Share

4. Makan Malam

Author: Manorra Lee
last update Last Updated: 2025-09-19 11:01:45

“Kamu benar-benar menghancurkan segalanya!” Ivan menatap tajam sang istri yang duduk di tepi ranjang, sedang menunduk meremas tangannya yang dingin dan gemetar.

“Kamu harus bertanggung jawab!”

Dengan takut-takut Deana mengangkat kepalanya, sorot mata tajamnya berembun, bibirnya yang bergetar sedikit terbuka.

“Aku sudah bertanggung jawab, mengobatinya dan membantunya bekerja semalaman kalau kamu tahu! Tentu saja kamu tidak tahu, kamu tidak pernah mau tahu apa yang kulakukan!” teriaknya, tertelan bersama saliva yang meluncur kasar di tenggorokan.

Ia tidak bisa mengatakannya, ia tidak bisa berteriak seperti itu kepada Ivan.

Tiga tahun ini ia selalu bersikap lembut dan baik, sekalipun pria itu telah menyakitinya. Karena ia mencintainya lebih dari apa pun di dunia ini.

“Ap-apa yang harus kulakukan?” tanyanya kemudian, dengan terbata. Tenggorokannya mendadak sakit, suaranya keluar dengan kasar seperti memuntahkan kerikil.

“Ivan, aku belum siap untuk melakukannya sekarang. Ak-aku butuh waktu,” lanjutnya pelan.

“Tentu saja kamu butuh waktu!” semprot Ivan cepat, tanpa menunggu Deana menghirup udara. “Tangannya terluka karenamu, dia tidak akan bisa melakukannya dengan maksimal. Karena itu, kamu harus menebus kesalahan dengan mengajaknya makan malam. Anggap saja sebagai pendekatan.”

“Makan malam?” Deana menggigit bibir bawahnya. Mempertimbangan.

Ide itu tidak terlalu buruk, lagipula itu hanya makan malam. Tidak akan membuatnya menderita berlebihan, kecuali tatapan yang selalu membuat jantungnya menggila.

“Kalau begitu, aku akan memasak sesuatu yang dia sukai. Kakak ipar suka makan apa?”

Sorot mata Ivan menghunus tajam, membuat dada Deana berdesir seolah pria itu bisa membelahnya dan mengeluarkan organ-organnya dengan paksa. Dia berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Deana, tangannya terulur untuk mengusap bibir bawahnya dengan kasar, seolah memberi pelajaran pada bibir kurang ajar itu.

“Memasak?” Suaranya berat dan tajam, membuat Deana membeku dan berpikir telah melakukan kesalahan.

“Kamu ingin menjamunya dan bertingkah genit di depan semua orang? Kamu ingin membuatku malu dengan menjalang di depan semua keluargaku? Di depan ayahku?”

Seperti ditampar bolak-balik tanpa jeda, sakit menjalar di dada Deana hingga ke wajah yang kini terasa panas. Ia tidak tahu kenapa Ivan bisa semarah itu. Dan lagi, kenapa dia selalu berkata kasar, seolah ia benar-benar melakukan kesalahan fatal?

Tidakkah lebih baik bicara baik-baik tanpa menggunakan urat?

Deana tidak menjawab.

“Aku akan melakukan reservasi di restoran private bintang lima. Kakakku suka makanan jepang. Jadi, ikuti seleranya dan jangan membuatnya kecewa.”

Ivan membungkuk dan mengecup bibir Deana cukup lama. Tidak bisa dipungkiri, di dalam hati kecilnya ia sangat merasa bersalah. Namun, tidak memiliki pilihan lain.

Konsekuensi tidak memiliki keturunan jauh lebih berat daripada meminta istrinya menggoda pria lain. Posisinya di perusahaan, kehormatannya, istrinya, hartanya, ia akan kehilangan semua itu jika tidak memiliki keturunan.

Jika sebaliknya, ia tidak akan kehilangan apa pun, kecuali kesucian istrinya yang ternoda, tetapi tidak masalah karena tidak berpengaruh pada stabilitas hidupnya.

Saat Ivan akan melepaskan bibirnya, Deana menahannya dengan melingkarkan tangan di leher Ivan sambil perlahan berdiri. Namun, pria itu berhasil melepaskan diri dengan mendorongnya cukup keras.

“Tidak sekarang, Sayang. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mengatur makan malam.” Ia melepaskan tangan Deana, dan melangkah keluar.

Ivan menolaknya. Air mata mengalir di pipi Deana, menggigit bibir bawahnya untuk meredam tangis.

“Kamu tidak mau disentuh olehku, sedangkan kamu membiarkanku untuk disentuh orang lain? Kamu benar-benar jahat, Ivan.”

Tanpa sadar tangan Deana terkepal erat.

Sedangkan di luar kamar, Ivan melangkah ringan menuju kamar kakaknya. Bibirnya tertarik lebar, kontras dengan ekspresi yang ia perlihatkan pada Deana. Ia mengetuk pintu kayu solid berwarna coklat itu beberapa kali.

Begitu pintu terbuka ia langsung menerobos masuk. Agra melihat tingkah Ivan dengan tatapan datar. Ia bersandar di dinding dekat pintu dengan tangan terlipat di depan dada.

“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya.

“Em?” Ivan yang sedang melihat koleksi buku Agra pun menoleh.

“Ah, Deana mengusulkan makan malam untuk menebus rasa bersalahnya, tapi dia terlalu malu untuk mengatakannya langsung. Jadi, aku di sini untuk mengatakan padamu. Bagaimana? Apa kakak memiliki waktu?”

Agra tidak langsung menjawab. Mengingat kembali peristiwa malam itu, kemudian melihat punggung tangannya yang merah kehitaman sedikit melepuh di tengahnya. Luka itu tidak terlalu besar dan bukan sebuah masalah besar baginya. Ia tidak menyangka Deana akan merasa bersalah hingga separah ini.

Embusan napas panjang meluncur dari bibirnya. “Baiklah, kalau itu bisa membuatnya berhenti merasa bersalah.”

Ivan tersenyum lebar. “Kalau begitu aku akan melakukan reservasi di restoran jepang kesukaanmu!” balasnya, antusias.

“Istrimu tidak suka makanan jepang.”

Senyum di bibir Ivan lenyap perlahan, kelopak matanya mengedip cepat. Bagaimana dia bisa tahu? Padahal ia selalu menekankan pada Deana untuk bersikap biasa saja saat sedang makan makanan jepang bersama Agra.

“Siapa bilang?” Ivan pura-pura tertawa. “Dia sangat suka ikan mentah!”

Agra diam saja memperhatikan dengan wajah dingin tanpa minat.

“Kakak tidak perlu memikirkannya. Aku akan melakukan reservasi sekarang.” Dengan cepat Ivan mengakhiri ketegangan itu, dan melangkah keluar dari kamar Agra.

Bodoh!

Sebelah bibir Agra terangkat. Ia menutup pintu sambil terkekeh sinis, tahu Ivan hanya bicara omong kosong. Sedangkan ia tahu Deana tidak suka makanan jepang jauh sebelum Ivan menikah dengannya.

“Kita lihat, sampai kapan dia akan bertahan sebagai istri yang baik,” gumamnya.

  ***

Deana tidak bisa berhenti meremas tangannya untuk menutupi rasa gugup.

Mereka baru saja sampai di restoran, baru duduk dan hendak menikmati makanan, tetapi Ivan sudah keluar untuk mengangkat telpon yang katanya penting. Sekarang, hanya tersisa dirinya dan Agra, membuat suasana menjadi semakin canggung.

Ivan sengaja pura-pura mengangkat telpon untuk membuatnya terjebak bersama Agra, Deana tahu.

“Kalau tidak suka, bisa pesan yang lain,” ucap Agra karena Deana hanya diam saja, menatap ramen di hadapannya tanpa minat.

Kata-kata itu membuat Deana mendongak, spontan tersentak oleh tatapan Agra yang dingin. Secara naluriah ia menunduk dan langsung meraih sumpit yang masih tergeletak di meja.

“T-tidak perlu, aku menyukainya.”

“Jangan memaksakan diri kalau pada akhirnya makanan itu akan dimuntahkan. Di sini juga ada makanan dari negara lain, katakan apa yang kamu suka, aku yang akan membayarnya sebagai ganti.”

Kata-katanya yang tegas menggantung di udara, membuat suasana semakin tidak nyaman. Namun, Deana tetap berusaha tenang, menyantap makanannya tanpa suara meski di dalam kepalanya bertanya-tanya … dari mana Agra tahu makanan itu akan dimuntahkan? Ivan?

Walaupun sering merendahkannya, Ivan tidak mungkin mengatakan rahasia itu karena secara tidak langsung akan membuatnya malu.

Lalu …. Deana curi-curi pandang sambil berpikir keras.

Apa selama ini dia memperhatikanku? Batinnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meminjam Benih Kakak Ipar   12. Jalang Itu Seperti Istrimu

    Deana memaksa bibirnya untuk tersenyum. Berjalan mendekati Ivan seraya merapikan bajunya, lalu berdiri tepat di hadapannya.“Aku berinisiatif menggoda kakak ipar hari ini. Kali ini aku berhasil. Aku pasti akan hamil sebentar lagi!” Deana ragu untuk mengatakannya, tetapi ia harus mengatakannya untuk memberi alasan yang relevan kenapa dirinya berantakan. Juga, ia menebak Ivan melihat Agra tadi, dan membuatnya seperti ini.Jika dia berhasil hamil dengan benih kakak iparnya, semua dosa menjijikan ini akan akan berakhir. Keluarga Mahawira akan memiliki penerus, tidak akan ada yang peduli darah daging siapa yang ia kandung, Ivan akan memiliki posisi mentereng di perusahaan dan persetan dengan Agra! Pria itu akan terlempar jauh ke dasar tanah sebagai barang tidak berguna. Tanpa istri, anak ataupun keluarga. Dia benar-benar sendiri.“Sangat percaya diri sekali! Apa karena telah melakukannya berkali-kali selama aku tidak ada?”Senyum di bibir Deana luntur. Ia tahu sejak awal Ivan marah, tet

  • Meminjam Benih Kakak Ipar   11. Ketahuan?

    “Astaga, kakak, kumohon berhenti. Ini sudah lewat jam makan malam, ibu pasti kerepotan di dapur, dan Ivan sebentar lagi pulang!” Deana berusaha mendorong Agra yang masih bermain di dadanya. Walaupun mengatakan sudah cukup dan akan pergi, tetapi kenyataannya pria itu belum juga pergi seolah seolah tidak merasa puas mempermainkan tubuh Deana.Sejak awal tubuh wanita itu memang membuatnya kecanduan, hingga pulang dari kantor tadi masih berada di kamarnya. Tentu saja melakukan kegiatan menggairahkan yang sebetulnya sangat Deana dambakan. Ia yakin kali ini inisiatifnya tidak akan mengecewakan Ivan.Ia mendapatkan benih Agra, tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Awalnya Agra bersikeras untuk menggunakan pengaman, tetapi Deana tidak melepaskannya walau hanya satu detik. Pria itu tidak memiliki pilihan lain selain membuangnya di rahim Deana.“Kamu benar-benar seperti jalang. Siapa yang mengajarimu?” Agra menjauhkan wajahnya, dan mengecup Bibir Deana sekilas. Ia tersenyum mendapati semba

  • Meminjam Benih Kakak Ipar   10. Kepuasan

    “Apa yang kamu lakukan, Kak? Kenapa pintunya dikunci?”Deana hendak kembali membuka pintu, tetapi Agra menahan lengannya. Terpaksa ia menatap wajah pria itu, tubuhnya tegang tanpa sadar.Rahang tegas, sorot mata tajam, Agra tampak serius. Sialan! Dia tampak berkali-kali lipat lebih tampan dengan ekspresi itu, membuat Deana tidak bisa menahan untuk tidak menelan ludah.“Ivan bilang kamu bersikap aneh dan terus meminta maaf setelah makan malam itu. Apa kamu akan terus merasa bersalah dan membuat pekerjaan Ivan berantakan, huh? Berhenti bersikap kekanakan dan lupakan malam itu!”Bulu mata Deana melambai cepat dengan bibir sedikit terbuka. Apa yang sebenarnya kakak iparnya ini katakan?Keningnya mengerut. “A-aku tidak mengerti apa yang …”“Cukup katakan ‘ya’, lalu renungi,” sergah Agra, tidak ingin mendengar kata lain. Di samping sifatnya yang pendiam dan terkesan pasrah, Agra mengamati wanita ini juga suka membantah, kecuali pada suaminya. Seperti sihir, Ivan benar-benar bisa membuat w

  • Meminjam Benih Kakak Ipar   9. Bantuan

    Plak! Suara tepukan kulit yang berbenturan keras terdengar nyaring di penjuru dapur. Deana memegang pipinya yang kebas dan perih. Sedangkan Carla diam di sisinya dengan dada kembang kempis seiring napasnya yang memburu. “Beraninya mulut kotormu itu!” teriak Carla, menatap nyalang. Tangannya masih bergetar karena menampar sangat keras. Deana mengangkat kepalanya perlahan. Tidak ada bukti yang bisa ia lemparkan ke wajah Carla saat ini. Namun, setidaknya mulutnya telah mengatakan kebenaran daripada omong kosong seperti yang Carla gembar-gemborkan. Mandul, mandul, mandul! Siapa sebenarnya yang mandul! “Kenapa Ibu seperti ini? Tidak bisa menerima kenyataan?” “Jaga mulutmu!” Carla hendak menamparnya lagi, tetapi tangannya hanya menggantung di udara, lalu terhempas begitu saja. Sedangkan Deana tampak tenang sembari terkekeh sumbang. Saat tawanya berhenti, rautnya berubah sedih, suaranya mendayu dramatis. “Di matamu dia sangat sempurna tanpa cela, sedangkan aku tampak san

  • Meminjam Benih Kakak Ipar   8. Wanita Baik Untuk Pria Mandul?

    “Seharusnya kurang dari setengah jam kamu sudah sampai, tapi apa? Ini sudah masuk jam makan siang dan kamu baru datang. Kenapa tidak menjawab teleponku? Kamu sengaja ingin membuatku kerepotan dan terlihat bodoh di depan ayahmu?” oceh Satya diakhiri dengusan kasar.Agra menatap sekertarisnya itu dengan wajah datar, tanpa mengatakan apa pun.Reaksi yang tidak jauh berbeda dengan batu beku itu membuat Satya mendecih sinis. “Terlalu menikmati tubuh jalang sampai lupa waktu, eh?” cibirnya.Sialan memang! Tengah malam ia tiba-tiba dihubungi dan dipaksa oleh orang yang sedang dimabuk cinta untuk mengantarkannya ke hotel. Tidak cukup di sana, dengan tidak tahu malu pria dingin itu menyuruhnya untuk membeli dua kotak pengaman. Entah berapa ronde yang akan dia lakukan hingga perlu pengaman sebanyak itu.“Tck! Dia bukan jalang!”“Lalu apa?” Satya melotot garang. “Desahannya persis seperti jalang haus sentuhan!” Ia mendengar dengan jelas suara apa saja yang ada di dalam mobil semalam.“Berhenti

  • Meminjam Benih Kakak Ipar   7. Apakah Berhasil, Deana?

    “Bukankah kalian pergi pagi-pagi sekali untuk memeriksakan kandungannya yang bermasalah?” Carla memicingkan mata, menatap putra sulung dan menantunya bergantian. Ia tahu semalam mereka terlibat makan malam di luar, apa sebenarnya mereka ingin membicarakan soal kandungan secara diam-diam?Apa dia begitu malu hingga pagi ini pergi pagi-pagi sekali? Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan? Carla benar-benar penasaran!“Ya,” jawab Agra sembari melirik Ivan yang sudah pucat.“Lalu bagaimana keadaannya?” Dengan penuh penasaran Carla mengikuti Agra berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Ivan berdiri di tempat, menatap tajam Deana yang berjalan pelan ke arahnya. Gerakannya seperti siput, membuat Ivan tidak sabar untuk memarahinya.“Tidak tahu. Tanyakan saja pada Deana.”“Bagaimana kamu ini! Cepat katakan apa hasilnya! Apa dia mandul?”“Kurasa tidak, Ibu ….”Samar-samar Deana mendengar ocehan Carla dari dalam rumah. Ia berhenti di depan Ivan sambil menunduk, meremat samping dressnya untuk m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status