Share

Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali
Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali
Author: Anna

Bab 1

Author: Anna
Tepat saat pesan konfirmasi tiket pesawat muncul di layar ponselku, Wilda menghubungiku melalui panggilan video.

Di balik layar, dia berdiri di depan jendela kaca hotel besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit.

Dia tersenyum lalu memanggilku, "Sayang, kok belum tidur?"

Seandainya aku tidak baru saja menuntaskan 600 unggahan itu, mungkin sapaan singkatnya masih sanggup meluluhkan hatiku.

Aku tidak segera menjawab.

Wilda, seperti biasa, berusaha menenangkanku. "Kangen aku, ya? Proyekku di sini udah mau selesai, kok. Paling tiga hari lagi aku balik. Nanti aku bawain oleh-oleh buat kamu ya."

"Kamu sendirian di hotel?" tanyaku.

Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Bahkan senyumnya justru terlihat lebih alami dari biasanya. "Iya, sendirian, dong. Bukannya aku udah janji, kalau lagi dinas nggak bakal ke mana-mana?"

Tepat ketika kalimat itu usai.

Dari seberang telepon, terdengar tawa seorang pria.

Senyum di wajah Wilda membeku sesaat.

Detik berikutnya, dia memiringkan kamera ke samping, lalu berkata dengan nada kesal yang dibuat-buat, "Kolegaku lagi rapat di sebelah, berisik banget. Nanti aku telepon lagi, ya."

Aku menatap layar yang telah menghitam. Jemariku terasa dingin hingga mati rasa.

Dulu, dia tidak pernah mengizinkanku memasuki lingkaran pertemanannya. Alasannya selalu sama, dia takut ada orang lain yang menginginkanku.

Makanya, setiap kali teman-temannya berkumpul, aku tidak hadir.

Acara tahunan kantornya, aku tidak datang.

Bahkan ketika sahabat karibnya menikah, dia hanya berkata, "Kamu tuh ganteng banget. Aku nggak rela kalau mereka melihatmu."

Mataku perlahan terasa perih. Tanpa mampu menahan diri, aku kembali membuka unggahannya melalui akun keduaku, menatap foto itu lekat-lekat.

Wilda mengenakan gaun putih. Angin laut menerbangkan helaian rambutnya. Dia mendongak, mengecup pria itu, dan tersenyum, layaknya seorang gadis yang akhirnya meraih apa yang selama ini dia impikan.

Padahal, tujuh tahun kami bersama, dan dia bahkan tidak pernah sudi mengunggah satu pun foto berdua denganku.

Dia berkata, "Sayang, aku cuma nggak mau orang lain ganggu kehidupan kita."

Dia berkata, "Hubungan itu urusan berdua. Nggak perlu dipamerin ke orang lain."

Dia berkata, "Aku posesif. Aku nggak mau orang lain tahu betapa istimewanya dirimu."

Dulu, aku memercayai semuanya.

Baru sekarang aku mengerti. Bukan dia tidak suka memamerkan, hanya saja yang tidak ingin dia pamerkan adalah aku.

Di bawah unggahan itu, seseorang menulis komentar: [Kak Wilda memang nggak pernah setengah-setengah. Dari awal jadian langsung go public, udah tiga tahun, ya?]

Wilda membalas: [Aku nggak tega kalau dia harus bersamaku tanpa status yang jelas.]

Aku menatap kalimat itu lama sekali.

Tujuh tahun lamanya, dia tidak pernah memberiku status apa pun.

Kami tinggal bersama, pernah memelihara seekor kucing, dan melewati suka duka berdua.

Namun, di seluruh unggahannya, tidak ada jejakku.

Teman-temannya pun tidak pernah mengetahui keberadaanku.

Cinta yang dia pamerkan kepada seluruh dunia, ternyata dia berikan kepada orang lain.

Dan aku hanyalah sehelai pakaian lama yang dia simpan rapat di dalam lemari, bersih, sunyi, siap dikenakan kapan pun dia menoleh kembali.

Ponselku bergetar sekali lagi. Pesan darinya.

[Sayang, tadi sinyalnya jelek.]

[Tidur, ya. Jangan mikir yang aneh-aneh.]

[Aku paling sayang sama kamu.]

Aku tidak membalas.

Aku membuka lemari, menyisihkan kemeja-kemejanya satu per satu. Di bagian paling dalam, tergantung kemeja putih yang kubeli tahun lalu.

Kemeja itu adalah kemeja yang kukenakan di hari ulang tahunnya, saat aku menunggunya pulang untuk makan malam bersama.

Malam itu dia tidak pulang. Alasannya, lembur mendadak.

Padahal di unggahannya, pada hari yang sama, dia dan pria itu tengah menikmati konser di gedung opera. Keterangannya berbunyi: [Apa pun yang dia suka, selalu kuingat.]

Aku mengambil kemeja tersebut, lalu membuangnya ke dalam tong sampah.

Lalu dokumen-dokumen, kartu bank, laptop, dan beberapa helai pakaian ganti.

Tujuh tahun lamanya, dan semua yang bisa kubawa ternyata begitu sedikit.

Sementara yang tidak bisa kubawa, tidak lagi ingin kumiliki.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 9

    Sebulan kemudian, seluruh uang di dalam rekening bersama telah diselesaikan.Wilda mentransfer kembali bagian milikku, ditambah sejumlah uang ekstra yang dia sebut sebagai kompensasi.Aku mengembalikannya.Aku tidak membutuhkan kompensasinya.Kompensasi berarti semua kehilangan itu masih bisa diukur dengan angka. Namun, tujuh tahun yang telah hilang dariku tak akan pernah bisa ditebus dengan nominal berapa pun.Jojo juga datang menemuiku setelahnya.Dia berdiri di bawah rumahku, tangannya menenteng kue yang dulu paling kusukai, matanya bengkak dan memerah."Reno, aku benaran tahu aku salah."Hari itu angin bertiup begitu kencang. Aku menatapnya, dan tiba-tiba teringat musim panas di masa SMA.Kami berdesakan di depan kios kecil sekolah, berbagi satu es stik yang sama, tertawa sambil berkata bahwa kelak siapa pun yang menikah lebih dulu, yang lain harus menjadi pendamping pengantin.Ketulusan itu pernah nyata, bukan kebohongan.Namun, pengkhianatan itu pun nyata.Aku tidak menerima kue

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 8

    Keesokan paginya, aku mengunggah sebuah postingan di media sosialku.Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku menuliskan nama Wilda Malik secara lengkap.Aku tidak mengeluh, tidak juga menghina. Aku hanya menuliskan kronologinya dengan jelas.Pernyataan cinta di kampus. Tujuh tahun berpacaran. Tinggal bersama. Rekening bersama. Bertemu orang tuaku. Janji untuk menetapkan tanggal pernikahan.Lalu bagaimana, tiga tahun lalu, dia mulai menjalin hubungan dengan Zayn Alistair, memamerkannya di media sosial, membawanya menemui teman-teman dan ibunya, sementara kepadaku, dia terus berkata bahwa dia sedang perjalanan dinas, sedang sibuk, sedang menunggu waktu yang tepat.Dan di akhir semuanya, aku menyertakan video dari malam di hotel itu.Di dalam video itu, Wilda berkata dengan mulutnya sendiri, "Aku bakal nikah sama kamu. Tapi, aku bakal ngadain pesta pernikahan sama dia."Setelah mengunggahnya, aku mematikan ponselku dan menemani Ibu ke pasar untuk berbelanja.Sepanjang jalan, Ibu meng

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 7

    Wilda tidak langsung pergi.Dia terus berdiri di bawah hingga tengah hari. Setelahnya, dia mengirim begitu banyak pesan ke ponselku.Dia berkata bahwa dia telah menghapus semua kontak Zayn.Dia bilang akan mengumumkan hubungan kami kepada semua orang, menebus semua yang selama ini tidak pernah dia berikan kepadaku. Dia berkata bahwa asalkan aku mau memaafkannya, dia rela berlutut dan memohon kepada setiap kerabat dan temanku.Satu pun tidak kubalas.Sore harinya, Jojo kembali menelepon.Kali ini, nadanya tidak lagi setegas kemarin. Justru terdengar begitu lelah."Reno, emang harus sampai separah ini?"Aku duduk di tepi jendela, kedua tanganku mendekap gelas air hangat yang Ibu sodorkan. Dengan tenang, aku bertanya, "Emangnya aku ngapain?""Wilda terbang balik malam itu juga gara-gara kamu. Zayn sekarang nangis sampai nyaris nggak kuat lagi. Dia nggak tahu kamu sama Wilda masih bersama. Dia juga korban di sini.""Terus?"Di ujung telepon sana, keheningan menyelimuti sesaat.Aku melanju

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 6

    Keesokan paginya, aku terbangun oleh suara keributan dari lantai bawah.Ibu berbicara di balik pintu dengan suara yang direndahkan, tetapi nadanya terdengar dingin, sesuatu yang jarang sekali terdengar darinya. "Dia nggak mau ketemu kamu. Pergi sana."Dadaku terasa sesak. Aku menyambar jaket dan berjalan ke jendela.Wilda berdiri di bawah sana. Dia masih mengenakan gaun yang sama seperti kemarin, sudah kusut tidak keruan.Dia mendongak dan melihatku. Matanya langsung berbinar, seolah melihat harapan terakhirnya."Sayang, turun sebentar. Liat aku sebentar aja."Aku tidak bergerak.Dia tetap mendongak, suaranya parau nyaris pecah. "Aku naik pesawat paling pagi buat balik. Bawaan aja nggak sempet ambil. Reno, aku beneran tahu aku salah. Jangan tinggalin aku."Dulu, inilah hal yang paling tidak mampu kutolak darinya.Asal dia memanggilku "sayang" dengan mata yang merah, maka hatiku akan langsung luluh. Aku akan merasa bahwa tujuh tahun ini tidak mudah, dan melupakan semua rasa sakit yang t

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 5

    Ketika pesawat menyentuh landasan, hujan rintik-rintik turun di balik jendela.Aku menyalakan ponsel, dan layar langsung dipenuhi notifikasi membanjiri layar hingga nyaris tak ada ruang lagi.Wilda telah menelepon lebih dari 30 kali. Pesan-pesannya berubah, dari bujukan yang lembut di awal, menjadi pertanyaan yang penuh kepanikan.[Sayang, kamu di mana?][Udah, jangan ngambek lagi. Bukannya aku udah bilang bakal nikah sama kamu?][Maksud kamu apa hapus semua postinganmu?"]Pesan terakhir dikirim pada pukul empat dini hari.[Sayang, aku salah. Tolong angkat teleponnya, ya?]Aku menatap kalimat [aku salah] itu, dan tiba-tiba merasa begitu ironis.Dia tidak menyadari kesalahannya ketika teman-temannya mempermalukanku di depan semua orang.Bukan pula ketika dia berkata akan menikahiku, tetapi justru memberikan pesta pernikahan untuk Zayn.Bukan juga ketika aku akhirnya mengetahui bahwa dia telah menyembunyikan semuanya dariku selama tiga tahun.Dia hanya baru sadar kalau aku benar-benar te

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 4

    Aku berdiri di tengah jalanan ketika ponselku tiba-tiba bergetar.Ada pesan masuk dari ayahku.[Nak, Wilda kapan pulang? Ibumu hari ini ngomongin soal pernikahan kalian lagi.]Aku menatap baris kata itu, dan akhirnya, mataku terasa perih.Demi Wilda, aku telah membohongi keluargaku begitu lama.Membohongi mereka bahwa dia sibuk, bahwa dia mencintaiku, bahwa dia hanyalah seseorang yang tidak suka menjadi pusat perhatian.Berbohong begitu lama, hingga hampir saja aku sendiri memercayainya.Aku menekan nomor telepon ibuku.Suara lembutnya terdengar dari seberang. "Gimana, Nak? Tanggal pernikahan kalian udah ditetapin belum? Kapan Wilda mau ke rumah?""Ibu, kami udah putus."Di ujung telepon sana, keheningan menyelimuti cukup lama.Begitu lama hingga aku mengira dia akan memarahiku karena terlalu gegabah, atau membujukku untuk memberikan Wilda satu kesempatan lagi.Namun, dia hanya menghela napas pelan."Kamu disakitin?"Begitu kalimat itu terucap, seluruh harga diri yang susah payah kujag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status