Se connecterRevan hanya bisa menghela napas. Sekarang dia sadar bahwa alasannya tadi terdengar agak tidak jujur. Bagaimanapun juga, dia memang telah membiarkan makhluk ini kelaparan selama lebih dari setengah bulan.Singa itu makan dengan lahap sampai tidak menyisakan apa pun. Setelah seluruh makanan habis, perutnya mengembung dan tubuhnya kembali terlihat jauh lebih puas.Revan memperhatikannya beberapa saat sebelum bertanya, “Kau punya nama sendiri?”Singa itu menggeleng. Kemudian ia mengedipkan mata, menjulurkan lidah, dan mulai mengibaskan ekornya sambil menatap Revan dengan tingkah yang sangat jinak.“Kau mau aku yang memberimu nama?”Kepala besar Singa itu kembali menggeleng. Setelah itu, ia malah mengangguk berkali-kali.“Hmm...” Revan mengusap dagunya.Dia memang tidak terlalu pandai memberi nama. Setelah memperhatikan bulu emas yang menutupi seluruh tubuh singa tersebut, sebuah nama akhirnya muncul di benaknya.“Kalau begitu, bagaimana kalau aku memanggilmu Rimba? Bagaimana?”Singa Beram
Tidak butuh waktu lama sampai keduanya tiba di lokasi yang dipilih Revan.Pemandangan di sana jauh berbeda dari area halaman dalam. Energi spiritual terasa begitu pekat hingga hampir memenuhi seluruh kawasan. Pegunungan hijau membentang di kejauhan, pepohonan tumbuh lebat di antara bebatuan, sementara berbagai tumbuhan menghiasi lereng dan tanah di sekitar gua.Di hadapan Revan berdiri sebuah gerbang batu berukuran besar yang menutupi pintu masuk gua. Begitu Revan memusatkan pikirannya, gerbang tersebut perlahan bergerak ke atas. Ikatan darah yang baru saja terbentuk membuat paviliun itu mengenali kehadiran pemiliknya, seakan-akan secara alami membuka jalan untuk menyambutnya.“Baiklah, mulai sekarang paviliun ini menjadi milikmu.” Nada suara Harsa terdengar jauh lebih lembut dibandingkan biasanya.Revan segera menyatukan kedua tangannya. “Terima kasih, Tetua Harsa.”Dia memang menghormati Harsa karena kekuatannya yang tinggi, tetapi bukan itu satu-satunya alasan.Revan masih menginga
Beberapa saat kemudian, tiga sosok keluar dari aula utama.Harsa, Viona, dan Tio berjalan menghampiri mereka. Ketiganya datang untuk membantu Revan, Livia, dan Arvin mengurus tempat tinggal yang menjadi hak mereka setelah menyelesaikan seleksi.Dwiki sebenarnya lebih senior dalam hal status, tetapi sifatnya yang angkuh membuatnya tidak mungkin melakukan pekerjaan semacam ini. Lagi pula, tidak ada seorang pun yang akan meminta seorang alkemis dengan kedudukan tinggi untuk mengurus hal seperti itu.Kedudukan seorang alkemis memang sangat terhormat. Tio juga memiliki nilai yang tinggi, hanya saja statusnya masih sedikit berada di bawah seorang alkemis. Selain itu, sifat Tio jauh lebih mudah diajak berurusan dibandingkan Dwiki.“Revan, ikut denganku,” kata Harsa sambil menatapnya.“Livia, ikut aku.” Viona tersenyum ketika memanggil Livia.“Arvin, ikut denganku.” Tio memberi isyarat kepada Arvin.Ketiganya mengangguk dengan hormat sebelum mengikuti para tetua tersebut.Mereka sebenarnya me
“Menurut kalian, seberapa bisa dipercaya perkataannya?” tanya Bayu.“Setidaknya bagian awalnya seharusnya benar,” jawab salah seorang tetua setelah berpikir sejenak. “Itu bukan hanya tidak berkaitan dengan Perguruan Nirakasa, dia bahkan memiliki permusuhan dengan mereka. Hanya saja, kecepatan kultivasinya...”Kalimat itu menggantung.Beberapa tetua saling bertukar pandang. Mereka sulit membayangkan bagaimana seseorang yang pernah terluka parah hingga hampir mati bisa mengalami perubahan bakat sebesar itu. Mereka tentu tidak sepenuhnya mempercayai alasan yang diberikan Revan.Dugaan pertama yang muncul adalah kemungkinan pemuda itu memperoleh sebuah harta luar biasa. Dengan bantuan benda semacam itu, masuk akal jika kultivasinya berkembang jauh lebih cepat daripada orang biasa.“Baiklah, aku tahu kalian penasaran,” kata Bayu sambil mengangkat tangan, menghentikan perdebatan yang mulai berkembang. “Namun, setiap orang memiliki takdirnya sendiri.”Dia menyapu pandangan ke seluruh ruangan
Tak lama kemudian, suasana aula menjadi jauh lebih tenang.Kini hanya Revan, empat tetua, dan Bayu yang tersisa.Revan tetap berdiri dengan tenang, tetapi pikirannya mulai bergerak cepat. Sejak Bayu memintanya tetap tinggal, dia sudah mencoba menebak alasan di balik keputusan tersebut.Tidak mungkin seorang pemimpin perguruan menahan pemenang seleksi hanya untuk berbasa-basi.Revan mengangkat pandangan ketika Bayu akhirnya membuka suara. “Revan, tahukah kau kenapa kami memintamu tetap tinggal?”Revan mengangkat kedua tangannya di depan dada sebagai tanda hormat. “Murid ini tidak tahu.”“Kalau begitu, aku akan bertanya langsung.” Tatapan Harsa menjadi lebih tajam. “Dari mana kau mendapatkan pedang dan artefak tingkat Luhur itu?”Pertanyaan tersebut membuat perhatian seluruh orang di aula tertuju kepada Revan.Perguruan Sangkara dan Perguruan Nirakasa memang sudah lama bersaing. Kedua pihak bahkan tidak pernah benar-benar berhenti mencari kesempatan untuk melemahkan satu sama lain. Meng
Harsa akhirnya mengumumkan hasil akhir setelah berdiskusi dengan Bayu dan para tetua lainnya.“Seleksi murid luar telah berakhir. Revan Cakrawala berada di peringkat pertama. Livia Varenza dan Arvin Renjana berbagi posisi kedua.”Suara Harsa terdengar jelas ke seluruh penjuru arena.Dengan demikian, peringkat akhir telah ditetapkan.Bayu kemudian melangkah ke tengah arena dan memandang seluruh peserta. “Revan Cakrawala, Livia Varenza, Arvin Renjana, kalian bertiga tetap di sini.”Tatapannya kemudian beralih kepada para peserta lainnya. “Untuk murid-murid lainnya, ikuti para pengurus dan wakil tetua. Mereka akan mengatur seluruh persiapan kalian sebelum resmi memasuki perguruan.”Lima ratus murid yang berhasil lolos telah ditentukan. Peringkat kekuatan mereka pun sudah selesai ditetapkan. Tahap berikutnya adalah bergabung secara resmi dengan perguruan.Para murid kemudian dibawa oleh pengurus Perguruan Sangkara. Mereka akan ditempatkan di halaman masing-masing, menerima jubah biru seba







