MasukMenjelang siang, suasana kantor mulai sedikit lebih santai.
Beberapa karyawan keluar untuk makan siang. Lift-lift di gedung AG Group dipenuhi orang yang turun menuju area restoran di sekitar gedung.Kaluna berdiri di depan jendela ruangannya sambil melihat layar ponsel.“Lapar,” gumamnya.Satria yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya menutup iPad.“Mau makan di luar?”Kaluna menoleh. Bibirnya melengkung tipis.“Kita?”Satria tidak menanggapi nada meMatahari sore mulai condong ketika pintu ruang rawat akhirnya terbuka.Seorang dokter masuk sambil membawa clipboard di tangan.“Untuk kondisi pasien sudah stabil,” katanya sambil menatap Satria. “Lukanya juga bagus, tidak ada perdarahan lanjutan. Kalau tidak ada keluhan, pasien sudah boleh pulang hari ini.”Sesuatu di dada Satria yang sejak beberapa hari terakhir terasa berat akhirnya sedikit mengendur.“Terima kasih, Dok.”Dokter mengangguk lalu pergi.Begitu pintu tertutup, Satria langsung menoleh ke arah Kaluna.Kaluna yang sejak tadi duduk bersandar di ranjang pasien tersenyum kecil. Lemas. Tapi hangat.“Akhirnya…,” bisiknya.Satria ikut tersenyum.Namun senyum itu berbeda. Lebih lega. Lebih tulus. Dan mungkin sedikit rapuh.Karena hanya dia yang tahu betapa berat beberapa hari terakhir. Biaya rumah sakit. Biaya operasi.Harga dirinya yang diinjak di depan keluarga Kaluna.Dan jam Rolex yang kini sudah tidak lagi
Malam di Manhattan terasa berbeda.Lebih hidup. Lebih berkilau. Dan entah kenapa—lebih romantis.Setelah makan malam selesai, Ratu membantu membereskan meja meski Zyandru beberapa kali mengusirnya kembali ke sofa.Namun Ratu tetap keras kepala.Minimal membuang tissue bekas atau membawa gelas ke kitchen island.Sampai akhirnya Zyandru menyerah dan hanya memperhatikannya sambil tersenyum tipis.“Neng.”“Hm?” Ratu menoleh.“Aa baru tahu .…”Ratu mengangkat alis. “Tahu apa?”Zyandru menyandarkan tubuhnya di meja dapur.“Kalau ternyata menyenangkan ya punya calon istri itu.”Deg.Gerakan Ratu langsung berhenti. Piring di tangannya nyaris lepas.“A… Aa!”Zyandru tertawa puas melihat wajah Ratu yang langsung merah.“Aa ngaco ah!”Ratu mengambil tissue lalu melemparkannya ke arah Zyandru.Pria itu menangkapnya dengan mudah. “Tapi lucu.”“Ih…” Ratu langsung membuang muka.Zyandru berjalan men
Udara hangat memenuhi kamar mandi marmer yang luas.Cermin besar dipenuhi embun tipis.Ratu keluar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk putih lembut yang bahkan terasa jauh lebih halus dari handuk mana pun yang pernah ia pakai.Kaos oversize milik Zyandru membungkus tubuhnya.Ukurannya terlalu besar.Bagian bawahnya bahkan hampir menutupi paha.Namun justru itu yang membuat Zyandru tadi tersenyum lama sebelum menyuruhnya mandi lebih dulu.Langkah Ratu melambat begitu keluar dari kamar.Ia mendapati Zyandru berdiri di dekat jendela kaca besar dengan pemandangan Manhattan yang masih hidup meski malam semakin larut.Ponsel menempel di telinganya.Raut wajahnya berubah.Tidak santai.Tidak jahil seperti biasanya.Tampak sangat serius.“Iya, Kak… Terus sekarang gimana?”Langkah Ratu refleks berhenti.Kak?Kaluna?Ratu tidak sadar jari-jarinya menggenggam handuk sedikit lebih erat.Ia tidak berani mendekat terlalu jelas.Namun jarak mereka cukup dekat untuk m
Perjalanan panjang yang melelahkan itu akhirnya berakhir.Lampu kabin perlahan kembali terang.Suara pramugari terdengar lembut dari speaker pesawat, mengumumkan bahwa mereka telah mendarat dengan selamat di New York.Ratu yang sejak tadi tertidur di pelukan Zyandru perlahan membuka mata.Butuh beberapa detik sebelum kesadarannya benar-benar kembali.Namun begitu matanya menangkap pemandangan di balik jendela kecil pesawat—deretan lampu kota. Landasan luas. Pesawat-pesawat besar yang berjejer. Dan suasana bandara yang begitu … berbeda.Ratu seketika duduk tegak. Matanya membesar.“A… Aa….”Zyandru yang baru membuka mata menoleh.“Hm?”Ratu menunjuk ke arah jendela seperti anak kecil yang baru melihat dunia baru.“Kita … beneran sudah sampai?”Zyandru terkekeh pelan.Tangannya naik, mengusap kepala Ratu gemas.“Iya, Neng geulis… welcome to New York.”Deg.Entah kenapa—kalimat sederhana itu membuat dada Ratu bergetar.Ia benar-benar sampai.Negeri yang selama ini hanya
Satria bergegas pergi ke ruangan yang dimaksud perawat.Tidak sabaran dia mendorong pintu itu, ingin segara tahu kondisi istrinya.Dan Satria terkejut karena mendapati hampir seluruh keluarga inti Kaluna ada di sana.Ayah Kama, bunda Arshavina, Davanka, Kanaya dan Ryley.Kaluna tersenyum tipis ketika melihatnya, meski masih terbaring lemas di atas ranjang pasien dengan wajah pucat dan selang infus tertancap di punggung tangan kiri.Satria berhenti di ambang pintu.Namun sebelum ia sempat melangkah—suara sinis itu terdengar.“Kamu dari mana saja?” tanya ayah Kama sinis. Tatapannya tajam. Penuh amarah.Satria menoleh.Belum sempat Satria menjawab, ayah Kama melanjutkan.“Apa kamu tahu istri kamu lagi dioperasi?” Ayah Kama kembali bersuara. Nada itu meninggi. Semua orang diam.Satria membuka mulut.Namun—belum keluar kata—ayah Kama mendekat membawa emosinya kemudian ….BUGH!Satu pukulan keras mendarat di wajah Satri
Hari itu, semuanya terjadi terlalu cepat.Tidak ada waktu untuk benar-benar mencerna.Tidak ada ruang untuk menenangkan diri.Begitu hasil diagnosa keluar—proses langsung berjalan.Administrasi.Persetujuan tindakan.Persiapan operasi.Semua seperti berlari.Sementara itu, di sebuah ruangan—Kaluna sudah mengenakan baju pasien.Berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat.Tangannya dingin.Matanya berkaca-kaca sejak tadi.Satria setia berdiri di sampingnya.Tidak menjauh satu langkah pun.Tangannya menggenggam tangan Kaluna erat.Seolah itu satu-satunya cara agar Kaluna tetap kuat.“Sayang ….” Suara Kaluna lirih.Satria langsung menunduk.“Iya sayang?”“Anak kita ….” Kalimat Kaluna memang terdengar pelan namun berhasil menghancurkan hati Satria.Satria bergerak mendekat, duduk di tepi ranjang. Punggung tangannya mengusap pipi Kaluna lembut.Mata mereka terpaku sehingga Kalu
Brian menatap ke luar dinding kaca yang menampilkan pemandangan sungai Hudson.Tatapannya kosong, pundaknya terasa berat penuh dengan beban.Dia lantas melirik arloji mahal di pergelangan tangannya, sudah lima menit dia menunggu.Andaikan saja bukan Ryley yang mengajaknya bertemu, Brian pasti su
Nightclub itu penuh.Lampu-lampu strobo memantul di dinding kaca, musik EDM menghentak hingga dada terasa bergetar. Para sosialita, pebisnis muda, selebriti, dan pewaris kaya memenuhi ruangan.Kaluna berdiri di tengah lobi VIP.“Siapkan meja,” katanya singkat pada Satria.Petu
Mobil mewah khusus operasional CEO AG Group meluncur halus meninggalkan gedung perusahaan.Sore Jakarta mulai meredup, cahaya keemasan berubah jingga di balik gedung-gedung tinggi.Kaluna bersandar di kursi belakang.Hari pertamanya berjalan baik.Terlalu baik.Ia baru saja membuktikan diri.
Pagi itu, meja sarapan di mansion keluarga Gunadhya terasa sedikit berbeda.Biasanya santai tapi tidak seperti biasa, hari ini lebih khidmat.Kaluna turun mengenakan setelan blazer putih gading dengan rok span selutut. Rambutnya ditata rapi, makeup natural namun tegas. Elegan. Profesional. Tak te







