LOGINKesadaran Revan berangsur pulih.
Rasa sakit yang ia bayangkan tak kunjung datang. Sebaliknya, keheningan yang begitu luas justru menyelimuti sekelilingnya hingga embusan napasnya sendiri terdengar begitu jelas. Saat perlahan membuka mata, langit-langit aula Keluarga Cakrawala telah lenyap, berganti dengan bentangan angkasa tanpa ujung yang dipenuhi jutaan bintang berkilauan.
Setiap bintang menggantung tenang di tengah langit hitam, sementara jalur-jalur cahayanya saling terhubung membentuk pola misterius yang terus bergerak perlahan seakan mengikuti hukum yang tak kasatmata.
"Aku... di mana?"
Suara Revan bergema pelan, tetapi hanya kesunyian yang menjawabnya. Ia melangkah perlahan, namun tak menemukan tanah ataupun dinding di sekelilingnya. Di bawah kakinya hanya terbentang lantai sebening cermin yang memantulkan hamparan bintang di atas, membuatnya seolah berdiri di antara dua langit yang saling berhadapan.
Sebelum sempat memahami apa yang sedang terjadi, seluruh bintang itu tiba-tiba berdenyut serempak.
BANG!
Dentuman berat tiba-tiba mengguncang seluruh ruang.
Dalam sekejap, cahaya dari setiap bintang berubah menjadi lingkaran-lingkaran keemasan yang melesat ke arahnya. Kehangatan langsung mengalir ke seluruh tubuhnya, menyusuri setiap urat nadi, disusul gelombang informasi yang membanjiri benaknya tanpa memberi kesempatan untuk menolak.
Cincin Langit, artefak langit yang telah ada sejak zaman kuno.
Di dalamnya tersegel ribuan bintang, dan setiap tingkatan Cincin menyimpan warisan yang berbeda. Ada teknik kultivasi, senjata kuno, pil langka, hingga berbagai peninggalan para ahli tertinggi dari masa silam.
Tak semua orang berhak memilikinya, dan tak semua orang mampu membangkitkan kekuatan yang tersembunyi di dalamnya. Namun setelah sekian lama menanti, artefak itu akhirnya memilih seorang pewaris baru.
Revan memejamkan mata sambil menyerap seluruh informasi yang terus mengalir ke dalam pikirannya. Setelah beberapa saat, napasnya perlahan kembali stabil.
"Jadi begitu..."
Semakin tinggi tingkat kultivasinya, semakin banyak lapisan kekuatan Cincin Langit yang dapat dibuka. Setiap kenaikan fase akan memberinya kesempatan memperoleh satu warisan baru.
Namun, sebagai pewaris pertama, ia memperoleh sebuah hak istimewa. Satu lapisan dapat dibuka tanpa harus memenuhi syarat apa pun.
Tatapan Revan segera tertuju pada Cincin Langit yang melayang perlahan di hadapannya.
"Kalau begitu... mari kita coba."
Ia menggigit ujung jarinya hingga setetes darah segar mengalir keluar. Begitu darah itu menyentuh permukaan lantai bening, seluruh ruang langsung bergetar hebat.
Brak!
Cincin Langit di angkasa tiba-tiba pecah menjadi ribuan serpihan cahaya. Cahaya-cahaya itu tidak lenyap, melainkan melayang turun perlahan sebelum berubah menjadi berbagai benda yang tersusun rapi di hadapan Revan.
Puluhan botol giok berisi pil memenuhi sisi kanannya, sementara tumpukan Kristal Langit yang memancarkan kilau lembut menjulang hampir setinggi bahunya.
Di sisi lainnya, sebuah gulungan hitam berukir naga melayang perlahan dari angkasa sebelum berhenti tepat di hadapan Revan.
Jantungnya berdetak semakin kencang. Tanpa ragu, ia segera membuka gulungan itu. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaannya, rangkaian huruf berwarna emas langsung bermunculan dan memenuhi ruang di hadapannya.
Warisan Raga Adiwira.
Mata Revan langsung membelalak. "Warisan... teknik setingkat ini?"
Ia pernah mendengar pembagian tingkatan teknik kultivasi. Dimulai dari tingkat Dasar, kemudian Luhur, Agung, hingga Ilahi, dengan setiap tingkatan memiliki perbedaan kualitas yang bagaikan langit dan bumi.
Di Kota Jayagiri, teknik tingkat Dasar kelas tinggi saja sudah dianggap sebagai pusaka yang dijaga turun-temurun oleh sebuah keluarga. Sementara itu, teknik tingkat Luhur hanya dimiliki segelintir kekuatan besar yang memiliki fondasi kokoh. Namun, gulungan di tangannya jelas berada jauh di luar bayangannya.
Hanya dari aura yang dipancarkannya, Revan sudah dapat merasakan betapa dahsyatnya kekuatan yang tersembunyi di dalam teknik tersebut. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
"Kalau setiap tingkatan Cincin benar-benar menyimpan warisan seperti ini..."
Pandangannya perlahan terangkat menatap lautan bintang yang membentang tanpa ujung. Jumlahnya begitu banyak hingga mustahil dihitung. Setelah bertahun-tahun hidup dalam hinaan dan dipandang rendah, secercah harapan benar-benar kembali menyala di dalam hatinya.
Tak lama kemudian, cahaya bintang kembali turun menyelimuti tubuhnya. Kehangatannya terasa lembut. Namun, kekuatan yang terkandung di dalamnya begitu luar biasa.
Setiap tulang, otot, hingga meridian di tubuh Revan seolah ditempa kembali dari awal. Rasa nyeri menyebar ke seluruh tubuhnya, tetapi pada saat yang sama, ia dapat merasakan belenggu yang selama ini menghambat bakat kultivasinya mulai retak sedikit demi sedikit.
Proses perubahan itu berlangsung cukup lama.
Saat semuanya usai, tubuh Revan terasa jauh lebih ringan, seolah beban yang selama ini menekannya telah menghilang.
Senyum tipis akhirnya terukir di sudut bibirnya.
"Mulai hari ini… Aku bukan lagi Revan yang dulu."
Bayu, Harsa, Dwiki, Viona, dan yang lainnya saling bertukar pandang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.Di atas arena, kondisi Dito sudah semakin buruk. Tubuhnya hampir kehilangan tenaga dan kedua kakinya bahkan tidak mampu menopang tubuh dengan baik. Dia ingin menjatuhkan diri dan langsung mengakui kekalahan. Namun,Revan tetap tidak memberinya kesempatan. Satu tangan mencengkeram leher Dito, mengangkat tubuhnya sedikit dari tanah. Tangan lainnya kembali bergerak.Plak!Tamparan keras menghantam wajah Dito.“ARGH!” Dito menjerit kesakitan.Pertarungan terus berlanjut. Namun, sejak awal sampai saat itu, Dito tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Dia hanya mampu bertahan sambil menerima pukulan demi pukulan dari Revan.Bayu akhirnya terbatuk pelan. “Ehem... Bukankah anak ini agak terlalu kasar?”Dia melirik Harsa di sampingnya.Harsa mengangguk dengan wajah serius. “Memang agak berlebihan.”Menurutnya, Revan sudah kelewat jauh. Dito yang menjadi lawannya b
Revan tertegun, dia benar-benar tidak menyangka Dito akan mengatakan hal seperti itu.Minta dikasihani?Bahkan sudah memohon agar aku tidak terlalu keras?Revan mencibir. Tatapannya berubah aneh saat memandang Dito, seperti sedang melihat seseorang yang baru saja mengatakan sesuatu yang sangat konyol. “Karena kau sudah meminta seperti itu, aku akan mengampuni nyawamu.”“Apa?!” Dito hampir tidak percaya.Dia merasa sudah merendahkan dirinya sejauh mungkin dengan membawa nama Keluarga Sinaga dan Kakaknya. Tujuannya sederhana, berharap Revan mau memberinya sedikit kelonggaran.Namun, jawaban yang diterimanya justru membuatnya semakin tidak berdaya.“Tenang saja, nyawamu akan kuselamatkan.”Belum sempat Dito mengatakan apa-apa lagi, sosok Revan tiba-tiba menghilang dari hadapannya.Duagh! Duagh!Dua pukulan menghantam perut Dito secara beruntun. Tubuhnya langsung membungkuk. Darah segar menyembur dari mulutnya, wajahnya memerah menahan rasa sakit.Keduanya sama-sama berada di tingkat ketu
Daren mengulurkan tangan. “Daren Renjana.”“Bram Semesta.”Keduanya berjabat tangan singkat sebagai salam. Begitu tangan mereka terlepas, kedua sosok itu langsung melesat maju. Mereka menyerang hampir bersamaan, mengerahkan seluruh kekuatan sejak awal.Para penonton langsung terkejut.Kekuatan keduanya memang tidak bisa dibandingkan dengan para jenius papan atas, tetapi semangat bertarung mereka benar-benar tinggi.Revan justru tersenyum tipis. Dia tahu persis apa yang ada di balik serangan membabi buta tersebut. Keduanya sedang menunggu satu kesempatan.Siapa pun yang lebih dulu lengah akan langsung menjadi sasaran serangan mendadak.Daren melayangkan pukulan, dan Bram membalas dengan tendangan. Keduanya terus bertukar serangan, saling menekan tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk mengambil napas.Jumlah penonton di sekitar arena itu tidak banyak. Pertarungan tersebut juga tidak bisa disebut sebagai tontonan terbesar hari itu.Namun, Revan terlihat menikmatinya. Di sampingnya,
Suasana arena seketika berubah.“Kali ini aturannya berbeda dari seleksi sebelumnya. Seluruh pertandingan akan ditentukan melalui undian dan dilaksanakan secara bersamaan di tiga arena.”Bayu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Begitu kalian kalah satu kali, kalian langsung didiskualifikasi dan tersingkir dari kompetisi.”Senyumnya tetap terlihat tenang ketika dia menoleh kepada Harsa.Harsa memahami maksudnya. Dia segera mengangguk dan melangkah maju dua langkah. “Aku akan memimpin jalannya pertandingan berikutnya. Kalian semua tuliskan nama masing-masing di secarik kertas. Nama yang dipanggil nanti harus segera naik ke arena.”Harsa berbicara lantang sambil menepuk tas penyimpanan di pinggangnya. Dalam sekejap, lima ratus lembar kertas beserta pena melesat keluar dan berhenti tepat di tangan setiap peserta.Setelah seluruh peserta selesai menuliskan nama mereka, seorang murid maju untuk mengumpulkan semua kertas tersebut. Potongan-potongan itu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah
Tanpa terasa, tiga hari berlalu.Hari kompetisi seleksi dan pemeringkatan akhirnya tiba.Di arena utama, Revan, Livia, Arvin, Naren, dan para jenius lainnya berdiri bersama lima ratus murid yang berhasil lolos dari seleksi sebelumnya.Kompetisi kali ini bersifat sukarela. Meski begitu, sebagian besar murid tetap memilih untuk ikut serta. Hanya sebagian kecil yang memutuskan untuk tidak datang. Bahkan mereka yang sadar bahwa peluangnya kecil tetap ingin mencobanya.Bram, Daren, dan beberapa murid lain yang kekuatannya berada di bawah para jenius utama juga hadir. Mereka tentu berharap bisa memperoleh sedikit keberuntungan dari kompetisi tersebut.Di depan kerumunan, Harsa berdiri dengan ekspresi tenang. Namun, kali ini dia tidak datang sendirian.Di sampingnya berdiri tiga sosok tetua yang memiliki kedudukan tinggi. Salah satunya seorang pria tua dengan rambut hitam lebat, sedangkan di sisi lain berdiri seorang wanita paruh baya dengan paras yang masih terlihat cantik.Di barisan palin
Perguruan besar seperti Perguruan Sangkara tentu tidak akan sembarangan memilih lokasi pendirian. Tanah yang mereka tempati pasti memiliki energi spiritual yang jauh lebih kaya daripada tempat biasa.Di berbagai lokasi strategis, paviliun juga dibangun untuk memanfaatkan energi tersebut. Energi spiritual yang terkumpul di dalam paviliun itu telah terakumulasi selama bertahun-tahun. Jika seseorang bisa berkultivasi di tempat seperti itu, manfaatnya jelas jauh lebih besar.Menurut Bram, seseorang bahkan bisa mengalami peningkatan kultivasi hanya dengan tidur di dalam paviliun tersebut. Mungkin itu sedikit berlebihan. Namun, ucapan tersebut cukup menggambarkan betapa berharganya sebuah paviliun khusus di Perguruan Sangkara.“Revan, jumlah paviliun khusus seperti itu sebenarnya tidak banyak. Bahkan sebagian besar wakil tetua pun belum tentu mendapat tempat seperti itu.” Bram menatap Revan dengan serius. “Perguruan Sangkara sengaja memberikan fasilitas tersebut untuk membina calon penerus







