Share

Bab 6

Author: Bagel
Aku menatap laut yang bergelombang tidak jauh dari sana.

"Pesisir selatan."

Pria di ujung telepon seketika diam.

"Untuk apa kamu kabur ke tempat seperti itu?"

"Aku memang mau ke sini."

"Blair!" Suaranya mendadak meninggi. "Bisa nggak kamu jangan egois begini?"

"Kabur sejauh itu sendirian, kamu tahu nggak seberapa bahayanya itu?"

"Kamu cuma mau ke pantai, ‘kan? Nanti ‘kan bisa kita pergi setelah pekerjaanku selesai?"

Nanti.

Janji manis tanpa kepastian berupa kata "nanti" itu terdengar lagi.

Aku t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 12

    Aku menghentikan langkahku. Dia menatapku selama beberapa detik."Waktu itu, aku benar-benar memandang rendah dirimu.""Aku kira kamu lemah, manja, dan nggak punya pemikiran sendiri.""Roman bakal mewarisi kediaman keluarga, mustahil dia bisa menikahi wanita seperti kamu untuk menjadi istrinya.""Tapi akhir-akhir ini aku sadar, aku nggak jauh lebih baik dari kamu.""Aku berakting seolah aku nggak takut apa-apa. Padahal kenyataannya, aku cuma ingin membuktikan kalau akulah yang layak berdiri di sampingnya."Clara memberikan senyuman menyindir diri sendiri yang terasa sedikit sedih."Kalau dipikir-pikir sekarang, hal itu benar-benar bodoh."Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi Clara tidak berhenti berbicara."Hari itu di pompa bensin, aku sengaja nggak mengingatkannya."Aku mengangkat mataku untuk menatapnya, dan dia membalas tatapanku secara jujur."Aku melihat dengan mataku sendiri saat kamu mendorong pintu mobil dan berjalan ke minimarket kumuh itu.""Saat dia menekan pedal gas,

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 11

    Malam harinya, aku menerima telepon dari ibuku.Ibuku bertanya dengan lembut, apakah aku menyesuaikan diri dengan baik tinggal sendirian.Aku memberi tahunya dengan nada santai bahwa semuanya berjalan lancar.Ibuku hening sejenak di seberang sana, lalu merendahkan suaranya dan menghela napas. "Sayang, Ibu sebenarnya ingin memberitahumu dari dulu. Setiap kamu pulang dari perjalanan bersama Roman, binar di matamu benar-benar hilang.""Tapi kamu menyukainya, dan Ibu takut bilang begitu bakal membuatmu sedih."Mataku mendadak terasa hangat."Ibu, apa aku dulu benar-benar bodoh?"Ibuku tertawa pelan di ujung telepon."Sama sekali nggak bodoh.""Saat masih muda, orang-orang memang selalu keras kepala mengejar hal-hal yang mereka pikir memang ditakdirkan untuk mereka.""Asal kamu berhasil menemukan jalan keluar, semuanya terasa sepadan."Aku bergumam mengiyakan.Setelah mengakhiri panggilan, aku bersandar diam-diam di ambang jendela apartemenku, menatap pantai di kejauhan. Pemandangan malam k

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 10

    Roman bersikeras bertahan di kota pesisir ini selama lima hari penuh.Pewaris yang tinggi hati itu akan muncul di sudut jalan rumahku tepat waktu setiap hari. Kadang dia menyuruh pengawalnya mengantarkan air mineral bersoda impor yang mahal. Kadang dia membawakanku makanan Italia langsung dari restoran kelas atas.Kadang dia bahkan menyuruh orang menerbangkan pencuci mulut khas Prancis, yang dulu pernah kusebutkan sekali saat mengobrol santai.Jika semua ini terjadi setengah tahun lalu, aku pasti sudah sangat bersemangat hingga tidak bisa tidur semalaman.Namun tepat pada saat ini, aku hanya merasa perhatian yang terlambat ini sangat konyol.Pada hari kelima, Clara akhirnya tidak tahan lagi dan datang mencariku.Kali ini, dia datang sendirian. Dia berdiri sendirian di pintu masuk kompleks, wajahnya yang jelita terlihat sangat lesu tidak seperti biasanya."Blair, kurasa kamu menang."Aku menatapnya bingung, merasa hal ini sangat tidak masuk akal untuk sejenak.Dia mendadak tertawa. "Kes

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 9

    Roman langsung berhenti berbicara.Karena dia sendiri tidak mampu mengarang alasan yang terdengar lebih baik.Aku menyelesaikan paruh kedua dari kalimatnya."Kamu cuma menikmati perhatianku, tapi kamu juga merasa sikap hati-hatiku membuatmu malu.""Kamu cuma terbiasa ada seseorang yang selalu menopangmu saat jatuh, tapi kamu meremehkanku karena nggak bisa mengikuti kecepatanmu dalam mencari tantangan.""Kamu cuma butuh pengasuh berkedok pacar buat mengurus detail membosankan untukmu. Tapi jauh di dalam hati, kamu merasa usahaku sama sekali nggak berharga."Air mata mendadak menetes dari mata Roman.Ini pertama kalinya aku melihatnya menangis.Dulu, dia selalu bangga dan sombong karena mengendalikan segalanya.Kesombongan yang lahir dari darah mafianya, seolah seluruh dunia harus memberi jalan untuknya.Namun kini, saat berdiri di gang tepi laut yang lembap ini, matanya sama merahnya dengan seorang remaja laki-laki yang baru saja membuat kekacauan besar.Jika ini terjadi di masa lalu, h

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 8

    Pada malam harinya, Clara tiba dan menemuiku hanya berselang beberapa jam setelah Roman.Begitu keluar dari mobil, dia langsung melangkah menghampiriku dengan sepatu hak tingginya."Blair, kamu belum puas juga?""Roman meninggalkan semua urusannya cuma buat cari kamu. Negosiasi rute ngarai ditunda, dan dia bahkan membatalkan pembicaraan dengan keluarga sekutu!""Kamu tahu nggak, kami sudah menyiapkan rencana ekspansi itu selama enam bulan penuh?"Aku menatap dingin wajahnya yang terlihat jengkel. "Apa hubungannya denganku?"Dia jelas tidak mengira aku akan membalas seperti itu, dan wajahnya langsung muram."Bagaimana bisa nggak ada hubungannya denganmu?""Kamu tahu betul, perjalanan ini juga mencakup misi penting buat bertemu dengan pemimpin faksi lain! Tapi saat kamu membatalkan hotel dan pura-pura hilang, Roman benar-benar hilang akal, keluar begitu saja dari meja negosiasi, lalu lari ke pantai buat mencarimu!""Kamu mengamuk cuma gara-gara cemburu, lalu merusak kerja keras setengah

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 7

    Jantungku bergetar hebat.Ternyata kesiapanku yang mendetail, hal yang selama ini dipandang sebelah mata, sama sekali tidak membosankan.Sikap hati-hatiku juga tidak merusak suasana.Hanya saja, di masa lalu, semua perhatian itu kuberikan kepada orang yang salah.Sore itu, aku mengabadikan pemandangan matahari terbenam yang memukau di atas garis pantai.Aku mengunggahnya ke media sosial tanpa tulisan apa pun, hanya foto saja.Baru sepuluh menit berlalu, Roman menyukai foto tersebut.Tepat setelahnya, pesan pribadinya muncul.[Aku akan ke sana untuk menemanimu.]Aku mengabaikannya....Keesokan sorenya, dia benar-benar muncul di lantai bawah studio.Dia jelas terlihat sudah menyetir semalaman. Rambut pendeknya yang biasa tertata rapi kini berantakan, dan ada lingkaran hitam kelelahan di bawah matanya yang cekung.Kerah kemejanya terbuka, memperlihatkan bekas luka lama yang tak asing di tulang selangkanya.Saat melihatku, dia menghela napas lega terlebih dahulu, lalu memasang raut wajah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status