INICIAR SESIÓNJarum jam sudah menunjuk angka dua belas tepat. Namun, sosok Rumi belum juga muncul di rumahnya. Abi menunggu dengan sangat resah. Bolak-balik ke halaman depan dan ke kamar, sembari menatap detik waktu yang terus berjalan.
"Ke mana Rumi?" Satu pertanyaan yang nyaris tergumam dalam batin dalam setiap hela napas. Sampai ia gagal berangkat kerja, karena menunggu kedatangan sang istri. Berkali-kali dia mencoba menghubungi, tetapi tak bisa. Nomor Rumi di luar jangkauan. Entah ponselnya sengaja dimatikan atau nomor Abi yang sudah diblokir. Abi tak tahu dan tak kunjung menemukan jawaban atas kebingungannya itu. Di sisi yang berbeda, Kanaya dan Davin juga belum keluar dari kamar. Rupanya kehancuran dan kekecewaan mengikis rasa lapar yang seharusnya mendera sejak pagi. Ah! Sekali lagi Abi mendesah berat. Melirik kembali pintu utama yang tak menunjukkan tanda-tanda kedatangan Rumi. "Ke mana kamu, Sayang? Sudah setengah hari, kenapa belum pulang?" Abi bicara seorang diri, seraya mengusap kasar wajahnya yang makin kusut. Tak beda jauh dengan Abi, di kamarnya, Kanaya juga mencemaskan kepergian ibunya. Dia yang tadi sedang menangis di dekat jendela, melihat jelas kedatangan taksi yang kemudian membawa Rumi pergi. Sampai detik ini Kanaya belum beranjak dari tempatnya. Selain meratapi kehancuran diri, dia juga menanti kepulangan Rumi dan memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Namun sayang, waktu yang terus bergulir justru membuatnya makin resah dan gelisah. Entah sudah yang keberapa kalinya Kanaya mencoba menelepon Rumi. Alih-alih bisa berbincang panjang atau sekadar menyapa sekilas, sejak tadi hanya operator yang menjawab semua panggilannya. "Mama ke mana? Mama nggak pergi ninggalin aku, kan? Aku nggak mau di sini sendirian sama Papa, Ma. Aku butuh Mama," ratap Kanaya sambil menatap kembali layar ponselnya, yang sungguh sial tetap membuatnya kecewa. Pun saat menatap pintu gerbang di bawah sana, tetap hampa. Tak ada tanda-tanda kedatangan Rumi di sana. Sampai tengah hari berlalu. Terik surya tak lagi ada, tersisa senja yang membungkus kota, Rumi tak jua menapakkan kaki di rumahnya. Penantian Kanaya belum berujung. Keresahan masih membalut jiwanya, mendekap tubuh yang hingga kini masih betah mematung di dekat jendela. Tanpa makan, tanpa mandi. Tak ada lagi rasa lapar, tak ada pula rasa risih meski keringat dan air mata mengotori diri. "Mama ...." Kesekian kalinya bibir Kanaya menggumam lirih. Berharap semesta menaruh iba dan memberikan jawaban sesuai yang ia inginkan. Akan tetapi, sampai malam menjelang, semesta tak jua berpihak. Gelap dan gerimis di luar seakan malah sengaja menghapus jejak Rumi dari rumah tersebut. "Nggak! Nggak mungkin Mama pergi ninggalin aku. Mama pasti pulang." Di tengah rasa frustrasi, Kanaya menggeleng-geleng. Lantas mendekap tubuhnya sendiri dan mencoba meyakinkan hati bahwa ibunya pasti kembali. Pasti! *** Tepat pukul 08.00 pagi, Kanaya terjaga dari tidur lelahnya. Masih dengan posisi semalam—duduk bersandar di kursi dekat jendela—tanpa selimut, tanpa bantal. Leher dan punggungnya terasa nyeri, kepala pening, mata berat dan sedikit berkunang-kunang. Mungkin kurang tidur, mungkin pula karena perut kosong sejak kemarin. Dalam kondisi yang masih buruk, Kanaya tak langsung beranjak. Ia lebih dulu meraih ponsel dan melihat pesan-pesan yang ia kirim untuk Rumi. Sayangnya satu pun belum ada yang terkirim. Artinya, sampai saat ini nomor Rumi masih tidak aktif. Di tengah desa-han yang berat, syarat akan kekecewaan, Kanaya membuka rentetan pesan dari sahabat karibnya—Mireya. 'Nay, ke mana aja? Dari kemarin lo nggak ada kabar. Masih hidup, kan?' 'Jangan lupa, hari ini kita ke kampus buat verifikasi data.' 'Jam setengah sembilan gue jemput lo. Ogah nunggu ya. Gue nyampe sana, lo harus udah siap.' 'Nggak ada protes!' 'Buruan!' Kanaya mendesah lagi. Ia hampir lupa kalau hari ini harus datang ke kampus. Sungguh, waktu yang sangat tidak tepat. Andai saja bisa diundur barang beberapa hari ke depan. Namun, peraturan tetaplah peraturan. Kanaya tidak ada power untuk bertingkah sesuka hati, kecuali siap didepak dari kampus tersebut. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus bangkit dan bersiap. Dimulai dari membersihkan diri, sampai turun ke dapur untuk membuat sesuatu yang bisa mengganjal perut. 'Ada nasi dan sup ayam di meja, makanlah! Hari ini Papa kerja, kamu baik-baik ya di rumah. Oh ya, kabari Papa kalau mamamu sudah pulang.' Secarik kertas tertempel di pintu kulkas. Coretan tangan Abi. Meski masih kesal dan tak suka, tetapi Kanaya tetap menuruti arahannya. Berjalan menuju meja makan dan menyantap sarapan yang ditinggalkan sang ayah. Entah beli, entah masak sendiri, Kanaya tak peduli. Yang penting pagi ini perutnya yang keroncongan bisa terisi. Satu hal baik, Kanaya tidak melihat batang hidung Davin pagi itu. Baguslah. Apalagi jika minggat selamanya, malah jauh lebih bagus. "Tinggal nungguin Mama. Semoga aja Mama cepat pulang, karena mau nyari, aku juga nggak tahu harus nyari ke mana. Selama ini Mama nggak punya teman dekat, saudara juga adanya di luar kota. Saudara di sini, semua dari Papa, dan nggak mungkin Mama mendatangi mereka." Sembari menyuap sarapannya, batin Kanaya terus bicara. Sampai kemudian, batin dan kunyahan itu berhenti dengan sendirinya saat terdengar langkah kaki memasuki rumah. Langkah itu agak terburu-buru, tetapi Kanaya sangat mengenalinya. Itu langkah Rumi, bukan Abi ataupun si asing Davin. Sontak, Kanaya beranjak. Lantas mendatangi sumber suara dengan setengah berlari. "Mama!" panggilnya dengan antusias. Mata Kanaya berbinar senang saat mendapati sosok Rumi di sana. Ibunya pulang. Ibunya tidak pergi. "Mama baik-baik aja, kan?" Tanpa ragu Kanaya mendekati Rumi dan menggenggam kedua tangannya. Dalam hening beberapa detik, Kanaya bermaksud memeluk ibunya seerat mungkin, sebagai bentuk dukungan atas apa yang telah terjadi, juga sebagai bukti bahwa dirinya akan selalu berada di sisi Rumi. Namun, niat Kanaya itu malah hilang dalam sekejap. Tanpa bisa dipahami, Rumi tiba-tiba menghindar dan melepaskan genggaman Kanaya. "Mama capek," ucapnya singkat, seraya meninggalkan Kanaya seorang diri. "Ma! Mama! Tunggu, Ma!" Teriakan Kanaya bagai angin lalu, sedikit pun tidak menyurutkan langkah Rumi yang makin menjauh. Bagai tak melihat kehadiran Kanaya barusan, Rumi melenggang memasuki kamar, persetan dengan Kanaya yang kini mulai berkaca-kaca. "Ada apa dengan Mama?" Bersambung...."Aku udah tahu semuanya, Ma."Setelah keduanya saling mengurai pelukan dan kemudian duduk berdampingan di kursi usang, di dalam ruang tamu tersebut, Kanaya mulai membuka pembicaraan.Kepalanya masih tertunduk, sesak tak terkira dan seakan tak kuasa jika beradu tatap dengan ibunya. Sekadar tangannya yang begitu erat menggenggam jemari Rumi, yang kini jauh lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu."Siapa yang memberitahumu, Nak?" tanya Rumi dengan lirih.Entah bagaimana perasaannya kala itu. Antara lega, terharu, sedih, dan menyesal, bercampur menjadi satu. Membuatnya canggung dan hampir tak mengerti harus melakukan apa.Kanaya pun, detik itu ada di posisi yang sama. Ia tak ingin memberitahukan tentang Diana, tetapi ia juga tak bisa menutupinya dengan kebohongan. Alhasil, Kanaya sekadar diam dengan kepala yang masih setia menunduk.Melihat diamnya Kanaya, Rumi mulai bisa menebak. Pastilah Diana, seseorang di balik ini semua. Hanya dia, satu-satunya orang yang paling paham deng
Sudah tiga jam lebih Kanaya menunggu. Lima gelas iced coffee sudah dia pesan, pun sudah dihabiskan. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan Diana di sana.Kanaya mulai was-was. Apa jangan-jangan wanita itu tidak serius dengan pesannya tadi? Atau ... mungkinkah niat itu terlebih dahulu diketahui ibunya?"Ahh!"Kanaya mende-sah panjang. Gelas terakhir sudah tandas dari dua menit lalu. Haruskah ia memesan lagi sekarang? Atau lebih baik ia pulang? Mungkin saja penantian itu memang tidak akan berujung baik."Coba aku tanyain aja deh, dia jadi datang atau nggak," batin Kanaya.Lantas ia nyalakan lagi ponselnya dan kembali membuka pesan dari Diana.Namun, baru saja ia mengetik sedikit pesan, bahkan belum sempat dikirim, seseorang datang memangilnya. Saat Kanaya mendongak, ternyata Diana yang datang."Maaf ya kamu menunggu lama. Tadi setelah sidang, aku masih mengantar Rumi pulang," ucap Diana sembari menatap bekas gelas di hadapan Kanaya.Sebenarnya ia pun tak menyangka gadis itu akan datang
"Mana papamu?"Satu pertanyaan dingin dan datar meluncur dari bibir Rumi. Alih-alih menanyakan kabar Kanaya, justru hal itulah yang ia tanyakan.Di depannya, Kanaya menatap miris. Dalam pikirannya muncul satu pertanyaan yang begitu mengusik.Sebenci itukah Rumi terhadap dirinya? Sampai-sampai pertemuan mereka saat ini layaknya dua orang asing yang tak ada ikatan apa pun."Papa nggak akan datang, Ma."Rumi mengernyitkan kening. Agak heran dengan jawaban Kanaya, karena yang dia tahu Abi tak pernah setuju dengan perceraian tersebut. Jadi, mana mungkin pria itu tidak datang."Aku yang menerima surat panggilannya, dan aku nggak menyampaikan itu ke Papa. Aku melakukan ini karena tahu Mama sangat mengharapkan perceraian. Aku cuma berniat bantuin Mama," lanjut Kanaya.Rumi sedikit tersentak dengan jawaban barusan. Tak disangka Kanaya akan berbuat sejauh itu untuknya. Namun, Rumi berusaha keras menyembunyikan gestur asli wajahnya. Ia tetap memasang tampang datar agar Kanaya berhenti berharap.
Sudah dua hari berlalu, tetapi surat panggilan sidang untuk ayahnya masih berada di tangan Kanaya. Sedikit pun gadis itu belum mengungkitnya. Bahkan terhadap Davin, ia juga masih bungkam. Entahlah. Kanaya masih betah menyimpannya sendiri.Malam ini, Kanaya yang sedang dilanda bimbang, memutuskan untuk mengirim pesan pada Davin yang kala itu sudah masuk ke kamarnya sendiri.'Kak, udah tidur belum?'Sampai beberapa saat, tak ada balasan darinya. Kanaya sempat mengira mungkin Davin sudah tidur. Namun ternyata, lelaki itu justru datang dan mengetuk pintu kamarnya.Kanaya langsung bangkit dan bergegas membuka pintu, menemui lelaki yang merangkap kakak tiri sekaligus kekasihnya itu."Kamu tadi katanya ngantuk. Kok belum tidur? Kenapa, hmm?" tanya Davin ketika keduanya sudah saling berhadapan di ambang pintu."Nggak tahu, Kak. Pas dibawa rebahan, ngantuknya malah ilang," jawab Kanaya setengah berbohong. Sebenernya, dari awal masuk ke kamar sekitar setengah jam lalu, sedikit pun tak ada rasa
Keesokan harinya, seperti biasa Abi ke rumah makan sejak pagi dan akan pulang paling awal menjelang petang. Sementara Davin, dia ada kelas sampai sore. Hanya Kanaya yang siang itu sudah pulang dan berdiam diri di rumah, tanpa teman.Kanaya pun mengurung diri di kamar, mengisi waktu luang yang membosankan dengan membaca komik online. Meski itu bukan hobinya, tetapi daripada diam dan tak melakukan apa-apa, lebih suntuk lagi.Setelah hampir setengah jam berbaring tengkurap sambil menatap layar ponsel, tiba-tiba Kanaya dikejutkan dengan suara bel rumahnya."Siapa yang datang siang-siang gini?" gumam Kanaya sambil bangkit dari posisinya. Lantas, turun dari ranjang dan berjalan ke arah jendela.Ya, alih-alih langsung membukakan pintu, Kanaya justru mengintipnya terlebih dahulu dari dalam kamar.Di bawah sana, tepat di depan pintu gerbang rumahnya, dua pria dengan jas dan setelan formal tampak berdiri menunggu.Kanaya mengernyitkan kening. Dua sosok itu sangat asing. Ia saka sekali tidak men
Lewat petang Davin dan Kanaya baru tiba di rumah. Namun, masih aman. Abi pulang setelah satu jam mereka datang. Keduanya sudah membersihkan diri dan sudah menyiapkan makan malam. Jadi, tak ada yang mencurigakan.Kepergian mereka seharian penuh, semua kenangan yang terjadi di pantai pinggiran kota itu, hanya mereka berdua yang tahu. Abi yang sibuk dengan hidupnya, sedikit pun tak mengerti bahwa kini anak gadisnya telah mengenal cinta. Cinta dari seorang lelaki yang ia hadirkan sendiri, yang setiap hari tinggal di bawah atap yang sama."Buruan mandi, Pa. Nanti kita makan malam bareng. Aku udah masak sup ayam jamur, Pa," sambut Kanaya saat melihat ayahnya datang malam itu.Andai perhatiannya tidak terbagi dengan anak dan wanita di luar sana, seharusnya Abi peka dengan sikap Kanaya yang berbeda. Anak gadis yang biasanya tak pernah menyambut jika tidak ada kepentingan, malah terkadang memasang tampang masam, hari itu menyambut dengan senyum hangat. Bahkan, wajahnya tampak berseri-seri.Bod







