Share

Bab 7 Mulai larut

Penulis: Jackie Boyz
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-25 18:59:27

Pada keesokan harinya, Vira mengisi kelas pagi. Vira masih di rumah dan menikmati sarapan bersama Guntoro dan Murni.

"Bu, aku berangkat dulu," pamitnya sambil mencium tangan ibu dan juga bapaknya.

"Masih pagi, kenapa buru-buru?" Tanya Murni. Biasanya Vira tidak akan berangkat pagi-pagi seperti sekarang.

"Nggak papa Bu, Vira pengen lebih santai kemudikan motor," jawabnya seraya menenteng tasnya keluar dari kediaman.

Vira segera mengenakan helmnya, dia mengemudikan motornya dengan santai. Hari ini Vira merasa sangat lega karena tidak ada jadwal mengisi les di kediaman Bram. Sembari mengemudikan motornya Vira terus bergumam.

"Untungnya hari ini nggak ada jadwal ngisi les ke rumah Dinda, huuuuft! Lega juga nggak ketemu sama Om sinting!"

Vira menyunggingkan senyum senang. Wajahnya terlihat cerah dan semakin cantik. Vira mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang, sekolahan tempatnya mengajar masih jauh. Hari ini Vira berangkat pagi jadi tidak perlu terburu-buru. Tak lama kemudian ada sebuah mobil melaju di belakang motornya.

Din! Din! Din! Klakson terus ditekan. Vira segera menepi untuk memberikan jalan. Mobil tersebut mendahuluinya perlahan. Vira menoleh ke samping, dan kaca mobil di bagian kiri turun menunjukkan siapa pengemudi di dalam mobil.

"Om Sinting! Ngapain dia! Pagi-pagi juga!" Keluhnya dengan terang-terangan.

Bram terlihat mengukir senyum sambil melambaikan ponselnya. Bram juga memberi isyarat pada Vira agar Vira bersedia menerima panggilannya.

"Enak saja! Nggak sudi aku! Dasar wong edan! Terserah mau suci nggak suci pokoknya aku menolak jadi simpanan pria beristri! Cuih!" Omel Vira lalu meludah ke samping kiri.

Mobil Bram sudah berlalu pergi mendahului motor Vira karena di belakang Bram banyak kendaraan yang hendak lewat juga.

Pikir Vira, Bram pergi ke perusahaan material tempat Bram bekerja, ternyata mobil Bram diparkir di tepi jalan tak jauh dari sekolahan Vira. Di depan sana Bram sudah menunggunya, pria itu melambaikan tangannya dan meminta Vira untuk menepi.

"Vir, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu! Penting!" Ujarnya lantaran tahu Vira tidak akan menggubrisnya.

Vira tetap menolak dan terus melaju sampai memasuki gerbang sekolahan tempatnya mengajar.

Bram segera mengirimkan pesan pada Vira yang isinya Vira harus menemuinya pagi itu juga dan jika Vira menolak maka Bram tidak akan sungkan untuk berbicara pada pihak sekolah untuk mempermalukan Vira di depan semua orang.

Vira baru saja memarkirkan motornya, dia turun dari atas motor dan membaca pesan tersebut. Kedua matanya langsung melotot mengetahui ancaman Bram pada pesannya.

"Memang wong edan! Kalau nggak edan mana mungkin ngancam-ngancam begini! Lagi pula masa iya yang malu aku, bukannya dia sendiri yang malu! Sudah punya istri ngapain keganjenan ganggu wanita lajang!" Omelnya lagi seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya.

Vira sudah berjalan meninggalkan area parkiran, langkahnya terhenti tak jauh dari sana karena melihat Bram sudah berdiri beberapa meter di depannya.

"Sudah aku tebak, kamu bakalan nggak percaya dengan semua yang aku katakan!" Ujar Bram lalu berjalan mendekat dan menggenggam pergelangan tangan Vira. Vira panik sekali, dia tidak menyangka Bram bakalan nekat dan mengambil tindakan saat Vira berada di sekolahan Adinda.

"Om! Mau ngapain? Ini sekolahan! Om buta?!" Bentaknya sambil meronta-ronta.

Bram menariknya ke sisi gedung dan terus berjalan ke pagar samping gedung. Di sana ada pintu, Bram membawanya ke luar pintu dan berhenti di belakang pagar gedung sekolah.

Vira menatap ke sekitar. Suasana begitu sepi, dan hanya terdengar suara binatang kecil serta burung-burung berkicau di pagi hari.

Belakang kedai warung di pinggir jalan samping sekolah terlihat dari posisi mereka berdiri.

Bram masih menggenggam pergelangan tangan Vira.

"Buruan ngomong!" Bentak Vira.

Bram mengusap wajahnya sendiri dengan perasaan gelisah.

"Sore ini aku mau ketemu sama kamu, kamu datang ke tokoku," ajaknya.

Vira menarik lepas tangannya dari genggaman Bram lalu berjalan mendekat dan memberikan jawaban.

"Mimpi saja!" Desisnya tepat di depan wajah Bram.

Begitu Vira berniat pergi, Bram langsung menarik pinggang Vira ke dalam pelukannya.

"Pilih, kamu datang atau aku yang datang jemput kamu di rumah Tante Murni?"

Vira terdiam, kedua matanya terpejam rapat. Bram mengaitkan lengan kokohnya dan menahannya di dalam pelukan dengan kuat.

"Hubungan macam apa ini? Jelas-jelas ada Mbak Ningrum! Kalau aku terus memberikan kesempatan pada Om sinting ini bisa-bisa aku tidak bisa lepas lagi, lama-lama aku bakalan larut juga. Apalagi wajah Om Bram nggak jelek atau tua, wajahnya terlihat segar, aroma tubuhnya juga selalu enak, kenapa dia nggak nyari wanita lain saja! Kenapa harus aku!?" Batin Vira dengan perasaan tidak tenang.

"Om, hubungan kita ini salah! Aku nggak mau lanjutin! Aku nggak mau!" Tolak Vira.

Bram mengukir senyum lalu menciumi pipi Vira dari samping sambil tetap memeluk pinggang Vira dengan erat.

"Mau nggak mau harus mau!" Cup! Bram mencium pipi Vira.

Vira segera menjauhkan wajahnya ke samping.

"Maksa banget, nyari cewek lain sana!" Gerutu Vira dengan bibir cemberut.

"Aku naksir cuma sama kamu!" Tukas Bram.

"Ingat umur Om, Adinda sudah besar sudah SMA!"

"Dinda bukan anak kandungku! Ningrum punya pacar tapi orangtuanya waktu itu nggak kasih restu, kami dijodohkan gitu saja! Dia hamil. Dia sudah hamil dua bulan lebih saat kami menikah. Menurutmu sikap diamku selama ini bukan suatu pengorbanan besar bagi keluarga kami? Aku sudah berkorban dalam ikatan pernikahan!Aku nggak protes, dia melahirkan Adinda saat usia pernikahan kami enam bulan lebih. Dan kamu tahu? Bayi Adinda sehat sama sekali bukan bayi prematur! Hasil USG sebelumnya juga sudah jelas! Anehnya Ningrum malah bungkam dan nggak mau jelaskan apa-apa sama aku! Apa dianggapnya aku ini bukan manusia? Apa dia pikir aku patung yang tidak bisa merasakan luka dan penyesalan!"

Vira terdiam, dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Apalagi seperti apa masa lalu Ningrum sebelum menikah dengan Bram. Lagi pula Ningrum dulunya tinggal di luar kota untuk bekerja.

Vira melepaskan pelukan Bram dari pinggangnya.

Pikir Bram Vira bakalan melunak dan bersedia menerima perasaan yang dia sampaikan tadi.

"Tetap saja, selingkuh di belakang mbak Ningrum adalah kesalahan besar! Kalau memang nggak cinta selesaikan semuanya dengan gamblang, dengan baik-baik! Bukan malah menjalin hubungan rumit seperti ini! Aku bisa memaklumi kalau memang Om khilaf terus terlena sama tubuhku kemarin-kemarin. Lagi pula kita juga sudah terlanjur melakukan hubungan badan! Mau diralat bagaimanpun juga sudah terjadi. Tapi please! Jangan lagi! Aku nggak mau ke belakangnya kita masih terus melanjutkan hubungan salah seperti ini!"

Bram menyentuh kedua bahu Vira lalu menatap kedua matanya dengan tatapan serius.

"Nggak bisa, ada hal penting beberapa bulan lagi, Vir. Perjodohan Adinda akan segera dilangsungkan. Aku dan Ningrum juga harus pergi ke Surabaya untuk menemui calon besan. Apa jadinya kalau aku cerai dari Ningrum di saat-saat seperti ini?"

Vira menganggukkan kepalanya, dia juga sudah mendengar kabar tentang perjodohan yang akan dilangsungkan antara Adinda dengan pria asal Surabaya.

Vira menepis tangan Bram dari bahunya.

"Pilihanku masih sama, Om. Kita akhiri ini sampai di sini," ujarnya lalu berjalan pergi meninggalkan Bram seorang diri di sana.

Bram menatap sedih ketika Vira berlalu pergi dari hadapannya.

Entah itu cinta yang samar dalam balutan niat balas dendam, sampai saat ini Bram tidak bisa memungkiri bahwa lekuk tubuh Vira memang sangat seksi dan membuatnya bergairah, hal itu membuatnya tidak sabar untuk terus menyetubuhinya!

"Aku nggak bisa, Vir, aku nggak bisa kita pisah! Sore nanti aku tunggu di toko!" Teriaknya pada Vira.

Sampai di dalam gedung, Vira langsung membenturkan keningnya di dinding.

Duuuk! Duuuk! Duk!

"Dasar wong edan, masa aku disuruh ke toko! Ngapain coba? Ogah aku oogaahhh! Tapi kalau Om ke rumah lagi, ibu lama-lama bakalan curiga juga karena dia sering datang!" Gerutunya dengan perasaan kesal.

"Bu Vira!" Tegur salah satu siswinya.

"Eh?" Vira memaksakan senyumnya lalu segera mengusap keningnya sendiri.

"Bu Vira kenapa? Sakit?" Tanya Nia dengan tatapan bingung.

"Nggak, tadi nggak lihat jalan, malah nabrak dinding," elaknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 128 Ending

    Tidak lama setelah Ambarwati pergi, Melati keluar dari pintu kamar mandi di dalam kamarnya. Dia tadi memergoki Ambarwati bicara pada dirinya sendiri, dan juga melihat Ambarwati memasukkan sesuatu ke dalam teh di cangkir yang ada di meja samping ranjang.Melati menggelengkan kepalanya sambil duduk di tepi ranjang.Yang aku lihat tadi? Apa Ambar benar-benar ingin mencelakaiku? Kenapa dia sangat membenciku? Padahal selama ini aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri bahkan menikahkannya dengan Renaldi putra yang paling aku sayangi.Melati tidak ingin percaya dengan apa yang dia saksikan tadi jadi dia segera mengambil cangkir tersebut dan bersiap untuk meminumnya. Ketika bibir cangkir hampir menyentuh bibir Melati tiba-tiba Vira datang dan membuka pintu kamarnya. Vira tidak mengatakan apa pun dan langsung merebut cangkir tersebut dari genggaman tangan Melati lalu membuangnya ke dalam vas bunga yang berada tak jauh dari posisi mereka, setelah Vira melemparkan cangkir te

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 127 Keracunan

    ***Di sisi lain, Vira sudah sampai di rumah sakit dan dia kini sedang menemani Renaldi. Abdi Sasena bergegas untuk menemui Renaldi dan Vira karena dia ingin mengatakan niat jahat Ambarwati terhadap keluarganya. Abdi merasa tidak bisa mengatasi masalah tersebut jadi kedatangan Abdi bertemu dengan Vira kali ini, dia secara khusus ingin meminta bantuan dari Vira untuk mencegah Ambarwati.Abdi memarkirkan mobilnya, dengan tergesa-gesa dia menuju ke kamar di mana Renaldi dirawat. Ketika langkah kakinya sudah tiba di depan kamar Renaldi, Abdi melihat Vira sedang menyeka wajah dan leher Renaldi.Abdi masuk ke dalam ruangan, Vira menoleh ke arahnya.“Renaldi, dia baik-baik saja kan?” tanya Abdi pada Vira.Vira menganggukkan kepalanya, Vira kembali menatap Renaldi yang masih tidur di ranjang.“Syukurlah, aku cemas kalau Ambarwati kembali melukai Renaldi.”“Kak Abdi kenapa di sini? Mama pasti lebih membutuhkan Kakak di rumah.” Vira berkata tanpa mengalihkan p

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 126 Tetap percaya pada Ambar

    “Sudah, jangan berdebat terus, lebih baik kita pulang sekarang!” Agung menyentuh bahu Abdi yang kini duduk di sebelahnya. Abdi bukan tidak ingin pergi tapi dia cemas dengan kondisi Vira, apalagi Renaldi sudah berpesan pada Abdi Sasena untuk menjaganya selama perjalanan menuju ke kediaman Roi. Melihat Abdi tidak kunjung menyalakan mesin mobil Agung kembali bicara, “Vira pasti sudah sampai di rumah, dia pasti akan naik taksi, dia tidak akan jalan kaki ke rumah.”Abdi menatap Agung di sampingnya sementara Melati melipat kedua tangannya sambil melengos ke arah jendela samping.“Vira nggak bawa tas, dia juga nggak bawa dompet, lokasi ini jarang ada kendaraan umum lewat. Meskipun tak jauh dari sini ada jalan besar, tidak banyak kendaraan selain truk yang mengangkut pasir dan batu dari area pegunungan.”Agung Setiaji tidak tahu harus bagaimana menjawab perkataan putranya. “Ya, sudah, kita cari saja Vira, dia tadi jalan ke arah sana!” tunjuknya pada Abdi Sasena.“L

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 125 Kediaman Roi

    *** Di sisi lain, Roi sudah kembali ke jasadnya sendiri akan tetapi dia terluka sangat parah dan tidak bisa pulih dalam waktu singkat. Sesaji yang dia gunakan untuk mengambil jasad Renaldi kemarin seluruhnya berantakan, bahkan tujuh ekor ayam jantan hitam yang belum sempat dia gunakan untuk mematri jiwanya di dalam jasad Renaldi semuanya mati tanpa sebab yang jelas. Bunga yang berbau harum dia gunakan bersama kemenyan sudah porak-poranda yang berantakan. “Siapa yang sudah melakukan semua ini? Vira? Tidak mungkin dia repot-repot datang ke tempat ini lagi. Jin yang aku pelihara? Tidak, mereka tidak pernah berani menyentuh sesaji yang aku siapkan untuk pemujaan!” Roi memegangi dadanya yang sakit, pria itu menjatuhkan dirinya di kursi karena tidak mampu berdiri dalam waktu lama. Tidak lama setelah Roi menyandarkan punggungnya di kursi, terdengar suara keributan dan teriakan dari luar rumah. “Roi? Inikah hasil yang kamu bilang sukses kemarin? Sampa

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 124 Hanya miliknya

    Ratu Dewi Kenanga masih menguasai tubuh Vira. “Aku baru saja mengeluarkan kekuatan besar, jika aku terus mengambil kesadaran Vira sepenuhnya bisa-bisa jiwaku melebur dan menjadi satu dengan jiwa Vira. Selama turun-temurun aku selalu mengikuti cucu-cucuku, tapi keselarasan yang aku temukan saat merasuki tubuh mereka hanya bisa menyatu seutuhnya di dalam tubuh Vira. Selama Vira belum melahirkan aku tidak boleh meninggalkannya, situasi berbahaya mungkin akan kembali datang.” Melihat kondisi sekitar sudah aman dia berniat mengembalikan kesadaran Vira sementara dirinya kembali beristirahat di dalam tubuh Vira. Ratu Dewi Kenanga ingin kembali menuju ke ruangan di mana Vira dirawat sebelumnya, belum sampai melangkah pergi tiba-tiba kakinya dipegangi oleh Renaldi yang tadinya terkapar di lantai.“Vira, kamu mau ke mana? Apa kamu akan pergi meninggalkanku? Jika ini hanya mimpi aku ingin tinggal selamanya di dalam mimpi, asalkan bisa melihatmu aku sudah merasa lega.” “Dasar

  • Memikat Hati Istri ke-dua papa mertuaku    Bab 123 Kamu tertangkap

    Vira mendorong dada Renaldi menjauh darinya. Vira merasa mereka tidak boleh melakukan hubungan badan saat situasi masih genting seperti sekarang. Wajah Renaldi terlihat kecewa lantaran Vira menolak keinginannya. Tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakanya pada Vira, biasanya Vira tidak pernah memperlakukan dirinya seperti sekarang.“Apa aku tidak menarik lagi di matamu?”Vira tertawa tanpa suara lalu menyentuh kedua bahu Renaldi dan membisikkan sesuatu di telinga Renaldi. “Bukan menarik atau tidak menarik, aku tahu kamu sengaja melepaskan raga Renaldi sekedar untuk menemukanku kembali di sini! Roi!”Renaldi sangat terkejut, lebih tepatnya Roi yang sudah pernah mengambil alih tubuh Renaldi memang sengaja mengambil kesempatan itu untuk membuat Vira tunduk dan patuh padanya. “Kamu bisa mengenaliku? Bagaimana mungkin? Aku sudah mengurung jiwa wanita iblis itu, apa ada yang membebaskannya?” Renaldi yang kini dikuasai oleh Roi berkata pada dirinya sendiri s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status