Mag-log inDua mobil melaju keluar dari rumah.Mobil sport milik Davanka yang sudah dihias bunga menjadi pusat perhatian.Zyandru duduk di balik kemudi dan Kaluna di sampingnya.Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.Gugup.Semua terasa begitu cepat, padahal Kaluna merasa baru kemarin Satria menjemputnya di NewYork setelah dia mengalami patah hati yang besar oleh Brian.Dan kini, Kaluna sudah melupakan sakit itu. Satria berhasil menyembuhkannya.Beberapa saat kemudian, mobil sport Davanka berhenti tepat di depan gedung KUA.Semua mata menoleh.Pintu terbuka dan Kaluna turun.Sejenak, semua seakan melambat.Di dalam sana, Satria yang sedang duduk seketika bangkit begitu melihat mobil sport yang hanya dimiliki lima orang di Indonesia itu memasuki pelataran parkir gedung-gedung KUA.Bersama kedua orang tuanya—Bapak Sutisna dan Ibu Ratna —serta adiknya, Ratu—Satria menyambut rombongan kecil keluarga Kaluna,Tatapan Satr
Pagi itu datang lebih cepat dari biasanya.Kaluna belum benar-benar tidur ketika suara pintu kamar Ashera dibuka dari luar.“Lunaaa ….” Suara lembut itu mengesah.Zevanya—yang lebih akrab dipanggil Anya—melangkah masuk setengah panik.“Kamu tidur di sini? Aku cariin ke mana-mana.”Kaluna mengerjap. Masih setengah sadar.“Jam berapa ini…?”“Udah pagi,” jawab Anya. “Dan … MUA-nya udah datang.”Perlahan Kaluna melepaskan pelukannya di tubuh Ashera kemudian duduk di tepi ranjang.“Hah? MUA?”“Iya.”“Aku enggak pesan, Nya… aku mau make up sendiri aja.”Anya tersenyum, lalu berbisik. “Itu hadiah dari aku.”Kaluna menatapnya beberapa detik dengan sorot mata teduh berjuta haru.Dan tanpa banyak kata—Kaluna langsung bangkit untuk memeluk Anya erat.“Makasih…,” bisiknya pelan.Anya mengusap punggungnya.“Hari ini kamu harus jadi pengantin paling cantik di dunia. Titik.”Kaluna terkekeh kecil, lalu buru-buru berlari ke kamar mandi yang ada di kamar tamu.Beberapa waktu kemudia
Malam sebelum hari pernikahan ini terasa berbeda, tidak seperti pernikahan anak konglomerat lainnya yang mengadakan bridal shower di hotel mewah mengundang male stripper sebagai hiburannya.Juga tidak ada persiapan besar-besaran seperti pesta keluarga Gunadhya pada umumnya di resort atau ballroom hotel mewah.Tidak ada deretan dekorasi mewah atau orang-orang vendor yang getol menghubungi sang calon mempelai wanita untuk memastikan acara berlangsung sesuai harapannya.Yang ada hanya sunyi karena bahkan sekarang dia masih tinggal di rumah kakanya.Kaluna yang sudah berbaring di atas ranjang di kamar tamu rumah Davanka—menegakan punggung. Lampu kamar telah diredupkan, hanya menyisakan cahaya hangat dari balkon yang membuat bayangannya jatuh panjang di lantai.Di pangkuannya, ponsel menyala.Nama yang sejak tadi ia pandangi akhirnya ia tekan.Panggilan tersambung.Beberapa detik kemudian, panggilan itu terhubung.“Luna?” Suara itu terdengar dari jauh. Hangat. Tapi ada jarak yang
Berhubung Kaluna sedang kabur dari rumah orang tuanya—jadi dia menghubungi butik langganan keluarganya untuk memesan pakaian kerja.Selain itu, dia memerintahkan sekretaris barunya untuk mengirim mobil ke rumah Davanka untuk menjemputnya.Kaluna mengikuti nasihat sang kakak agar tetap bekerja, mengikuti prosedur eksogen yang harusnya.Dia menurut bukn karena patuh tapi karena berterimakasih, sang kakak masih mau mendukungnya.Jadi meski semuanya serba mendadak beli tapi Kaluna tetap tampak elegan. Tegas. Tanpa cela.Seolah tidak ada yang berubah.Padahal di dalam dirinya—semuanya sedang berantakan.Kaluna turun dari mobil di depan loby kantor dengan langkah yang kembali pasti. Wajahnya tenang. Tidak ada bekas tangis semalam. Tidak ada tanda bahwa dia baru saja “kabur” dari rumahnya sendiri.Dia kembali menjadi CEO. Topeng itu terpasang sempurna.“Pagi Bu.” Sang sekretaris menyapa Kaluna.“Pagi!” Kaluna menyahut sembari masuk ke dalam ruangannya.Dia menutup pintu lalu bers
Pagi itu meja makan panjang di mansion Gunadhya sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan—dari roti panggang, omelette, hingga jus segar yang disiapkan oleh para asisten rumah tangga sejak subuh.Ayah Kama mengecup pelipis sang istri yang sedang menata meja makan sebelum akhirnya duduk di ujung meja.Setelah itu bunda Arshavina Duduk di samping ayah Kama.“Pagiiii ….” Suara riang Zyandru tertdengar sebelum sosoknya sampai di ruang makan.Seperti ayah Kama—Zyandru juga mengecup pelipis sang bunda.“Pagi sayang.” Bunda yang menyahut.Zyandru duduk di depan bunda. Setelah sarapan pagi berlangsung beberapa saat dengan obrolan hangat, mereka baru menyadari kalau kursi di mana Kaluna biasa duduk itu masih kosong.“Luna belum turun?” tanya bunda Arshavina sambil menoleh ke arah tangga.Ayah mendongak melihat jam dinding dan waktu sudah menujukan pukul tujuh lebih lima belas menit di mana seharusnya Kaluna sudah pergi ke kantor tapi sekarang bahkan turun untuk sarapan pun belum.
Setelah menutup panggilan telepon, Kaluna mengembuskan nafas panjang, dia merentangkan kedua tangan, matanya menatap kosong langit-langit kamar.Tiba-tiba perutnya berbunyi. Dia belum makan malam karena sekretarisnya tidak peka.Akhirnya Kaluna keluar kamar, masih belum ganti baju—dia menuju dapur.Sialnya dia bertemu ayah ketika melewati ruang keluarga.“Bunda mana Yah?” tanya Kaluna basa-basi.“Di kamar ….” Ayah menjawab dingin.Kaluna juga melanjutkan langkah menuju dapur.Di sana dia menghangatkan cream soup dari kulkas.Sambil menunggu microwave selesai menghangatkan, Kaluna menunggu.Dia mendengar suara langkah kaki mendekat, lalu menoleh.“Ayah lapar juga?” tanya Kaluna begitu mendapati ayahnya masuk ke dapur.“Ayah mau buat kopi ….” Ayah menjawab tanpa menatap wajah Kaluna.“Nikmati semua apa yang bisa kamu nikmati selagi masih di sini … setelah keluar nanti, Ayah enggak bisa menjamin perut kamu tetap kenyang.”







