แชร์

Kebejatan Lain

ผู้เขียน: Gresya Salsabila
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-08 14:48:27

Kanaya meradang saat menyadari kenyataan di depan mata. Beberapa bulan lalu, saat dirinya belum resmi lulus dari bangku SMA, ia berulang kali mengatakan ingin kuliah di Universitas Trijaya. Namun, sang ayah ngotot memintanya kuliah di Universitas Dharma Bangsa—universitas yang kini dia pijak.

'Fakultas Ekonomi di Dharma Bangsa lebih menonjol, Sayang. Bakat dan kualitas dirimu akan lebih terasah jika kuliah di sana.'

'Tapi, kampusnya lebih jauh, Pa, dan teman-teman dekatku juga nggak ada yang kuliah di sana. Andini dan Mireya aja mau kuliah di Trijaya.'

'Sayang, kuliah itu kan demi masa depan kamu. Jadi jangan terpengaruh oleh teman. Toh nanti di tempat baru, kamu pasti juga dapat teman lagi. Dan soal jarak, bedanya itu tidak seberapa, Sayang. Waktu tempuhnya hanya selisih beberapa menit, tidak akan membuatmu repot. Percayalah sama Papa, ini yang terbaik untuk kamu, Sayang.'

'Baiklah.'

Kala itu, Kanaya mengalah dan mengikuti arahan sang ayah. Beruntung Mireya akhirnya ikut berubah pikiran. Setelah tahu keputusan Kanaya yang akan kuliah di Universitas Dharma Bangsa, Mireya pun turut ke sana.

'Kuliah nggak akan ada semangatnya kalau nggak ada lo, Nay. Jadi daripada gue malas masuk kelas, mending ngikut daftar ke kampus inceran lo aja, biar kita sama-sama terus.'

Terlintas lagi dalam ingatan Kanaya, ekspresi Mireya yang tertawa nyengir saat ikut-ikutan daftar di kampus yang sama dengannya. Dulu Kanaya senang bukan main, banyak-banyak mengucap syukur karena akhirnya ada di teman di sana.

Namun kini, segalanya berubah. Rasa bahagia dan segala macamnya raib seketika. Tersisa perasaan perih dan miris yang mengiris hati, menyadari bahwa alasan ayahnya ternyata bukan pada kualitas kampus, melainkan pada sosok lelaki yang kini ada di hadapannya.

Kanaya dipaksa kuliah di sana, pasti karena lelaki itu juga kuliah di sana, entah sebagai teman seangkatan atau kakak tingkat. Namun, satu yang hal yang Kanaya yakini, mereka pasti berada di fakultas yang sama. Buktinya, Davin juga berada di kantin Fakultas Ekonomi. Tidak mungkin dia lintas gedung hanya untuk sekadar membeli roti dan teh.

"Jadi lo kuliah di sini?"

Tanpa disadari oleh Kanaya sendiri, langkah kaki sudah membawanya tepat ke hadapan Davin. Dengan dorongan amarah yang membuncah, dia bertanya dengan nada dingin dan datar. Tak ada kehangatan atau kesan bersahabat, justru kebencian yang begitu kuat tersirat.

Sebaliknya, Davin justru lebih tenang menghadapi Kanaya. Ia tak menjawab pertanyaan barusan. Baginya memang tak perlu ia menjawab, keberadaannya sudah lebih dari cukup untuk menjadi sebuah jawaban.

"Selamat ya, lo udah berhasil hancurin hidup gue! Keluarga gue berantakan gara-gara lo! Puas kan lo sekarang? Dasar anak gun-dik!" umpat Kanaya sambil melotot tajam.

Di balik diamnya, Davin mengepalkan tangan dengan kuat. Ia tak rela ibunya dihina, tetapi ia juga sadar ibunya memang salah.

"Dasar ba-jingan! Bang-sat lo!" Kali ini bukan hanya umpatan. Kanaya memaki sambil mendorong kasar tubuh Davin, melampiaskan rasa benci yang sejak kemarin malam masih dipendam.

Usai melakukan itu, Kanaya berbalik pergi, meninggalkan Davin dan meninggalkan sisa bubur yang masih hangat di mejanya.

"Yang menghancurkan hidupmu adalah ayahmu sendiri. Andai kamu tahu semuanya, kamu pasti jauh lebih hancur dari ini," batin Davin sambil menatap kepergian Kanaya dengan perasaan iba.

***

'Rumah Makan Arumi'

Nama usaha yang dikelola Abi selama puluhan tahun ini. Di mata publik, ia terlihat seperti suami yang sangat mencintai istrinya. Namanya diabadikan dalam sebuah usaha, dipampang besar di depan bangunan yang sejak beberapa tahun terakhir direnovasi menjadi lebih mewah dan megah.

Di kalangan rekan-rekannya, Abi mengembangkan usahanya dengan jerih payah pribadi. Tanpa ada yang tahu bahwa ada suntikan dana yang cukup besar dari Amina, alias istri simpanannya.

Awalnya Abi sangat bahagia dengan suntikan dana tersebut. Karena dengan itu, omzet usahanya naik drastis, hingga tak kesulitan lagi memberikan jatah besar untuk Amina, termasuk membelikan motor gede untuk Davin, tanpa membuat Rumi curiga.

Namun sekarang, kepergian Amina mengharuskan dirinya membawa Davin dan bertanggung jawab penuh atas hidup lelaki itu. Sesuatu yang rumit. Bukan perkara materi yang harus dikeluarkan, melainkan keberadaannya yang pasti akan menimbulkan perselisihan lagi selain dengan Rumi dan Kanaya.

Ah!

Abi mengusap kasar wajahnya. Di dalam ruangan pribadi, di depan lembaran-lembaran laporan penjualan dan kas keuangan, ia benar-benar pening. Pikiran tak bisa lagi bekerja, malang melintang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi dalam hidupnya, dalam waktu dekat.

Benar saja. Tak berlangsung lama, ponsel di mejanya berdering. Ada panggilan masuk dari kontak yang ia simpan tanpa nama.

Abi men-desah berat, lantas menjawab panggilan tersebut juga dengan berat hati.

"Nana ... bagaimana kabarmu?" Abi bertanya setenang mungkin, berlagak tak ada masalah apa pun di hidupnya.

"Setelah berhari-hari mengabaikan semua pesan dan panggilan dariku, sekarang kamu ingat untuk bertanya kabar, Mas?"

"Nana, maaf. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk, benar-benar tidak ada waktu untuk memegang ponsel. Istirahat saja hanya ala kadarnya. Maaf ya."

Dari seberang sana, wanita yang dipanggil Nana tertawa sumbang. "Alasanmu basi banget, Mas!" ejeknya.

Abi terdiam. Alasan barusan memang payah, wajar jika Nana tidak percaya.

"Aku nggak pernah menuntut uang darimu ya, Mas. Aku juga nggak menuntut menggantikan posisi Mbak Rumi. Aku cuma mau perhatian kamu dan kepedulian kamu. Terutama untuk anak kita! Paham kan, Mas?"

Mendengar sebutan 'anak kita', Abi memejam kuat. Terbayang lagi wajah anak kandungnya dengan Nana, yang tentu saja tanpa sepengetahuan Rumi dan Kanaya.

Dari segi ekonomi, Nana jauh lebih kaya darinya. Tak sekali pun wanita itu meminta uang darinya, tak pernah membuatnya pusing membagi jatah bulanan. Namun, Nana juga bukan wanita yang mudah dibujuk seperti Amina. Sekali wanita itu marah, akibatnya bisa fatal.

"Aku tanya sekali lagi, Mas, ada apa? Jangan sampai aku mencari tahu sendiri jawabannya!" ucap Nana lagi, masih dengan nada tinggi.

Sementara Abi hanya bisa diam, membisu dalam pikiran dan perasaan yang tak menentu.

"Aku bisa terima hubunganmu dengan Mbak Rumi dan Kanaya, tapi nggak dengan wanita lain. Sekali saja kamu mengkhianati aku dan anakku, tahu sendiri akibatnya, Mas!"

Bersambung...

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Nasi Goreng Misteri

    Hampir petang, Kanaya baru tiba di rumahnya. Mobil Abi belum terlihat di garasi. Rumi pula entah mengurung diri di kamar atau pergi. Suasana rumah begitu sunyi, bahkan sebagian lampunya dibiarkan mati."Ma! Mama! Ma!"Kanaya mencoba memanggil sambil mengetuk pintu kamar berulang kali. Meski tadi pagi sempat kecewa, tetapi detik ini ia berharap Rumi kembali seperti sedia kala.Namun sayang, Kanaya malah tak mendapat jawaban sedikit pun. Tetap hening yang membungkus setiap jeda panggilannya."Ma! Mama di dalam nggak?" teriak Kanaya sekali lagi.Ia pandangi kembali pintu yang tertutup rapat itu. Pintu yang tak bisa dibuka karena dikunci, entah dari dalam atau dari luar. Pintu yang tak tahu menyembunyikan seseorang atau tidak dalam sana. Hanya satu yang kini Kanaya tahu, lampu di kamar itu tidak menyala, terlihat dari lubang kecil di bawah pintu."Tante Rumi barusan pergi."Ketika Kanaya masih menunduk murung, suara berat lelaki yang ia benci mengusiknya. Ia pun langsung membalikkan badan

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Kebejatan Lain

    Kanaya meradang saat menyadari kenyataan di depan mata. Beberapa bulan lalu, saat dirinya belum resmi lulus dari bangku SMA, ia berulang kali mengatakan ingin kuliah di Universitas Trijaya. Namun, sang ayah ngotot memintanya kuliah di Universitas Dharma Bangsa—universitas yang kini dia pijak.'Fakultas Ekonomi di Dharma Bangsa lebih menonjol, Sayang. Bakat dan kualitas dirimu akan lebih terasah jika kuliah di sana.''Tapi, kampusnya lebih jauh, Pa, dan teman-teman dekatku juga nggak ada yang kuliah di sana. Andini dan Mireya aja mau kuliah di Trijaya.''Sayang, kuliah itu kan demi masa depan kamu. Jadi jangan terpengaruh oleh teman. Toh nanti di tempat baru, kamu pasti juga dapat teman lagi. Dan soal jarak, bedanya itu tidak seberapa, Sayang. Waktu tempuhnya hanya selisih beberapa menit, tidak akan membuatmu repot. Percayalah sama Papa, ini yang terbaik untuk kamu, Sayang.''Baiklah.'Kala itu, Kanaya mengalah dan mengikuti arahan sang ayah. Beruntung Mireya akhirnya ikut berubah piki

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Kampus Yang Sama

    "Lo beneran nggak apa-apa, Nay?"Mireya melontarkan pertanyaan untuk kesekian kalinya. Di sela-sela fokusnya memegang kemudi mobil, ia kerap kali menoleh meski hanya sekilas, sekadar untuk menatap Kanaya dan memastikan dia baik baik saja. Namun sayang, berulang kali memastikan, Kanaya tetap tidak terlihat baik.Gadis yang biasanya ceria dan banyak bicara, pagi itu sekadar diam. Sejak keluar dari rumah sampai kini sudah puluhan menit berkendara, hanya satu dua patah kata yang keluar dari bibir Kanaya. Itu pun terkesan dingin, datar, dan dipaksakan. Senyum, jangan ditanya. Sedikit pun tidak ada, malah tatapan kosong dan helaan napas berat yang berulang kali terlihat.Bahkan kini saat Mireya melayangkan pertanyaan lagi, Kanaya sekadar menanggapinya dengan gelengan. Tanpa menoleh, tanpa tersenyum, tanpa bicara."Tapi, sikap lo berkata sebaliknya. Lo kayak lagi ada masalah berat, Nay." Mireya melirik Kanaya lagi. "Memendam sesuatu sendirian itu nggak enak. Ada baiknya berbagi biar beban lo

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Perubahan Sikap Rumi

    Jarum jam sudah menunjuk angka dua belas tepat. Namun, sosok Rumi belum juga muncul di rumahnya. Abi menunggu dengan sangat resah. Bolak-balik ke halaman depan dan ke kamar, sembari menatap detik waktu yang terus berjalan."Ke mana Rumi?"Satu pertanyaan yang nyaris tergumam dalam batin dalam setiap hela napas. Sampai ia gagal berangkat kerja, karena menunggu kedatangan sang istri. Berkali-kali dia mencoba menghubungi, tetapi tak bisa. Nomor Rumi di luar jangkauan. Entah ponselnya sengaja dimatikan atau nomor Abi yang sudah diblokir. Abi tak tahu dan tak kunjung menemukan jawaban atas kebingungannya itu.Di sisi yang berbeda, Kanaya dan Davin juga belum keluar dari kamar. Rupanya kehancuran dan kekecewaan mengikis rasa lapar yang seharusnya mendera sejak pagi.Ah!Sekali lagi Abi mendesah berat. Melirik kembali pintu utama yang tak menunjukkan tanda-tanda kedatangan Rumi."Ke mana kamu, Sayang? Sudah setengah hari, kenapa belum pulang?" Abi bicara seorang diri, seraya mengusap kasar

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Ke Mana Rumi?

    Sendok dan piring berdenting pelan di ruang makan rumah Abi. Tidak ada Kanaya. Tidak ada Rumi. Hanya Abi dan Davin yang menempati kursi di sana, berhadapan dan menyantap sarapan masing-masing.Sesekali Davin melirik Abi, menilik jeli ekspresi pria itu. Adakah penyesalan, kesedihan, ataukah kehancuran atas apa yang telah terjadi. Namun nyatanya, gestur wajah pria tersebut tetap tenang, melahap nikmat sarapannya seolah tak pernah terjadi apa-apa."Lihatlah, Ma, pria yang kau sanjung-sanjung selama ini, sedikit pun nggak menyesal meski telah menghancurkan hati istri dan anaknya. Dia menempatkanku di posisi yang sangat sulit. Andai Mama masih ada di sini, yakin Mama nggak menyesali keputusan Mama untuk hidup bersamanya selama ini?" batin Davin dengan perasaan muak. Saking muaknya, sampai-sampai tak ada lagi keinginan untuk menelan sarapan.Nasi dan lauk yang nikmat itu sekadar diaduk-aduk. Genggaman tangannya sangat erat di gagang sendok, membayangkan itu adalah kepala Abi dan ia siap mer

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Kanaya Almaira

    Waktu sudah masuk dini hari, tetapi gadis manis yang bernama Kanaya Almaira itu masih duduk diam di kursi kamarnya. Tak ada yang ia lakukan, sekadar menatap kosong pada sebingkai foto keluarga yang di dalamnya saling memamerkan tawa.'Kenapa harus Papa?'Tiga kata yang sejak beberapa jam lalu memenuhi pikiran. Kalut dan hancur membuatnya mempertanyakan peran takdir. Mengapa harus ayahnya? Dari sekian banyak pria di dunia, mengapa pelaku perselingkuhan itu harus ayahnya?Sekilas, bayangan-bayangan manis dari minggu dan bulan sebelumnya muncul kembali dalam ingatan. Kebersamaan antara dirinya bersama ibu dan ayah, tak pernah lepas dari senyum dan pelukan hangat. Meski sudah remaja, ia tetap dekat dan senang bermanja pada ayahnya. Ia adalah putri tunggal kesayangan yang hidupnya kerap didambakan oleh gadis-gadis lain di luar sana.'Tapi ... sekarang semua sudah berakhir.'Ya, berakhir. Tawa dan kasih sayang yang ditunjukkan ayahnya selama ini, nyatanya palsu. Di belakang sana, pria itu m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status