Share

Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit
Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit
Author: Skyy

Bab 1

Author: Skyy
last update publish date: 2026-08-03 23:12:48

Kota Jayagiri.

Sejak fajar menyingsing, kediaman Keluarga Cakrawala sudah dipenuhi suasana meriah. Para tetua keluarga datang silih berganti dengan raut wajah berseri, sementara para pelayan mondar mandir menyajikan teh serta hidangan hingga nyaris tak sempat menarik napas. Seluruh keramaian itu terjadi hanya untuk merayakan satu kabar yang mengguncang seisi Kota Jayagiri.

Arya Cakrawala, putra kedua Keluarga Cakrawala, telah resmi diterima sebagai murid Perguruan Nirakasa.

"Hari ini menjadi awal kebangkitan Keluarga Cakrawala!"

"Hahaha! Setelah Arya bergabung dengan Perguruan Nirakasa, siapa lagi di Kota Jayagiri yang berani memandang rendah keluarga kita?"

"Sebentar lagi, bahkan Keluarga Draksa pun harus memberi hormat kepada kita."

Gelak tawa dan suara riuh memenuhi aula utama.

Di tengah suasana penuh sukacita itu, hanya satu sosok yang tetap membisu.

Revan Cakrawala berdiri di sisi salah satu pilar sambil menatap keluarganya yang tenggelam dalam keramaian. Tak seorang pun menghampirinya untuk berbincang, bahkan tak ada sepasang mata yang sekadar menoleh ke arahnya, seakan keberadaannya hanyalah bayangan yang tak memiliki arti.

Pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Sejak masih kecil, seluruh perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya selalu tercurah kepada Arya. Adiknya yang dikaruniai bakat kultivasi luar biasa itu terus menjadi kebanggaan keluarga, sedangkan Revan justru lebih sering diperlakukan layaknya orang asing di rumahnya sendiri.

"Bukankah memang seharusnya begitu?" Arya bersandar santai di kursi utama dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kalau dibandingkan denganku, kakakku memang berbeda jauh. Aku berada di langit, sementara dia masih bergelimang di tanah."

Tak ada seorang pun yang berniat menegurnya.

Meski kursi utama yang semestinya hanya boleh diduduki kepala keluarga kini ditempati Arya begitu saja, seluruh anggota keluarga menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Ucapan itu kembali menghujam dada Revan. Bukan karena kalimat tersebut terdengar asing baginya, tetapi sebab hinaan yang terus berulang selalu meninggalkan luka yang sama.

"Perbandingan itu terlalu berlebihan," ujar salah seorang tetua sambil terkekeh. "Arya adalah jenius terbaik yang pernah lahir di Kota Jayagiri selama puluhan tahun. Mana mungkin sampah seperti dia pantas disejajarkan?"

Jayendra Cakrawala—Kepala Keluarga Cakrawala mengangguk tanpa sedikit pun keraguan. Wajahnya bahkan memancarkan kebanggaan setiap kali mendengar putra sulung mereka dipermalukan di hadapan semua orang.

Bagi mereka, satu-satunya orang yang layak menyandang gelar harapan Keluarga Cakrawala hanyalah Arya.

Setelah gelak tawa di aula perlahan mereda, Arya mengangkat cangkir teh di tangannya. "Meskipun aku sudah diterima di Perguruan Nirakasa, persaingan di sana pasti jauh lebih sengit. Setengah bulan lagi utusan perguruan akan datang menjemputku. Kalau tidak memiliki sumber daya yang memadai, akan sulit bagiku mengejar murid-murid lainnya."

Jayendra Cakrawala langsung tersenyum puas. "Jangan khawatir, Ayah sudah menyiapkan semuanya untukmu."

Ucapan itu seketika menarik perhatian seluruh orang di dalam aula.

"Ayah telah mencapai kesepakatan dengan Keluarga Draksa. Mereka bersedia menyerahkan seribu Kristal Langit, bahkan memberikan teknik rahasia warisan leluhur mereka kepada Keluarga Cakrawala."

Arya mengernyit pelan. "Keluarga Draksa? Bukankah leluhur mereka hanya berada di Fase Langit? Setelah aku menjadi murid Perguruan Nirakasa, keluarga seperti itu sudah tidak lagi sebanding denganku."

"Itulah alasannya mengapa yang akan menikah bukan dirimu." Jayendra Cakrawala terkekeh ringan sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Revan. "Orang yang akan menikahi putri ketiga Keluarga Draksa adalah kakakmu."

Suasana aula kembali dipenuhi keramaian.

"Keluarga Draksa hanya ingin menjalin hubungan dengan keluarga kita. Mereka tahu masa depanmu sangat menjanjikan, jadi mereka rela mengeluarkan harga sebesar itu. Sebagai imbalannya, Revan akan tinggal di kediaman mereka sebagai menantu."

Mendengar penjelasan tersebut, mata Arya langsung berbinar. Senyum di bibirnya semakin lebar. "Keputusan yang sangat bagus."

"Putri ketiga Keluarga Draksa memang cukup rupawan. Sayangnya, ada tanda lahir yang menutupi separuh wajahnya hingga dia selalu disembunyikan dari orang luar. Kakakku yang tak berguna itu memang pasangan yang paling cocok untuk wanita sepertinya."

Ucapan itu kembali mengundang gelak tawa.

Di mata mereka, hidup Revan tak lebih dari sekadar alat tawar demi membuka jalan bagi masa depan Arya. Tak seorang pun merasa perlu menanyakan apakah dirinya menerima keputusan tersebut.

Revan menghembuskan napas panjang, lalu melangkah perlahan ke tengah aula.

"Sampai kapan kalian akan terus menentukan jalan hidupku?"

Suasana yang semula dipenuhi canda tawa langsung berubah sunyi.

Seluruh tatapan seketika beralih kepadanya.

"Aku memang bukan orang yang paling berbakat di keluarga ini." Suara Revan tetap tenang meski kedua tangannya telah mengepal kuat. "Namun itu bukan berarti kalian berhak menjadikan masa depanku sebagai barang dagangan."

Jayendra Cakrawala sontak berdiri dari kursinya. "Kurang ajar! Berani-beraninya kau menyela pembicaraan keluarga!"

Revan sama sekali tidak menghiraukan bentakan itu. Pandangannya tetap tertuju lurus kepada Arya. "Jadi, selama ini kau benar-benar menganggapku hanya sebagai pijakan untuk naik lebih tinggi?"

Arya bangkit perlahan dari kursinya, sorot matanya dipenuhi penghinaan. "Sejak kapan seorang sampah memiliki hak untuk menentukan pilihan?"

Ia melangkah santai hingga berhenti di depan Revan. "Selama bertahun-tahun, kau masih terjebak di tingkat kedua Fase Raga. Sementara aku sudah mencapai tingkat kelima Fase Roh dan resmi menjadi murid Perguruan Nirakasa."

Ia menatap Revan tepat di depan wajahnya. "Coba katakan, apa yang pernah kau sumbangkan kepada keluarga ini selain mempermalukan nama Keluarga Cakrawala?"

Napas Revan terasa semakin berat memenuhi dadanya. "Kalau bakatku memang rendah, itu urusanku sendiri." Ia mengatupkan rahangnya erat. "Tapi aku tidak akan mengorbankan hidupku hanya untuk mempermudah jalan kultivasimu."

"Hidupmu?" Arya menyunggingkan senyum penuh ejekan. "Kau terlalu memandang dirimu tinggi."

"Di dunia kultivasi, hanya mereka yang kuat yang berhak menentukan segalanya. Menjadi menantu Keluarga Draksa justru merupakan keberuntungan terbesar yang pernah menghampirimu."

Sorot mata Revan perlahan membeku.

Selama bertahun-tahun, masih ada secuil harapan di dalam hatinya bahwa suatu hari nanti keluarganya akan mengakui keberadaannya. Namun, pada detik itu juga, harapan terakhir tersebut benar-benar hancur tanpa sisa.

"Aku menolak."

Suaranya menggema lantang memenuhi seluruh aula.

"Meski harus kehilangan nyawa, aku tidak akan menikahi siapa pun demi memenuhi ambisi kalian."

Untuk sesaat, seluruh aula terdiam.

Tatapan Arya langsung berubah tajam. "Jadi, sampah sepertimu masih berani melawan?"

BANG!

Begitu kata-kata itu terucap, ledakan energi spiritual langsung memancar dari tubuhnya.

Revan bahkan belum sempat bereaksi ketika gelombang angin dari pukulan itu sudah menghantam dadanya dengan kekuatan yang luar biasa.

"Ugh—!"

Darah segar muncrat dari mulutnya. Tubuhnya terlempar beberapa meter ke belakang sebelum menghantam dinding aula dengan benturan keras hingga retakan menjalar ke segala arah, lalu ia jatuh tersungkur bersama pecahan batu yang berhamburan di lantai.

Arya bahkan tidak berniat menghampirinya. "Periksa dia nanti," ucapnya dengan nada dingin. "Kalau masih bernapas, lempar saja keluar."

Pandangan Revan semakin kabur. Suara-suara di sekitarnya perlahan memudar, lalu menghilang sepenuhnya, digantikan kegelapan pekat yang sedikit demi sedikit menelan kesadarannya.

Tepat saat kesadarannya hampir lenyap sepenuhnya, sebuah suara dingin tiba-tiba bergema dari segala penjuru.

[Sinkronisasi pewaris berhasil.]

[Artefak Cincin Langit aktif.]

[Memulai proses pengikatan…]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 300

    Malam mulai menyelimuti perjalanan mereka."Kota Hangai hanya berjarak sepuluh mil dari sini," ujar Livia.Wajah cantiknya tetap sedingin embun beku. Sepanjang perjalanan, Revan hanya sesekali berbincang dengan Arvin, Livia nyaris tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wanita itu memang memiliki aura dingin yang membuat orang lain enggan mendekatinya.Revan dan Arvin hanya mengangguk tanpa menanggapi.Sejujurnya, Poin Kontribusi bukanlah alasan utama Revan menerima ajakan Livia kali ini. Dia menyetujuinya karena ingin berjalan-jalan dan mencari pengalaman baru.Sejak mencapai tahap akhir Fase Roh tingkat kedelapan, Revan belum mencoba menerobos ke tingkat berikutnya. Sebaliknya, dia memilih untuk terus mengasah kemampuan dan memperkuat dirinya.Membaca berbagai teknik bela diri di Balai Kitab memang menyenangkan. Namun, memanfaatkan kesempatan menjalankan misi untuk menjelajahi dunia luar juga bukan ide yang buruk.Bagaimanapun, sejak bergabung dengan Perguruan Sangkara, Revan belum pern

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 299

    Revan menangkapnya, lalu mengirimkan Kesadaran Spiritualnya ke dalam gulungan tersebut untuk memeriksa informasi misi.[Misi: Menyelidiki hilangnya sejumlah kultivator di Kota Hangai.][Tujuan: Menemukan petunjuk yang relevan, dengan hadiah 100 Poin Kontribusi.][Hadiah penyelesaian: 300 Poin Kontribusi jika berhasil mengungkap dan menyelesaikan kasus tersebut.][Persyaratan: Setidaknya tiga murid luar harus menjalankan misi bersama.]Tiga ratus Poin Kontribusi?Jumlah itu setara dengan lima belas ribu Kristal Langit.Revan sedikit terkejut. Dari besarnya hadiah tersebut, terlihat jelas bahwa Penguasa Kota Hangai memang telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk meminta bantuan perguruan.Tanpa ragu, Revan menanamkan Kesadaran Spiritualnya ke dalam gulungan giok itu, lalu menyerahkannya kepada Arvin. Arvin melakukan hal yang sama.Setelah ketiganya selesai, Livia mengembalikan gulungan giok tersebut kepada dua tetua yang bertugas di depan Balai Petualang.Keduanya memeriksa gul

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 298

    Saat fajar menyingsing dia kembali ke Paviliun Khusus untuk beristirahat.Pertemuannya dengan Livia dijadwalkan pada tengah hari. Karena itu, Revan tidak berlatih teknik kultivasi seperti biasanya. Sebagai gantinya, Kesadaran Spiritualnya memasuki Cincin Langit dan mulai memurnikan pil dalam jumlah besar.Meskipun selama beberapa hari terakhir dia harus mengunjungi Balai Kitab setiap malam, Revan tetap menyisihkan dua jam setiap hari untuk berfokus pada alkimia.Usahanya mulai membuahkan hasil. Kemampuannya meningkat pesat, bahkan sesekali dia sudah mampu menghasilkan pil tingkat satu berkualitas tinggi.Selain itu, setiap kali Anugerah Dao di dalam tubuhnya menginginkan Kristal Langit tingkat tinggi berelemen kayu, Revan akan menggenggam kristal tersebut di telapak tangannya agar Anugerah Dao bisa menyerap energinya.Semua itu dia rahasiakan dari siapa pun.Bagaimanapun, hal tersebut berkaitan dengan keberadaan Cincin Langit.Jika Rigo dan Dwiki mengetahui bahwa Revan sudah mampu mem

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 297

    Alasannya mencari Revan sebenarnya sederhana. Dia membutuhkan lebih banyak Poin Kontribusi karena sedang mengincar sebuah teknik kultivasi peringkat Agung di Balai Kitab, teknik yang diperuntukkan bagi kultivator Fase Langit.Kultivasi Livia telah mencapai Fase Roh tingkat kesembilan. Dia sudah bisa mencoba menerobos ke Fase Langit dalam waktu dekat.Dia bahkan telah menukarkan seluruh Kristal Langit miliknya dengan Poin Kontribusi, namun jumlahnya masih belum mencukupi. Meskipun Keluarga Varenza merupakan keluarga yang sangat kuat, mereka tentu tidak akan memberinya Kristal Langit dalam jumlah besar tanpa alasan yang jelas.Karena itulah, belakangan ini Livia begitu giat menjalankan misi demi mengumpulkan Poin Kontribusi. Terlebih lagi, misi kali ini menawarkan imbalan yang jauh lebih besar daripada biasanya.Revan menatap Livia, menunggu penjelasan lebih lanjut.Livia menundukkan kepala sejenak, seolah sedang menyusun kata-katanya. Kemudian, dia berkata dengan sangat serius, "Karena

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 296

    ‘Kenapa wanita ini mencariku?’ pikir Revan saat keluar dari Paviliun Khusus dan mendapati Livia berdiri di depan pintu.Begitu pintu batu terbuka, Livia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Revan. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berdiri diam sambil menatapnya.Revan terdiam. ‘Jauh-jauh datang ke sini, tapi tidak mengatakan sepatah kata pun?’Akhirnya, Revan berdeham untuk memecah keheningan. "Livia, ada urusan apa kau datang kemari?""Cabul!"Revan membeku. ‘Hah?! Apa-apaan ini?!’Dia hampir kehilangan kendali. Memangnya ada orang seperti ini? Baru saja datang ke Paviliun Khusus miliknya, lalu begitu pintu terbuka, hal pertama yang keluar dari mulutnya justru makian yang menyebutnya cabul?Revan menahan keinginan untuk mencabut pedang dan menebas wanita itu. Pada akhirnya, dia hanya bisa menghela napas panjang.Barulah setelah itu Livia berbicara dengan nada dingin. "Aku datang untuk mengajakmu bekerja sama menjalankan sebuah misi.""Misi? Misi apa?" Revan sedikit

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 295

    Melihat Revan akhirnya memahami maksud mereka, Tetua Lidio dan Tetua Rigo yang berada di luar Balai Kitab mengangguk puas. Keduanya kemudian saling melemparkan senyum getir sebelum menghilang dalam seberkas cahaya.Mereka hanya perlu kembali sebelum fajar menyingsing.Sebenarnya, Bayu memiliki alasan khusus ketika memberi isyarat kepada kedua tetua itu untuk membuka jalan bagi Revan.Salah satu alasan terpentingnya adalah agar Revan bisa meningkatkan kekuatannya secepat mungkin. Bagaimanapun, ujian seleksi untuk memasuki Perguruan Murid Senior akan dimulai hanya dalam waktu satu bulan.Jika Revan melewatkan kesempatan kali ini, dia harus menunggu setahun penuh untuk mengikuti ujian berikutnya.Tentu saja, mereka memiliki berbagai cara untuk menggunakan jalur khusus agar Revan bisa langsung masuk ke Perguruan Murid Senior. Namun, tindakan semacam itu berisiko membuat rahasia bahwa Revan memiliki Anugerah Dao terbongkar.Kenyataannya, persaingan semacam ini merupakan hal yang lumrah di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status