INICIAR SESIÓNPagi di villa privat itu dimulai dengan suara deburan ombak dan cahaya matahari Bali yang menembus tirai putih transparan.Satria membuka mata lebih dulu.Tangannya masih melingkar erat di pinggang Kaluna.Wanita itu masih tertidur di dadanya.Rambut panjangnya sedikit berantakan.Bibirnya sedikit terbuka.Dan entah kenapa—setiap pagi melihat wajah itu, dada Satria selalu terasa penuh.Tangannya naik. Menyingkirkan anak rambut di wajah Kaluna. Lalu mengecup keningnya lama.Cup.Kaluna menggeliat pelan. Bulu matanya berkedip.“Sayaang .…” Suaranya masih serak.Membuat Satria tersenyum.“Bangun yuk.”Kaluna justru memeluknya lebih erat. “Lima menit lagi.”Satria terkekeh. “Nanti sepupu kamu nikah tanpa kamu.”Kaluna langsung membuka mata.“Ya ampuuun, enggak boleh!”Dan sukses membuat Satria tertawa.Sekitar pukul empat sore—semua keluarga besar Gunadhya sudah berkumpul di area pantai pribadi.
Sekitar empat puluh menit perjalanan dari bandara—iring-iringan mobil keluarga besar Gunadhya akhirnya memasuki kawasan resort privat di tepi laut Bali bagian selatan.Gerbang kayu ukir khas Bali terbuka perlahan.Patung batu dengan bunga kamboja menghiasi sisi kanan kiri jalan.Suara deburan ombak mulai terdengar semakin jelas.Dan ketika mobil berbelok melewati deretan pohon kelapa—Kaluna sampai membulatkan mata dengan bibir tersenyum.Dia benar-benar merindukan Bali. Di hadapan mereka berdiri sebuah kawasan villa privat yang benar-benar luar biasa.Bukan sekadar resort.Melainkan private estate.Beberapa cottage mewah berdiri berjajar menghadap laut.Dinding kayu ulin berpadu kaca full height.Kolam renang infinity memantulkan cahaya jingga matahari senja.Jembatan-jembatan kayu kecil menghubungkan tiap cottage.Dan yang paling membuat Kaluna terdiam membeku adalah hamparan pasir putih dan pantai pribadi sejauh mata memandang.Satria ikut terdiam menikmati keindahan
Pagi itu udara Lembang terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena musim kemarau akan segera tiba.Kabut masih turun tipis di antara pepohonan ketika lampu kamar Satria dan Kaluna sudah menyala sejak subuh.Kaluna berdiri di depan lemari sambil menggigit bibir bawah.Tangannya sibuk memilih dress.Yang ini terlalu formal.Yang itu terlalu terbuka.Yang satu lagi terlalu mencolok.“Aduh….” Kaluna mendesah pelan.Sementara di atas ranjang—Satria duduk sambil memakai jam tangan.Tatapannya mengawasi tingkah istrinya sejak tadi.“Sayang.”“Hm?”“Kita ke nikahan… bukan fashion week.”Kaluna langsung menoleh.“Eeeh, Iya sih… tapi aku mau keliatan paling keren.”Satria terkekeh pelan. “Apa mau beli yang baru nanti di Jakarta?”Kaluna menggelengkan kepala. “Enggak usah, pemborosan.”Satria bangkit dari tepi ranjang.Langkahnya mendekat.Tangannya naik meraih satu dress satin berwarna sage green dari tangan Kaluna.“Pakai ini saja kalau begitu, ini baru ‘kan… bel
“Sayaaang ….” Seperti biasa, Kaluna selalu menyambut Satria di depan pintu.Satria yang baru saja turun dari mobil mengangkat keresek di tangannya.Sorot mata Kaluna langsung berbinar.“Ketan bakar … pesenan kamu,” kata Satria begitu langkahnya sampai di teras, di depan Kaluna.“Maaciiii ….” Kaluna mengecup pipi Satria.Cup.“Aku mandi dulu ya ….” Satria merangkul Kaluna masuk ke dalam rumah.“Eh … aku ambilin handuk dulu ya.” “Enggak usah sayang … nanti aku ambil sendiri … kami makan aja ketan bakarnya sama ibu ya.” “Sudah pulang, Nak?” Ibu mendengar suara Satria langsung menyambut.“Iya Bu.” Satria mengecup punggung tangannya.“Ibu, Satria bawa ketan bakar … kita makan berdua yuk!” “Waaa … boleh-boleh.” Kaluna duduk di samping Ibu.Satria mengecup puncak kepala Kaluna sebelum akhirnya pergi ke kamar mengambil handuk.“Wangi apa ini?” Bapak baru saja masuk ke dalam rumah, pulang dari masjid.“Ini Pak, Satria bawa ketan bakar … Bapak mau?”“Mau dooonk.” Bapak du
Lift privat berhenti tepat di lantai tertinggi.Ting.Pintu terbuka.Om Kaivan melangkah keluar dengan satu tangan masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang ponsel.Beberapa staff yang berpapasan langsung membungkuk hormat.“Siang, Pak.”Kaivan hanya mengangguk kecil sambil terus berjalan menuju ruangannya.Begitu pintu kaca bertuliskan President Director tertutup—Kaivan melempar tubuhnya ke kursi kebesaran.Tatapannya sempat jatuh pada kartu nama yang tadi sempat ia berikan kepada Ratu.Lalu tanpa berpikir panjang—ia menekan salah satu nama di kontak favoritnya.Zyandru.Nada sambung baru berdering dua kali—langsung diangkat.“Om Kaivan …..” Suara berat di sana terdengar datar seperti biasa.Kaivan tersenyum kecil.“Lagi sibuk?”“Enggak juga … Kenapa?”Kaivan menyandarkan tubuhnya.“Tadi Om ketemu cewek kamu.”Di seberang sana mendadak sunyi.Beberapa detik.Lalu suara Zyandru terdengar lebih pelan dari sebelumnya.“Siapa? Ratu?”Kaivan tersenyum t
Pagi keesokan harinya, Kaluna dan Satria kembali ke Lembang.Gedung bertingkat berganti hamparan kebun teh.Sampai akhirnya mobil Satria memasuki jalan desa.Meski udara menusuk hingga tulang, namun kali ini—entah kenapa—Kaluna merasa jauh lebih hangat.Karena tangan kirinya sejak tadi tidak pernah lepas dari genggaman Satria di atas console tengah.Tidak ada banyak obrolan selama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung.Kadang Satria hanya melirik sekilas.Kadang mengusap punggung tangan Kaluna dengan ibu jarinya.Sesederhana itu.Tapi cukup membuat hati Kaluna terasa penuh.Sampai akhirnya mobil berhenti di halaman rumah bapak dan ibu.Kaluna menelan ludah.Jantungnya berdebar kencang.Tangannya mulai dingin.“Aku takut…,” bisiknya pelan.Satria menoleh.Tatapannya lembut.“Takut kenapa?”Kaluna menggigit bibir bawah.“Aku pergi tanpa bilang … aku pasti bikin ibu sama bapak khawatir.”Satria tersenyum kecil.Tangannya terangkat, mengusap kepala Kaluna.“Tenaaaan
Langkah mereka pelan ketika kembali dari restoran dekat pantai menuju bangunan utama resort.Malam Bali terasa hangat saat itu. Angin laut masih berembus lembut membawa aroma asin yang samar.Satria berjalan di samping Kaluna, kedua tangan mereka saling bergandengan.Sesekali Satria menoleh ke s
Pagi itu di meja makan sudah tertata rapih sarapan pagi.Kama duduk di ujung meja dengan tablet di tangan.Di hadapannya secangkir kopi hitam mengepul lembut.Beberapa menit kemudian Kaluna turun dari lantai dua.Ia sudah berpakaian rapi—blazer semi casual warna krem, celana bahan, dan rambut y
Mobil berhenti di depan lobi gedung utama AG Group.Satria turun lebih dulu seperti biasa. Ia memutari mobil dan membuka pintu untuk Kaluna.“Nona.”Kaluna turun dengan gerakan anggun, seolah hari itu hanyalah hari kerja biasa.Tidak ada yang akan menyangka bahwa beberapa jam
“Nona, hari ini jadwal kita akan mengunjungi proyek—“ Brifing singkat Satria terjeda.“Sekarang aja, langsung … biar enggak bolak balik,” potong Kaluna.“Baik Nona.” Diam-diam Satria mengirim pesan kepada kepala proyek kalau jadwal kunjungan sang CEO dimajukan.Pagi itu udara di lokasi proyek







