Share

Kampus Yang Sama

last update publish date: 2026-08-12 06:45:37

"Lo beneran nggak apa-apa, Nay?"

Mireya melontarkan pertanyaan untuk kesekian kalinya. Di sela-sela fokusnya memegang kemudi mobil, ia kerap kali menoleh meski hanya sekilas, sekadar untuk menatap Kanaya dan memastikan dia baik baik saja. Namun sayang, berulang kali memastikan, Kanaya tetap tidak terlihat baik.

Gadis yang biasanya ceria dan banyak bicara, pagi itu sekadar diam. Sejak keluar dari rumah sampai kini sudah puluhan menit berkendara, hanya satu dua patah kata yang keluar dari bibir Kanaya. Itu pun terkesan dingin, datar, dan dipaksakan. Senyum, jangan ditanya. Sedikit pun tidak ada, malah tatapan kosong dan helaan napas berat yang berulang kali terlihat.

Bahkan kini saat Mireya melayangkan pertanyaan lagi, Kanaya sekadar menanggapinya dengan gelengan. Tanpa menoleh, tanpa tersenyum, tanpa bicara.

"Tapi, sikap lo berkata sebaliknya. Lo kayak lagi ada masalah berat, Nay." Mireya melirik Kanaya lagi. "Memendam sesuatu sendirian itu nggak enak. Ada baiknya berbagi biar beban lo sedikit ringan. Gue emang nggak janji bisa kasih solusi, tapi seenggaknya gue bisa jadi pendengar yang baik dan jaga rahasia lo dengan aman," lanjutnya.

Akan tetapi, belum cukup untuk memancing Kanaya agar membuka suara.

"Kita sahabatan udah bertahun-tahun, bukan sehari dua hari. Lo mungkin bisa bohongin orang lain, tapi lo nggak bisa bohongin gue. Naya yang gue kenal itu selalu berisik dan penuh tawa, bukan pendiam kayak gini. Jadi gue berani bertaruh, gue yakin seribu persen lo lagi ada masalah."

"Perut lo aja dari tadi juga keroncongan, gue tebak lo nggak sempat sarapan. Padahal, setahu gue seekor Naya itu nggak pernah bisa nahan lapar. Dan—"

"Lo nyerocos mulu deh, Mir." Kanaya tak tahan lagi. Sambil berdecak, ia memotong ucapan sahabatnya itu. Bukan karena kesal atau marah, melainkan takut.

Takut jika nanti ia tak bisa menahan lagi, menumpahkan tangis dan segala keluh kesah di hadapan Mireya. Meski ia percaya gadis itu bisa menjaga rahasia, tetapi Kanaya sendiri yang belum siap mengakuinya. Masalah yang ia hadapi terlalu besar, terlalu mengecewakan dan menghancurkan, tersebab itu belum berani berbagi pada siapa pun. Termasuk pada sahabat terdekatnya.

"Jadi beneran kan, lo lagi ada masalah?" tebak Mireya, sekali lagi. Ia paling tak tahan melihat Kanaya murung. Dunia serasa ikut muram jika Kanaya tak ceria.

Namun, lagi-lagi Kanaya tetap diam. Sampai beberapa menit berlalu, sampai mobil memasuki kampus yang mereka tuju, Kanaya tetap diam.

Barulah ketika mobil berhenti di area parkir, Kanaya mulai membuka mulutnya ragu-ragu.

"Gue emang lagi ada masalah," ucapnya lirih.

"Masalah kelurga?"

Kanaya mengangguk. "Lo tadi pasti papasan sama Mama, dan ... pasti lo ngerasa aneh."

Mireya mengangguk dengan sedikit ragu. Hal itu pula yang sedari tadi mengusik benaknya. Rumi yang biasa hangat dan menyambutnya seperti ibu sendiri, tadi sangat cuek dan tidak memedulikannya. Bahkan saat Mireya menyapa, Rumi malah berlalu tanpa memberikan tanggapan.

"Ada hal besar yang terjadi di keluarga gue. Hal besar yang bikin gue bener-bener hancur dan nggak tahu harus gimana. Untuk cerita ke lo aja, gue bingung gimana mulainya. Gue takut, gue ... gue ...."

Alih-alih melanjutkan cerita, Kanaya malah menunduk dan sibuk menyeka sudut mata yang mulai basah.

"Nay, lo jangan nangis. Sorry ya kalau gue maksa, gue cuma khawatir sama keadaan lo. Kalau emang nggak siap, lo jangan cerita dulu. Gua janji nggak akan nanya-nanya lagi," ucap Mireya seraya memeluk Kanaya. Gadis itu lagi banyak bicara meski dalam benak sangat penasaran masalah apa yang mendera sahabatnya.

"Gue pasti cerita, tapi nggak sekarang, Mir."

"It's okay. Gue ngerti, Nay. Lo tenang aja, kapan pun lo mau cerita, jangan ragu hubungi gue. Gue pasti ada waktu buat lo."

"Thanks ya, Mir."

Sedikit senyum kini tersungging di bibir Kanaya. Meski belum bercerita apa-apa, tetapi ada sedikit kelegaan di dalam hati dan pikiran. Setidaknya ia masih punya sahabat yang peduli dan mengerti dirinya.

"Gitu dong senyum. Tambah jelek tahu kalau lo cemberut aja kayak tadi. Ya ... meski biasanya juga nggak pernah cantik sih," canda Mireya setelah keduanya melepaskan pelukan.

"Sialan lo!"

"Udah, buruan rapiin tuh wajah, abis ini gue ajak lo ke kantin. Jangan sampai ya kita ketemu cogan-cogan di sini dan lo lagi mode jelek-jeleknya. Malu tahu!"

"Sejelek-jeleknya gue, masih lebih cantik dibanding lo, Mir." Kanaya mulai membalas candaan Mireya. Sedikit tawa pun mulai hadir tanpa paksaan.

"Cantik doang, tapi jadi jomblo sejati. Gue dong, udah punya tujuh mantan."

"Gue jomblo karena itu pilihan, bukan karena nggak laku. Lagian kriteria gue itu minimal CEO, nggak kayak lo, playboy mokondo juga diembat."

"Asem lo! Yang penting cakep ya, mantan gue nggak ada yang jelek."

Kompak keduanya tergelak. Wajah Kanaya tak lagi murung saat keduanya keluar dari mobil dan berjalan bersama-sama menuju kantin.

Keduanya memang sahabat karib, cocok satu sama lain meski kepribadian jauh berbeda. Kanaya lebih anteng, sejauh ini belum berani menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis. Sebaliknya Mireya, dari SMA sudah sering berganti-ganti pacar. Konon katanya untuk melampiaskan kesepian di dalam hidupnya.

Mireya memang tidak seberuntung Kanaya yang memiliki keluarga lengkap. Dari kecil, Mireya hanya hidup dengan ibunya. Mireya hanyalah anak yang lahir di luar nikah, yang sampai sekarang masih tak diketahui siapa ayah kandungnya. Sampai sekarang pula, ibu Mireya tak pernah menikah. Katanya, ia tak mau menghadirkan ayah sambung yang nantinya tak bisa menyayangi Mireya dengan tulus. Namun karena itu, Mireya jadi kurang perhatian. Dari pagi sampai petang ibunya sibuk bekerja, Mireya yang kerap ditinggal seorang diri akhirnya mencari hiburan di luar.

"Lo mau pesen apa, Nay?" tanya Mireya ketika keduanya sudah tiba di kantin.

Sejenak, Kanaya melihat-lihat daftar menu tertera. Namun bukannya memilih, ia malah minta disamakan saja dengan pesanan Mireya—bubur ayam dan teh manis.

"Eh, Nay, lo tahu nggak, kakak tingkat di fakultas kita ada yang cakep banget loh. Dia jadi anggota BEM. Minim pelanggaran dan langganan prestasi. Keren, kan?"

Mendengar celetukan Mireya, Kanaya hanya menaikkan kedua alisnya. Kurang tertarik dengan pembahasan tersebut.

"Kabarnya, dia juga nggak pernah deket sama cewek. Cocok banget nih sama lo, Nay. Yakin lo nggak tertarik?"

Kanaya menggeleng malas. "Gue mau fokus belajar, nggak pacar-pacaran dulu."

"Tapi, ini cakep banget loh, Nay. Kalau nggak percaya, lo lihat sendiri deh fotonya."

Mireya tampak antusias merogoh ponselnya, siap menunjukkan foto kakak tingkat yang katanya keren dan ganteng maksimal. Namun, Kanaya tetap malas menanggapi. Bahkan saat ponsel tersebut berada tepat di depan wajahnya, Kanaya malah memutar bola mata dan membuang pandangan ke arah lain.

"Ih, lo nyebelin banget sih, Nay! Awas ya kalau nanti kesengsem beneran, gue sumpahin cinta lo nggak bakal kesampaian."

Kanaya sekadar tertawa dan memilih fokus dengan bubur ayam yang baru saja disajikan. Sementara Mireya sedikit merengut karena topik menarik yang ia bawa malah sia-sia. Sambil menggerutu, ia turut menyantap nikmat bubur ayam miliknya.

Namun, tak lama kemudian, Mireya meringis dan meletakkan sendok di tangannya.

"Nay ... gue tinggal ke toilet ya."

"Mau ngapain?"

"Ya kan tadi di rumah gue udah makan. Ditambah bubur ternyata perut gue nggak muat."

"Dasar, jorok lo, Mir!"

Namun, Mireya sudah tak peduli dengan umpatan Kanaya. Gadis itu melesat cepat meninggalkan meja kantin dan berlari menuju kamar mandi. Kanaya hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkat konyol sahabatnya.

"Ada Mireya, gue bisa sedikit terhibur. Habis ini ajak dia jalan deh, hitung-hitung buat nenangin diri," batin Kanaya sambil melanjutkan makannya.

'Roti dan teh kayak biasa ya, Bu!'

Suara berat laki-laki yang tak jauh dari tempatnya duduk, sedikit mengusik ketenangan Kanaya. Entah dorongan dari mana, kepala yang sejak tadi menunduk, mendadak mendongak dan menatap ke sumber suara.

Ada seorang lelaki sedang berdiri sambil menyelipkan kedua tangan di saku celana, menunggu ibu kantin menyiapkan pesanannya. Perawakan kurus tinggi dan gaya rambut comma hair, terlihat tidak asing di mata Kanaya.

Dalam beberapa saat, gadis itu memicing, menilik jeli dan mengingat siapa gerangan lelaki tersebut. Sampai kemudian ... detik waktu serasa berhenti lagi saat lelaki itu menoleh dan beradu tatap dengannya.

Davin Reswanda!

Lelaki yang kemarin malam dibawa pulang sang ayah, lelaki yang dikenalkan sebagai kakaknya, ternyata kuliah di kampus yang sama dengannya.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Menguak Identitas Davin

    Keesokan paginya, Kanaya kembali kuliah dan kali ini lebih semangat dibanding kemarin. Pasalnya, tak ada lagi drama memasak dan makan pagi seorang diri, karena Rumi kembali mengambil perannya sebagai seorang ibu.Wanita itu memasak sarapan kesukaan Kanaya, lantas mengajaknya makan bersama. Abi pun turut serta. Meski sepanjang waktu makan hanya Kanaya dan Rumi yang saling berbincang, tetapi sudah cukup untuk menjadi awal hari yang menyenangkan. Terlebih, Abi juga sigap mengantar Kanaya ke kampus sembari dirinya berangkat kerja.Tak seperti kemarin yang hampir terlambat, hari ini Kanaya tiba di kampus jauh lebih awal. Bahkan, lebih awal dibanding Mireya. Namun, sudah banyak mahasiswa lain yang tampak lalu-lalang di fakultas itu. Hanya saja Kanaya terlalu malas untuk berbasa-basi dengan mereka, karena kebanyakan memang belum saling kenal. Ada pun sebagian kecilnya, baru ia kenal kemarin setelah berkumpul dalam kegiatan yang sama.Sembari menunggu Mireya, Kanaya lebih memilih naik menuju

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Cerai!

    Malam ini, suasana di rumah Abi jauh berbeda dari biasanya. Yang semula penuh kesunyian dan tak ada momen kebersamaan, hari itu semua anggota keluarga kompak menyantap makan malam bersama, termasuk Davin yang sebelumnya selalu terasing.Namun, semua terjadi bukan tanpa alasan. Semata-mata karena Rumi yang memasak makan malam dengan porsi yang memang cukup untuk empat orang. Tersebab itu, kini semua berkumpul dan menyantap makanan lezat tersebut."Aku tadi beresin baju di kamar, nggak tahu kalau Mama masak. Jadi nggak datang bantu," ucap Kanaya sambil mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.Meski dalam hati masih tak nyaman akibat obrolan mereka tadi siang, tetapi Kanaya mencoba mengabaikan sejenak perasaannya. Ia tak ingin suasana makin canggung jika hal tersebut diungkit lagi. Biarlah walau hanya sesaat dan ada orang asing yang ikut menyempil, yang penting kebersamaan malam itu bisa berjalan lebih hangat. Sudah cukup dalam kerinduan Kanaya pada keharmonisan yang akhir-akhir ini seras

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Fakta Gelang Mireya

    "Siapa sebenarnya Davin Reswanda?"Satu pertanyaan yang menuntut penjelasan, langsung masuk dalam pendengaran Abi sesaat setelah ia menjawab telepon dari Mireya. Ya, Mireya, sahabat dekat Kanaya."Dia keponakan jauhku. Terpaksa aku menyuruhnya tinggal di sini karena ibunya sakit keras dan dibawa berobat ke luar negeri. Aku berhutang budi banyak pada keluarganya. Mereka yang membantuku saat usaha hampir kolaps karena uangnya dihabiskan Rumi. Aku sudah menjelaskan ini dari kemarin-kemarin, kenapa sekarang kamu tanyakan lagi?"Dari seberang sana, Mireya mende-sah kasar. Terdengar jelas bahwa gadis itu kurang percaya dengan apa yang dituturkan Abi."Ada apa, Sayang? Kenapa kamu seperti kesal begitu? Apa lagi yang mengganggumu, hmm?" tanya Abi sesaat kemudian. Dengan sabar ia membujuk gadis itu agar suasana hatinya tidak buruk."Aku nggak percaya dia hanya keponakan jauh, karena tadi pas di kampus aku ngelihat sendiri Naya sangat kesal padanya. Aku kenal Naya dengan baik. Kalau nggak ada s

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Ternyata....

    Wajah Kanaya memerah seketika, luar biasa malu karena aksinya tersebut diketahui oleh Davin. Sungguh sial, bak jatuh harga dirinya di hadapan lelaki yang ia benci itu. Namun ironisnya, detak jantung justru bertalu tak menentu, tanpa ia tahu apa gerangan sebabnya."Lo nggak usah ge-er deh, gue cuma mau lewat dan nggak sengaja lihat lo. Tuh, kalau nggak percaya!" Dengan ketus Kanaya menunjuk meja makan yang masih berserakan. "Gue baru kelar makan," lanjutnya.Ia bersikap sinis bukan semata-mata untuk mengelak dari tuduhan Davin, melainkan juga untuk menenangkan hati yang dengan tidak tahu malunya malah berdebar-debar.Sambil tersenyum, Davin pun mengikuti arah pandangan Kanaya. Mencoba tak memperpanjang masalah dan percaya saja dengan alasan yang keluar dari bibir gadis itu."Kalau gitu aku juga mau makan," ucapnya dengan santai, seolah tak merasa bahwa barusan sudah membuat batin Kanaya kacau."Terserah!"Kanaya kembali melayangkan jawaban ketus. Ditatapnya Davin dengan sinis, lantas d

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Davin Berulah

    Kanaya tak sadar berapa lama waktu yang ia habiskan untuk menangis. Satu yang ia tahu, pikiran yang semula kalut dalam sendu terseret kembali ke alam nyata saat ia mendengar derap langkah cepat yang saling berkejaran.Kanaya tersentak dan mengangkat wajah, lantas bergegas bangkit sembari menghapus air mata dengan lengan bajunya."Duduk kamu!"Kanaya mengernyit ketika mendengar bentakan suara Abi. Kemudian rasa penasaran membawanya melangkah pelan dan berhenti di balik dinding pembatas. Ia mengintip adegan yang terjadi di ruang tengah sana. Sang ayah berkacak pinggang, menatap nyalang pada Davin yang kala itu duduk menunduk di sofa. Rambut dan pakaiannya tampak kusut, bahkan beberapa kancing kemejanya terlepas. Entah apa yang terjadi."Apa yang ada di pikiranmu, hah? Bisa-bisanya menghajar mahasiswa baru sampai mereka masuk rumah sakit! Kamu pikir ini hebat, hah?""Aku menguliahkan kamu bukan untuk menjadi preman! Kamu kuliah untuk masa depan, Davin!""Cukup sekali ini kamu berulah. Ji

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Tidak Bisa Membawamu

    Davin Reswanda! Dialah lelaki yang ditunjuk-tunjuk Mireya. Cowok cakep yang katanya anggota BEM, yang katanya punya motor keren, ternyata adalah lelaki yang tinggal di rumahnya, lelaki yang kehadirannya membawa prahara besar dalam keluarga."Tuh kan, Nay, lo juga langsung terpana. Lo pasti terpesona kan sama kegantengan dia?""Nggak heran sih, pesona dia itu emang luar biasa. Cewek mana coba yang nggak klepek-klepek. Udah, Nay, nggak usah malu. Akui aja kalau lo sekarang ikutan ngefans sama dia. Iya, kan?""Lo mau tahu nggak namanya siapa? Davin Reswanda. Bagus, kan? Cocok banget tahu sama tampangnya yang keren dan ganteng maksimal itu."Mireya terus berisik di sampingnya. Namun, tidak sedikit pun Kanaya memberikan tanggapan. Ia hanya diam, menatap sosok lelaki yang sedang berjalan santai di depan sana. Kanaya tak mengerti, dunia atau garis hidupnya yang sempit. Dari sekian banyak mahasiswa yang ada di fakultas tersebut, mengapa harus Davin yang menarik perhatian Mireya. Bukankah masi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status