LOGIN
"Rumi ... maafkan aku."
Wanita berusia 45 tahun itu mengernyit bingung, menatap sang suami dengan penuh tanda tanya. Ia tak paham dengan arti kata 'maaf' yang barusan terlontar. Untuk apa? Belum terjawab kebingungan tersebut, langkah kaki yang terdengar mendekat mencuri perhatian Rumi. Ternyata yang datang adalah seorang remaja lelaki yang usianya kisaran 20 tahun, atau mungkin malah belum genap. Sosok itu sangat asing bagi Rumi. Namun yang ia herankan, mengapa remaja tersebut datang ke rumahnya, bersama suaminya? Apakah mereka saling mengenal? "Dia siapa, Mas?" tanya Rumi dengan setengah tak sabar. Perhatiannya masih tertuju pada remaja di hadapannya, yang entah mengapa membuat perasaannya mendadak tak nyaman. "Anakku." Satu jawaban lirih yang keluar dari bibir Abi—suaminya, sukses membuat Rumi tersentak. Ia melangkah mundur dengan mulut yang menganga tak percaya. Dua puluh tahun mereka membina rumah tangga, tak ada satu pun masalah yang memantik pertikaian. Keduanya rukun, hangat, dan harmonis. Lantas ... mengapa sekarang tiba-tiba Abi membawa pulang remaja yang diakui sebagai anak? Ada apakah ini? "Sejak tujuh tahun lalu, aku menikah lagi di belakangmu. Maafkan aku, Rumi, tapi ... aku memang sangat mencintainya." Abi menghela napas pendek, seraya menatap Rumi dengan canggung. Namun, wanita itu masih bungkam. Mulut yang tadi menganga, kini mengatup rapat, selaras dengan gestur tubuhnya yang dingin dan beku. "Namanya Amina. Wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta selain kamu, Rumi. Saat kami bertemu, dia sudah menjanda karena suaminya berpulang lebih dulu. Dan ... ini anak mereka. Davin Reswanda." Remaja yang bernama Davin, sekadar diam dan memandang Rumi dengan tatapan datar. Tampak jelas dari raut wajahnya bahwa ia pun tak sudi berada di sana. Kalau bukan karena keadaan yang memaksa, pantang baginya mengikuti pria brengsek yang selama tujuh tahun terakhir menjadi ayah tirinya. "Ini bercanda kan, Mas? Kamu nggak serius kan, Mas?" Dengan nada gemetaran, Rumi bertanya dan menatap suaminya, berharap bahwa semua itu sekadar bagian dari kejutan meskipun ulang tahunnya masih beberapa bulan lagi. Dalam situasi ini, bohong jika Abi tak merasa bersalah. Namun, mau bagaimana lagi? Semua sudah telanjur. Waktu itu, ia pun tak bisa menolak pesona seorang Amina. Kebaikan hatinya, kelembutannya, juga kecantikannya, meruntuhkan pertahanan hati yang sebelumnya terkunci untuk Rumi. "Maafkan aku, Rumi. Aku bersalah. Aku mengkhianati kamu dan Naya." Abi sedikit menunduk, sembari mengembuskan napas berat yang serasa mencekik tenggorokan. "Minggu lalu Amina kecelakaan, dan ... kemarin mengembuskan nafas terakhirnya. Itu sebabnya sekarang aku membawa Davin ke sini. Kuharap kamu bisa menerimanya, Rumi, karena selain aku, dia tidak punya siapa-siapa lagi," sambung Abi dengan wajah yang belum terangkat sepenuhnya. Minggu lalu, kemarin, dua hal yang kemudian membuat Rumi percaya bahwa semua itu bukan sekadar candaan. Minggu lalu, waktu di mana Abi pamit ke luar kota dengan tergesa-gesa. Katanya, ada urusan dengan teman lama, perihal pekerjaan yang konon bisa mendongkrak bisnis rumah makan mereka. Lantas kemarin, waktu di mana Abi sama sekali tidak menjawab pesan dan teleponnya. Pria itu seolah menghilang dan tidak memberi kabar, sampai detik ini, detik di mana ia justru pulang sambil membawa sisi kelam yang sekian lama berhasil disimpan rapi. "Kamu jahat, Mas! Kamu keterlaluan!" pekik Rumi. Suaranya nyaris tak terkontrol, demi menyadari bahwa pernikahan yang ia banggakan selama bertahun-tahun, ternyata rapuh tanpa ia sadari. "Maafkan aku, Rumi." "Apa kurangku selama ini, hah? Kurang apa aku menjadi istrimu?" bentak Rumi dengan mata yang berkaca-kaca. Tak sanggup lagi ia menahan sesak yang sedari tadi merebak. "Kamu tidak kurang apa-apa, Rumi, semua ini salahku." Abi bicara lirih, seraya melangkah mendekati istrinya. Akan tetapi, Rumi menggeleng kecewa. Ia kembali mundur dan menepis kasar tangan Abi yang hendak meraihnya. Ia tak sudi disentuh pria itu, pria yang entah sudah berapa kali menyentuh wanita lain tanpa sepengetahuannya. "Rumi, Sayang, aku—" "Tega kamu mengkhianati aku dan Naya! Bajingan kamu, Mas! Bajingan!" Sambil berteriak memaki, Rumi membalikkan badan dan hengkang dari hadapan suaminya. Ia berlari cepat menuju kamar dan membanting pintunya dengan keras. Tak mau lagi ditenangkan dengan sentuhan, pelukan, atau sekadar satu-dua kata. Selagi Abi masih menunduk penuh sesal, Davin menarik napas berat. Semua yang terjadi barusan, persis seperti yang ia bayangkan. Meski belum cukup dewasa untuk memahami konflik dalam pernikahan, tetapi dia cukup mengerti bahwa tak mungkin ada wanita yang dengan lapang dada menerima perselingkuhan suaminya, bahkan dipaksa pula menerima anak dari selingkuhannya itu. "Andai Mama nggak jatuh cinta pada pria brengsek ini." Davin membatin dengan tangan yang mengepal. Perasaannya jelas kesal dan kecewa. Namun, ia pun tak tahu pasti, kepada siapa kekesalan dan kekecewaan itu dilabuhkan. Pada ibu yang menurutnya bodoh ataukah pada ayah tiri yang menurutnya brengsek. Entah. Tak jauh dari kekacauan itu, seorang gadis yang baru saja menamatkan bangku SMA, membekap mulutnya sendiri di balik dinding penyekat antara ruang tamu dengan ruang keluarga. Dari detik awal dia ada di sana, menguping dan memahami apa yang terjadi pada keluarganya. Terkejut, tak percaya, dan berharap semua itu sekadar mimpi buruk yang akan berakhir saat ia bangun nanti. Akan tetapi, rasa sakit akibat terlalu kuat membekap mulut membuatnya sadar bahwa adegan demi adegan itu adalah nyata, membuatnya mengerti bahwa kini dirinya bukan lagi putri kesayangan sang ayah. Ia telah diduakan. Ia telah dikhianati sejak bertahun-tahun yang lalu. Rasa percaya dan kagum pada sosok ayah, sekarang perlahan runtuh dan menyisakan puing-puing luka yang entah kapan sembuhnya. Terlampau keras badai kehidupan menghempas tubuhnya, hingga kini tak mampu melakukan apa pun selain diam dan menangis. Tak bisa menenangkan sang ibunda yang barusan berlari dengan burai air mana, tak bisa memaki sang ayah yang teramat kejam, pun tak bisa mengusir lelaki asing yang di matanya berdiri tanpa rasa bersalah. Bersambung....Hampir petang, Kanaya baru tiba di rumahnya. Mobil Abi belum terlihat di garasi. Rumi pula entah mengurung diri di kamar atau pergi. Suasana rumah begitu sunyi, bahkan sebagian lampunya dibiarkan mati."Ma! Mama! Ma!"Kanaya mencoba memanggil sambil mengetuk pintu kamar berulang kali. Meski tadi pagi sempat kecewa, tetapi detik ini ia berharap Rumi kembali seperti sedia kala.Namun sayang, Kanaya malah tak mendapat jawaban sedikit pun. Tetap hening yang membungkus setiap jeda panggilannya."Ma! Mama di dalam nggak?" teriak Kanaya sekali lagi.Ia pandangi kembali pintu yang tertutup rapat itu. Pintu yang tak bisa dibuka karena dikunci, entah dari dalam atau dari luar. Pintu yang tak tahu menyembunyikan seseorang atau tidak dalam sana. Hanya satu yang kini Kanaya tahu, lampu di kamar itu tidak menyala, terlihat dari lubang kecil di bawah pintu."Tante Rumi barusan pergi."Ketika Kanaya masih menunduk murung, suara berat lelaki yang ia benci mengusiknya. Ia pun langsung membalikkan badan
Kanaya meradang saat menyadari kenyataan di depan mata. Beberapa bulan lalu, saat dirinya belum resmi lulus dari bangku SMA, ia berulang kali mengatakan ingin kuliah di Universitas Trijaya. Namun, sang ayah ngotot memintanya kuliah di Universitas Dharma Bangsa—universitas yang kini dia pijak.'Fakultas Ekonomi di Dharma Bangsa lebih menonjol, Sayang. Bakat dan kualitas dirimu akan lebih terasah jika kuliah di sana.''Tapi, kampusnya lebih jauh, Pa, dan teman-teman dekatku juga nggak ada yang kuliah di sana. Andini dan Mireya aja mau kuliah di Trijaya.''Sayang, kuliah itu kan demi masa depan kamu. Jadi jangan terpengaruh oleh teman. Toh nanti di tempat baru, kamu pasti juga dapat teman lagi. Dan soal jarak, bedanya itu tidak seberapa, Sayang. Waktu tempuhnya hanya selisih beberapa menit, tidak akan membuatmu repot. Percayalah sama Papa, ini yang terbaik untuk kamu, Sayang.''Baiklah.'Kala itu, Kanaya mengalah dan mengikuti arahan sang ayah. Beruntung Mireya akhirnya ikut berubah piki
"Lo beneran nggak apa-apa, Nay?"Mireya melontarkan pertanyaan untuk kesekian kalinya. Di sela-sela fokusnya memegang kemudi mobil, ia kerap kali menoleh meski hanya sekilas, sekadar untuk menatap Kanaya dan memastikan dia baik baik saja. Namun sayang, berulang kali memastikan, Kanaya tetap tidak terlihat baik.Gadis yang biasanya ceria dan banyak bicara, pagi itu sekadar diam. Sejak keluar dari rumah sampai kini sudah puluhan menit berkendara, hanya satu dua patah kata yang keluar dari bibir Kanaya. Itu pun terkesan dingin, datar, dan dipaksakan. Senyum, jangan ditanya. Sedikit pun tidak ada, malah tatapan kosong dan helaan napas berat yang berulang kali terlihat.Bahkan kini saat Mireya melayangkan pertanyaan lagi, Kanaya sekadar menanggapinya dengan gelengan. Tanpa menoleh, tanpa tersenyum, tanpa bicara."Tapi, sikap lo berkata sebaliknya. Lo kayak lagi ada masalah berat, Nay." Mireya melirik Kanaya lagi. "Memendam sesuatu sendirian itu nggak enak. Ada baiknya berbagi biar beban lo
Jarum jam sudah menunjuk angka dua belas tepat. Namun, sosok Rumi belum juga muncul di rumahnya. Abi menunggu dengan sangat resah. Bolak-balik ke halaman depan dan ke kamar, sembari menatap detik waktu yang terus berjalan."Ke mana Rumi?"Satu pertanyaan yang nyaris tergumam dalam batin dalam setiap hela napas. Sampai ia gagal berangkat kerja, karena menunggu kedatangan sang istri. Berkali-kali dia mencoba menghubungi, tetapi tak bisa. Nomor Rumi di luar jangkauan. Entah ponselnya sengaja dimatikan atau nomor Abi yang sudah diblokir. Abi tak tahu dan tak kunjung menemukan jawaban atas kebingungannya itu.Di sisi yang berbeda, Kanaya dan Davin juga belum keluar dari kamar. Rupanya kehancuran dan kekecewaan mengikis rasa lapar yang seharusnya mendera sejak pagi.Ah!Sekali lagi Abi mendesah berat. Melirik kembali pintu utama yang tak menunjukkan tanda-tanda kedatangan Rumi."Ke mana kamu, Sayang? Sudah setengah hari, kenapa belum pulang?" Abi bicara seorang diri, seraya mengusap kasar
Sendok dan piring berdenting pelan di ruang makan rumah Abi. Tidak ada Kanaya. Tidak ada Rumi. Hanya Abi dan Davin yang menempati kursi di sana, berhadapan dan menyantap sarapan masing-masing.Sesekali Davin melirik Abi, menilik jeli ekspresi pria itu. Adakah penyesalan, kesedihan, ataukah kehancuran atas apa yang telah terjadi. Namun nyatanya, gestur wajah pria tersebut tetap tenang, melahap nikmat sarapannya seolah tak pernah terjadi apa-apa."Lihatlah, Ma, pria yang kau sanjung-sanjung selama ini, sedikit pun nggak menyesal meski telah menghancurkan hati istri dan anaknya. Dia menempatkanku di posisi yang sangat sulit. Andai Mama masih ada di sini, yakin Mama nggak menyesali keputusan Mama untuk hidup bersamanya selama ini?" batin Davin dengan perasaan muak. Saking muaknya, sampai-sampai tak ada lagi keinginan untuk menelan sarapan.Nasi dan lauk yang nikmat itu sekadar diaduk-aduk. Genggaman tangannya sangat erat di gagang sendok, membayangkan itu adalah kepala Abi dan ia siap mer
Waktu sudah masuk dini hari, tetapi gadis manis yang bernama Kanaya Almaira itu masih duduk diam di kursi kamarnya. Tak ada yang ia lakukan, sekadar menatap kosong pada sebingkai foto keluarga yang di dalamnya saling memamerkan tawa.'Kenapa harus Papa?'Tiga kata yang sejak beberapa jam lalu memenuhi pikiran. Kalut dan hancur membuatnya mempertanyakan peran takdir. Mengapa harus ayahnya? Dari sekian banyak pria di dunia, mengapa pelaku perselingkuhan itu harus ayahnya?Sekilas, bayangan-bayangan manis dari minggu dan bulan sebelumnya muncul kembali dalam ingatan. Kebersamaan antara dirinya bersama ibu dan ayah, tak pernah lepas dari senyum dan pelukan hangat. Meski sudah remaja, ia tetap dekat dan senang bermanja pada ayahnya. Ia adalah putri tunggal kesayangan yang hidupnya kerap didambakan oleh gadis-gadis lain di luar sana.'Tapi ... sekarang semua sudah berakhir.'Ya, berakhir. Tawa dan kasih sayang yang ditunjukkan ayahnya selama ini, nyatanya palsu. Di belakang sana, pria itu m







