LOGINBram berdiri menghalangi jalan, dia pikir Vira seorang gadis penurut tidak disangkanya Vira adalah wanita yang berpendirian dan sangat keras kepala. Vira menatapnya dengan sinis sambil menarik gas dalam genggaman tangan kanannya! Suara motor yang menderu-deru membuat Bram panik. Nyatanya mereka kini benar-benar menjadi pusat perhatian di area parkiran sekolah.
"Aku cuma mau jelasin!" Ujar Bram dengan nada emosi. "Aku nggak butuh! Satu lagi, Om jangan pernah gangguin aku! Aku nggak mau semua orang berpikir kalau aku sudah merusak rumah tangga orang lain!" Tegas Vira sambil menarik gas pada setirnya. Vira juga membalas tatapan Bram dengan penuh kemarahan. Mau tidak mau Bram segera menyingkir, motor Vira meluncur pergi dari halaman sekolah tersebut. Bram membuang rokok dari bibirnya ke lantai lalu menginjaknya hingga hancur. "Ohh, rupanya mau main kabur-kaburan? Lihat saja! Aku bakalan membuat kamu merintih lebih keras di atas ranjangku! Lihat dan tunggu saja Vira Astanti! Aku akan membuatmu tunduk dan tidak bisa menolak ku lagi! Malahan kamulah yang akan tergila-gila padaku seperti wanita-wanita di luar sana ingin aku setubuhi! Setidaknya kamu harus menjadi pelampiasan birahiku karena sakit hati yang aku tanggung akibat ulah Guntoro!" Sumpahnya dengan wajah geram. Bram memang terkenal dengan wajah tampan serta kesuksesannya. Bukan berarti Bram selama ini suka main wanita, Bram hanya tertarik pada Vira dan itu pun karena sakit hati yang Bram tanggung akibat ulah Guntoro - ayah Vira, Bram merasa harus mendapatkan Vira untuk membalaskan dendamnya! Banyak wanita, tidak hanya beberapa wanita berniat menggoda untuk mendapatkan perhatian dari Bram, Bram tidak tertarik untuk berselingkuh. Hal itu sama sekali tidak pernah terbersit di dalam pikirannya. Lagi pula siapa yang tidak silau dengan harta kekayaan dan uang? Bram bisa mendapatkan apa saja dengan uang! Termasuk wanita model apa pun yang diinginkan. Akan tetapi Bram juga tidak butuh penghiburan seperti itu apalagi dari wanita mata duitan! Bagi Bram wanita yang menggodanya pasti juga bukan wanita baik-baik. Bram tidak suka dengan wanita kotor. Sebelumnya, sebenarnya pernikahan Bram dengan Ningrum adalah pernikahan yang diatur keluarga. Ningrum menikah dengan Bram di usia yang sudah lewat tua. Selisih usia antara mereka berdua cukup jauh. Dan Bram sendiri waktu itu juga tidak bisa menolak desakan dari ayahnya untuk segera memutuskan menikahi Ningrum. Namun semua itu bukan alasan untuk membenarkan Bram berselingkuh di belakang Ningrum. Tetap saja perbuatan Bram saat ini bukan hal yang benar. *** Bram harusnya menjemput Adinda tiga jam lagi. Bram merasa terlalu lama jika dia terus menunggu di sekolahan. Bram memutuskan menyusul Vira ke rumahnya. Sampai di rumah Vira, Bram disambut oleh ibu Vira. Melihat mobil berhenti di pelataran luas depan rumahnya, Murni segera berjalan keluar dari pintu rumah. Kediaman dengan bahan kayu jati bermodel joglo tersebut terlihat kuno seperti rumah-rumah jaman kerajaan terdahulu. Murni mengenakan kebaya sederhana dengan bawahan kain batik. Murni berdiri di beranda dan dia melihat seorang pria masih terlihat muda di usianya. Murni pikir usia pria itu tidak selisih jauh dengan putrinya Vira. Vira bukan berasal dari keluarga kaya tapi bapak dan ibunya termasuk orang yang dihormati di desanya. Begitu pria tersebut berjalan menuju ke beranda Murni baru bisa mengenalinya bahwa pria itu tidak lain adalah suami dari keponakannya sendiri Bram Hendarto. *** Rumah mewah di Purworejo yang dibeli Bram selama dua tahun terakhir berada tak jauh jauh dari rumah Murni. Sebelumnya Bram sekeluarga tinggal di Jepara. Bram membeli sebuah vila di area pegunungan Jepara. Akan tetapi setelah beberapa tahun tinggal di sana Bram merasa terlalu jauh jika harus pulang pergi ke luar kota untuk mengurus bisnis dan usahanya. Apalagi selama beberapa tahun itu bisnis dan usahanya semakin berkembang dengan pesat hingga akhirnya Bram memutuskan untuk pindah dan membeli rumah mewah di kawasan kota Purworejo, niatnya tersebut bukan murni karena alasan bisnis tapi juga demi mendapatkan bukti-bukti atas kesalahan Ningrum dan Guntoro di masa lalu. Di Purworejo Bram meminta bantuan Guntoro - ayah Vira yang merupakan adik kandung dari Monik, ibu istrinya. Istri Bram Ningrum kelahiran kota Purworejo, tapi kedua orangtuanya Ningrum sudah meninggal. Jadi selama di Purworejo Bram lebih banyak meminta bantuan dan pertimbangan dari Guntoro alias paklik yang dianggap Ningrum sebagai wali pengganti dari ibu dan bapaknya yang sudah meninggal dunia. Hanya dari luarnya saja terlihat sebagai wali pengganti. Tidak ada satu orangpun yang tahu di balik hubungan tersebut menyembunyikan masalah kelam antara Ningrum dan Guntoro, hingga membuat Bram murka bahkan sampai memutuskan untuk membalas dendam. Sementara itu, keluarga Bram sendiri tinggal di Jepara. Keluarga Bram merupakan pebisnis sama seperti Bram. Semua usaha yang dibuka keluarga Bram tergolong sukses dan cepat berkembang. *** "Loh? Nak Bram? Sendirian ke sini?" Sambut Murni. "Iya Bu, saya datang ke sini karena ingin bertemu dengan Vira, ada hal penting yang ingin saya katakan," ujarnya sambil menyerahkan bingkisan buah-buahan segar pada Murni. Murni segera menerimanya. "Ayo masuk ke dalam, Vira baru pulang, sekarang mungkin masih mandi di belakang. Kenapa harus membawa oleh-oleh? Kalau ke sini tinggal datang saja, to. Kamu sama bapak dan ibu sudah dianggap seperti anak sendiri, apalagi Ningrum, dia sudah seperti anak ibu sendiri." Ujarnya sambil mengukir senyum lalu pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Murni merebus air di kompor. Vira baru selesai mandi keramas melihat ibunya sedang membuat wedang jahe hangat. "Bu, siapa yang datang? Ibu terima tamu?" Tanya Vira sambil menatap ibunya yang kini mengaduk air jahe di gelas atas meja dapur. Vira mengambil gelas dari atas meja, lalu meneguk air jahe dingin miliknya. "Oh, iya, itu nak Bram, dia datang ke rumah," jawab Murni pada Vira. Vira melotot dan langsung tersedak. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Vira terbatuk-batuk sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. Murni terkejut dan langsung mengusap punggung putri semata wayangnya itu. "Kenapa? Memangnya nak Bram nggak boleh datang ke sini? Lagian kamu juga kasih les Dinda kak? Biasanya kamu juga pergi ke rumah nak Bram sama mbakmu Ningrum, ada apa?" tanya Murni. Vira tidak mungkin mengatakan alasannya pada Murni, dia segera menggelengkan kepalanya sambil mengedikkan dagunya ke ruangan utama. "Nggak apa-apa, sudah ibu sana saja! Temui dia dulu, aku mau taruh handuk," sahut Vira sambil berlalu pergi ke halaman belakang rumah. Vira hanya beralasan untuk meminta waktu menenangkan hatinya. Vira kaget dan cemas, jika sampai Bram mengatakan bahwa Vira sudah merayu atau mengatakan bahwa Vira sengaja menggoda demi mendapatkan keuntungan maka habislah dia! Nama baik yang dia jaga selama ini bisa hancur dalam hitungan detik di depan kedua orangtuanya. Vira tidak ingin itu terjadi, selama ini ibu dan bapak sangat percaya bahwa Vira bisa menjaga kehormatannya. "Vir, ibu mau ke pabrik, kamu temui nak Bram!" Pamit Murni tiba-tiba. Murni mengambil tasnya yang dia taruh di kursi dapur lalu keluar lewat pintu samping. Murni sudah memesan becak motor untuk mengantarnya ke pabrik batik milik keluarganya. Selain pabrik batik, Murni juga memiliki toko-toko batik, yang dimilikinya tersebut merupakan warisan dari keluarga Murni secara turun-temurun. Dan pabrik juga toko itu nantinya akan Murni wariskan pada Vira, putri satu-satunya. Vira menelan ludahnya mendengar teriakan ibunya, ragu-ragu dia berjalan masuk ke dapur lalu ke ruangan utama dan di sana dia melihat Bram sedang duduk dengan santai sambil tersenyum menikmati sebatang rokok. Vira menghela napas panjang lalu pergi menghampirinya, ketika Vira hendak duduk di seberang meja, Bram langsung menariknya agar Vira duduk di atas pangkuannya. "Om! Apa-apaan! Lepas!" Bentak Vira karena tidak bisa menahan amarahnya lagi. Bram meletakkan batang rokoknya di atas asbak lalu menyibak rambut basah Vira ke sisi samping. "Baru mandi kamu? Wangi sekali," ujarnya sambil mengendus leher Vira. Bangsat! Pria bajingan ini sungguh tidak tahu diri! Batin Vira seraya memukul pipi Bram karena dia sangat marah. "Hah?!" Bram dengan pipi merah melengos ke samping lantaran tamparan Vira barusan. Lima detik kemudian Bram kembali menatap Vira yang hingga kini tetap dia tahan di atas pangkuannya. Tanpa bicara sepatah kata Bram langsung meraih tengkuk Vira dan melumat bibirnya dengan lumatan buas.Mendengar suara keributan dari ruangan utama, Renaldi dan Agung Setiaji segera pergi untuk melihat. Renaldi melihat Vira sedang duduk di samping Melati sambil berusaha membangunkan Melati.“Vira? Mama? Apa yang terjadi?” tanyanya seraya bergegas menggendong Melati lalu merebahkan Melati di dalam kamar. Vira mengikutinya dari belakang. “Aku nggak tahu Re, pas tiba di rumah tadi aku melihat Mama berteriak-teriak sendiri lalu dia pingsan di lantai.” Vira berbohong karena dia sengaja melakukan itu untuk menghukum Melati gara-gara Melati terus berusaha menyingkirkan dirinya dari sisi Renaldi. Renaldi tidak curiga sama sekali. Renaldi juga tidak bertanya tentang Melati pada Vira lagi. Agung Setiaji melihat baju yang Vira pakai sangat kotor dan basah, pikirnya entah dari mana Vira tadi. “Re, kamu bawa Vira untuk beristirahat, sudah larut malam, masalah Mama biarkan aku saja yang mengurusnya. Mungkin Mamamu hanya kelelahan saja jadi pingsan, seharian dia juga pe
Vira tidak mengatakan apapun, dia juga tidak berhenti ketika melewati tubuh dukun tua tersebut. Namun, ketika langkah kakinya sudah sampai di ambang pintu gerbang dia menoleh sebentar ke belakang punggungnya. Tubuh dukun tua itu sudah kejang-kejang lalu mengembuskan napas terakhirnya. “Dia repot-repot membawaku ke sini karena tidak bisa menyelamatkan Ambar, apa dia pikir dia cukup kuat untuk menghancurkanku?” Vira berkata pada dirinya sendiri lalu segera bergegas pergi. ***Di sisi lain, Renaldi masih terlihat cemas dia terus berputar-putar di area sekitar bersama mobilnya. Vira yang ingin dia cari malam itu tak kunjung dia temukan, Renaldi cemas kalau sampai terjadi sesuatu padanya. Karena sudah hampir tengah malam akhirnya Renaldi memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Pada saat tiba di rumah, Renaldi melihat Melati bersama Agung setiaji sedang duduk di sofa ruangan utama. Entah apa yang mereka bicarakan bersama, wajah keduanya tampak serius membahas ses
Pada sore hari Melati sudah bersiap-siap untuk pergi menjenguk Ambarwati, di pintu utama dia berpapasan dengan Agung dan Renaldi. Dua pria itu baru saja kembali dari perusahaan. “Mama mau pergi ke mana?” tanya Renaldi dengan tatapan mata bingung. Apalagi Melati terlihat sangat tergesa-gesa. “Ke mana lagi? Tentu saja pergi melihat kondisi menantu kesayanganku!” jawabnya dengan nada kesal. Renaldi tidak bertanya lagi, dia tahu siapa yang dimaksud oleh Melati tentu saja Ambarwati. Melati tidak pernah menyukai Vira, apalagi memujinya. Renaldi masih tidak tahu apa yang terjadi pada Vira, dia juga tidak bertanya pada Melati karena pikirnya Vira baik-baik saja dan sedang beristirahat di dalam kamarnya. Agung Setiaji masih berdiri di ruang tengah setelah masuk ke dalam rumah, dia merasakan firasat yang buruk semenjak karyawan heboh gara-gara Bima melaporkan pada polisi tentang Ambar yang pingsan di dalam ruangan kerjanya sore ini. Saat dibawa oleh petugas medis sepertiny
Ambarwati mengepalkan kedua tangannya karena kebersamaan antara dirinya dengan Renaldi diganggu oleh orang lain. “Pak Renaldi, ini berkas yang Anda minta, sebentar lagi meeting akan dimulai jadi silakan menuju ke ruangan meeting,” ujar asisten Renaldi sambil menaruh map di atas meja kerja Renaldi.Melihat berkas diletakkan di meja, Renaldi spontan meletakkan gelas minum tersebut kembali ke tempat semula. “Ya, jangan sampai ada kesalahan dalam meeting kali ini, aku tidak ingin investor membatalkan kerjasama antar perusahaan,” jawabnya pada asistennya.Asisten Renaldi menganggukkan kepalanya lalu pergi keluar meninggalkan ruangan kerja Renaldi untuk mengurus persiapan meeting. Ambar sangat geram melihat Renaldi menganggapnya tidak ada di ruangan tersebut. Ambar lebih tidak tahan melihat Renaldi mengacuhkan gelas yang sudah dia siapkan pagi-pagi sekali tadi. Minuman dalam gelas itu masih utuh dan tidak jadi disentuh. Karena tidak sabar Ambar segera berkata pada Renaldi sebelum Renaldi
“Bagaimana jika kamu izinkan aku ikut pergi bersama denganmu?” tanya Vira tiba-tiba.Renaldi tercengang, dia tidak mengira Vira berencana ikut dengannya. Di perusahaan dan di seluruh kalangan bisnis Renaldi sekarang adalah suami sah dari Ambarwati sementara Vira tidak memiliki nama sama sekali. Renaldi tidak ingin Vira terluka lantaran mendengar cacian dan ejekan dari semua orang.Melihat ekspresi tidak baik pada wajah Renaldi, Vira seolah tahu apa yang mengganggu pikiran Renaldi. Vira mengambil segelas air lalu meneguknya sambil melirik Renaldi. Dia berharap Renaldi setuju dengan usulnya barusan. Akan tetapi yang dia lihat Renaldi malah mengepalkan kedua tangannya bahkan tidak menyendok satu suap pun makanan di piring.“Maafkan aku, sepertinya akan lebih baik jika kamu tetap tinggal di rumah. Perusahaan keluargaku sama sekali bukan tempat yang cocok untuk kamu kunjungi,” jawabnya.Vira menelan senyum pahit lalu menyahut, “oh? Apa Ambar lebih cocok berada di sana? Jadi menurutmu itu b
***Pada keesokan harinya, Suparman mencoba menghubungi Melati.Pagi-pagi sekali telepon di kediaman Renaldi berdering nyaring, kebetulan Vira baru saja selesai mandi dan berjalan menuju ke arah ruangan utama kediaman Renaldi, Vira ingin keluar rumah untuk menikmati udara segar. Ketika langkah kakinya hampir sampai di ruangan utama Vira mendengar suara dering telepon tersebut. Langkah kaki Vira terhenti, Vira menatap ke sekitar tidak ada seorang pun di ruang tengah. Ke mana perginya semua orang? Renaldi masih tertidur pulas dalam kamarnya, jika aku mencarinya untuk menjawab telepon pasti orang di seberang sana bakalan terlalu lama menunggu.Vira berjalan mendekat ke meja telepon, saat dia mengangkat gagang telepon dalam waktu bersamaan ternyata seseorang sudah menerima panggilan tersebut dengan telepon lain. Vira secara tidak sengaja ikut mendengar suara percakapan antara dua orang tersebut. “Bu Melati, saya tidak tahu harus memulainya dari mana.” Ujar seorang pria di seberang sana.







