MasukCitra baru saja keluar dari ruang dosen ketika ponselnya bergetar. Ia baru selesai melakukan bimbingan. Seharusnya setelah ini ia bisa langsung pulang, tetapi sebuah pesan yang masuk membuat langkahnya terhenti.'Cit, bukannya ini pacarmu?'Citra mengerutkan kening. Ia membuka pesan tersebut. Sebuah foto dikirimkan kepadanya. Begitu foto itu terbuka, napas Citra seolah tertahan. Rafael. Duduk di sebuah meja, sedang berhadapan dengan Anindya. Mereka sedang makan berdua.Untuk beberapa detik, Citra hanya menatap layar ponselnya. Tidak bergerak. Tidak berkedip. Kemudian tangannya perlahan mengepal.'Di mana ini?' Pesan itu ia kirimkan singkat.Temannya membalas beberapa saat kemudian.'Sebentar, aku cari tahu. Tadi aku lihat dari grup bersama temanku dan merasa mengenalnya. Setelah kuingat-ingat, ternyata pacarmu kan?'Citra tidak menjawab. Ia hanya menatap foto itu lagi. Rafael. Anindya. Berdua. Tidak ada orang lain di meja mereka. Tidak ada Arkana. Entah mengapa pemandangan itu terasa
Rafael masih terlihat ragu untuk melanjutkan pembicaraan. Namun setelah beberapa saat, akhirnya ia menghela napas."Sebetulnya ada satu hal lagi yang ingin kuceritakan."Anindya mengangkat wajah. "Apa?"Rafael memainkan gelas di tangannya. "Aku dan Citra bertengkar setelah acara kemarin."Anindya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Rafael, memberinya kesempatan untuk bercerita."Awalnya cuma karena aku diam sepanjang perjalanan pulang." Rafael tersenyum hambar. "Dia bertanya apa yang kupikirkan. Aku tidak bisa menjawab.""Kenapa?""Aku sendiri tidak tahu."Anindya tetap diam. Rafael kemudian menceritakan pertengkaran mereka. Tentang Citra yang merasa dirinya terus melakukan kesalahan. Tentang bagaimana Citra merasa sudah berusaha menyesuaikan diri dengan dunia Rafael. Tentang Rafael yang semakin lelah karena terus diminta menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak mampu ia jelaskan kepada dirinya sendiri. Anindya mendengarkan tanpa menyela.Sampai akhirnya Rafael mengatakan, "Ibuku j
Setelah makanan mereka datang, Anindya akhirnya meletakkan catatan bimbingannya ke dalam tas. Sejak tadi Rafael terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.Ia beberapa kali membuka mulut, kemudian mengurungkan niatnya.Anindya akhirnya tersenyum kecil. "Jadi?"Rafael mengangkat wajah. "Jadi apa?""Kenapa kamu datang ke sini?"Rafael terdiam. Anindya menatapnya dengan ekspresi tenang."Maksudku, kamu bukan mahasiswa di universitas ini," kata Anindya memperjelas maksudnya. "Iya.""Kamu juga tidak memberi tahu aku sebelumnya.""Iya.""Dan kamu menunggu hampir satu jam hanya untuk bertemu denganku."Rafael mengusap tengkuknya. "Kalau kamu menjelaskannya seperti itu, kedengarannya memang agak aneh."Anindya tertawa kecil. "Makanya aku bertanya."Rafael ikut tersenyum, tetapi kemudian kembali diam. Sebenarnya ia sudah memikirkan percakapan ini sejak tadi malam. Ia tahu apa yang ingin ditanyakan. Namun ketika sudah berhadapan langsung dengan Anindya, semuanya terasa jauh lebih sulit."Sebetu
Hampir satu jam berlalu, namun Rafael masih duduk di tempat yang sama. Beberapa kali ia membuka ponselnya, memeriksa pesan yang masuk, lalu kembali meletakkannya. Ia sempat menerima beberapa telepon dari rekan kerja, tetapi semuanya ia selesaikan dengan singkat.Selebihnya, ia menunggu. Entah mengapa, menunggu Anindya menyelesaikan bimbingan terasa lebih mudah daripada meninggalkan kampus dan kembali memikirkan semuanya sendirian.Ketika akhirnya pintu gedung terbuka, Rafael mengangkat wajah. Anindya keluar sambil membawa beberapa lembar dokumen. Begitu melihat Rafael masih berada di sana, langkahnya melambat."Kamu masih di sini?"Rafael berdiri. "Iya."Anindya melihat jam. "Sudah hampir satu jam.""Aku tahu."Anindya menghela napas kecil. "Maaf membuatmu menunggu.""Tidak apa-apa.""Bimbingannya ternyata lebih lama dari yang kukira.""Bagaimana?"Anindya tersenyum. "Baik. Ada beberapa bagian yang harus diperbaiki, tapi setidaknya sekarang aku tahu apa yang harus dikerjakan."Rafael
Keesokan harinya, Rafael benar-benar datang ke kampus Anindya. Tanpa membuat janji. Tanpa memberi tahu siapa pun. Bahkan kepada dirinya sendiri, Rafael tidak benar-benar bisa menjelaskan apa yang ingin ia lakukan setelah bertemu dengan Anindya.Ia hanya tahu bahwa sejak malam tadi, pikirannya tidak berhenti berputar. Ia ingin bertanya. Ingin berbicara. Ingin melihat Anindya secara langsung dan memastikan bahwa semua kegelisahan yang ia rasakan hanyalah akibat pikirannya yang terlalu jauh.Rafael memarkir mobilnya di area yang tidak terlalu jauh dari gedung fakultas. Ia kemudian berjalan masuk ke area kampus.Beberapa mahasiswa yang merasa asing dengan keberadaan Rafael sempat memperhatikannya. Namun Rafael tidak terlalu memedulikannya.Ia hanya mencari satu orang. Anindya. Masalahnya, Rafael tidak tahu apakah hari ini Anindya memiliki jadwal kuliah atau tidak. Dan setelah beberapa saat menunggu dan bertanya kepada beberapa mahasiswa di situ, ia baru mengetahui bahwa Anindya sebenarnya
Malam semakin larut. Namun Rafael belum juga tidur. Ia sudah beberapa kali mencoba memejamkan mata, tetapi pikirannya justru semakin ramai.Setiap kali menutup mata, kejadian malam itu kembali muncul satu per satu. Acara launching perusahaan keluarganya. Citra yang berdiri di sampingnya dan berusaha mengenal orang-orang di lingkungannya. Anindya yang datang atas undangan keluarga Wijaya. Arkana. Percakapan mereka. Kemudian taman di samping gedung. Dan akhirnya, pertengkarannya dengan Citra di dalam mobil.Rafael membalik tubuhnya. Tetap tidak nyaman. Ia menatap langit-langit kamar dalam gelap."Apa sebenarnya yang terjadi padaku?"Tidak ada jawaban. Rafael mengembuskan napas panjang. Ia masih merasa lelah. Bahkan sekarang, setelah beberapa jam berlalu, kepalanya masih terasa penuh.Ia teringat perkataan ibunya. 'Hubungan itu seharusnya tidak membuat seseorang terus-menerus merasa lelah.'Rafael memejamkan mata. Ia tidak ingin mengakui bahwa perkataan itu mengena kepadanya. Karena kala
Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe
Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R
Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men
Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d







