Share

Bab 281

Author: Skyy
last update publish date: 2026-10-25 20:26:30

“Kau... tunggu saja sampai Revan datang! Dia tidak akan membiarkan kalian lolos!”

Pemuda yang tergeletak di tanah itu berlumuran darah. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya terluka parah, dan suaranya semakin lemah saat mengucapkan ancaman tersebut.

Ia adalah salah satu murid baru yang mendirikan kios bersama Bram. Beberapa temannya yang tergeletak di sisi kanan arena juga mengalami nasib serupa.

Mereka tahu bahwa kemampuan mereka masih terbatas. Bisa bergabung dengan Perguruan Sangkara saja su
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 285

    Sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi, tangan kanannya yang menggenggam pedang mendadak terasa kaku. Sebuah kekuatan luar biasa telah mencengkram pergelangan tangannya.Krek! Krek!Suara tulang yang remuk terdengar jelas. Pergelangan tangannya patah dalam sekejap.Rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh tubuh Marcel. Ia ingin menjerit, sekaligus berusaha sekuat tenaga menarik lengannya. Namun, cengkeraman Revan begitu kuat hingga usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil.“Sialan!” raung Marcel panik.Tanpa sempat berpikir panjang, ia mengangkat tangan kirinya dan melancarkan serangan ke arah Revan, berusaha menjatuhkan lawannya dengan pukulan keras.DUAAGGH!Namun, begitu ia menggerakkan tangan kirinya, sebuah pukulan dahsyat menghantam perutnya.“Pfft!” Marcel langsung memuntahkan seteguk darah.Kekuatan pukulan itu hampir membuatnya kehilangan kesadaran. Dari daya hancurnya saja, jelas bahwa kekuatan Revan telah melampaui batas Fase Roh.Tubuh Marcel terhemp

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 284

    Revan menggelengkan kepala tanpa ekspresi. “Aku datang ke sini karena seorang teman meminta bantuanku. Jadi, aku tidak bisa pergi begitu saja.”“Dunia kultivasi memang mengutamakan kekuatan. Siapa yang lebih kuat, dialah yang berhak berbicara.” Marcel menatapnya tajam. “Karena itu, aku bersedia melupakan campur tanganmu dalam masalah ini. Jadi, apa sebenarnya yang kau inginkan?”Ia tidak memahami maksud Revan berbicara panjang lebar seperti itu.“Mudah saja. Kembalikan artefak magis yang kau rampas, berjanjilah untuk tidak mengganggu mereka lagi, lalu berlutut dan minta maaf.” Revan berbicara dengan nada datar, tetapi setiap katanya terdengar tegas.“Apa?!” Marcel tertegun sejenak, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kau menyuruhku mengembalikan artefak itu, berjanji tidak akan mengganggu mereka lagi, bahkan berlutut untuk meminta maaf?”Wajahnya langsung berubah muram. Ia melontarkan makian dengan amarah yang meluap-luap. “Dasar gila! Aku sudah menghormatimu

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 283

    “Kak Revan...” Bram menoleh kepadanya. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan kemarahan.Revan mengangguk kecil. Dahinya sedikit berkerut sebelum ia berkata, “Serahkan sisanya kepadaku.”“Terima kasih, Kak.”Bram tidak berkata apa-apa lagi. Ia telah cukup lama mengenal Revan sehingga memahami kepribadiannya.Revan bukan orang yang banyak tersenyum. Pembawaannya cenderung dingin, dan ia jarang mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan. Namun, selama sudah berjanji, ia pasti akan menepatinya.Ketika mereka pertama kali bertemu, Revan telah menyelamatkan nyawa Bram. Jika bukan karena bantuannya, Bram mungkin sudah tewas di tangan orang-orang yang dikirim oleh ibu tirinya.Revan kembali memeriksa kondisi para murid yang terluka. Cedera mereka cukup parah. Setidaknya, mereka membutuhkan waktu beberapa bulan untuk pulih sepenuhnya.“Kak Revan, terima kasih sudah membela kami!”“Kak Revan, hati-hati! Mereka sangat kuat!”“Kak Revan...”Para murid laki-laki itu bergantian berbicara. Mata

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 282

    Tubuh gadis itu langsung terhuyung. Langkahnya goyah dan ia hampir jatuh tersungkur, ia akhirnya tetap berhasil menjaga keseimbangan.Namun, sebelum sempat menarik napas, pria itu sudah muncul di hadapannya dan melayangkan pukulan ke perutnya.Gadis itu mengerang kesakitan, lalu ambruk ke tanah. Ia tak lagi memiliki kekuatan untuk melawan.Kesenjangan kekuatan di antara mereka terlalu besar. Ia sama sekali bukan tandingan pria tersebut.Alih-alih melanjutkan serangan, pria bertubuh tinggi itu justru mengalihkan pandangannya ke pedang panjang yang masih digenggam gadis itu.Artefak magis tingkat Luhur!Benar-benar barang bagus. Tidak semua murid Perguruan Murid Baru memiliki artefak semacam ini. Kalaupun sudah memilikinya, siapa yang akan menolak jika bisa mendapatkan satu lagi?Dengan seringai puas, pria itu menghampiri gadis tersebut, membungkuk, lalu merampas pedang panjang dari tangannya.“Kau—!”Entah karena amarah atau luka-lukanya, gadis itu kembali memuntahkan seteguk darah. Ia

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 281

    “Kau... tunggu saja sampai Revan datang! Dia tidak akan membiarkan kalian lolos!”Pemuda yang tergeletak di tanah itu berlumuran darah. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya terluka parah, dan suaranya semakin lemah saat mengucapkan ancaman tersebut.Ia adalah salah satu murid baru yang mendirikan kios bersama Bram. Beberapa temannya yang tergeletak di sisi kanan arena juga mengalami nasib serupa.Mereka tahu bahwa kemampuan mereka masih terbatas. Bisa bergabung dengan Perguruan Sangkara saja sudah merupakan keberuntungan besar. Karena itulah, mereka ingin mendapatkan sedikit penghasilan dengan membuka kios kecil.Namun, mereka tidak pernah menyangka usaha sederhana itu justru akan membawa mereka ke dalam masalah seperti ini.“Revan?” Murid senior bertubuh tinggi itu mencibir. “Hanya murid baru yang baru bergabung. Memangnya, kemampuan apa yang bisa dia miliki?”“Kau... tunggu saja!”Pemuda yang tergeletak itu masih menolak menyerah. Namun, sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, lawan

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 280

    “Kak Revan, tolong selamatkan aku!” Bram memohon dengan sangat cemas.Ini pertama kalinya Revan melihat Bram menunjukkan ekspresi sepanik itu.“Jangan terburu-buru. Ceritakan dulu apa yang terjadi,” ujar Revan dengan tenang.“Begini, Kak. Aku dan beberapa murid baru lainnya ingin mendapatkan Poin Kontribusi. Namun, menjalankan misi terlalu berbahaya, jadi kami memutuskan untuk membuka kios kecil di jalanan wilayah Perguruan Murid Baru dan mencoba berbisnis.”“Bisnis kecil-kecilan?” Revan sempat terkejut, ia segera memahami maksud Bram.Di dekat Balai Keanggotaan dan Balai Perdagangan memang terdapat banyak kios kecil yang menjual berbagai macam barang. Sebagian besar kios itu didirikan oleh para murid dengan tingkat kultivasi rendah.“Kami memilih sebidang tanah kosong di dekat Balai Keanggotaan. Sebelumnya, kami sudah membicarakan rencana ini. Kami ingin pergi ke gunung untuk berburu binatang liar, lalu mengolah dagingnya menjadi daging kering untuk dijual. Bulunya juga bisa dijual s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status