MasukNamun di tengah-tengah menikmati makanan di atas meja, wajah Zahra mendadak pucat. Lalu spontan bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Dan ia muntah di sana.Zein kaget dan panik. Lalu menyusul memegangi tengkuk dan memijat lembut leher belakang istrinya yang sedang membungkuk di depan wastafel. Zahra memuntahkan makanannya."Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Zein dengan raut wajah dipenuhi kecemasan. Zahra mengelap bibirnya dengan tisu, bersandar lemas pada dada Zein. "Sebenarnya sudah beberapa hari ini badanku rasanya nggak enak, Mas. Meriang dan sering pusing.""Kenapa kamu tidak cerita sama Mas di telepon kemarin?""Aku kira cuma meriang biasa.""Kita pergi ke klinik untuk periksa. Ayo, ganti baju." Tanpa berpikir panjang Zein memaksa Zahra untuk segera memeriksakan diri ke klinik. Karena tak tega membonceng istrinya yang lemas menggunakan sepeda motor, Zein memesan taksi online. Dan tak lama mereka sampai di klinik terdekat dari perumahan.Di ruang tunggu klinik yang cuk
"Arkan, saya tidak pernah pilih-pilih calon menantu dari seberapa kaya atau seberapa tinggi jabatannya. Bagi saya syaratnya hanya tiga, pria itu harus bertanggung jawab penuh, menyayangi putri saya dengan tulus, dan yang paling utama tidak pernah meninggalkan salat lima waktu."Pria muda itu menganggukkan kepala dengan mantap. "Insya Allah, Om. Saya bisa memenuhi itu."Melihat ketulusan dan ketegasan sikap Arkan, Emir tersenyum lega. Kemudian mengajak Naima bangkit dari sana untuk membiarkan mereka ngobrol berdua.Zahra yang sejak tadi di dalam, lalu melangkah ke ruang tamu membawa nampan berisi cangkir teh hangat dan brownies."Silakan diminum, Mas," ucap Zahra ramah sambil menyuguhkan minum.Arkan tersenyum sopan. "Terima kasih, Zahra. Oh ya, sekalian aku mau mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Maaf sekali kalau aku tidak bisa hadir saat acara. Bukan tak bisa, tapi karena tidak di undang," ujar pria itu yang menimbulkan tawa.Kemudian mereka ngobrol seru. Arkan tahu kalau Zahra m
Zein- 20 PeriksaZahra muntah di wastafel. Sampai ia terengah-engah. Apa ia masuk angin? Wanita itu memandang wajahnya yang pucat di pantulan cermin.Setelah beberapa saat mualnya mereda, ia kembali duduk di tepi pembaringan. Menunduk di sana sambil merasakan tubuhnya yang berkeringat dingin. Mungkin ia memang masuk angin. Kemarin kehujanan setelah pulang dari toko roti. Sebab Zahra naik motor.Ketika hendak bangkit untuk mengambil obat di ruang keluarga, ia terdiam. Ingat semenjak menikah belum datang bulan. Zahra tak pernah mengingat tanggal berapa siklus bulanannya datang. Namun ia ingat, seminggu sebelum akad nikah baru suci dari haid. Apa dia hamil? Dada Zahra tiba-tiba berdebar kencang. Apa kebersamaannya dengan sang suami selama tiga hari waktu itu berhasil membuatnya mengandung?Disaat Zahra termangu, ponselnya kembali berdering. Zein menelepon lagi."Halo, Mas.""Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?""Ah, nggak Mas. Maaf lama, aku sekalian gosok gigi tadi."Kemudian mereka melan
"Makasih banyak, Mbak. Udah mborong di toko kami," ucap Zahra dengan begitu ramahnya.Maria tersenyum sambil meraih goodie bag. "Sama-sama, Mbak. Maaf, anak-anak saya bikin heboh toko.""Tidak apa-apa." Zahra menangkupkan tangannya sambil memperhatikan mereka meninggalkan toko. Kemudian mobil hitam itu melaju pergi.Zahra tidak tahu kalau wanita itu pernah membuat suaminya jatuh cinta. Sosok yang pernah istimewa di hati Zein. Maria dan Rangga baru pulang dari mengunjungi saudara Maria di Tulungagung. Hubungan mereka dan keluarga dari pihak ibunya mulai membaik sekarang ini. Kemudian Zahra kembali sibuk dengan pembeli yang mulai berdatangan. Lima karyawan toko sibuk mengemas pesanan di belakang. Jadi Naima yang muncul dari dalam membantu putrinya meladeni pembeli.🖤LS🖤Untuk mengobati rindu sekaligus menepati janjinya, Zahra memutuskan berkunjung ke Malang. Berangkat diantar oleh sopir pribadi papanya. Zein melarang Zahra mengendarai mobil sendiri karena ia belum pernah melihat lan
Komunikasi dengan Zein tetap terjalin, walau sangat dibatasi oleh kerahasiaan tugas. Ada hari-hari di mana ia selalu menerima pesan, tapi tak jarang pula dalam dua puluh empat jam penuh tak ada satu pun pesan dari suaminya. Zahra belajar menundukkan egonya. Meski gelisah menggerogoti ulu hati, ia tahu suaminya sedang bertarung dengan resiko tugas di luar sana.Terkadang saat malam, bayangan sidang BP4R di Jakarta kembali berputar di benaknya. Kalimat tegas pewawancara saat itu seperti terngiang ulang. Harus siap ditinggal kapan saja, siap menjaga rahasia, dan siap menerima kabar buruk apa pun.Zahra menggelengkan kepala pelan, menepis bisikan membahayakan itu. "Nggak deh. Mas Zein pasti baik-baik saja.""Nanti kalau sudah ikut Mas Zein ke Jakarta, Zahra berpikir mau coba jadi akuntan freelance saja, Bun," ujar Zahra sore itu seraya merapikan nota penjualan di meja kasir toko roti. "Aku bisa bekerja dari rumah.""Itu ide yang sangat bagus, Sayang. Gelar sarjana akuntansi milikmu tetap
Zein - 19 Pertemuan Tak SengajaMalam ini terasa berbeda bagi Zahra setelah tiga malam ditemani. Kamarnya sunyi. Tiga hari kemarin yang mendadak jadi candu baginya.Zahra menghela napas panjang sambil memeluk guling. Disaat kebanyakan pengantin baru sibuk berbulan madu, ia harus terpisah jarak dari suaminya. Sampai kapan? Zahra pun tidak tahu. Zein bilang tidak lama, tapi yang sebenarnya, entahlah ....Sabar. Menerima Zein sudah menjadi keputusannya sendiri. Mentalnya harus siap dengan segala kondisi dan konsekuensi menjadi istri seorang intelejen.Ponsel Zahra berpendar. Nama My Hubby tertera di layar. Senyum seketika merekah di bibirnya."Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam. Sudah sampai rumah?""Sudah, Mas. Setengah jam yang lalu. Ini habis salat langsung rebahan. Mas, sudah sampai.""Baru masuk kamar. Tadi macet perjalanan dari Soeta. Mas, mau beres-beres dulu, ya. Besok pagi Mas mulai dinas. Selamat tidur. I love you, Honey. Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam."Panggilan langsu
MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la
MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d
MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send







