로그인Sendok dan piring berdenting pelan di ruang makan rumah Abi. Tidak ada Kanaya. Tidak ada Rumi. Hanya Abi dan Davin yang menempati kursi di sana, berhadapan dan menyantap sarapan masing-masing.
Sesekali Davin melirik Abi, menilik jeli ekspresi pria itu. Adakah penyesalan, kesedihan, ataukah kehancuran atas apa yang telah terjadi. Namun nyatanya, gestur wajah pria tersebut tetap tenang, melahap nikmat sarapannya seolah tak pernah terjadi apa-apa. "Lihatlah, Ma, pria yang kau sanjung-sanjung selama ini, sedikit pun nggak menyesal meski telah menghancurkan hati istri dan anaknya. Dia menempatkanku di posisi yang sangat sulit. Andai Mama masih ada di sini, yakin Mama nggak menyesali keputusan Mama untuk hidup bersamanya selama ini?" batin Davin dengan perasaan muak. Saking muaknya, sampai-sampai tak ada lagi keinginan untuk menelan sarapan. Nasi dan lauk yang nikmat itu sekadar diaduk-aduk. Genggaman tangannya sangat erat di gagang sendok, membayangkan itu adalah kepala Abi dan ia siap meremukkannya. "Makanlah! Sarapan ini masih banyak, habiskan sesukamu. Rumi dan Naya sepertinya tidak akan makan." Bukan sahutan, bukan pula senyuman atau anggukan. Sedetik setelah Abi selesai berucap, Davin langsung membanting sendoknya dengan kasar. Suaranya berdenting nyaring, memecah ketenangan yang sedari tadi membungkus suasana. Sontak, Abi terkejut. Wajahnya terangkat dan melayangkan tatapan tajam ke arah Davin. Meski tanpa kata, tetapi sorot mata menuntut sebuah penjelasan atas sikap yang tak sopan barusan. "Jangan kira saya sangat bangga bisa ikut Anda tinggal di sini! Jangan kira saya sangat bahagia dan merasa nyaman! Sejujurnya saya muak! Kalau bukan karena uang keluarga saya sudah habis untuk mengembangkan usaha rumah makan Anda, saya tidak akan sudi ikut ke sini! Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah mengakui pria brengsek seperti Anda sebagai ayah saya!" Davin bicara dengan berapi-api, mengungkapkan semua amarah yang menyesak di dalam benak. Dadanya sampai ikut naik turun, mengiring embusan napas yang kasar dan memburu. "Buka mata Anda lebar-lebar! Bukan hanya masa depan saya yang Anda hancurkan, tetapi juga masa depan anak gadis Anda. Lihat betapa hancurnya dia saat tahu sisi kebejatan Anda. Tapi Anda ... dengan begitu santainya menyantap sarapan dengan lahap. Apakah Anda tidak punya hati? Atau memang Anda bukan manusia?" lanjut Davin masih dengan intonasi tinggi. Di hadapannya, Abi menghela napas panjang. Lantas perlahan meletakkan sendoknya dan bangkit, menjajari Davin yang sejak beberapa detik lalu sudah berdiri. "Aku memang salah, pada keluargamu, juga pada keluargaku sendiri. Tapi, aku juga tidak akan lari dari tanggung jawab. Kamu adalah anak dari wanita yang sangat kucintai. Kamu menganggapku ayah atau tidak, tapi aku akan tetap menganggapmu anak. Kebutuhanmu akan kutanggung seperti selama ini, masa depanmu juga akan kujamin, seperti aku menjamin masa depan Naya. Kamu boleh marah, boleh kecewa. Aku mengerti semua ini butuh waktu untuk kita pahami bersama. Seperti halnya anak dan istriku, aku sadar mereka butuh waktu. Tapi aku juga yakin, waktu itu ada batasnya. Suatu saat, kita semua akan saling mengerti dan menerima apa yang telah terjadi. Semuanya akan kembali seperti semula." Mendengar ucapan Abi yang panjang lebar, Davin mendengus sebal. "Anda naif sekali, menganggap semua akan baik-baik saja dan kembali seperti semula. Anda pikir semua ini sederhana? Heh, konyol!" "Davin ...." Abi terpaksa berhenti bicara karena Davin melenggang pergi tanpa peduli lagi dengannya. Kini, hanya tersisa Abi di ruang makan tersebut. Duduk kembali dan menarik napas berat. Ya, berat, seberat beban hidup yang harus ia pikul dalam beberapa waktu ke depan. Entah sampai kapan. Satu minggu, satu bulan, atau bahkan ... satu tahun. "Sudahlah, semua sudah terjadi. Yang penting aku tetap bertanggung jawab dan betul-betul memperbaiki keadaan. Dengan begitu, perlahan mereka pasti bisa menerima semua ini," batin Abi, kembali meneguhkan diri bahwa semua akan baik-baik saja pada waktunya. Dalam kesendirian itu, Abi menatap sekitar dengan sedikit nanar. Sarapan masih tersisa banyak, termasuk yang sudah teronggok di piring Davin. Lantas, pandangan beralih pada lantai marmer yang pagi ini belum tersentuh sapu atau kain pel. Ya, memang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Biasanya Rumi sangat cekatan dengan urusan rumah. Masakan, cucian, kebersihan lantai, kaca, dan segala macamnya, semua beres tanpa bantuan pelayan. Hanya dengan tangan Rumi dan sesekali bersama Kanaya, rumah dua lantai itu selalu bersih, asri, dan nyaman, penuh kehangatan. Akan tetapi, pagi ini tak ada sentuhan tangan Rumi ataupun Kanaya. Meja makan itu, mau tak mau harus Abi sendiri yang membereskannya. Soal yang lain, entahlah, masih ada waktu nanti setelah pulang kerja. Selagi Abi masih sibuk menyantap kembali sarapannya—meski tak ada lagi rasa nikmat di lidah, ia dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka dengan agak kasar. Abi hafal betul, suara itu dari kamarnya. Kamar yang semalam ditiduri Rumi seorang diri. Demi menemui sang istri, Abi bergegas bangkit dan mengabaikan sejenak sarapannya. Dengan setengah berlari ia meninggalkan ruang makan dan menuju kamar. Benar saja. Rumi sudah keluar dari sana. Namun, mata Abi sedikit memicing saat melihat penampilan Rumi yang sudah rapi, lengkap dengan tas yang dijinjing di tangan kirinya. "Sayang ... kamu mau ke mana? Sepagi ini?" Abi bertanya dengan hati-hati. Getir rasa dalam hatinya. Tak biasanya Rumi pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Bukan urusanmu!" Rumi tak hanya menjawab ketus, tetapi juga langsung melengos dan meninggalkan Abi yang masih berdiri di tempatnya. "Sayang! Aku bisa mengantarmu. Kamu tidak perlu pergi sendiri seperti ini. Sayang!" Abi berteriak sambil mengejar sang istri, yang langkahnya makin cepat menuju pintu depan. "Sayang! Sayang!" Terlambat. Rupanya taksi sudah berhenti di depan gerbang dan sekejap saja membawa Rumi, entah ke mana. Abi tak bisa lagi berbuat banyak, sekadar menatap roda empat itu sampai menghilang di balik tikungan. "Dia tidak mungkin pergi, kan?" Abi tersentak dengan pemikirannya sendiri. Tenggorokannya mendadak tercekat, membayangkan bahwa mungkin saja Rumi pergi meninggalkannya, selamanya. Tidak! Tidak mungkin! Itu tidak boleh terjadi! Demi meyakinkan diri, sekali lagi, Abi bergegas masuk ke rumah. Berlari menuju kamar dan memeriksa barang-barang milik sang istri. Baju, kosmetik, dan barang-barang pribadi lainnya. Abi bernapas lega saat melihat semua itu masih bertengger cantik di tempatnya. Setidaknya Rumi hanya keluar sebentar, bukan pergi dan tidak kembali. "Mungkin dia hanya ingin menenangkan diri dengan jalan-jalan. Ah, aku terlalu banyak berpikir," gumam Abi seorang diri. Bersambung...Hampir petang, Kanaya baru tiba di rumahnya. Mobil Abi belum terlihat di garasi. Rumi pula entah mengurung diri di kamar atau pergi. Suasana rumah begitu sunyi, bahkan sebagian lampunya dibiarkan mati."Ma! Mama! Ma!"Kanaya mencoba memanggil sambil mengetuk pintu kamar berulang kali. Meski tadi pagi sempat kecewa, tetapi detik ini ia berharap Rumi kembali seperti sedia kala.Namun sayang, Kanaya malah tak mendapat jawaban sedikit pun. Tetap hening yang membungkus setiap jeda panggilannya."Ma! Mama di dalam nggak?" teriak Kanaya sekali lagi.Ia pandangi kembali pintu yang tertutup rapat itu. Pintu yang tak bisa dibuka karena dikunci, entah dari dalam atau dari luar. Pintu yang tak tahu menyembunyikan seseorang atau tidak dalam sana. Hanya satu yang kini Kanaya tahu, lampu di kamar itu tidak menyala, terlihat dari lubang kecil di bawah pintu."Tante Rumi barusan pergi."Ketika Kanaya masih menunduk murung, suara berat lelaki yang ia benci mengusiknya. Ia pun langsung membalikkan badan
Kanaya meradang saat menyadari kenyataan di depan mata. Beberapa bulan lalu, saat dirinya belum resmi lulus dari bangku SMA, ia berulang kali mengatakan ingin kuliah di Universitas Trijaya. Namun, sang ayah ngotot memintanya kuliah di Universitas Dharma Bangsa—universitas yang kini dia pijak.'Fakultas Ekonomi di Dharma Bangsa lebih menonjol, Sayang. Bakat dan kualitas dirimu akan lebih terasah jika kuliah di sana.''Tapi, kampusnya lebih jauh, Pa, dan teman-teman dekatku juga nggak ada yang kuliah di sana. Andini dan Mireya aja mau kuliah di Trijaya.''Sayang, kuliah itu kan demi masa depan kamu. Jadi jangan terpengaruh oleh teman. Toh nanti di tempat baru, kamu pasti juga dapat teman lagi. Dan soal jarak, bedanya itu tidak seberapa, Sayang. Waktu tempuhnya hanya selisih beberapa menit, tidak akan membuatmu repot. Percayalah sama Papa, ini yang terbaik untuk kamu, Sayang.''Baiklah.'Kala itu, Kanaya mengalah dan mengikuti arahan sang ayah. Beruntung Mireya akhirnya ikut berubah piki
"Lo beneran nggak apa-apa, Nay?"Mireya melontarkan pertanyaan untuk kesekian kalinya. Di sela-sela fokusnya memegang kemudi mobil, ia kerap kali menoleh meski hanya sekilas, sekadar untuk menatap Kanaya dan memastikan dia baik baik saja. Namun sayang, berulang kali memastikan, Kanaya tetap tidak terlihat baik.Gadis yang biasanya ceria dan banyak bicara, pagi itu sekadar diam. Sejak keluar dari rumah sampai kini sudah puluhan menit berkendara, hanya satu dua patah kata yang keluar dari bibir Kanaya. Itu pun terkesan dingin, datar, dan dipaksakan. Senyum, jangan ditanya. Sedikit pun tidak ada, malah tatapan kosong dan helaan napas berat yang berulang kali terlihat.Bahkan kini saat Mireya melayangkan pertanyaan lagi, Kanaya sekadar menanggapinya dengan gelengan. Tanpa menoleh, tanpa tersenyum, tanpa bicara."Tapi, sikap lo berkata sebaliknya. Lo kayak lagi ada masalah berat, Nay." Mireya melirik Kanaya lagi. "Memendam sesuatu sendirian itu nggak enak. Ada baiknya berbagi biar beban lo
Jarum jam sudah menunjuk angka dua belas tepat. Namun, sosok Rumi belum juga muncul di rumahnya. Abi menunggu dengan sangat resah. Bolak-balik ke halaman depan dan ke kamar, sembari menatap detik waktu yang terus berjalan."Ke mana Rumi?"Satu pertanyaan yang nyaris tergumam dalam batin dalam setiap hela napas. Sampai ia gagal berangkat kerja, karena menunggu kedatangan sang istri. Berkali-kali dia mencoba menghubungi, tetapi tak bisa. Nomor Rumi di luar jangkauan. Entah ponselnya sengaja dimatikan atau nomor Abi yang sudah diblokir. Abi tak tahu dan tak kunjung menemukan jawaban atas kebingungannya itu.Di sisi yang berbeda, Kanaya dan Davin juga belum keluar dari kamar. Rupanya kehancuran dan kekecewaan mengikis rasa lapar yang seharusnya mendera sejak pagi.Ah!Sekali lagi Abi mendesah berat. Melirik kembali pintu utama yang tak menunjukkan tanda-tanda kedatangan Rumi."Ke mana kamu, Sayang? Sudah setengah hari, kenapa belum pulang?" Abi bicara seorang diri, seraya mengusap kasar
Sendok dan piring berdenting pelan di ruang makan rumah Abi. Tidak ada Kanaya. Tidak ada Rumi. Hanya Abi dan Davin yang menempati kursi di sana, berhadapan dan menyantap sarapan masing-masing.Sesekali Davin melirik Abi, menilik jeli ekspresi pria itu. Adakah penyesalan, kesedihan, ataukah kehancuran atas apa yang telah terjadi. Namun nyatanya, gestur wajah pria tersebut tetap tenang, melahap nikmat sarapannya seolah tak pernah terjadi apa-apa."Lihatlah, Ma, pria yang kau sanjung-sanjung selama ini, sedikit pun nggak menyesal meski telah menghancurkan hati istri dan anaknya. Dia menempatkanku di posisi yang sangat sulit. Andai Mama masih ada di sini, yakin Mama nggak menyesali keputusan Mama untuk hidup bersamanya selama ini?" batin Davin dengan perasaan muak. Saking muaknya, sampai-sampai tak ada lagi keinginan untuk menelan sarapan.Nasi dan lauk yang nikmat itu sekadar diaduk-aduk. Genggaman tangannya sangat erat di gagang sendok, membayangkan itu adalah kepala Abi dan ia siap mer
Waktu sudah masuk dini hari, tetapi gadis manis yang bernama Kanaya Almaira itu masih duduk diam di kursi kamarnya. Tak ada yang ia lakukan, sekadar menatap kosong pada sebingkai foto keluarga yang di dalamnya saling memamerkan tawa.'Kenapa harus Papa?'Tiga kata yang sejak beberapa jam lalu memenuhi pikiran. Kalut dan hancur membuatnya mempertanyakan peran takdir. Mengapa harus ayahnya? Dari sekian banyak pria di dunia, mengapa pelaku perselingkuhan itu harus ayahnya?Sekilas, bayangan-bayangan manis dari minggu dan bulan sebelumnya muncul kembali dalam ingatan. Kebersamaan antara dirinya bersama ibu dan ayah, tak pernah lepas dari senyum dan pelukan hangat. Meski sudah remaja, ia tetap dekat dan senang bermanja pada ayahnya. Ia adalah putri tunggal kesayangan yang hidupnya kerap didambakan oleh gadis-gadis lain di luar sana.'Tapi ... sekarang semua sudah berakhir.'Ya, berakhir. Tawa dan kasih sayang yang ditunjukkan ayahnya selama ini, nyatanya palsu. Di belakang sana, pria itu m







