LOGINBayu mengamati kerumunan tanpa tergesa-gesa memberikan tanggapan. Pandangannya kemudian beralih kepada Marcel yang masih terbaring tak sadarkan diri. Sudut bibirnya bergerak tipis.Dengan tingkat kultivasinya, dia tak perlu mendekat untuk mengetahui separah apa luka yang diderita Marcel. Cukup dengan merasakan auranya, dia sudah bisa memperkirakan kondisinya.Tanpa pil spiritual yang luar biasa, Marcel mungkin tak akan mampu bangkit dari tempat tidur selama setidaknya setengah tahun.Serangan Revan memang menjadi salah satu penyebab luka-lukanya. Namun, tamparan telapak tangan Tetua Monde juga berperan besar dalam memperparah kondisinya.Kini Marcel terkapar tak sadarkan diri, sementara empat orang lainnya berdiri dengan wajah pucat dan kepala tertunduk. Tak seorang pun berani mengucapkan sepatah kata pun.Bahkan pemimpin perguruan pun sudah turun tangan. Jelas, persoalan ini bukan masalah sepele.Sebagian besar orang yang menyaksikan kejadian itu mengira Revan sudah tamat. Sekalipun
Tatapan Tetua Magna dipenuhi keterkejutan saat melihat luka parah di punggung Tetua Monde. Dia mengamati luka itu dengan saksama, lalu mengangguk kecil sebelum mengalihkan pandangannya kepada Revan. “Apakah kau yang melakukan ini?”Revan menatapnya tanpa gentar, lalu mengangguk. “Benar.”Tetua Magna tampak terkejut dengan pengakuan yang begitu terus terang. Namun, keterkejutan itu segera berubah menjadi sorot mata dingin. “Apakah kau tahu bahwa seorang murid yang menyerang tetua berarti tidak menghormati senior dan memberontak terhadap atasan?”Tidak menghormati senior?Memberontak terhadap atasan?Revan tertawa. Sejak tiba di arena, inilah pertama kalinya dia tertawa. Namun, senyum yang menghiasi wajahnya justru membuat suasana terasa semakin mencekam.“Hah? Dia pantas disebut tetua? Lalu, menyerangnya berarti memberontak terhadap atasan? Logika macam apa itu?”Revan menatap lurus pria paruh baya di hadapannya. Meskipun tingkat kultivasinya jauh lebih rendah, dia sama sekali tidak me
Di balik tatapan itu, terselip pula rasa takut dan kegelisahan yang sulit disembunyikan. Bahkan dalam mimpi terliarnya, Tetua Monde tak pernah membayangkan seorang pemuda bisa muncul begitu saja di belakangnya, seolah-olah mampu berpindah tempat dalam sekejap.Lebih mengejutkan lagi, pemuda itu ternyata menguasai teknik bela diri dengan daya hancur sedemikian mengerikan.Dia bisa merasakan bahwa kultivasi lawannya baru berada di tingkat kedelapan Fase Roh. Sementara itu, dirinya telah mencapai tingkat kedua Fase Langit.Bagaimana mungkin dia justru dikalahkan secara telak di hadapan banyak orang oleh seorang murid baru?Seluruh arena mendadak sunyi.Kecepatan Revan begitu mencengangkan hingga Tetua Monde sendiri tak mampu mengantisipasinya. Terlebih lagi, para penonton yang kekuatannya jauh di bawah mereka sama sekali tidak sempat memahami apa yang baru saja terjadi.Hanya dalam beberapa tarikan napas, punggung Tetua Monde telah terkoyak dan tubuhnya terkapar di tanah.Pertarungan itu
Dalam sekejap, ia muncul di hadapan Revan. Tangan kanannya membentuk cakar elang, lalu menyambar ke arah puncak kepala Revan dengan kecepatan luar biasa.“Cepat sekali!” Revan tak berani lengah.Ia segera mengerahkan tenaga pada tangan yang masih mencengkram pergelangan tangan Marcel, kemudian melemparkan tubuh pria itu ke arah Tetua Monde yang sedang menyerang.Tatapan Tetua Monde berubah dingin. Ia mengangkat tangan kirinya dan menampar Marcel yang melayang ke arahnya hingga tubuh pria itu terpental.PLAK!Sungguh malang nasib Marcel. Sebelumnya, ia sudah dihajar dan ditampar habis-habisan oleh Revan. Kini, ia kembali terkena tamparan Tetua Monde hingga kehilangan kesadaran sepenuhnya dan jatuh koma.Setelah tubuh Marcel yang menghalangi pandangannya terpental, Tetua Monde akhirnya bisa melihat dengan jelas ke arah depan.Namun, Revan sudah tidak berada di tempat semula.“Apa?!” Pupil mata Tetua Monde menyusut tajam. Ia tiba-tiba merasakan ancaman besar datang dari atas kepalanya.“
“Kau—!” geram Tetua Monde.Revan sama sekali tidak memberinya kesempatan. Ia kembali mengangkat tangan dan menampar wajah Marcel. Kali ini, tamparannya bahkan lebih keras daripada sebelumnya.Plak! Plak! Plak!“Kau berani?!” Tetua Monde murka. “Sebagai murid Perguruan Murid Baru, berani sekali kau menentangku?!”Sebagai seorang Tetua, statusnya tentu jauh lebih tinggi daripada murid biasa. Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini, terlebih oleh seorang murid baru yang bahkan belum lama bergabung dengan perguruan.Kini, Revan bukan hanya mengabaikan perintahnya, tetapi juga terus mempermalukan Marcel tepat di depan matanya.“Memangnya kau siapa?” kilatan berbahaya terpancar jelas di matanya. “Apa kau benar-benar pantas disebut sebagai orang yang harus kupatuhi?”Begitu mendengar perkataannya, kerumunan di sekitar arena langsung gempar.“Gila, keren banget!”“Revan berani terang-terangan menantang Tetua Monde!”“Ya ampun, jangan-jangan dia orang pertama di Perguru
Sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi, tangan kanannya yang menggenggam pedang mendadak terasa kaku. Sebuah kekuatan luar biasa telah mencengkram pergelangan tangannya.Krek! Krek!Suara tulang yang remuk terdengar jelas. Pergelangan tangannya patah dalam sekejap.Rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh tubuh Marcel. Ia ingin menjerit, sekaligus berusaha sekuat tenaga menarik lengannya. Namun, cengkeraman Revan begitu kuat hingga usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil.“Sialan!” raung Marcel panik.Tanpa sempat berpikir panjang, ia mengangkat tangan kirinya dan melancarkan serangan ke arah Revan, berusaha menjatuhkan lawannya dengan pukulan keras.DUAAGGH!Namun, begitu ia menggerakkan tangan kirinya, sebuah pukulan dahsyat menghantam perutnya.“Pfft!” Marcel langsung memuntahkan seteguk darah.Kekuatan pukulan itu hampir membuatnya kehilangan kesadaran. Dari daya hancurnya saja, jelas bahwa kekuatan Revan telah melampaui batas Fase Roh.Tubuh Marcel terhemp







