LOGIN“Aku pulang untuk menghadiri pesta pernikahan kak Luna ….” Nada suara Zyandru sudah lebih rendah.
Dia pergi usai berkata demikian meninggalkan sang ayah di meja makan dengan rahangnya yang mengeras.Tanpa di sangka, di mulut tangga paling bawah—Zyandru bertemu sang kakak yang sedang berdiri di sana sembari mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.Kaluna masih mengenakan pakaian kerja, dia mendengar percakapan antara sang ayah dengan adik bungsunya ketika hendak naik ke lantai dKaluna membuka mata saat langit di luar jendela masih sedikit gelap.Udara pagi Lembang menusuk dingin.Beberapa detik wanita itu hanya diam sambil menatap langit-langit kamar.Lalu perlahan—matanya membesar.“Oh iya!” Teringat sesuatu.Kaluna menengakan punggungnya buru-buru sampai selimutnya berantakan.Satria yang masih tertidur di sebelahnya hanya bergerak mengubah posisi dengan mata masih terpejam.Kaluna spontan menoleh, tatapannya berubah lembut.Tadi malam dia ketiduran saat menunggu Satria pulang dari Ciwidey, bahkan dia sama sekali tidak sadar kapan pria itu masuk kamar dan tidur di sebelahnya.Kaluna tersenyum kecil lalu mengusap rambut Satria pelan.“Kasian ayah baby…,” gumamnya lirih.Namun detik berikutnya semangatnya kembali naik.Dia bergegas mengambil laptop miliknya di meja kerja lalu kembali duduk di atas ranjang.Klik.Laptop menyala.Kaluna membuka email berisi design rumah impiannya yang
Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu sibuk—Satria bahkan bangun sedikit lebih siang.Udara Lembang pagi itu dingin sekali.Kabut masih menggantung tipis di balik jendela kamar.Kaluna sudah bangun sejak tadi tapi dia memilih tidak bergerak, diam dalam pelukan hangat sang suami tercinta sambil menatap wajah tampannya.Kemudian tersenyum begitu melihat Satria membuka mata.“Pagi sayang.” Kaluna berbisik.Satria mengerjap pelan lalu otomatis mengeratkan pelukan di pinggang istrinya.“Hm… pagi.”Kaluna terkekeh kecil saat wajah pria itu melesak di lehernya.“Masih ngantuk?”“Banget,” gumam Satria pelan.Kaluna mengusap rambut suaminya lembut.Hari itu mereka memang sudah berjanji akan mencari tanah untuk rumah impian mereka.Bahkan semalam Kaluna sampai susah tidur karena terlalu bersemangat.“Sayang…” Kaluna memainkan ujung rambut Satria pelan.“Nanti kalau rumahnya jadi, aku mau dapur yang jendelanya langsung ngadep kebun.”Satria tersenyum kecil tanpa membuka m
“Mr. Satria…”Salah satu pria asing di layar tersenyum kecil sambil membuka file laporan di depannya.“We’ve reviewed the inspection report from our Asia representatives.”Satria yang duduk di depan laptop langsung fokus dengan menegakan punggung.Malam itu udara Lembang kembali terasa dingin.Jam menunjukkan pukul delapan malam waktu Indonesia.Sementara di New York—matahari bahkan belum terlalu tinggi.Seperti biasa, Kaluna selalu ikut menemani dengan duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeluk bantal kecil.Matanya tidak lepas memperhatikan Satria sejak tadi.Slide laporan mulai muncul di layar. Foto workshop paman Elan. Area oven kayu. Sistem finishing. Gudang material. Sampai alur produksi yang tempo hari ditinjau langsung oleh tim Alterio Corp regional Asia.Dan semakin lama laporan itu dibuka—raut wajah Satria perlahan berubah lebih tenang karena dia tahu hasilnya bagus.“Production flow is good.”“Material quality meets resort standards.”“Finishing section i
Pintu kamar terbuka pelan.Aroma sabun dan udara dingin seketika ikut masuk bersama langkah Satria.Rambut pria itu masih sedikit basah.Kaos hitam membalut tubuh atletisnya yang baru selesai mandi.Sementara handuk kecil masih tersampir di bahunya.Kaluna yang sejak tadi berbaring sambil scroll media sosial refleks mendongak.Matanya berubah lembut.“Hai ganteng.” Kaluna menyapa.Satria tersenyum. “Kalau sekarang, kamu mau dipeluk?” sindir Satria karena tadi saat pulang, Kaluna mengatainya bau ketek dan memaksanya untuk mandi, katanya baby yang meminta.Kaluna tertawa, merentang kedua tangan. “Mauuuuu.” Satria tersenyum sembari mendekat, duduk di tepi ranjang lalu memeluk Kaluna.“Malem banget sih pulangnya, sayang.” Kaluna menggerutu.“Macet tadi dari Ciwidey.”Kaluna menjauhkan tubuhnya sedikit. Dia mendongak.“Capek banget ya?”Satria tidak langsung menjawab, dia menatap hangat Kaluna selama beberapa det
“Pak, istirahat dulu.”Satria menurunkan topinya lalu masuk ke dalam gazebo jati yang ada di pinggir ladang.Matahari siang itu cukup terik meski udara Lembang tetap terasa dingin.Beberapa pekerja mulai berkumpul untuk makan siang.Tak lama kemudian—seorang pegawai datang membawa rantang besar dan termos teh hangat.“Titipan dari ibu sama neng Luna.”Bapak tersenyum kecil mendengarnya.“Wah pasti enak-enak ini makan siang kita.” “Kalau ibu sama Kaluna masak mah enggak pernah gagal.” Satria menimpali.Pegawai itu membantu menurunkan rantang.Aroma ayam goreng lengkuas langsung menyeruak begitu tutupnya dibuka.Ditambah sambal terasi, tumis genjer, tahu goreng, dan lalapan segar.“Kaluna enggak ikut?” tanya bapak sambil mengambil nasi.Satria menggeleng pelan.“Tadi pagi mual lagi.”Raut wajah bapak berubah khawatir.“Ngidam?”“Mungkin kecapekan.” Satria mengembuskan napas pelan. “Kemarin masih maksa bantu sortir.”“Makanya jangan dibiarin.”Satria terkekeh kecil.
“Pak Tisnaaa!”Suara seorang pria membuat bapak yang sedang memeriksa selang irigasi refleks mengangkat pandangan. “Oh Mang Ujang.”Pria paruh baya itu berjalan mendekat sambil tertawa lebar. “Wah sekarang mah kebun-kebun di sini jadi sibuk terus ya.”Bapak balas terkekeh kecil. “Syukurlaaaah.”Pagi itu suasana perkebunan memang jauh lebih hidup dibanding biasanya.Beberapa petani terlihat mondar-mandir membawa hasil panen.Ada yang sedang memetik paprika.Ada yang menyortir lettuce.Sebagian lagi sibuk memasukkan tomat cherry ke box ventilasi khusus.Dan hampir semua pembicaraan mereka sekarang hanya tentang satu nama.Satria.“Anak pak Tisna ayeuna mah hebat pisan.”“Katanya kirim sayur sampai Amerika.”“Stroberi mang Darsa kemarin habis semua diborong.”“Harganya juga bagus.”Bahkan beberapa petani yang dulu sempat hampir menyerah berkebun kini mulai semangat lagi.Karena setelah sekian lama—akhirnya sekarang hasil panen mereka dihargai layak.Satria tidak pernah m
“Parkir di sana aja,” kata Kaluna sembari menunjuk space parkir kosong di depan loby restoran.“Aku antar kamu sampai loby dulu.” “Enggak usah, kita parkir aja dulu nanti barengan ke restonya.”Kaluna tidak ingin memperlakukan Satria seperti driver.Akhirnya Satria menurut dan langsung memarki
Pintu ruang kerja Kaluna terbuka pelan.Satria masuk dengan langkah tenang seperti biasa. Jasnya sudah dilepas menyisakan kemeja putih yang digulung hingga sikut.Ia berhenti beberapa langkah dari meja Kaluna.“Anda memanggil saya, Nona?”Nada suaranya formal. Terlalu formal.Kaluna yang sedan
“Ya udah deh, oke.”Satria yang berdiri di dekat mobil dengan pintu kabin belakang terbuka, sempat terlihat bingung.Kenapa Kaluna bersedia menerima ajakan dinner itu?Kenapa Kaluna tidak menjaga perasaannya?“Satria, kamu bawa pakaian ganti aku, kan?”“Bawa Nona … ada di
Siang itu langit Jakarta terlihat pucat di balik kaca gedung-gedung tinggi.Mobil sedan hitam mewah CEO anak perusahaan AG Group berhenti perlahan di depan gedung kantor Andre Pratama Group. Bangunan modern dengan fasad kaca itu memantulkan cahaya matahari siang yang terik.Satria turun lebih dul







