LOGINSatria benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya.Setelah hari pertama—dia ikut Bapak keliling kebun dari pagi sampai menjelang magrib.Mengecek kualitas paprika.Mengecek lettuce.Mengecek tomat cherry.Mencatat suhu penyimpanan.Mempelajari pengemasan langsung dari petani.Hari kedua—dia pergi lagi.Kali ini sampai ke Ciwidey.Mencari stroberi kualitas premium.Hari ketiga—Satria sibuk di gudang.Menguji packaging.Menghitung ketahanan produk.Mencoba simulasi pengiriman.Dan setiap malam—pria itu kembali duduk di depan laptop sampai larut.Kaluna yang biasanya selalu ditemani jadi mulai merasa sepi.Bahkan kadang—Satria tertidur duluan di depan laptop sebelum sempat mengobrol dengannya.Namun Kaluna tidak marah.Dia hanya rindu.Siang itu—Kaluna sedang duduk sendirian di ruang tengah sambil mengupas jeruk ketika Ibu mendekat.“Bosen ya?”Kaluna mendongak lalu tersenyum kecil. “
Kesibukan sudah terjadi sejak pagi bahkan sebelum matahari benar-benar muncul.Kabut Lembang masih turun tipis.Udara dingin menusuk sampai membuat ujung hidung Kaluna memerah.Tidak seperti di dalam kamar—suasana justru terasa hangat.Satria sedang memakai jaket hitam tebal sambil mengecek ulang daftar pengiriman di tabletnya.Beberapa nama sayur dan buah tersusun rapi lengkap dengan berat, suhu penyimpanan, dan estimasi shelf life.Kaluna bersandar di kepala ranjang sambil memperhatikan suaminya sejak tadi.Dan entah kenapa—semakin melihat Satria bekerja keras seperti itu, semakin besar rasa cintanya.“Sayang.”“Hm?” Satria masih fokus pada layar.Kaluna mengerucutkan bibir.“Kamu beberapa hari ini ganteng banget.”Satria langsung menoleh lalu terkekeh kecil.“Loh?”“Iya.” Kaluna mengangguk serius. “Aura suksesnya pekat banget.”Satria tertawa pelan, dia bangkit lalu menghampiri ranjang.Tangannya otom
Namun meski suasana meeting mulai berubah positif—Satria belum benar-benar bisa bernapas lega.Karena dia tahu—dunia bisnis sebesar Alterio Corp tidak mungkin mengambil keputusan hanya berdasarkan presentasi.Dan dugaan Satria ternyata benar.Salah satu pria berusia sekitar lima puluh tahunan yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara. “We’re impressed.”Satria mengangguk sopan. “Thank you.”Pria itu melanjutkan sambil menyilangkan jemarinya di depan wajah.“But for this scale of partnership…” Ia menjeda. “…we need proof.”Kaluna menegakkan punggungnya.Sedangkan ekspresi Satria tetap tenang.Pria asing kembali bicara. “We need product samples.”Slide presentasi berhenti.Seluruh peserta meeting kini benar-benar fokus pada Satria.Direktur purchasing ikut menimpali.“Fresh produce samples, Packaging quality. Temperature resistance. Storage durability. And consistency.”Satria mendengarkan semuanya tanpa memotong sedikit pun.Lalu perlahan—pria itu mengangg
Pagi itu—Satria terlihat jauh lebih sibuk dibanding biasanya.Laptop menyala sejak subuh.Tablet penuh catatan.Beberapa file proposal tercetak rapi di atas meja.Dan di sampingnya—ada secangkir kopi yang mulai dingin karena tidak disentuh sama sekali.Hari ini adalah hari penentuan.Hari di mana proposal bisnis yang dia buat selama berhari-hari akan dipresentasikan di hadapan pihak Alterio Corp regional Amerika dan Asia.Jika mereka setuju—maka hidupnya mungkin benar-benar akan berubah.Dan sekarang—untuk pertama kalinya setelah sekian lama—Satria kembali merasakan tekanan besar itu.Tekanan yang dulu biasa dia hadapi saat masih bekerja di AG Group.Bedanya dulu dia hanya mempertaruhkan karier.Sekarang dia mempertaruhkan masa depan istri dan anaknya.Menjelang malam—udara Lembang semakin dingin.Kabut mulai turun di luar jendela.Rumah sudah lebih sepi dari tadi siang.Ibu masuk kamar lebih cepat, katanya beliau akan membantu Satria melalui jalur langit.Bapak bahkan
Sejak kabar bahagia itu muncul—suasana rumah berubah menjadi jauh lebih ramai.Ibu beberapa kali menangis sendiri sambil tersenyum.Bapak berkali-kali mengucap syukur.Ratu bahkan sudah sibuk searching nama bayi padahal usia kandungan Kaluna saja belum jelas berapa minggu.Sedangkan Satria masih terlalu diam.Kaluna yang paling mengenalnya tentu sadar.Pria itu bahagia. Tampak bahagia.Namun di balik sorot mata hangatnya—ada ketakutan besar yang sedang dia sembunyikan.Dan Kaluna tahu persis ketakutan itu berasal dari mana.Kehamilan ektopik sebelumnya masih membekas.Terlalu sulit dilupakan. Siang harinya—mereka memutuskan pergi ke rumah sakit untuk memastikan kondisi kandungan Kaluna.“Aku ikut!” seru Ratu cepat.“Enggak usah.”Satria menjawab tegas sambil mengambil kunci mobil.Ratu mengerucutkan bibir.“Iiih jahat.”Kaluna tertawa kecil. “Doain aja ya.”Ratu akhirnya mengangguk pasrah.
Perjalanan pulang menuju Bandung terasa jauh lebih tenang.Kaluna tertidur di bahu Satria hampir sepanjang penerbangan.Sementara Satria hanya diam menatap keluar jendela kecil pesawat.Langit sore perlahan berubah jingga.Dan setelah sekian lama—dadanya terasa sedikit lebih ringan.Tentang ayah Kama.Tentang pekerjaan.Tentang harga dirinya.Entah kenapa … semua mulai terasa menemukan jalan.***Udara dingin Lembang langsung menyambut ketika mobil yang Satria kemudikan berhenti di depan rumah.Belum sempat Satria turun dengan sempurna—pintu rumah sudah terbuka lebih dulu.“Lunaaa!”Ibu keluar sambil tersenyum lebar.Bahkan celemek masaknya masih menempel di tubuh.Kaluna langsung tertawa kecil.“Buuuu….”Mereka berpelukan hangat.“Aku bawa oleh-oleh untuk Ibu, ayah dan Ratu.” Kaluna mengangkat paperbag di tangannya.“Waa … jadi ngerepotin.” Ibu tampak berbinar.“Enggak lah, ‘kan buat mertua kesayangan.”Sementara bapak menyusul keluar rumah sambil dengan sarung y
Di sisi lain, Satria berjalan menyusuri koridor kantor dengan langkah tenang.Ia tidak merasa tersinggung apalagi merasa diusir, Satria mengerti.Kaluna sedang membangun tembok agar tidak goyah.Dan ia tidak akan menjadi orang yang meruntuhkannya.Jika jarak itu membuat Kaluna
Ruang arsip itu tidak pernah menjadi tempat favorit siapa pun.Dingin. Berdebu tipis. Dindingnya dipenuhi lemari besi tinggi berderet seperti barisan prajurit tua yang menyimpan sejarah puluhan tahun perusahaan.Namun bagi Kaluna, tempat itu justru terasa seperti ruang belajar paling jujur.Dan
Ruangan sunyi.Lampu temaram menciptakan bayangan lembut di wajahnya.Satria bersandar ke belakang sedikit, tetap dalam posisi duduk, tangan mereka masih saling menggenggam.Waktu berjalan.00.1800.4201.07Kantor sepenuhnya hening.Di sela keheningan itu,
Sampai di rumah, Kaluna disambut bunda dan ayah dengan senyum dan tatapan mencurigakan penuh tanya.“Sayang ….” Bunda mendekat lebih dulu, mengecup kedua belah pipinya.“Are you oke?”Kaluna menarik nafas panjang bersama pejaman mata sekilas.“Ada yang mau Kaluna bicarakan,” katanya sembari men







