تسجيل الدخولMenjelang siang, suasana kantor mulai sedikit lebih santai.
Beberapa karyawan keluar untuk makan siang. Lift-lift di gedung AG Group dipenuhi orang yang turun menuju area restoran di sekitar gedung.Kaluna berdiri di depan jendela ruangannya sambil melihat layar ponsel.“Lapar,” gumamnya.Satria yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya menutup iPad.“Mau makan di luar?”Kaluna menoleh. Bibirnya melengkung tipis.“Kita?”Satria tidak menanggapi nada meLangit tiba-tiba berubah gelap ketika mereka keluar dari mall.Hujan turun.Tidak terlalu deras, tapi cukup membuat udara menjadi dingin.Satria mengambil payung dari petugas mall.Lalu membukanya.Kaluna mendekat, merapatkan tubuh dengan Satria tanpa ragu, ia merangkul lengan Satria agar mereka berdua muat berada di bawah satu payung.Satria menoleh sambil tersenyum, dia menikmati momen ini.Mereka berjalan perlahan menuju parkiran.Suara hujan menjadi latar.Langkah mereka selaras.Dan entah kenapa, dia merasa Kaluna menjadi pendiam.Satria meliriknya. “Kamu kenapa?”Kaluna tidak langsung menjawab.Ia menatap ke depan. Lalu berkata pelan, “Kamu tahu enggak…”“Hm?”“Katanya di saat hujan…” Kaluna berhenti sebentar. “… adalah waktu yang paling baik untuk berdoa.”Satria menoleh, menatap Kaluna lekat. Kaluna balas tersenyum kecil. “Tadi aku lagi berdoa.”“Apa?”Kaluna menarik napas pelan. “Aku minta sama Tuhan…” Suaranya lembut. “…supaya kamu jadi suami aku.”Langk
“Parkir di sana aja,” kata Kaluna sembari menunjuk space parkir kosong di depan loby restoran.“Aku antar kamu sampai loby dulu.” “Enggak usah, kita parkir aja dulu nanti barengan ke restonya.”Kaluna tidak ingin memperlakukan Satria seperti driver.Akhirnya Satria menurut dan langsung memarkirkan mobil di tempat yang Kaluna tuduhkan.Setelahnya, mereka berjalan beriringan menuju sebuah resto tempat di mana Kaluna dan teman-temannya janji untuk bertemu.“Aku duduk di meja enggak jauh dari meja kamu,” kata Satria sembari sedikit mencondongkan kepalanya mendekati telinga Kaluna.“Oke.” Kaluna tersenyum lembut sebelum akhirnya mereka berpisah di depan pintu resto.Teman-teman Kaluna menyambut dengan bahagia, mereka sudah cukup lama tidak bertemu mengingat Kaluna menghabiskan hampir sepuluh tahun menuntut ilmu di NewYork.Segera saja, restoran fine dining di pusat kota Jakarta dipenuhi suara tawa perempuan-perempuan berkelas yang sedang mengobati rindu.Kaluna duduk di salah sa
Kaluna mengangkat celana dalamnya di tangan kiri dan camisol yang talinya putus di tangan kanan, dua benda itu tampak sobek mengenaskan.Dia sengaja menunjukannya kepada Satria yang sedang merapihkan celana.Satria terkekeh. “Nanti aku belikan yang baru.”“Bukan masalah yang baru, masa aku pulang enggak pakai celana dalam?” Wajah Kaluna mengerut.Satria mendekat mengikis jarak.“Aku minta maaf … tadi aku keburu nafsu.” Jemarinya mengelus pipi Kaluna lembut.Kaluna tersenyum sembari mengigit bibir bawahnya, dia menunduk kemudian menempelkan kening di dada Satria yang bidang.Dan Satria membawa Kaluna ke dalam pelukan.Tidak lama Satria melepaskan pelukan lalu menjauh menuju sudut ruangan, dia meraih blazer Kaluna kemudian memakaikannya.“Kemeja kamu transparan dan kusut jadi pakai ini.” “Satria ….” Kaluna melirih.Tangan Satria yang sedang memakaikan blazer di tubuh Kaluna seketika berhenti.“Luna ….” Satria menatap m
Pintu ruang kerja Kaluna terbuka pelan.Satria masuk dengan langkah tenang seperti biasa. Jasnya sudah dilepas menyisakan kemeja putih yang digulung hingga sikut.Ia berhenti beberapa langkah dari meja Kaluna.“Anda memanggil saya, Nona?”Nada suaranya formal. Terlalu formal.Kaluna yang sedang duduk di belakang mejanya seketika merasakan sesuatu menusuk di dada.Biasanya kalau mereka hanya berdua, Satria akan bersikap jauh lebih santai. Kadang bahkan langsung duduk tanpa diminta, atau melemparkan senyum kecil yang hanya mereka berdua pahami.Tapi sekarang tidak. Jarak itu terasa kembali ada.Kaluna menyilangkan tangan di dada.“Kamu dari mana aja?” tanyanya langsung, dingin dan menyimpan kesal.Satria menjawab tanpa perubahan ekspresi.“Dari kantor notaris di daerah Pluit.”Kaluna mengerutkan kening. “Notaris?” Dia pura-pura tidak tahu.“Masalah pembebasan lahan proyek pesisir kemarin hampir tertunda karena satu dokumen kepemilikan tanah belum dilegalisasi,” jelas Satria
Pagi itu langit Jakarta masih diselimuti warna abu tipis ketika mobil sedan hitam mewah berhenti di depan mansion Gunadhya.Namun bukan Satria yang turun dari kursi kemudi.Driver kantor yang membuka pintu belakang untuk Kaluna.“Selamat pagi Bu.”Kaluna berhenti sepersekian detik sebelum melangkah keluar. Ia menoleh sekilas ke kursi depan mobil, kosong.Tidak ada pria tampan dengan jas rapi yang biasanya sudah berdiri lebih dulu menunggunya.Dada Kaluna terasa aneh.Sejak mereka mulai bekerja bersama, hampir tidak pernah Satria tidak menjemputnya.Kaluna masuk ke mobil tanpa banyak bicara. Sepanjang perjalanan menuju kantor, ia hanya menatap keluar jendela.Jakarta bergerak seperti biasa. Jalanan penuh kendaraan. Lampu merah yang berganti warna. Orang-orang berjalan tergesa.Namun pikiran Kaluna tidak berada di sana.Satu kalimat Satria dari semalam terus terngiang di kepalanya.‘Aku juga cemburu.’Kaluna menghela napas pelan.Rasa bersalah mulai merayap di dadanya.Di
“Ya udah deh, oke.”Satria yang berdiri di dekat mobil dengan pintu kabin belakang terbuka, sempat terlihat bingung.Kenapa Kaluna bersedia menerima ajakan dinner itu?Kenapa Kaluna tidak menjaga perasaannya?“Satria, kamu bawa pakaian ganti aku, kan?”“Bawa Nona … ada di belakang, saya ambilkan.” Satria langsung bergerak ke belakang mobil, membuka pintu belakang lalu mengeluarkan sebuah tas.Andre mengambil alih tas itu dari tangan Satria sebelum sempat diberikan kepada Kaluna.“Satria.”“Ya Pak.”“Saya yang akan mengantar Kaluna pulang.”Nada suaranya penuh percaya diri. “Sekalian menjelaskan pada ayahnya kenapa kami pulang agak larut.” Kalimat itu terdengar biasa.Tapi ada sesuatu yang membuat Satria merasa aneh. Seolah Andre tahu sesuatu kalau hubungan dia dan Kaluna backstreet.“Dan tolong antar Mia pulang,” kata Andre lalu menoleh ke arah Mia.“Mia, kamu pulang diantar Satria saja ya.”Mia melirik Satr







