Se connecterStik golf logam berayun sangat kencang membelah udara pagi.Besi pemukul itu menghantam bola putih di atas rumput hijau dengan bunyi pantulan yang nyaring.Bola kecil itu melayang melengkung di udara dan mendarat mulus di dekat lubang kesembilan.Dokter Hartono menurunkan stik golfnya dengan tawa berderai yang sangat keras. Pria paruh baya berperut buncit itu baru saja mencetak pukulan sempurna di padang rumput klub eksklusif pinggiran kota."Pukulan yang hebat, Dokter Hartono," puji salah satu rekan bisnisnya."Tentu saja," balas Hartono angkuh. "Mari kita kembali ke area loker dan minum bir dingin."Dia menyerahkan stik golfnya kepada kedi dan berjalan memimpin rombongan.Langkah Hartono mendadak terhenti saat dia baru saja memasuki area loker kayu yang sepi.Seorang gadis muda berpakaian kerja elegan mencegat jalannya. Gadis berkacamata hitam itu berdiri bersedekap menutupi akses lorong utama."Siapa kamu? Menyingkir dari jalanku," usir Hartono mengibaskan tangannya kesal.
Pintu berbahan kayu mahoni itu tertutup rapat dari arah dalam.Aroma tajam daun tembakau dan asap cerutu langsung menyengat indra penciuman Arya.Victor melangkah perlahan menyusuri karpet tebal ruang kerjanya yang luas.Tongkat peraknya berketuk pelan di lantai marmer sebelum pria tua itu duduk di kursi kebesarannya."Duduk, Arya," perintah Victor sambil menunjuk sebuah kursi kulit tepat di seberang mejanya.Arya menarik kursi tersebut tanpa bersuara sedikit pun.Dia mendaratkan pinggulnya dan menatap ayah mertuanya tanpa berkedip."Kamu punya nyali yang sangat besar pagi ini," buka Victor dengan suara berat."Kamu berani membalas setiap seranganku di depan istri dan anak-anakku saat makan siang tadi."Pria tua itu mengembuskan asap cerutu tebal ke udara ruang kerja yang temaram."Aku hanya mengatakan fakta lapangan mengenai Sonia, Pa," balas Arya tenang. "Tidak ada niat menyerang."Victor tertawa pelan.Suara tawanya terdengar kering dan sangat meremehkan."Tapi aku ini
Victor meletakkan gelas kristal kosongnya ke atas meja kayu.Suara benturan kaca itu mengakhiri perbincangan menegangkan di ruang kerja tersebut.Pria tua itu berdiri dari kursinya dan meraih tongkat peraknya."Panggil semua orang," perintah Victor dengan nada tinggi. "Kita makan siang bersama di ruang utama sekarang juga."Arya bangkit berdiri dan berjalan mengikuti langkah ayah mertuanya keluar dari ruangan.Keduanya menyusuri lorong marmer menuju ruang makan keluarga yang berada di sayap kiri rumah.Meja makan utama berbahan kayu jati panjang itu telah dipenuhi berbagai macam hidangan panas.Ada sup iga sapi, ayam panggang, dan potongan daging stik berukuran besar di tengah meja.Namun, suasana di dalam ruangan itu kini terasa sangat kaku layaknya medan perang psikologis.Victor menarik kursi dan duduk di posisi paling ujung.Pria tua itu menempati kursi utama sebagai penguasa rumah tanpa terbantahkan.Mata tajam Victor menatap satu per satu wajah keluarganya yang mulai
Mobil mewah hitam itu berhenti mulus di pelataran rumah utama.Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat mencekam sejak mereka beranjak dari bandara. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara di sepanjang perjalanan.Victor turun lebih dulu didampingi para pengawalnya. Pria tua itu melangkah masuk menyusuri lantai marmer ruang tengah dengan ketukan tongkat yang sangat konstan.Tuk. Tuk.Langkah kaki Victor terhenti tepat di tengah ruangan.Dia memutar separuh tubuhnya, menoleh menatap istri dan kedua anak perempuannya yang baru saja menyusul masuk dari pintu depan."Kalian bertiga," perintah Victor dengan nada suara berat tanpa memberikan ruang bantahan. "Segera kembali ke kamar kalian masing-masing sekarang juga."Linda, Sonia, dan Manda seketika menelan ludah."Tapi Pa, kamu baru saja menempuh penerbangan panjang. Biar Mama siapkan teh hangat dulu ke ruang depan," bujuk Linda mencoba mencairkan ketegangan."Aku bilang naik, Linda," potong Victor dingin menatap ta
Lampu meja di ruang kerja lantai tiga itu menyala sangat terang.Jam dinding di atas rak buku baru menunjuk ke angka lima pagi.Arya mendorong daun pintu kayu itu dan melangkah masuk dengan tenang.Pemandangan di balik meja direktur sama sekali tidak mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin klinik.Profesor Linda duduk merosot di kursi kebesarannya. Wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat kacau.Kantung mata hitam tercetak jelas di bawah kelopak matanya. Dia tidak merias wajahnya sama sekali sejak pergumulan panas semalam."Kamu datang tepat waktu, Arya," sapa Linda dengan suara parau.Tangan wanita itu bergetar pelan saat mendorong sebuah map tebal berwarna merah melintasi meja kaca.Sebuah bunyi gemerincing logam menyusul kemudian.Linda meletakkan seikat kunci berbahan kuningan berat tepat di atas map tersebut."Ini kunci brankas utama klinik," jelas Linda dengan napas pendek. "Di dalamnya ada akses ke seluruh rekening cadangan dan sertifikat aset yang selalu aku semb
Gaun tidur berbahan sutra tipis itu meluncur turun melewati bahu dan pinggul Sonia.Kain berwarna hitam pekat itu merosot mulus hingga menumpuk ke atas karpet ruang kerja. Tindakan itu meresmikan penyerahan diri Sonia secara total malam itu.Arya sama sekali tidak menyambut tubuh polos istrinya dengan kelembutan. Pria itu tidak merentangkan tangannya untuk memberikan pelukan layaknya seorang suami.Dia berdiri tegak di balik meja kerja, menatap Sonia dari atas ke bawah dengan dominasi penuh."Kemari, Sonia," perintah Arya datar.Sonia melangkah mendekat dengan langkah kaki telanjang. Wanita itu menundukkan pandangannya saat berdiri tepat di depan suaminya."Buka sepatuku," suruh pria itu lagi.Tanpa sedikit pun rasa ragu atau protes, mantan manajer operasional itu langsung berlutut di atas lantai. Kedua tangan Sonia bergerak membuka tali sepatu pantofel Arya.Dia melepaskan sepatu kulit itu satu per satu, lalu menyisihkannya dengan rapi ke sudut kaki meja.Arya menatap puncak







