LOGINVira langsung membuang muka, hatinya tidak hanya terluka, perasan marah yang ingin dia luapkan terpaksa harus dia tahan di dalam hati.
Bram tersenyum melihat Vira mengusap kedua pipinya dengan wajah menunduk. "Seharusnya kamu merasa bahagia karena aku bersedia menaruh perhatian padamu." Vira menggertakkan giginya. "Puas Om menertawakan ku? Puas Om menyaksikan masa depanku hancur seperti ini?! Puas Om melihatku tidak memiliki harapan?!" Bentak Vira sambil meremas baju yang membalut tubuhnya. Vira merasa kesal dan benci. Terlebih lagi Bram sengaja mengoloknya seperti sekarang, hati Vira semakin hancur berkeping-keping. "Heh? Kamu ngomong apa? Nggak punya impian? Nggak punya harapan? Coba katakan padaku apa yang kamu harapkan? Apa yang kamu impikan?" Tanya Bram sambil menatap Vira di sampingnya. Bram menyentuh bahu Vira, dia menunggu Vira bicara sambil menatap wajah sembab gadis yang masa depannya sudah dia hancurkan. Lagi-lagi Vira menepis tangan Bram. Bram tidak menunjukkan kemarahan lagi, pria itu malah menghisap rokoknya dengan santai. Sikapnya yang begitu tenang membuat Vira semakin gregetan. "Aku sudah daftar PNS! Tiga bulan lagi aku tes seleksi! Aku pengen jadi guru tetap! Aku pengen jadi pegawai negeri, punya masa depan cerah! Setidaknya suatu hari nanti aku bakalan nikah dengan orang yang memiliki pekerjaan tetap juga! Tapi apa? Om malah begini ke aku, Om jahat!" Bram tertawa renyah. "Memangnya berapa gaji PNS? Ada sepuluh juta sama tunjangannya? Bandingkan saja sama uang yang aku kasih ke kamu, lebih banyak mana dengan gaji PNS? Gitu saja kok repot." Balasnya dengan gaya cuek bebek sama seperti sebelum-sebelumnya. "Om, bukan itu! Aku bilang itu adalah impian dan masa depanku! Jika dibandingkan dengan gaji yang memang nggak seberapa tapi dibandingkan dengan menjadi simpanan?! Coba Om pikir! Aku lajang, wajah dan penampilanku nggak jelek-jelek amat! Apa Om pikir aku nggak bisa dapat pria lebih baik selain Om Bram?" Tanya Vira dengan perasaan kesal. Hati Bram mulai memanas, dia tidak bisa bersabar terus lantaran Vira terus memposisikan diri Bram sebagai sumber malapetaka di dalam hidup Vira. Meski benar demikian tapi Bram tidak mau direndahkan oleh Vira. "Mungkin kamu bisa mendapatkan pria di luar sana, tapi coba saja kamu pikir baik-baik apa yang terjadi ketika pria itu tahu bahwa kamu sudah nggak perawan lagi?" Ejek Bram pada Vira. "Sudah sana! Cari! Apa perlu diundi! Kalau dapat kirim undangannya ke rumah! Aku tunggu! Sebulan! Kalau lebih dari itu, artinya kamu memang nggak becus nyari cowok!" Ancam Bram sambil berdiri menunjuk-nunjuk wajah Vira, Bram terlihat kesal dan marah. Usai berkata demikian Bram segera berjalan menuju ke pintu. Vira mengejarnya sambil terus bicara. "Se-sebulan? Memangnya gampang nyari suami? Tinggal comot orang yang lagi jalan kaki di pinggir jalan! Kayak nemu gelandangan? Gitu?" Kejar Vira pada Bram. Perkataan Vira yang blak-blakkan membuat hati Bram melunak. Bram sudah membuka pintu mobilnya, sementara Vira berdiri di sampingnya sambil menekuk wajah dengan bibir cemberut. "Cari saja! Sebulan, lebih dari itu kamu masih pacarku!" Tandas Bram sambil menjentikkan jarinya pada ujung hidung Vira. "Om, sudah edan? Om, hei!" Vira mengetuk jendela mobil Bram yang sudah menutup. Mau tidak mau Bram kembali menurunkan kaca jendela mobilnya lalu meringis sambil melemparkan puntung rokok dari jemarinya ke tanah. "Apa? Edan? Ya edan sama kamu itu! Sudah aku mau jemput Dinda dulu, nanti dia ngomel-ngomel kalau aku telat jemput," Sahutnya enteng. Vira berkacak pinggang, dia tidak hanya kesal dan marah. Sikap Bram yang kurang ajar membuat Vira gemas dan ingin memukulinya. Vira tidak menahan Bram, dia hanya menatap mobil Bram meluncur pergi meninggalkan pelataran luas di depan rumahnya. *** Sore itu Vira memiliki jadwal untuk memberikan les di rumah Mia. Beruntung keluarga Mia begitu baik pada Vira. Dari semua orang tua anak didiknya hanya Bram yang berani bersikap tidak sopan pada Vira. Vira memberikan les selama satu jam, dan setelah selesai dia langsung pulang ke rumah. *** Begitu tiba di rumah, Vira segera masuk ke ruangan kerjanya. Di sana Vira meletakkan tas juga ponselnya di meja lalu merapikan buku-buku yang berserakan di meja lain. Tak lama kemudian ponsel Vira berdering nyaring. Vira mengintip ke layar ponselnya. Dan ketika melihat nama Bram tertera di sana, Vira tidak ada niat untuk menerima panggilan tersebut. Beberapa kali panggilan masuk, Vira tetap memilih untuk mengabaikannya. "Sudah bikin aku kesal, lalu telepon-telepon! Siapa yang sudi!" Gerutu Vira sambil cemberut. Selesai menata buku-buku di rak, Vira segera masuk ke dalam kamarnya. *** Di ruang makan, Guntoro dan Murni sedang menikmati makan malam. Jam di dinding masih menunjukkan pukul lima sore. "Vira ke mana? Sepertinya dia sudah pulang, Ibu panggil dia ke sini, kita makan sama-sama," perintah Guntoro pada Murni. "Iya, Pak, sebentar aku panggil Vira dulu," jawabnya dengan senyum lembut. Murni segera meninggalkan ruang makan dan pergi menuju ke kamar Vira untuk memanggilnya makan bersama. Tak lama setelah itu dia balik ke ruang makan tanpa Vira. "Loh, mana Vira?" Guntoro menatap Murni dengan tatapan tidak mengerti. "Lelah katanya, Vira juga bilang masih kenyang." Mereka berdua tidak membahas Vira lagi dan segera melanjutkan makan malam bersama. *** Di dalam kamarnya, Vira sedang rebah sambil mengusap perutnya. Baru saja Vira meminum obat anti hamil. Katanya obat tersebut boleh diminum selama pada hari yang sama ketika berhubungan intim dan tidak perlu diminum dengan rutin seperti obat hormon lainnya. "Please jangan hamil! Jangan hamil! Aku janji nggak akan mau diajak Om sinting itu lagi! Seandainya aku gendut dan jelek mungkin Om sinting itu nggak akan mau njamah tubuhku! Apa aku ubah penampilan saja? Tapi apa manjur?" Tanya Vira pada dirinya sendiri. Beberapa kali Vira menggelengkan kepalanya. Tidak tahu cara apa yang harus dia lakukan agar Bram tidak berani bertindak mesum atau mendekatinya lagi. Menurut Vira Bram memang pria sinting dan tidak tahu diri. Yang tersirat dalam benak Vira, sosok Ningrum sudah begitu baik melayani Bram di rumah tapi Bram malah selingkuh di belakang Ningrum. Itu hanya pandangan Vira, bukan pandangan Bram. Menurut Bram, Ningrum sudah keriput dan kecantikannya tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan wanita-wanita muda yang merayunya di luar sana. Ningrum tidak layak mendapatkan kebahagiaan ataupun kehangatan darinya jika mengingat perbuatan Ningrum di masa lalu sebelum resmi menjadi istri Bram. Ningrum sendiri juga tidak pernah protes saat Bram pulang terlambat. Entah apa alasan yang Bram katakan padanya, Ningrum memilih percaya pada Bram. Hanya dengan cara begitu Ningrum merasa keluarganya begitu damai, bahagia dan hampir tidak pernah cekcok. Vira terus bergumam pada dirinya sendiri, memikirkan banyak hal cukup lama dan dia tidak menemukan solusi apapun. Mencari pria untuk dinikahi juga mustahil, sudah bertahun-tahun Vira mencoba mencari pasangan yang cocok dan hasilnya nihil. Hingga detik ini tetap saja tidak ada satupun pria yang berinisiatif untuk mendekatinya apalagi menawarkan diri untuk menikahi Vira. "Memangnya nyari suami semudah nyari gorengan di kios pinggir jalan? Dasar Om sinting! Dia berani bertaruh pasti dia tahu kalau aku tipe orang pemilih dan nggak bakalan nyari pria asal-asalan!" Omel Vira lagi. *** Ada alasan lebih besar dari itu semua, kejadian kelam di masa lalu yang membuat mimpi Bram Hendarto hancur menjadi serpihan, hal itu membuat Bram semakin gigih untuk menjadikan Vira sebagai pemuas nafsu birahinya!Mendengar suara keributan dari ruangan utama, Renaldi dan Agung Setiaji segera pergi untuk melihat. Renaldi melihat Vira sedang duduk di samping Melati sambil berusaha membangunkan Melati.“Vira? Mama? Apa yang terjadi?” tanyanya seraya bergegas menggendong Melati lalu merebahkan Melati di dalam kamar. Vira mengikutinya dari belakang. “Aku nggak tahu Re, pas tiba di rumah tadi aku melihat Mama berteriak-teriak sendiri lalu dia pingsan di lantai.” Vira berbohong karena dia sengaja melakukan itu untuk menghukum Melati gara-gara Melati terus berusaha menyingkirkan dirinya dari sisi Renaldi. Renaldi tidak curiga sama sekali. Renaldi juga tidak bertanya tentang Melati pada Vira lagi. Agung Setiaji melihat baju yang Vira pakai sangat kotor dan basah, pikirnya entah dari mana Vira tadi. “Re, kamu bawa Vira untuk beristirahat, sudah larut malam, masalah Mama biarkan aku saja yang mengurusnya. Mungkin Mamamu hanya kelelahan saja jadi pingsan, seharian dia juga pe
Vira tidak mengatakan apapun, dia juga tidak berhenti ketika melewati tubuh dukun tua tersebut. Namun, ketika langkah kakinya sudah sampai di ambang pintu gerbang dia menoleh sebentar ke belakang punggungnya. Tubuh dukun tua itu sudah kejang-kejang lalu mengembuskan napas terakhirnya. “Dia repot-repot membawaku ke sini karena tidak bisa menyelamatkan Ambar, apa dia pikir dia cukup kuat untuk menghancurkanku?” Vira berkata pada dirinya sendiri lalu segera bergegas pergi. ***Di sisi lain, Renaldi masih terlihat cemas dia terus berputar-putar di area sekitar bersama mobilnya. Vira yang ingin dia cari malam itu tak kunjung dia temukan, Renaldi cemas kalau sampai terjadi sesuatu padanya. Karena sudah hampir tengah malam akhirnya Renaldi memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Pada saat tiba di rumah, Renaldi melihat Melati bersama Agung setiaji sedang duduk di sofa ruangan utama. Entah apa yang mereka bicarakan bersama, wajah keduanya tampak serius membahas ses
Pada sore hari Melati sudah bersiap-siap untuk pergi menjenguk Ambarwati, di pintu utama dia berpapasan dengan Agung dan Renaldi. Dua pria itu baru saja kembali dari perusahaan. “Mama mau pergi ke mana?” tanya Renaldi dengan tatapan mata bingung. Apalagi Melati terlihat sangat tergesa-gesa. “Ke mana lagi? Tentu saja pergi melihat kondisi menantu kesayanganku!” jawabnya dengan nada kesal. Renaldi tidak bertanya lagi, dia tahu siapa yang dimaksud oleh Melati tentu saja Ambarwati. Melati tidak pernah menyukai Vira, apalagi memujinya. Renaldi masih tidak tahu apa yang terjadi pada Vira, dia juga tidak bertanya pada Melati karena pikirnya Vira baik-baik saja dan sedang beristirahat di dalam kamarnya. Agung Setiaji masih berdiri di ruang tengah setelah masuk ke dalam rumah, dia merasakan firasat yang buruk semenjak karyawan heboh gara-gara Bima melaporkan pada polisi tentang Ambar yang pingsan di dalam ruangan kerjanya sore ini. Saat dibawa oleh petugas medis sepertiny
Ambarwati mengepalkan kedua tangannya karena kebersamaan antara dirinya dengan Renaldi diganggu oleh orang lain. “Pak Renaldi, ini berkas yang Anda minta, sebentar lagi meeting akan dimulai jadi silakan menuju ke ruangan meeting,” ujar asisten Renaldi sambil menaruh map di atas meja kerja Renaldi.Melihat berkas diletakkan di meja, Renaldi spontan meletakkan gelas minum tersebut kembali ke tempat semula. “Ya, jangan sampai ada kesalahan dalam meeting kali ini, aku tidak ingin investor membatalkan kerjasama antar perusahaan,” jawabnya pada asistennya.Asisten Renaldi menganggukkan kepalanya lalu pergi keluar meninggalkan ruangan kerja Renaldi untuk mengurus persiapan meeting. Ambar sangat geram melihat Renaldi menganggapnya tidak ada di ruangan tersebut. Ambar lebih tidak tahan melihat Renaldi mengacuhkan gelas yang sudah dia siapkan pagi-pagi sekali tadi. Minuman dalam gelas itu masih utuh dan tidak jadi disentuh. Karena tidak sabar Ambar segera berkata pada Renaldi sebelum Renaldi
“Bagaimana jika kamu izinkan aku ikut pergi bersama denganmu?” tanya Vira tiba-tiba.Renaldi tercengang, dia tidak mengira Vira berencana ikut dengannya. Di perusahaan dan di seluruh kalangan bisnis Renaldi sekarang adalah suami sah dari Ambarwati sementara Vira tidak memiliki nama sama sekali. Renaldi tidak ingin Vira terluka lantaran mendengar cacian dan ejekan dari semua orang.Melihat ekspresi tidak baik pada wajah Renaldi, Vira seolah tahu apa yang mengganggu pikiran Renaldi. Vira mengambil segelas air lalu meneguknya sambil melirik Renaldi. Dia berharap Renaldi setuju dengan usulnya barusan. Akan tetapi yang dia lihat Renaldi malah mengepalkan kedua tangannya bahkan tidak menyendok satu suap pun makanan di piring.“Maafkan aku, sepertinya akan lebih baik jika kamu tetap tinggal di rumah. Perusahaan keluargaku sama sekali bukan tempat yang cocok untuk kamu kunjungi,” jawabnya.Vira menelan senyum pahit lalu menyahut, “oh? Apa Ambar lebih cocok berada di sana? Jadi menurutmu itu b
***Pada keesokan harinya, Suparman mencoba menghubungi Melati.Pagi-pagi sekali telepon di kediaman Renaldi berdering nyaring, kebetulan Vira baru saja selesai mandi dan berjalan menuju ke arah ruangan utama kediaman Renaldi, Vira ingin keluar rumah untuk menikmati udara segar. Ketika langkah kakinya hampir sampai di ruangan utama Vira mendengar suara dering telepon tersebut. Langkah kaki Vira terhenti, Vira menatap ke sekitar tidak ada seorang pun di ruang tengah. Ke mana perginya semua orang? Renaldi masih tertidur pulas dalam kamarnya, jika aku mencarinya untuk menjawab telepon pasti orang di seberang sana bakalan terlalu lama menunggu.Vira berjalan mendekat ke meja telepon, saat dia mengangkat gagang telepon dalam waktu bersamaan ternyata seseorang sudah menerima panggilan tersebut dengan telepon lain. Vira secara tidak sengaja ikut mendengar suara percakapan antara dua orang tersebut. “Bu Melati, saya tidak tahu harus memulainya dari mana.” Ujar seorang pria di seberang sana.







