Share

Bab 102

Penulis: Skyy
last update Tanggal publikasi: 2026-09-09 13:26:16

“Yakin, Ayah.” Kiara mengangguk tanpa ragu. “Aku sudah memutuskan. Seumur hidup, aku tidak akan menikah dengan pria lain. Aku hanya ingin menikah dengan kakak iparku!”

Melihat tekad putrinya yang begitu kuat, Mandra akhirnya menyerah.

Kiara langsung tersenyum lebar. Dia bahkan menepuk dadanya sendiri untuk memastikan ayahnya bahwa keputusannya sudah bulat.

Mandra hanya bisa berdiri dengan perasaan campur aduk. Salah satu putrinya akan kembali menikah. Dan setelah itu, dia harus menghadapi kenya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 195

    Energi spiritual Revan terkuras dengan cepat. Dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memasuki Cincin Langit dan memulihkan kekuatannya. Satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah bertahan.Pertarungan panjang itu terus berlangsung.Hampir seperempat jam kemudian, perubahan akhirnya muncul.Kabut darah yang menyelimuti tubuh Arvin perlahan menipis. Gerakannya tidak lagi secepat sebelumnya, dan setiap serangan yang dilancarkannya mulai kehilangan keganasan yang sejak tadi membuat Revan tertekan.Pupil merah Arvin yang semula menyempit perlahan melebar. Tatapannya yang liar juga mulai kehilangan ketajamannya, kemudian matanya berangsur-angsur kembali ke kondisi semula.“Sudah berakhir.” Bayu menghela napas panjang sambil berdiri di bawah arena.Para tetua di sekitarnya juga menunjukkan ekspresi serupa. Mereka tahu Arvin sudah mencapai batasnya.Di atas arena, Revan tentu menyadari perubahan itu. Tubuhnya sendiri sudah berlumuran darah dan seluruh energinya hampir terkuras habis, teta

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 194

    Revan sebenarnya masih memiliki beberapa teknik andalan yang bisa digunakan, termasuk Segel Pemutus Nadi dan Tebasan Terpadu. Namun, dia tidak berani menggunakannya sembarangan.Konsumsi energi kedua teknik tersebut terlalu besar. Jika serangannya gagal memberikan hasil yang menentukan, energi spiritualnya bisa terkuras dalam waktu singkat.Dalam keadaan menghadapi Arvin yang sudah berubah seperti binatang buas, kehilangan energi pada saat yang salah sama saja dengan menyerahkan kemenangan. Selain itu, mereka hanya sedang berkompetisi, bukan bertarung sampai mati.Revan tidak berniat membunuh Arvin hanya karena ingin memenangkan pertandingan.KLANG! KLANG! KLANG!Bayangan pedang merah kembali menghantam Pedang Bara Emas berkali-kali. Setiap benturan membuat lengan Revan bergetar, permukaan senjatanya mulai menunjukkan beberapa retakan halus akibat tekanan serangan Arvin yang terus meningkat.Pemandangan di arena membuat seluruh penonton tersentak.Pedang Bara Emas yang digunakan Revan

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 193

    Kekuatan Revan yang selama ini dianggap menakutkan kembali terbukti di depan semua orang. Banyak orang sudah menganggapnya sebagai lawan yang sulit dihadapi, tetapi tidak seorang pun menyangka bahwa Arvin yang biasanya dikenal rendah hati dan jarang menunjukkan kemampuan sebenarnya, ternyata mampu memaksanya bertarung sekeras ini.Selama ini, informasi yang beredar tentang Arvin hanya sebatas tingkat kultivasinya yang tinggi. Tidak banyak yang mengetahui seberapa kuat kemampuan bertarungnya. Namun, setelah pertarungan berlangsung cukup lama, semua orang akhirnya menyadari bahwa kekuatan Arvin jauh melampaui perkiraan mereka.Bahkan Revan, yang selama ini dikenal sebagai sosok yang sulit dikalahkan, kini harus bertahan mati-matian menghadapi serangannya.Di bawah arena, Daren berdiri dengan wajah muram. Ia memang datang untuk menyaksikan pertandingan, tetapi ada tujuan lain yang membuatnya terus mengawasi Arvin dengan saksama. Keluarga Renjana telah memberinya tugas untuk memantau Arvi

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 192

    Kekuatan yang dipancarkan Arvin sudah jauh melampaui apa yang seharusnya dimiliki seorang murid pada tingkat kultivasi kedelapan Fase Roh."Seberapa tinggi sebenarnya tingkat kultivasi Arvin?""Ini masih Fase Roh? Kenapa tekanannya terasa seperti dia sudah mencapai Fase Langit?""Mengerikan..."Suara-suara terkejut terdengar dari berbagai arah.Di antara para penonton, Livia juga menunjukkan ekspresi serius. Sebagai salah satu murid terkuat dari generasi ini, dia tidak mudah terkejut hanya karena melihat peningkatan kekuatan seseorang.Namun, kondisi Arvin kali ini berbeda."Sangat kuat..." Livia menyipitkan matanya.Dia tidak menyangka seleksi murid luar Perguruan Sangkara akan menghadirkan lawan dengan kekuatan seperti ini. Bahkan dengan kemampuannya sendiri, dia tidak yakin bisa mengalahkan Arvin dalam kondisi sekarang.Beberapa murid tanpa sadar mengusap keringat dingin yang muncul di dahi mereka. Mereka tidak tahu bagaimana Revan akan menghadapi monster seperti itu.Yang terkejut

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 191

    Teknik Peleburan Darah bukanlah teknik biasa. Teknik tersebut dikenal sebagai salah satu cara paling kejam dalam menempa artefak karena melibatkan darah esensi dari garis keturunan pemiliknya.Dalam prosesnya, sejumlah besar keturunan langsung harus menyumbangkan esensi dan darah mereka untuk menyatu dengan artefak selama proses pemurnian. Darah tersebut kemudian menjadi bagian dari artefak, membuatnya terbiasa dengan aura garis keturunan tertentu.Setelah proses itu selesai, artefak tersebut hanya dapat digunakan oleh orang-orang yang memiliki garis keturunan yang sama. Namun, bagian paling mengerikan dari metode ini baru dimulai setelah artefak selesai ditempa.Karena senjata telah menyerap darah esensi dari garis keturunan tersebut sejak awal pembentukannya, seseorang dari garis keturunan langsung harus menjadi wadah artefak untuk terus memeliharanya. Artefak itu akan tinggal di dalam tubuh sang pewaris dan menyerap esensi darahnya secara berkala.Hanya artefak tingkat Bumi atau le

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 190

    Begitu Revan berdiri di arena, Arvin juga segera melompat naik. Keduanya mengambil posisi di sisi berlawanan. Tidak ada yang langsung bergerak. Mereka hanya saling memandang, seolah sedang mencoba membaca kekuatan lawan masing-masing sebelum pertarungan benar-benar dimulai.Beberapa saat berlalu sebelum Arvin membuka suara. "Kau memang sangat kuat. Tingkat kultivasiku berada di atasmu, tetapi kalau kita benar-benar bertarung, aku tidak yakin peluangku untuk menang akan besar."Itu merupakan kali pertama Arvin berbicara langsung kepada Revan.Revan menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis. "Aku juga bisa merasakan kalau kau bukan lawan biasa."Sejak awal, Arvin memberinya kesan yang berbeda. Pria itu terlihat tenang, lembut, bahkan nyaris tidak menunjukkan keberadaan yang mencolok di antara para peserta. Namun justru itulah yang membuat Revan semakin waspada.Tanpa diketahui siapa pun, kultivasi Arvin ternyata sudah mencapai tingkat kedelapan Fase Roh. Fluktuasi energi spiritua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status