Teilen

Bab 7

Anna
Wilda tidak langsung pergi.

Dia terus berdiri di bawah hingga tengah hari. Setelahnya, dia mengirim begitu banyak pesan ke ponselku.

Dia berkata bahwa dia telah menghapus semua kontak Zayn.

Dia bilang akan mengumumkan hubungan kami kepada semua orang, menebus semua yang selama ini tidak pernah dia berikan kepadaku.

Dia berkata bahwa asalkan aku mau memaafkannya, dia rela berlutut dan memohon kepada setiap kerabat dan temanku.

Satu pun tidak kubalas.

Sore harinya, Jojo kembali menelepon.

Kali in
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 9

    Sebulan kemudian, seluruh uang di dalam rekening bersama telah diselesaikan.Wilda mentransfer kembali bagian milikku, ditambah sejumlah uang ekstra yang dia sebut sebagai kompensasi.Aku mengembalikannya.Aku tidak membutuhkan kompensasinya.Kompensasi berarti semua kehilangan itu masih bisa diukur dengan angka. Namun, tujuh tahun yang telah hilang dariku tak akan pernah bisa ditebus dengan nominal berapa pun.Jojo juga datang menemuiku setelahnya.Dia berdiri di bawah rumahku, tangannya menenteng kue yang dulu paling kusukai, matanya bengkak dan memerah."Reno, aku benaran tahu aku salah."Hari itu angin bertiup begitu kencang. Aku menatapnya, dan tiba-tiba teringat musim panas di masa SMA.Kami berdesakan di depan kios kecil sekolah, berbagi satu es stik yang sama, tertawa sambil berkata bahwa kelak siapa pun yang menikah lebih dulu, yang lain harus menjadi pendamping pengantin.Ketulusan itu pernah nyata, bukan kebohongan.Namun, pengkhianatan itu pun nyata.Aku tidak menerima kue

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 8

    Keesokan paginya, aku mengunggah sebuah postingan di media sosialku.Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku menuliskan nama Wilda Malik secara lengkap.Aku tidak mengeluh, tidak juga menghina. Aku hanya menuliskan kronologinya dengan jelas.Pernyataan cinta di kampus. Tujuh tahun berpacaran. Tinggal bersama. Rekening bersama. Bertemu orang tuaku. Janji untuk menetapkan tanggal pernikahan.Lalu bagaimana, tiga tahun lalu, dia mulai menjalin hubungan dengan Zayn Alistair, memamerkannya di media sosial, membawanya menemui teman-teman dan ibunya, sementara kepadaku, dia terus berkata bahwa dia sedang perjalanan dinas, sedang sibuk, sedang menunggu waktu yang tepat.Dan di akhir semuanya, aku menyertakan video dari malam di hotel itu.Di dalam video itu, Wilda berkata dengan mulutnya sendiri, "Aku bakal nikah sama kamu. Tapi, aku bakal ngadain pesta pernikahan sama dia."Setelah mengunggahnya, aku mematikan ponselku dan menemani Ibu ke pasar untuk berbelanja.Sepanjang jalan, Ibu meng

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 7

    Wilda tidak langsung pergi.Dia terus berdiri di bawah hingga tengah hari. Setelahnya, dia mengirim begitu banyak pesan ke ponselku.Dia berkata bahwa dia telah menghapus semua kontak Zayn.Dia bilang akan mengumumkan hubungan kami kepada semua orang, menebus semua yang selama ini tidak pernah dia berikan kepadaku. Dia berkata bahwa asalkan aku mau memaafkannya, dia rela berlutut dan memohon kepada setiap kerabat dan temanku.Satu pun tidak kubalas.Sore harinya, Jojo kembali menelepon.Kali ini, nadanya tidak lagi setegas kemarin. Justru terdengar begitu lelah."Reno, emang harus sampai separah ini?"Aku duduk di tepi jendela, kedua tanganku mendekap gelas air hangat yang Ibu sodorkan. Dengan tenang, aku bertanya, "Emangnya aku ngapain?""Wilda terbang balik malam itu juga gara-gara kamu. Zayn sekarang nangis sampai nyaris nggak kuat lagi. Dia nggak tahu kamu sama Wilda masih bersama. Dia juga korban di sini.""Terus?"Di ujung telepon sana, keheningan menyelimuti sesaat.Aku melanju

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 6

    Keesokan paginya, aku terbangun oleh suara keributan dari lantai bawah.Ibu berbicara di balik pintu dengan suara yang direndahkan, tetapi nadanya terdengar dingin, sesuatu yang jarang sekali terdengar darinya. "Dia nggak mau ketemu kamu. Pergi sana."Dadaku terasa sesak. Aku menyambar jaket dan berjalan ke jendela.Wilda berdiri di bawah sana. Dia masih mengenakan gaun yang sama seperti kemarin, sudah kusut tidak keruan.Dia mendongak dan melihatku. Matanya langsung berbinar, seolah melihat harapan terakhirnya."Sayang, turun sebentar. Liat aku sebentar aja."Aku tidak bergerak.Dia tetap mendongak, suaranya parau nyaris pecah. "Aku naik pesawat paling pagi buat balik. Bawaan aja nggak sempet ambil. Reno, aku beneran tahu aku salah. Jangan tinggalin aku."Dulu, inilah hal yang paling tidak mampu kutolak darinya.Asal dia memanggilku "sayang" dengan mata yang merah, maka hatiku akan langsung luluh. Aku akan merasa bahwa tujuh tahun ini tidak mudah, dan melupakan semua rasa sakit yang t

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 5

    Ketika pesawat menyentuh landasan, hujan rintik-rintik turun di balik jendela.Aku menyalakan ponsel, dan layar langsung dipenuhi notifikasi membanjiri layar hingga nyaris tak ada ruang lagi.Wilda telah menelepon lebih dari 30 kali. Pesan-pesannya berubah, dari bujukan yang lembut di awal, menjadi pertanyaan yang penuh kepanikan.[Sayang, kamu di mana?][Udah, jangan ngambek lagi. Bukannya aku udah bilang bakal nikah sama kamu?][Maksud kamu apa hapus semua postinganmu?"]Pesan terakhir dikirim pada pukul empat dini hari.[Sayang, aku salah. Tolong angkat teleponnya, ya?]Aku menatap kalimat [aku salah] itu, dan tiba-tiba merasa begitu ironis.Dia tidak menyadari kesalahannya ketika teman-temannya mempermalukanku di depan semua orang.Bukan pula ketika dia berkata akan menikahiku, tetapi justru memberikan pesta pernikahan untuk Zayn.Bukan juga ketika aku akhirnya mengetahui bahwa dia telah menyembunyikan semuanya dariku selama tiga tahun.Dia hanya baru sadar kalau aku benar-benar te

  • Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali   Bab 4

    Aku berdiri di tengah jalanan ketika ponselku tiba-tiba bergetar.Ada pesan masuk dari ayahku.[Nak, Wilda kapan pulang? Ibumu hari ini ngomongin soal pernikahan kalian lagi.]Aku menatap baris kata itu, dan akhirnya, mataku terasa perih.Demi Wilda, aku telah membohongi keluargaku begitu lama.Membohongi mereka bahwa dia sibuk, bahwa dia mencintaiku, bahwa dia hanyalah seseorang yang tidak suka menjadi pusat perhatian.Berbohong begitu lama, hingga hampir saja aku sendiri memercayainya.Aku menekan nomor telepon ibuku.Suara lembutnya terdengar dari seberang. "Gimana, Nak? Tanggal pernikahan kalian udah ditetapin belum? Kapan Wilda mau ke rumah?""Ibu, kami udah putus."Di ujung telepon sana, keheningan menyelimuti cukup lama.Begitu lama hingga aku mengira dia akan memarahiku karena terlalu gegabah, atau membujukku untuk memberikan Wilda satu kesempatan lagi.Namun, dia hanya menghela napas pelan."Kamu disakitin?"Begitu kalimat itu terucap, seluruh harga diri yang susah payah kujag

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status