Home / Rumah Tangga / Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku / Bab 4 Bertamu di kediaman Guntoro

Share

Bab 4 Bertamu di kediaman Guntoro

Author: Jackie Boyz
last update Last Updated: 2025-05-27 19:41:18

Bram berdiri menghalangi jalan, dia pikir Vira seorang gadis penurut tidak disangkanya Vira adalah wanita yang berpendirian dan sangat keras kepala. Vira menatapnya dengan sinis sambil menarik gas dalam genggaman tangan kanannya! Suara motor yang menderu-deru membuat Bram panik. Nyatanya mereka kini benar-benar menjadi pusat perhatian di area parkiran sekolah.

"Aku cuma mau jelasin!" Ujar Bram dengan nada emosi.

"Aku nggak butuh! Satu lagi, Om jangan pernah gangguin aku! Aku nggak mau semua orang berpikir kalau aku sudah merusak rumah tangga orang lain!" Tegas Vira sambil menarik gas pada setirnya. Vira juga membalas tatapan Bram dengan penuh kemarahan. Mau tidak mau Bram segera menyingkir, motor Vira meluncur pergi dari halaman sekolah tersebut.

Bram membuang rokok dari bibirnya ke lantai lalu menginjaknya hingga hancur.

"Ohh, rupanya mau main kabur-kaburan? Lihat saja! Aku bakalan membuat kamu merintih lebih keras di atas ranjangku! Lihat dan tunggu saja Vira Astanti! Aku akan membuatmu tunduk dan tidak bisa menolak ku lagi! Malahan kamulah yang akan tergila-gila padaku seperti wanita-wanita di luar sana ingin aku setubuhi! Setidaknya kamu harus menjadi pelampiasan birahiku karena sakit hati yang aku tanggung akibat ulah Guntoro!" Sumpahnya dengan wajah geram.

Bram memang terkenal dengan wajah tampan serta kesuksesannya. Bukan berarti Bram selama ini suka main wanita, Bram hanya tertarik pada Vira dan itu pun karena sakit hati yang Bram tanggung akibat ulah Guntoro - ayah Vira, Bram merasa harus mendapatkan Vira untuk membalaskan dendamnya! Banyak wanita, tidak hanya beberapa wanita berniat menggoda untuk mendapatkan perhatian dari Bram, Bram tidak tertarik untuk berselingkuh. Hal itu sama sekali tidak pernah terbersit di dalam pikirannya. Lagi pula siapa yang tidak silau dengan harta kekayaan dan uang? Bram bisa mendapatkan apa saja dengan uang! Termasuk wanita model apa pun yang diinginkan. Akan tetapi Bram juga tidak butuh penghiburan seperti itu apalagi dari wanita mata duitan! Bagi Bram wanita yang menggodanya pasti juga bukan wanita baik-baik. Bram tidak suka dengan wanita kotor.

Sebelumnya, sebenarnya pernikahan Bram dengan Ningrum adalah pernikahan yang diatur keluarga. Ningrum menikah dengan Bram di usia yang sudah lewat tua. Selisih usia antara mereka berdua cukup jauh. Dan Bram sendiri waktu itu juga tidak bisa menolak desakan dari ayahnya untuk segera memutuskan menikahi Ningrum. Namun semua itu bukan alasan untuk membenarkan Bram berselingkuh di belakang Ningrum. Tetap saja perbuatan Bram saat ini bukan hal yang benar.

***

Bram harusnya menjemput Adinda tiga jam lagi. Bram merasa terlalu lama jika dia terus menunggu di sekolahan. Bram memutuskan menyusul Vira ke rumahnya.

Sampai di rumah Vira, Bram disambut oleh ibu Vira.

Melihat mobil berhenti di pelataran luas depan rumahnya, Murni segera berjalan keluar dari pintu rumah.

Kediaman dengan bahan kayu jati bermodel joglo tersebut terlihat kuno seperti rumah-rumah jaman kerajaan terdahulu. Murni mengenakan kebaya sederhana dengan bawahan kain batik.

Murni berdiri di beranda dan dia melihat seorang pria masih terlihat muda di usianya. Murni pikir usia pria itu tidak selisih jauh dengan putrinya Vira. Vira bukan berasal dari keluarga kaya tapi bapak dan ibunya termasuk orang yang dihormati di desanya.

Begitu pria tersebut berjalan menuju ke beranda Murni baru bisa mengenalinya bahwa pria itu tidak lain adalah suami dari keponakannya sendiri Bram Hendarto.

***

Rumah mewah di Purworejo yang dibeli Bram selama dua tahun terakhir berada tak jauh jauh dari rumah Murni. Sebelumnya Bram sekeluarga tinggal di Jepara. Bram membeli sebuah vila di area pegunungan Jepara. Akan tetapi setelah beberapa tahun tinggal di sana Bram merasa terlalu jauh jika harus pulang pergi ke luar kota untuk mengurus bisnis dan usahanya.

Apalagi selama beberapa tahun itu bisnis dan usahanya semakin berkembang dengan pesat hingga akhirnya Bram memutuskan untuk pindah dan membeli rumah mewah di kawasan kota Purworejo, niatnya tersebut bukan murni karena alasan bisnis tapi juga demi mendapatkan bukti-bukti atas kesalahan Ningrum dan Guntoro di masa lalu.

Di Purworejo Bram meminta bantuan Guntoro - ayah Vira yang merupakan adik kandung dari Monik, ibu istrinya.

Istri Bram Ningrum kelahiran kota Purworejo, tapi kedua orangtuanya Ningrum sudah meninggal. Jadi selama di Purworejo Bram lebih banyak meminta bantuan dan pertimbangan dari Guntoro alias paklik yang dianggap Ningrum sebagai wali pengganti dari ibu dan bapaknya yang sudah meninggal dunia. Hanya dari luarnya saja terlihat sebagai wali pengganti. Tidak ada satu orangpun yang tahu di balik hubungan tersebut menyembunyikan masalah kelam antara Ningrum dan Guntoro, hingga membuat Bram murka bahkan sampai memutuskan untuk membalas dendam.

Sementara itu, keluarga Bram sendiri tinggal di Jepara. Keluarga Bram merupakan pebisnis sama seperti Bram. Semua usaha yang dibuka keluarga Bram tergolong sukses dan cepat berkembang.

***

"Loh? Nak Bram? Sendirian ke sini?" Sambut Murni.

"Iya Bu, saya datang ke sini karena ingin bertemu dengan Vira, ada hal penting yang ingin saya katakan," ujarnya sambil menyerahkan bingkisan buah-buahan segar pada Murni.

Murni segera menerimanya.

"Ayo masuk ke dalam, Vira baru pulang, sekarang mungkin masih mandi di belakang. Kenapa harus membawa oleh-oleh? Kalau ke sini tinggal datang saja, to. Kamu sama bapak dan ibu sudah dianggap seperti anak sendiri, apalagi Ningrum, dia sudah seperti anak ibu sendiri." Ujarnya sambil mengukir senyum lalu pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.

Murni merebus air di kompor.

Vira baru selesai mandi keramas melihat ibunya sedang membuat wedang jahe hangat.

"Bu, siapa yang datang? Ibu terima tamu?" Tanya Vira sambil menatap ibunya yang kini mengaduk air jahe di gelas atas meja dapur.

Vira mengambil gelas dari atas meja, lalu meneguk air jahe dingin miliknya.

"Oh, iya, itu nak Bram, dia datang ke rumah," jawab Murni pada Vira.

Vira melotot dan langsung tersedak.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Vira terbatuk-batuk sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.

Murni terkejut dan langsung mengusap punggung putri semata wayangnya itu.

"Kenapa? Memangnya nak Bram nggak boleh datang ke sini? Lagian kamu juga kasih les Dinda kak? Biasanya kamu juga pergi ke rumah nak Bram sama mbakmu Ningrum, ada apa?" tanya Murni.

Vira tidak mungkin mengatakan alasannya pada Murni, dia segera menggelengkan kepalanya sambil mengedikkan dagunya ke ruangan utama.

"Nggak apa-apa, sudah ibu sana saja! Temui dia dulu, aku mau taruh handuk," sahut Vira sambil berlalu pergi ke halaman belakang rumah. Vira hanya beralasan untuk meminta waktu menenangkan hatinya. Vira kaget dan cemas, jika sampai Bram mengatakan bahwa Vira sudah merayu atau mengatakan bahwa Vira sengaja menggoda demi mendapatkan keuntungan maka habislah dia! Nama baik yang dia jaga selama ini bisa hancur dalam hitungan detik di depan kedua orangtuanya. Vira tidak ingin itu terjadi, selama ini ibu dan bapak sangat percaya bahwa Vira bisa menjaga kehormatannya.

"Vir, ibu mau ke pabrik, kamu temui nak Bram!" Pamit Murni tiba-tiba.

Murni mengambil tasnya yang dia taruh di kursi dapur lalu keluar lewat pintu samping. Murni sudah memesan becak motor untuk mengantarnya ke pabrik batik milik keluarganya. Selain pabrik batik, Murni juga memiliki toko-toko batik, yang dimilikinya tersebut merupakan warisan dari keluarga Murni secara turun-temurun. Dan pabrik juga toko itu nantinya akan Murni wariskan pada Vira, putri satu-satunya.

Vira menelan ludahnya mendengar teriakan ibunya, ragu-ragu dia berjalan masuk ke dapur lalu ke ruangan utama dan di sana dia melihat Bram sedang duduk dengan santai sambil tersenyum menikmati sebatang rokok.

Vira menghela napas panjang lalu pergi menghampirinya, ketika Vira hendak duduk di seberang meja, Bram langsung menariknya agar Vira duduk di atas pangkuannya.

"Om! Apa-apaan! Lepas!" Bentak Vira karena tidak bisa menahan amarahnya lagi.

Bram meletakkan batang rokoknya di atas asbak lalu menyibak rambut basah Vira ke sisi samping.

"Baru mandi kamu? Wangi sekali," ujarnya sambil mengendus leher Vira.

Bangsat! Pria bajingan ini sungguh tidak tahu diri!

Batin Vira seraya memukul pipi Bram karena dia sangat marah.

"Hah?!" Bram dengan pipi merah melengos ke samping lantaran tamparan Vira barusan. Lima detik kemudian Bram kembali menatap Vira yang hingga kini tetap dia tahan di atas pangkuannya.

Tanpa bicara sepatah kata Bram langsung meraih tengkuk Vira dan melumat bibirnya dengan lumatan buas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 128 Ending

    Tidak lama setelah Ambarwati pergi, Melati keluar dari pintu kamar mandi di dalam kamarnya. Dia tadi memergoki Ambarwati bicara pada dirinya sendiri, dan juga melihat Ambarwati memasukkan sesuatu ke dalam teh di cangkir yang ada di meja samping ranjang.Melati menggelengkan kepalanya sambil duduk di tepi ranjang.Yang aku lihat tadi? Apa Ambar benar-benar ingin mencelakaiku? Kenapa dia sangat membenciku? Padahal selama ini aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri bahkan menikahkannya dengan Renaldi putra yang paling aku sayangi.Melati tidak ingin percaya dengan apa yang dia saksikan tadi jadi dia segera mengambil cangkir tersebut dan bersiap untuk meminumnya. Ketika bibir cangkir hampir menyentuh bibir Melati tiba-tiba Vira datang dan membuka pintu kamarnya. Vira tidak mengatakan apa pun dan langsung merebut cangkir tersebut dari genggaman tangan Melati lalu membuangnya ke dalam vas bunga yang berada tak jauh dari posisi mereka, setelah Vira melemparkan cangkir te

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 127 Keracunan

    ***Di sisi lain, Vira sudah sampai di rumah sakit dan dia kini sedang menemani Renaldi. Abdi Sasena bergegas untuk menemui Renaldi dan Vira karena dia ingin mengatakan niat jahat Ambarwati terhadap keluarganya. Abdi merasa tidak bisa mengatasi masalah tersebut jadi kedatangan Abdi bertemu dengan Vira kali ini, dia secara khusus ingin meminta bantuan dari Vira untuk mencegah Ambarwati.Abdi memarkirkan mobilnya, dengan tergesa-gesa dia menuju ke kamar di mana Renaldi dirawat. Ketika langkah kakinya sudah tiba di depan kamar Renaldi, Abdi melihat Vira sedang menyeka wajah dan leher Renaldi.Abdi masuk ke dalam ruangan, Vira menoleh ke arahnya.“Renaldi, dia baik-baik saja kan?” tanya Abdi pada Vira.Vira menganggukkan kepalanya, Vira kembali menatap Renaldi yang masih tidur di ranjang.“Syukurlah, aku cemas kalau Ambarwati kembali melukai Renaldi.”“Kak Abdi kenapa di sini? Mama pasti lebih membutuhkan Kakak di rumah.” Vira berkata tanpa mengalihkan p

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 126 Tetap percaya pada Ambar

    “Sudah, jangan berdebat terus, lebih baik kita pulang sekarang!” Agung menyentuh bahu Abdi yang kini duduk di sebelahnya. Abdi bukan tidak ingin pergi tapi dia cemas dengan kondisi Vira, apalagi Renaldi sudah berpesan pada Abdi Sasena untuk menjaganya selama perjalanan menuju ke kediaman Roi. Melihat Abdi tidak kunjung menyalakan mesin mobil Agung kembali bicara, “Vira pasti sudah sampai di rumah, dia pasti akan naik taksi, dia tidak akan jalan kaki ke rumah.”Abdi menatap Agung di sampingnya sementara Melati melipat kedua tangannya sambil melengos ke arah jendela samping.“Vira nggak bawa tas, dia juga nggak bawa dompet, lokasi ini jarang ada kendaraan umum lewat. Meskipun tak jauh dari sini ada jalan besar, tidak banyak kendaraan selain truk yang mengangkut pasir dan batu dari area pegunungan.”Agung Setiaji tidak tahu harus bagaimana menjawab perkataan putranya. “Ya, sudah, kita cari saja Vira, dia tadi jalan ke arah sana!” tunjuknya pada Abdi Sasena.“L

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 125 Kediaman Roi

    *** Di sisi lain, Roi sudah kembali ke jasadnya sendiri akan tetapi dia terluka sangat parah dan tidak bisa pulih dalam waktu singkat. Sesaji yang dia gunakan untuk mengambil jasad Renaldi kemarin seluruhnya berantakan, bahkan tujuh ekor ayam jantan hitam yang belum sempat dia gunakan untuk mematri jiwanya di dalam jasad Renaldi semuanya mati tanpa sebab yang jelas. Bunga yang berbau harum dia gunakan bersama kemenyan sudah porak-poranda yang berantakan. “Siapa yang sudah melakukan semua ini? Vira? Tidak mungkin dia repot-repot datang ke tempat ini lagi. Jin yang aku pelihara? Tidak, mereka tidak pernah berani menyentuh sesaji yang aku siapkan untuk pemujaan!” Roi memegangi dadanya yang sakit, pria itu menjatuhkan dirinya di kursi karena tidak mampu berdiri dalam waktu lama. Tidak lama setelah Roi menyandarkan punggungnya di kursi, terdengar suara keributan dan teriakan dari luar rumah. “Roi? Inikah hasil yang kamu bilang sukses kemarin? Sampa

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 124 Hanya miliknya

    Ratu Dewi Kenanga masih menguasai tubuh Vira. “Aku baru saja mengeluarkan kekuatan besar, jika aku terus mengambil kesadaran Vira sepenuhnya bisa-bisa jiwaku melebur dan menjadi satu dengan jiwa Vira. Selama turun-temurun aku selalu mengikuti cucu-cucuku, tapi keselarasan yang aku temukan saat merasuki tubuh mereka hanya bisa menyatu seutuhnya di dalam tubuh Vira. Selama Vira belum melahirkan aku tidak boleh meninggalkannya, situasi berbahaya mungkin akan kembali datang.” Melihat kondisi sekitar sudah aman dia berniat mengembalikan kesadaran Vira sementara dirinya kembali beristirahat di dalam tubuh Vira. Ratu Dewi Kenanga ingin kembali menuju ke ruangan di mana Vira dirawat sebelumnya, belum sampai melangkah pergi tiba-tiba kakinya dipegangi oleh Renaldi yang tadinya terkapar di lantai.“Vira, kamu mau ke mana? Apa kamu akan pergi meninggalkanku? Jika ini hanya mimpi aku ingin tinggal selamanya di dalam mimpi, asalkan bisa melihatmu aku sudah merasa lega.” “Dasar

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 123 Kamu tertangkap

    Vira mendorong dada Renaldi menjauh darinya. Vira merasa mereka tidak boleh melakukan hubungan badan saat situasi masih genting seperti sekarang. Wajah Renaldi terlihat kecewa lantaran Vira menolak keinginannya. Tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakanya pada Vira, biasanya Vira tidak pernah memperlakukan dirinya seperti sekarang.“Apa aku tidak menarik lagi di matamu?”Vira tertawa tanpa suara lalu menyentuh kedua bahu Renaldi dan membisikkan sesuatu di telinga Renaldi. “Bukan menarik atau tidak menarik, aku tahu kamu sengaja melepaskan raga Renaldi sekedar untuk menemukanku kembali di sini! Roi!”Renaldi sangat terkejut, lebih tepatnya Roi yang sudah pernah mengambil alih tubuh Renaldi memang sengaja mengambil kesempatan itu untuk membuat Vira tunduk dan patuh padanya. “Kamu bisa mengenaliku? Bagaimana mungkin? Aku sudah mengurung jiwa wanita iblis itu, apa ada yang membebaskannya?” Renaldi yang kini dikuasai oleh Roi berkata pada dirinya sendiri s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status