekeningku?" Tanya Vira.

Dia sudah menuruti permintaan Bram dan tidak ingin memancing kemarahan Bram lagi. Ketika Bram marah hanya akan membuat Vira kesulitan. Bram akan muncul di manapun Vira berada. Bahkan Bram menyusulnya pulang ke rumah untuk menegaskan kembali perkataan yang belum disampaikan ketika mereka di sekolahan siang tadi.

"Aku ingin memberikan uang padamu, ya meski kamu berkeras menolaknya."

Vira tidak mengerti dia hanya duduk diam sambil menatap layar ponselnya, tak lama setelah dia memberikan rekeningnya uang langsung masuk ke dalam tabungannya senilai lima juta rupiah.

"Om, aku sudah digaji sama Mbak Ningrum sebagai guru les Adinda, dan nominal ini terlalu besar. Apa Om ingin membayarku selama beberapa bulan ke depan?"

"Bukan, itu beda lagi, itu tunjangan yang akan aku kirim setiap bulan, ya tapi tergantung dengan jalannya proyek dan bisnisku. Kalau lancar minggu depan aku tambahi," sahutnya dengan enteng sambil menatap Vira dengan senyum nakal pada sudut bibirnya.

Vira tidak mengerti niat Bram, dia tetap tidak merasa senang menerima uang dari Bram. Hubungan terlarang yang dilakoninya juga bukan karena uang atau dilakukan dengan sukarela, Vira tetap ingin memutuskan hubungan antara dirinya dengan Bram.

"Apa maksudnya Minggu depan?" Tanya Vira heran.

"Kamu resmi jadi pacar selingkuhan ku, apalagi?" Jawab Bram dengan santai sambil menyentuh dagu Vira di sebelahnya lalu berniat memberikan ciuman pada bibir ranumnya.

Tash! Vira menepis tangan Bram dari dagunya.

"Aku ogah Om! Ogah! Sampai mati aku nggak mau bohongi atau nyakitin mbak Ningrum!"

Bram tertawa geli sambil menepuk-nepuk pahanya sendiri.

"Lucu sekali, padahal kamu tadi merintih-rintih, wajah penuh nafsumu mana mungkin bisa aku lupakan! Sepertinya kamu sengaja bersandiwara di depanku! Dalam hatimu mau, tapi mulutmu ini nggak senada, mulutmu nggak bisa mengakuinya! Tapi tubuhmu yang jujur nggak pernah bisa nolak." Bram bicara sambil menunjuk bibir Vira di sampingnya.

Vira kembali menepisnya dengan kasar.

"Om sudah nggak waras! Om Bram sudah gila!" Bentaknya dengan tatapan marah.

"Makanya nurut sajalah! Lagian kamu pikir pria mana yang tulus dan mau mencukupi kebutuhan kamu tanpa menikah? Aku sudah sebaik ini kamu tolak, apa kamu pikir kamu bisa mendapatkan pria lain di luar sana setelah tahu kalau kamu sudah nggak perawan?"

Bram menyentuh bahu Vira lalu membisikkan kata-kata pada telinganya. "Apa kamu mau aku yang ngomong langsung sama pria yang mendekatimu? Bahwa akulah yang sudah merenggut kesucianmu!?" Tanya Bram dengan tatapan merendahkan.

Vira langsung membalas tatapan mata Bram, tidak hanya sorot mata tajam Bram yang menegaskan bahwa Vira sepenuhnya berada di genggaman tangannya, tapi kata-kata itu lebih mirip sebagai ungkapan peringatan dan juga ancaman besar bagi Vira bahwa Vira tidak akan pernah bisa menikah dengan pria lain.

"Kejam sekali!" Desis Vira sambil mengusap air mata pada kedua pipinya.

"Ya .... Memang aku terlihat kejam dan seenak sendiri, tapi coba kamu pikir daripada kamu dibuang di malam pertama setelah menikah? Apakah tidak lebih memalukan?" Sahut Bram dengan entengnya sambil mengukir senyum lalu meniup kepulan asap rokok dari bibir tipisnya ke wajah Vira.

Vira merasa muak sekali dengan ucapan Bram. Bram tidak hanya menginjak-injak harga diri Vira tapi juga berulangkali mengoloknya karena sudah tidak memiliki kesucian untuk dibanggakan lagi.

Benarkah hanya untuk membalas dendam? Bukankah Bram merasakan kebenaran tentang ketulusan dalam hati ketika menjamah tubuh Vira Astanti? Bagaimana kalau pada akhirnya aksi balas dendam Bram ternyata malah membuat Bram terjebak dalam dilemanya sendiri, antara kebenaran dirinya yang telah larut dan jatuh cinta pada Vira?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 128 Ending

    Tidak lama setelah Ambarwati pergi, Melati keluar dari pintu kamar mandi di dalam kamarnya. Dia tadi memergoki Ambarwati bicara pada dirinya sendiri, dan juga melihat Ambarwati memasukkan sesuatu ke dalam teh di cangkir yang ada di meja samping ranjang.Melati menggelengkan kepalanya sambil duduk di tepi ranjang.Yang aku lihat tadi? Apa Ambar benar-benar ingin mencelakaiku? Kenapa dia sangat membenciku? Padahal selama ini aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri bahkan menikahkannya dengan Renaldi putra yang paling aku sayangi.Melati tidak ingin percaya dengan apa yang dia saksikan tadi jadi dia segera mengambil cangkir tersebut dan bersiap untuk meminumnya. Ketika bibir cangkir hampir menyentuh bibir Melati tiba-tiba Vira datang dan membuka pintu kamarnya. Vira tidak mengatakan apa pun dan langsung merebut cangkir tersebut dari genggaman tangan Melati lalu membuangnya ke dalam vas bunga yang berada tak jauh dari posisi mereka, setelah Vira melemparkan cangkir te

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 127 Keracunan

    ***Di sisi lain, Vira sudah sampai di rumah sakit dan dia kini sedang menemani Renaldi. Abdi Sasena bergegas untuk menemui Renaldi dan Vira karena dia ingin mengatakan niat jahat Ambarwati terhadap keluarganya. Abdi merasa tidak bisa mengatasi masalah tersebut jadi kedatangan Abdi bertemu dengan Vira kali ini, dia secara khusus ingin meminta bantuan dari Vira untuk mencegah Ambarwati.Abdi memarkirkan mobilnya, dengan tergesa-gesa dia menuju ke kamar di mana Renaldi dirawat. Ketika langkah kakinya sudah tiba di depan kamar Renaldi, Abdi melihat Vira sedang menyeka wajah dan leher Renaldi.Abdi masuk ke dalam ruangan, Vira menoleh ke arahnya.“Renaldi, dia baik-baik saja kan?” tanya Abdi pada Vira.Vira menganggukkan kepalanya, Vira kembali menatap Renaldi yang masih tidur di ranjang.“Syukurlah, aku cemas kalau Ambarwati kembali melukai Renaldi.”“Kak Abdi kenapa di sini? Mama pasti lebih membutuhkan Kakak di rumah.” Vira berkata tanpa mengalihkan p

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 126 Tetap percaya pada Ambar

    “Sudah, jangan berdebat terus, lebih baik kita pulang sekarang!” Agung menyentuh bahu Abdi yang kini duduk di sebelahnya. Abdi bukan tidak ingin pergi tapi dia cemas dengan kondisi Vira, apalagi Renaldi sudah berpesan pada Abdi Sasena untuk menjaganya selama perjalanan menuju ke kediaman Roi. Melihat Abdi tidak kunjung menyalakan mesin mobil Agung kembali bicara, “Vira pasti sudah sampai di rumah, dia pasti akan naik taksi, dia tidak akan jalan kaki ke rumah.”Abdi menatap Agung di sampingnya sementara Melati melipat kedua tangannya sambil melengos ke arah jendela samping.“Vira nggak bawa tas, dia juga nggak bawa dompet, lokasi ini jarang ada kendaraan umum lewat. Meskipun tak jauh dari sini ada jalan besar, tidak banyak kendaraan selain truk yang mengangkut pasir dan batu dari area pegunungan.”Agung Setiaji tidak tahu harus bagaimana menjawab perkataan putranya. “Ya, sudah, kita cari saja Vira, dia tadi jalan ke arah sana!” tunjuknya pada Abdi Sasena.“L

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 125 Kediaman Roi

    *** Di sisi lain, Roi sudah kembali ke jasadnya sendiri akan tetapi dia terluka sangat parah dan tidak bisa pulih dalam waktu singkat. Sesaji yang dia gunakan untuk mengambil jasad Renaldi kemarin seluruhnya berantakan, bahkan tujuh ekor ayam jantan hitam yang belum sempat dia gunakan untuk mematri jiwanya di dalam jasad Renaldi semuanya mati tanpa sebab yang jelas. Bunga yang berbau harum dia gunakan bersama kemenyan sudah porak-poranda yang berantakan. “Siapa yang sudah melakukan semua ini? Vira? Tidak mungkin dia repot-repot datang ke tempat ini lagi. Jin yang aku pelihara? Tidak, mereka tidak pernah berani menyentuh sesaji yang aku siapkan untuk pemujaan!” Roi memegangi dadanya yang sakit, pria itu menjatuhkan dirinya di kursi karena tidak mampu berdiri dalam waktu lama. Tidak lama setelah Roi menyandarkan punggungnya di kursi, terdengar suara keributan dan teriakan dari luar rumah. “Roi? Inikah hasil yang kamu bilang sukses kemarin? Sampa

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 124 Hanya miliknya

    Ratu Dewi Kenanga masih menguasai tubuh Vira. “Aku baru saja mengeluarkan kekuatan besar, jika aku terus mengambil kesadaran Vira sepenuhnya bisa-bisa jiwaku melebur dan menjadi satu dengan jiwa Vira. Selama turun-temurun aku selalu mengikuti cucu-cucuku, tapi keselarasan yang aku temukan saat merasuki tubuh mereka hanya bisa menyatu seutuhnya di dalam tubuh Vira. Selama Vira belum melahirkan aku tidak boleh meninggalkannya, situasi berbahaya mungkin akan kembali datang.” Melihat kondisi sekitar sudah aman dia berniat mengembalikan kesadaran Vira sementara dirinya kembali beristirahat di dalam tubuh Vira. Ratu Dewi Kenanga ingin kembali menuju ke ruangan di mana Vira dirawat sebelumnya, belum sampai melangkah pergi tiba-tiba kakinya dipegangi oleh Renaldi yang tadinya terkapar di lantai.“Vira, kamu mau ke mana? Apa kamu akan pergi meninggalkanku? Jika ini hanya mimpi aku ingin tinggal selamanya di dalam mimpi, asalkan bisa melihatmu aku sudah merasa lega.” “Dasar

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 123 Kamu tertangkap

    Vira mendorong dada Renaldi menjauh darinya. Vira merasa mereka tidak boleh melakukan hubungan badan saat situasi masih genting seperti sekarang. Wajah Renaldi terlihat kecewa lantaran Vira menolak keinginannya. Tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakanya pada Vira, biasanya Vira tidak pernah memperlakukan dirinya seperti sekarang.“Apa aku tidak menarik lagi di matamu?”Vira tertawa tanpa suara lalu menyentuh kedua bahu Renaldi dan membisikkan sesuatu di telinga Renaldi. “Bukan menarik atau tidak menarik, aku tahu kamu sengaja melepaskan raga Renaldi sekedar untuk menemukanku kembali di sini! Roi!”Renaldi sangat terkejut, lebih tepatnya Roi yang sudah pernah mengambil alih tubuh Renaldi memang sengaja mengambil kesempatan itu untuk membuat Vira tunduk dan patuh padanya. “Kamu bisa mengenaliku? Bagaimana mungkin? Aku sudah mengurung jiwa wanita iblis itu, apa ada yang membebaskannya?” Renaldi yang kini dikuasai oleh Roi berkata pada dirinya sendiri s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status