LOGINDi depan gerbang kos sederhana itu—sebuah mobil mewah hitam terparkir mencolok.
Mesinnya mati.Tapi orang di dalamnya sudah menunggu cukup lama.Zyandru bersandar di kursi kemudi, satu tangan di setir, satu lagi memegang ponsel yang dari tadi tidak benar-benar ia lihat.Tatapannya justru tertuju ke arah pintu kos.Menunggu. Tidak gelisah. Tapi jelas berharap.“Semoga dia enggak kabur lewat pintu belakang,” gumamnya pelan, setengah bercanda sendiri.BeberapaMalam pertama di apartemen itu terasa berbeda.Tidak ada suara ombak maupun angin laut.Hanya suara kendaraan dari kejauhan dan lampu kota yang menyala di balik jendela.Kaluna duduk di sofa kecil, memegang secangkir teh hangat.Satria keluar dari dapur, membawa membawa spatula di tangan dan apron menutupi bagian depan tubuh atletisnya.“Sebentar lagi makan malam siap,” katanya.Kaluna tersenyum,“Masak apa?”“Yang penting bisa dimakan,” jawab Satria santai.Kaluna tertawa kecil.Di momen itu—ia sadar sesuatu.Hidupnya memang berubah.Dunia mewah itu sudah tidak ada.Jabatan itu sudah hilang.Tapi … kebahagiaan?Masih ada bahkan terasa lebih nyata.Kaluna menatap Satria yang sedang sibuk di dapur kecil itu.Senyumnya perlahan muncul.“Sepertinya … aku enggak salah pilih,” bisik Kaluna pelan.Apa salahnya memulai dengan Satria dari nol kalau dia sendiri sudah kenyang menikmati seribu sejak lahir. *** Pagi itu Satria bangun pagi sekali. Tidak ada suara ombak. Ti
Kaluna berdiri di tepi pantai, kakinya menyentuh pasir putih yang masih dingin. Gaun santai yang ia kenakan bergerak pelan tertiup angin laut. Rambutnya tergerai bebas, sesekali menutupi wajahnya.Tatapannya lurus ke depan.Laut yang beberapa hari terakhir menjadi saksi kebahagiaan mereka—hari ini terasa berbeda.Lebih sunyi.Lebih berat.Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang.Tidak perlu menoleh.Kaluna tahu.Itu adalah Satria.Seperti biasa—tenang, hangat, dan selalu tahu harus berada di mana.Pria itu berhenti tepat di sampingnya. Tidak langsung bicara. Hanya berdiri, menatap arah yang sama.Beberapa detik.Hening menemani mereka.“Masih mau di sini?” tanya Satria pelan.Kaluna tersenyum kecil.“Kalau bisa … aku mau di sini selamanya.”Satria melirik Kaluna lalu tersenyum tipis.“Tapi dunia nyata enggak akan ngebolehin kita selama itu.”Kaluna menghela napas pelan.“Iya .…”Sunyi lagi.Namun kali ini tidak canggung.Hanya dua orang yang sama-sama sedan
“Bunda Arshavina menatap lautan luas di depannya dengan tatapan kosong.Dia tahu, sang suami sering mengajaknya dalam perjalanan bisnis ke berbagai kota dan luar Negri hanya agar dirinya tidak bersedih atau nekat menemui Kaluna tanpa ijin.Tapi demi apapun, bunda Arshavina merasa sedih.Sangat.Bagaimana tidak, dia tidak tahu bagaimana nasib anaknya sekarang.Apakah bahagia?Apakah sedih?Apakah kekurangan?Bunda bahkan tidak berani hanya sekedar menghubunginya.Bunda malu. Bunda merasa bersalah.Tapi apalah daya, ayah Kama terlalu keras kepala dan diusia bunda yang sudah tidak muda lagi, bunda tidak ingin membangkang kepada suaminya.Bunda tidak mampu melawan yang hanya akan menambah konflik dalam keluarganya.Sementara diambang pintu, ayah Kama berdiri memperhatikan bunda.Dia sudah selesai dengan macbooknya dan langsung pergi ke balkon karena sang istri tak kunjung kembali.Lalu suara isakan terdengar.Ayah Kama tahu kalau bunda sedang bersedih karena tidak bisa be
Malam kembali turun di pulau itu.Langit terbentang luas, dihiasi bintang yang tampak lebih dekat dari biasanya. Suara ombak bergulung pelan, seperti irama yang menenangkan jiwa.Di dalam cottage—lampu temaram menyala lembut.Kaluna berdiri di dekat jendela, mengenakan gaun tidur tipis berwarna lembut. Rambutnya terurai, sedikit basah setelah mandi. Angin laut masuk perlahan dari celah jendela, membuat kain tipis itu bergerak pelan mengikuti arah angin.Ia memeluk tubuhnya sendiri, menatap gelapnya laut.Pikirannya masih tertinggal pada percakapan kemarin dengan adiknya. Tentang Satria.Tentang keluarga.Tentang Zyandru dan Ratu.Tentang masa depan yang tiba-tiba terasa tidak sesederhana yang ia bayangkan.Langkah kaki terdengar dari belakang.Pelan. Tenang. Familiar.Siapa kalau bukan Satria?Kaluna tidak menoleh.Namun ia tahu dari aroma parfum pria itu yang menenangkan.Sampai akhirnya—dua tangan hangat melingkar di pinggangnya dari belakang.Tubuh Kaluna sedikit t
Pagi itu terasa berbeda.Bukan hanya karena udara Bandung yang sejuk, atau karena semalam yang tidak biasa.Tapi karena ada sesuatu yang berubah—halus, nyaris tak terlihat, tapi nyata.Ratu keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang jauh lebih segar.Rambutnya kering rapi, make up tipis mempertegas wajahnya yang memang sudah cantik. Pakaian yang dikenakannya sederhana—tapi pas, elegan, dan… sangat “dia” dengan harga fantastis karena Zyandru membelikan.Zyandru yang berdiri di dekat jendela langsung menoleh.Dan untuk beberapa detik—ia hanya diam. Menatap.“Kenapa?” tanya Ratu, pura-pura datar.Zyandru menggeleng pelan. “Cantik banget.”Ratu memutar bola matanya.“Aku belum maafin kamu lho.”Zyandru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Dia mendekati Ratu yang sedang membereskan barang-barangnya yang masih berserakan di meja kerja.“Jangan maafin aku dulu, aku masih punya banyak kejutan untuk kamu ….” Ratu menoleh,
Pagi datang perlahan, membawa cahaya lembut yang menyelinap dari balik tirai jendela besar.Sinar itu jatuh tepat di atas ranjang.Dan di sanalah—dua orang berbeda jenis kelamin yang sedang berpelukan kemudian terbangun hampir bersamaan.Ratu mengerjap pelan.Zyandru menarik napas panjang.Beberapa detik hening.Lalu mereka sama-sama tersadar.Deg.Tubuh Ratu seketika menegang.Zyandru juga.Dalam satu gerakan refleks—mereka menjauh.“Eh—”“Eh—”Suara mereka bertabrakan. Canggung. Bingung.Ratu langsung duduk, merapatkan tubuhnya, tangannya refleks menarik selimut.Zyandru mengusap wajahnya cepat, berdehem.“Pagi…,” katanya, berusaha terdengar santai.Ratu tidak langsung menjawab.Wajahnya merah.“Pagi…,” balas Ratu akhirnya, pelan.Hening lagi.Tidak ada yang tahu harus bicara apa.Sesekali mereka saling melirik dan tatapan bertemu kemudian memalingkan pandangan ke arah lai
Menjelang siang, suasana kantor mulai sedikit lebih santai.Beberapa karyawan keluar untuk makan siang. Lift-lift di gedung AG Group dipenuhi orang yang turun menuju area restoran di sekitar gedung.Kaluna berdiri di depan jendela ruangannya sambil melihat layar ponsel.“Lapar,” gu
Bagi sebagian orang, hari Senin adalah hari yang menyebalkan tapi tidak bagi Kaluna.Dia bangun dengan tubuh yang terasa segar, wajah berseri dan perasaan bahagia.Kaluna tidak sabar ingin bertemu Satria, si pria tampan pujaan hatinya sekarang.Dia bangkit dari atas ranjang dan pergi ke kamar ma
Satria masih memeluk Kaluna ketika percakapan mereka perlahan menghilang bersama udara malam Lembang yang semakin dingin.Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman.Kaluna mengangkat kepala sedikit dari dada Satria.“Satria ….”“Hm?”“Aku mau mandi.”Satria
Hening panjang melingkupi usai pergulatan penuh hasrat itu.Satria memeluknya erat tapi kini nafas mereka sudah teratur.“Kenapa kamu seperti menyesal setiap kali kita habis bercinta?” Akhirnya Kaluna memberanikan diri bertanya.Sebagai yang sudah pernah bercinta dengan pria lain—K







