ログインKaluna langsung menghubungi Kanaya setelah dia masuk ke dalam kamar.“Halo … tumben lo telepon.” Kanaya menjawab panggilan telepon.“Kak … gue mau nikah sama Satria.” “Hah? Satria siapa? Pacar baru? Anak konglomerat mana?” Kanaya lupa.Kaluna memejamkan mata sekilas bersamaan hembusan nafas berat.“Waktu itu Brian pernah ngadu ke Ryley, katanya ketemu lo sama pacar lo di Bali … dia bukan yang lo maksud Satria itu?” “Iya ….” Kaluna menjawab.“Waw … cepet banget Sis, itu ‘kan hampir setahun lalu pas lo baru-baru putus.” “Ayah enggak setuju ….” Suara Kaluna lemah.“Kenapa?” Kanaya terdengar tidak terima.“Karena dia sekretaris gue ….”Hening sesaat.“Ah gila lo, ya pantesan aja ayah enggak setuju … lagian kenapa harus sama sekretaris sih? Selera lo rendah banget ….” Kanaya memang suka bicara seenak jidatnya.“Tapi dia tulus cinta sama gue, Kak … gue juga mencintai dia … dan dia manusia, kenapa sih? Apa yang salah?” Suara Kaluna tercekat.“Karena lo ceweknya, Lun … kalau
“Aku akan bicara sama ayah malam ini,” kata Kaluna sembari melepas seat belt.Satria mengangguk, menangkup wajah Kaluna menggunakan kedua tangan, menarik wajahnya demi bisa memberikan kecupan di kening.“Apa perlu aku ikut?” Satria lantas bertanya.“Ayah udah bicara sama kamu, sekarang giliran dia bicara sama aku ….” Kaluna mengembuskan nafas panjang.“Tadinya aku mau ajak kamu datang baik-baik ke ayah dan bunda.”Satria tersenyum lembut, tangannya terulur mengusap pipi Kaluna menggunakan punggung jari.“Mungkin memang ini yang terbaik.”Kaluna mengangguk. “Kamu hati-hati ya pulangnya.”Kaluna mencondongkan sedikit tubuhnya, mengecup pipi Satria.“Love you,” kata Kaluna sebelum akhirnya turun.Satria tidak langsung pergi, dia menunggu hingga Kaluna masuk ke dalam mansion.Dan ketika Kaluna sudah berada di depan pintu, dia berbalik, melambaikan tangan setelah itu mendorong pintu.Barulah Satria mengemudikan kendaraannya pulang ke apartemen.Tidak memakai kendaraan kantor k
Pintu ruang kerja Kaluna terbuka.Satria masuk seperti biasa—membawa iPad, wajah tenang, langkah terukur.Dan Kaluna tersadar kalau hari itu ada yang berbeda.Tidak ada tatapan hangat yang biasanya selalu muncul begitu mata mereka bertemu.Tidak ada senyum tipis yang hanya mereka pahami berdua.“Agenda jam dua sudah siap?” tanya Kaluna tanpa mendongak dari layar MacBook.“Sudah.” Jawaban Satria singkat. Terlalu singkat.Kaluna mengangkat kepala.Biasanya Satria akan menjelaskan detail. Memberi tambahan. Bahkan menyelipkan komentar kecil yang membuat suasana jadi terasa ringan.Hari ini tidak, hanya satu kata.Sunyi.Kaluna menyipitkan mata sedikit.Ia bangkit dari kursinya, berjalan pelan mendekat ke arah Satria yang berdiri di depan meja.“Pak Satria lagi hemat kata ya hari ini?” Nada suaranya ringan tapi mengandung sindiran halus.Satria hanya mengangguk kecil. “Enggak, Bu.”“Enggak?” Kaluna mendekat lagi. Lebih dekat.“Bu?” Tangannya naik, merapikan kerah kemeja Sat
Satria baru saja selesai mengolah tubuh di gym ketika mendapati Kama duduk di kursi loby apartemennya.Dia langsung mempercepat langkah mendekat, tidak ada keraguan apalagi takut.Pimpinan tertinggi AG Group sekaligus calon mertuanya ada di gedung apartemennya—siapa lagi yang dicari kalau bukan dia?“Pagi Pak Kama,” sapa Satria setelah langkahnya berhenti di depan ayah Kama.Ayah Kama mendongak kemudian bangkit dari sofa.“Ada yang mau saya bicarakan,” katanya dingin.Satria tahu ini tentang apa dan dia akan menghadapinya.“Silahkan ke unit apartemen saya, Pak.” Satria merentangkan tangan mempersilahkan.Kama jalan duluan ke lift disusul Satria setengah langkah di belakangnya.Tidak ada yang bersuara kita mereka berada di dalam lift yang kosong tersebut.Kama menatap Satria dari pantulan pintu lift yang seperti cermin dan tampang sang sekretaris tampak tenang, terkendali seperti biasa.Kama akui kalau Satria memiliki nyali yang besar karena pasti pria itu sudah bisa mendu
Akhirnya tibalah hari penentuanSemua kembali dikumpulkan di ruangan yang sama.Kama kembali duduk di ujung meja. Lebih dingin dari sebelumnya.“Setelah pemeriksaan,” katanya, “tidak ditemukan bukti atas tuduhan tindakan asusila terhadap Kaluna dan Satria.”Sunyi.Beberapa orang menunduk.Beberapa menghela napas lega.Tatapan Kama berpindah. “Namun—”Semua kembali tegang.“Kami menemukan pelanggaran serius lain di lingkungan kerja.”Beberapa wajah langsung pucat.“Dan akan ditindak secara terpisah.”Hening mencekam.“Dan untuk pelapor.” Gantian Direktur operasional yang bicara.Semua menahan napas.“Putri.”Putri yang duduk di sudut ruangan langsung gemetar.“Laporan yang Anda ajukan tidak didukung bukti.”Suara pria tua itu dingin. “Tuduhan Anda mencemarkan nama baik.”Putri menggeleng.“Pak… saya—”“Cukup.” Nada itu memotong tanpa ampun.“Mulai hari ini Anda diberhentikan secara tidak hormat dari AG Group.”Deg.Dunia Putri seperti runtuh.Air matanya langsu
Keputusan sudah dijatuhkan.Bukan vonis.Tapi—awal dari pembuktian.Dan seluruh gedung AG Group berubah jadi ruang penyelidikan.Hari itu juga—tim audit internal mulai bergerak.Tidak ada penundaan. Tidak ada kompromi. Semua akses dibuka.Server, log aktivitas, jadwal ruangan, hingga rekaman CCTV dari berbagai titik.Ruang kontrol keamanan yang biasanya sunyi—mendadak penuh sesak oleh tim audit.Beberapa layar besar menampilkan rekaman dari berbagai sudut ; Koridor lantai eksekutif, Pantry, Ruang meeting, Lobby, Area lift“Mulai dari dua bulan terakhir,” kata salah satu auditor.“Fokus ke area yang disebutkan dalam laporan.”Klik.Rekaman mulai diputar.Di layar pertama—Kaluna dan Satria terlihat berjalan berdampingan.Tenang. Profesional.Lalu—Satria sedikit mencondongkan tubuh, membuka pintu untuk Kaluna.Biasa. Sangat biasa.“Pause,” kata auditor.Zoom. Tidak ada kontak fisik berlebihan.“Lanjut.”Di layar lain—Kaluna keluar dari ruang meeting. Satria mengikuti.







