LOGIN“Pakainya yang ini.”Zyandru meletakkan sebuah box hitam panjang di atas kasur. Ratu yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin menoleh.“Apa ini?”“Buka saja,” kata pria itu sembari masuk ke dalam walk in closet.Ratu berjalan mendekat lalu membuka box itu perlahan.Dan matanya langsung membesar.Sebuah gaun satin champagne dengan detail kristal halus di bagian bahu terlipat sempurna di dalamnya. Potongannya elegan. Mewah. Dewasa. Tapi tetap lembut.“Aa ini untuk apa?“Zyandru tidak langsung menjawab hingga beberapa menit kemudian—di saat Ratu masih mengagumi gaun tersebut—pria itu muncul lalu berdiri di depan walk-in closet sambil memasang cufflink di lengan kemeja putihnya.Malam ini Zyandru juga terlihat berbeda.Setelan tuxedo hitam fitted membungkus tubuh tingginya dengan sempurna. Rambutnya ditata rapi ke belakang. Jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan. Dan tatapan mata itu…Terlalu mematikan.Ratu sampai menelan ludah.“Kita mau ke kondangan?”Zy
Menjelang siang ketika matahari mulai naik lebih tinggi.Kabut pagi yang tadi menyelimuti perkebunan sudah benar-benar hilang, berganti panas yang mulai menyengat kulit.Kaos hitam Satria sudah basah kuyup oleh keringat.Debu teh menempel di lengan, leher, bahkan sebagian wajahnya. Wajah putih pria itu kini tampak memerah karena terlalu lama terpapar sinar matahari.Telapak tangannya pun mulai terasa perih.Namun sejak pagi, tidak sekali pun dia mengeluh.“Udah dulu!” Pak Jaja berseru sambil menepuk kedua tangannya.“Istirahat! Makan dulu!”Beberapa pekerja langsung bersorak kecil.Ada yang duduk di bawah pohon.Ada yang membuka bekal.Ada yang mengambil air minum.Satria duduk di atas batang kayu besar dekat gudang.Tangannya membuka tutup botol air mineral.Kepalanya sedikit menunduk.Tubuhnya lelah.Tapi yang lebih melelahkan justru pikirannya.Sampai tiba-tiba—suara mobil terdengar dari arah jalanan.Satria tidak terlalu peduli.Namun beberapa detik kemudian, l
Malam hari ketika hendak tidur, tawaran Deni terus terngiang dalam kepala Satria. Pekerjaan apapun saat ini sangat Satria butuhkan, tapi bukan berarti datangnya dari Deni. Satria membalikan tubuhnya membelakangi Kaluna. Tapi uang di dompetnya tinggal selembar, bagaimana nanti kalau Kaluna ingin makan sesuatu atau beli skincare? Satria membalikan lagi tubuhnya menghadap Kaluna. “Sayang … gelisah banget sih? Mau lagi?” tanya Kaluna yang hampir kehilangan kesadaran, masuk ke alam mimpi setelah mendapatkan lima kali pelepasan.“Enggak … tidur aja, kamu pasti capek.” Satria mengusap kepala Kaluna.Kaluna kembali terlelap.Namun beberapa saat kemudian—Satria bertanya,”Sayang ….”“Hem?” Kaluna masih menjawab meski dengan mata terpejam.“Tadi Deni datangin aku ke ladang, katanya dia mau kasih aku kerjaan … besok jam delapan, aku harus datang ke kantornya.”Kaluna menghela nafas. “Datang aja, beli perkebunannya ….” Kaluna ngelantur.Satria tersenyum, dia mengecup kening Kaluna dalam
Tujuan pertama mereka adalah Times SquareBegitu turun dari mobil—Ratu benar-benar membeku.Matanya membesar. Mulutnya sedikit terbuka.Gedung tinggi mengelilingi mereka. Layar digital raksasa menyala di segala arah. Iklan fashion. Film. Brand dunia. Lampu warna-warni. Suara musik jalanan. Turis dari berbagai negara. Dan energi kota yang seperti tidak pernah tidur.“Aa .…” Ratu menatap sekeliling, suaranya pelan sekali.“Aku kayak masuk film Hollywood.”Zyandru tertawa kecil. “Iyaaa, Neng pemeran utamanya.”Ratu tidak merespon. Ia justru berputar pelan demi bisa menjangkau penglihatan ke segala arah.Lalu—cekrek.Zyandru diam-diam memotret.Detik itu juga Ratu menoleh.“Aa!”“Kenapa?”“Jangan candid!”“Tapi cantik.”Dan sukses.Pipi Ratu kembali merah.Beberapa menit kemudian—mereka berfoto bersama.Ratu memaksa Zyandru ikut gaya lucu.Zyandru awalnya menolak.Namun akhirnya menyerah.Dan hasilnya—Ratu tertawa sampai memegangi perut.“Ya ampun… muka Aa kaku bange
“Oh iya … iya Kak ….”“….”“Iya juga sih ….”Suara Ratu yang sedang bicara di telepon terdengar hingga lorong menuju pintu keluar.Zyandru yang baru masuk membawa satu paperbag makan malam langsung menuju ke asal suara.Dia menggeser pelan pintu ke arah balkon membuat Ratu membalikan badan.Telunjuknya refleks menempel di bibir disertai tatapan penuh peringatan.Dia masih bicara di telepon dan jika Zyandru tidak salah menebak, Kaluna yang ada di ujung panggilan sana.Zyandru mengedipkan satu mata, mengangkat paperbag sebagai kode kalau dia yang akan menyiapkan makan malam.Sebelum mendapat anggukan Ratu—Zyandru kembali masuk ke dalam Penthouse untuk menyajikan makan malam mereka.Ratu masih di balkon ditemani udara sejuk malam itu, percakapan dengan kakak iparnya sepertinya seru.Sementara itu Zyandru mulai menyiapkan piring dan mengisi gelas dengan air mineral.Tidak lama sosok Ratu muncul di ruang makan, Zyandru mendongak dan dia melihat ekspresi tidak terbaca di wajah c
Pagi di rumah bapak dan ibu dimulai jauh lebih cepat dibanding kehidupan mereka di Jakarta.Saat langit masih diselimuti kabut tipis, suara ayam jantan sudah lebih dulu memecah kesunyian.Udara Bandung yang dingin menyelinap masuk dari sela jendela.Aroma kopi hitam dan bawang putih tumis dari dapur membuat Kaluna perlahan membuka mata.Ia mengerjap beberapa kali.Butuh beberapa detik untuk mengingat kalau sekarang dia bukan lagi berada di apartemen kecil mereka di Jakarta.Melainkan di rumah sederhana milik bapak dan ibu.Di desa.Kaluna menoleh ke samping.Satria sudah tidak ada.Selimut di sisinya dingin.Berarti pria itu sudah bangun lebih dulu.Kaluna duduk perlahan.Bekas operasinya masih terasa sedikit tertarik, tapi jauh lebih baik dibanding beberapa hari lalu.Setelah mandi dan berganti pakaian dengan blouse krem longgar dan celana kulot bahan linen, Kaluna keluar kamar.Ia mendapati Satria sedang membantu bapak di halaman belakang.Keduanya tampak sedang memi
Tadi Brian mengirim pesan di kamar berapa dia menginap, Kaluna langsung menuju ke sana.Langkahnya goyah, dadanya terasa sesak dan hatinya perih hingga buliran kristal dengan mudah berkumpul di pelupuk mata.Enam bulan berlalu dan Brian baru sekarang menghubunginya untuk bertemu, untuk
Keesokan harinya datang terlalu cepat, cahaya matahari menyelinap melalui tirai tipis suite Kaluna ketika ia membuka mata. Laut terlihat tenang dari balik jendela besar, birunya memantulkan cahaya pagi yang lembut. Namun ketenangan itu tidak ada di dalam dirinya.
Detik selanjutnya tangan Satria perlahan membalas pelukan itu.Ia memeluk Kaluna dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.Tangannya mengusap punggung Kaluna perlahan.Gerakan yang lembut, tenang, hangat.Kaluna semakin merapat.Satria menundukkan kepala sedikit.Bibirnya tan
Langkah mereka pelan ketika kembali dari restoran dekat pantai menuju bangunan utama resort.Malam Bali terasa hangat saat itu. Angin laut masih berembus lembut membawa aroma asin yang samar.Satria berjalan di samping Kaluna, kedua tangan mereka saling bergandengan.Sesekali Satria menoleh ke s







