登入Siang itu, sebuah ruko dua lantai yang menjual material bahan bangunan tampak jauh lebih ramai dibanding biasanya.Karung semen ditumpuk. Pipa dipindahkan.Beberapa pegawai keluar masuk gudang.Suara forklift kecil dan kendaraan bongkar muat terdengar bersahutan.Di tengah keramaian itu—Deni berdiri sambil memegang kertas order.Matanya bergerak cepat membaca rincian.Semen. Besi. Bata ringan. Wiremesh. Keramik. Material struktur. Material finishing.Jumlahnya sangat besar.Sampai beberapa detik Deni hanya diam.Lalu menatap kertas ditangannya dengan seksama. Membaca ulang. Takut salah namun tetap sama.Nominal yang tertulis membuat sudut bibirnya perlahan naik.“Pak?” Salah satu pegawai memanggil.Deni masih melihat lembar itu sebelum akhirnya tertawa kecil.“Siapin semuanya.”Pegawai bingung. “Pak?”Deni akhirnya mengangkat wajah.Kali ini wajahnya benar-benar hidup. “Order besar.”Pegawai melangkah mendekat. “Di antar ke mana?”Deni menggeleng kecil. “Belum tahu.
Malam itu ketika Arthur dan Daviandra sudah tidur, Kanaya masih betah duduk di ruang televisi Penthouse suaminya yang mewah.Kepala Kanaya bersandar di pundak Ryley yang tangannya tengah mengusap ujung kepala Kanaya.Tatapan Kanaya fokus ke depan, menonton talk show terlaris di NewYork.“Kamu beneran sengaja bisnis sama Satria atau ada yang nyuruh?” Kanaya tiba-tiba bertanya.Ryley sampai menoleh. “Kalau aku ada yang nyuruh, bisa kamu tebak siapa?”Kanaya diam sebentar kemudian menjawab, “Bunda atau Luna.”Ryley tertawa renyah. “Kamu salah sayang, yang nyuruh Zyandru.” Kanaya sampai menegakan kepala kemudian menatap Ryley tidak percaya.“Zyandru mencintai Ratu, adiknya Satria ….”Kanaya ternganga, matanya membulat, terkejut.“Dia sepertinya benar-benar mencintai Ratu … sedangkan Ratu menyayangi kakaknya, dia yang menyuruh aku untuk mengajak Satria berbisnis.” Ryley melanjutkan.“Dasar tukang ikut campur urusan orang ….” Kanaya mengumpat sang adik.“Tapi tenang dulu, aw
Pagi itu Satria sudah rapi jauh sebelum ibu dan Kaluna selesai membuat sarapan pagi.Kemeja hitam digulung sampai siku.Jam tangan sudah terpasang.Tablet dan beberapa dokumen dimasukkan ke dalam tas kerja.Kaluna yang berdiri di dapur memperhatikannya sambil sesekali mengaduk bihun goreng di wajan.Sekarang perutnya sudah cukup besar.Gerakannya tidak secepat dulu.Tapi entah kenapa—dia sedang semangat memasak.Karena ini salah satu masakan yang dia cukup percaya diri membuatnya.Bihun goreng dan Satria suka.Kaluna mematikan kompor lalu mulai memasukkan bihun ke kotak bekal.Satria muncul di ambang dapur.“Sayang?”Kaluna menoleh. “Aku buat bekal untuk kamu.”Satria mendekat lalu mengintip isi kotak.Seketika sudut bibirnya naik. “Bihun?” Sorot matanya tampak antusias.Kaluna mengangguk bangga. “Iya.”Satria menatap istrinya beberapa detik, tawa kecilnya terdengar hangat. “Kamu tahu enggak…”Kaluna mengangkat kedua alisnya, menunggu.“Aku paling suka dibekelin,” l
Baru beberapa hari lalu ayah Kama dan bunda Arshavina pulang dari New York tapi ayah Kama tidak pernah menyia-nyiakan waktu, beliau berangkat sejak pagi.Para staf rumah baru selesai merapihkan dan membersihkan mansion ketika bunda Arshavina selesai menerima telepon dari salah satu temannya.“Makan siang sudah siap, Nyonya.” Kepala asisten rumah tangga memberitahu.“Oke … makasih.” Bunda merespon. Beliau melirik jam dinding.Sudah lewat jam makan siang. Bunda lalu menoleh ke arah tangga.“Zyandruuu!” Suara beliau menggema dari ruang keluarga. “Makan dulu!”Tidak ada jawaban.Bunda melanjutkan membaca pesan di ponselnya hingga beberapa menit berlalu beliau kembali memanggil.“Aaarrruuuuu!”Tetap tidak ada jawaban.Kening bunda mulai berkerut.Biasanya meski sibuk atau malas sekalipun—Zyandru akan menyahut.Bunda akhirnya bangkit dari sofa malas yang hampir sepagian ini didudukinya lalu berjalan menaiki tangga menuju lantai atas.Lorong kamar tampak sepi.Bunda berhenti di
Helikopter mendarat dengan sangat halus di atas gedung tinggi yang menjulang di kawasan Manhattan.Baling-baling masih berputar ketika pintu dibuka.Angin kencang menerpa rambut dan pakaian.Bunda Arshavina refleks memegang rambutnya sambil menatap sekeliling.Tatapannya bergerak perlahan.Gedung-gedung tinggi.Langit New York.Dan rooftop luas dengan area landing privat.Meski ini bukan pertama kalinya mereka datang ke New York—tetap saja ada sensasi berbeda.Karena kali ini mereka datang bukan sebagai tamu hotel.Tapi menginap di penthouse anak mereka.Sementara di sampingnya—ayah Kama turun dengan ekspresi dingin seperti biasa.Namun tatapannya tetap mengamati sekeliling diam-diam.Seorang staf menyambut. “Welcome, Mr. Gunadhya.”Ayah hanya mengangguk singkat.Mereka berjalan masuk melewati akses privat menuju lantai tempat penthouse Ryley berada.Begitu pintu terbuka—suara langkah kecil langsung terd
Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu lalu—rumah bapak di Lembang pagi itu terasa berbeda.Tidak ramai. Tidak heboh. Tidak penuh dengan candaan.Justru terlalu tenang.Itu disebabkan oleh koper besar yang berjajar di ruang tengah.Dokumen sudah dimasukkan berkali-kali ke dalam tas.Paspor dicek entah untuk yang ke berapa kali.Dan semua orang sibuk memastikan tidak ada yang tertinggal.Tapi tetap saja—ada sesuatu yang terasa menggantung di udara.Hari ini Ratu berangkat.Hari ini mimpi itu benar-benar dimulai.***Bandara terlihat sangat ramai.Troli didorong perlahan.Satria berjalan paling depan sambil sesekali mengecek dokumen keberangkatan di ponselnya.Di sebelahnya bapak membawa tas kecil.Ibu menggenggam tangan Ratu sejak turun dari mobil.Sementara Kaluna berjalan pelan di samping Ratu dengan satu tangan sesekali memegang perutnya sendiri yang sudah besar.Ratu tampak gelisah.Tatapannya terus bergerak ke berbagai arah.Pintu masuk. Area drop off.Or
Hening panjang melingkupi usai pergulatan penuh hasrat itu.Satria memeluknya erat tapi kini nafas mereka sudah teratur.“Kenapa kamu seperti menyesal setiap kali kita habis bercinta?” Akhirnya Kaluna memberanikan diri bertanya.Sebagai yang sudah pernah bercinta dengan pria lain—K
Kaluna tahu kalau AG Group memiliki resort di perbatasan antara Lembang dan Subang tapi baru kali ini dia benar-benar menginap di sana.Dulu Kaluna pernah mampir hanya untuk sekedar tahu dan berhubung sejak kuliah, hidupnya dihabiskan di luar Negri, pun keluarganya ketika waktu libur tiba pa
Setelah makan siang selesai, Bu Ratna membereskan meja dengan cepat meskipun Kaluna berkali-kali menawarkan bantuan.“Enggak usah, Nak. Tamu mah duduk saja,” kata bu Ratna sambil tersenyum.Akhirnya mereka semua berpindah ke ruang televisi.Ruangan itu sederhana, namun terasa hanga
Hari itu Kaluna bangun pagi sekali, bahkan ketika matahari belum terbit.Setelah meregangkan tubuhnya mengangkat kedua tangan ke atas, dia langsung berpikir bagaimana caranya bertemu Satria.Karena hari ini weekend, kantor tutup. Karyawan AG Group pasti senang, namun tidak begitu







