Compartir

Ke Mana Rumi?

last update Fecha de publicación: 2026-08-12 06:41:01

Sendok dan piring berdenting pelan di ruang makan rumah Abi. Tidak ada Kanaya. Tidak ada Rumi. Hanya Abi dan Davin yang menempati kursi di sana, berhadapan dan menyantap sarapan masing-masing.

Sesekali Davin melirik Abi, menilik jeli ekspresi pria itu. Adakah penyesalan, kesedihan, ataukah kehancuran atas apa yang telah terjadi. Namun nyatanya, gestur wajah pria tersebut tetap tenang, melahap nikmat sarapannya seolah tak pernah terjadi apa-apa.

"Lihatlah, Ma, pria yang kau sanjung-sanjung selama ini, sedikit pun nggak menyesal meski telah menghancurkan hati istri dan anaknya. Dia menempatkanku di posisi yang sangat sulit. Andai Mama masih ada di sini, yakin Mama nggak menyesali keputusan Mama untuk hidup bersamanya selama ini?" batin Davin dengan perasaan muak. Saking muaknya, sampai-sampai tak ada lagi keinginan untuk menelan sarapan.

Nasi dan lauk yang nikmat itu sekadar diaduk-aduk. Genggaman tangannya sangat erat di gagang sendok, membayangkan itu adalah kepala Abi dan ia siap meremukkannya.

"Makanlah! Sarapan ini masih banyak, habiskan sesukamu. Rumi dan Naya sepertinya tidak akan makan."

Bukan sahutan, bukan pula senyuman atau anggukan. Sedetik setelah Abi selesai berucap, Davin langsung membanting sendoknya dengan kasar. Suaranya berdenting nyaring, memecah ketenangan yang sedari tadi membungkus suasana.

Sontak, Abi terkejut. Wajahnya terangkat dan melayangkan tatapan tajam ke arah Davin. Meski tanpa kata, tetapi sorot mata menuntut sebuah penjelasan atas sikap yang tak sopan barusan.

"Jangan kira saya sangat bangga bisa ikut Anda tinggal di sini! Jangan kira saya sangat bahagia dan merasa nyaman! Sejujurnya saya muak! Kalau bukan karena uang keluarga saya sudah habis untuk mengembangkan usaha rumah makan Anda, saya tidak akan sudi ikut ke sini! Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah mengakui pria brengsek seperti Anda sebagai ayah saya!"

Davin bicara dengan berapi-api, mengungkapkan semua amarah yang menyesak di dalam benak. Dadanya sampai ikut naik turun, mengiring embusan napas yang kasar dan memburu.

"Buka mata Anda lebar-lebar! Bukan hanya masa depan saya yang Anda hancurkan, tetapi juga masa depan anak gadis Anda. Lihat betapa hancurnya dia saat tahu sisi kebejatan Anda. Tapi Anda ... dengan begitu santainya menyantap sarapan dengan lahap. Apakah Anda tidak punya hati? Atau memang Anda bukan manusia?" lanjut Davin masih dengan intonasi tinggi.

Di hadapannya, Abi menghela napas panjang. Lantas perlahan meletakkan sendoknya dan bangkit, menjajari Davin yang sejak beberapa detik lalu sudah berdiri.

"Aku memang salah, pada keluargamu, juga pada keluargaku sendiri. Tapi, aku juga tidak akan lari dari tanggung jawab. Kamu adalah anak dari wanita yang sangat kucintai. Kamu menganggapku ayah atau tidak, tapi aku akan tetap menganggapmu anak. Kebutuhanmu akan kutanggung seperti selama ini, masa depanmu juga akan kujamin, seperti aku menjamin masa depan Naya. Kamu boleh marah, boleh kecewa. Aku mengerti semua ini butuh waktu untuk kita pahami bersama. Seperti halnya anak dan istriku, aku sadar mereka butuh waktu. Tapi aku juga yakin, waktu itu ada batasnya. Suatu saat, kita semua akan saling mengerti dan menerima apa yang telah terjadi. Semuanya akan kembali seperti semula."

Mendengar ucapan Abi yang panjang lebar, Davin mendengus sebal.

"Anda naif sekali, menganggap semua akan baik-baik saja dan kembali seperti semula. Anda pikir semua ini sederhana? Heh, konyol!"

"Davin ...."

Abi terpaksa berhenti bicara karena Davin melenggang pergi tanpa peduli lagi dengannya.

Kini, hanya tersisa Abi di ruang makan tersebut. Duduk kembali dan menarik napas berat. Ya, berat, seberat beban hidup yang harus ia pikul dalam beberapa waktu ke depan. Entah sampai kapan. Satu minggu, satu bulan, atau bahkan ... satu tahun.

"Sudahlah, semua sudah terjadi. Yang penting aku tetap bertanggung jawab dan betul-betul memperbaiki keadaan. Dengan begitu, perlahan mereka pasti bisa menerima semua ini," batin Abi, kembali meneguhkan diri bahwa semua akan baik-baik saja pada waktunya.

Dalam kesendirian itu, Abi menatap sekitar dengan sedikit nanar. Sarapan masih tersisa banyak, termasuk yang sudah teronggok di piring Davin. Lantas, pandangan beralih pada lantai marmer yang pagi ini belum tersentuh sapu atau kain pel.

Ya, memang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Biasanya Rumi sangat cekatan dengan urusan rumah. Masakan, cucian, kebersihan lantai, kaca, dan segala macamnya, semua beres tanpa bantuan pelayan. Hanya dengan tangan Rumi dan sesekali bersama Kanaya, rumah dua lantai itu selalu bersih, asri, dan nyaman, penuh kehangatan.

Akan tetapi, pagi ini tak ada sentuhan tangan Rumi ataupun Kanaya. Meja makan itu, mau tak mau harus Abi sendiri yang membereskannya. Soal yang lain, entahlah, masih ada waktu nanti setelah pulang kerja.

Selagi Abi masih sibuk menyantap kembali sarapannya—meski tak ada lagi rasa nikmat di lidah, ia dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka dengan agak kasar. Abi hafal betul, suara itu dari kamarnya. Kamar yang semalam ditiduri Rumi seorang diri.

Demi menemui sang istri, Abi bergegas bangkit dan mengabaikan sejenak sarapannya. Dengan setengah berlari ia meninggalkan ruang makan dan menuju kamar.

Benar saja. Rumi sudah keluar dari sana. Namun, mata Abi sedikit memicing saat melihat penampilan Rumi yang sudah rapi, lengkap dengan tas yang dijinjing di tangan kirinya.

"Sayang ... kamu mau ke mana? Sepagi ini?" Abi bertanya dengan hati-hati. Getir rasa dalam hatinya. Tak biasanya Rumi pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu.

"Bukan urusanmu!"

Rumi tak hanya menjawab ketus, tetapi juga langsung melengos dan meninggalkan Abi yang masih berdiri di tempatnya.

"Sayang! Aku bisa mengantarmu. Kamu tidak perlu pergi sendiri seperti ini. Sayang!"

Abi berteriak sambil mengejar sang istri, yang langkahnya makin cepat menuju pintu depan.

"Sayang! Sayang!"

Terlambat. Rupanya taksi sudah berhenti di depan gerbang dan sekejap saja membawa Rumi, entah ke mana. Abi tak bisa lagi berbuat banyak, sekadar menatap roda empat itu sampai menghilang di balik tikungan.

"Dia tidak mungkin pergi, kan?"

Abi tersentak dengan pemikirannya sendiri. Tenggorokannya mendadak tercekat, membayangkan bahwa mungkin saja Rumi pergi meninggalkannya, selamanya.

Tidak! Tidak mungkin! Itu tidak boleh terjadi!

Demi meyakinkan diri, sekali lagi, Abi bergegas masuk ke rumah. Berlari menuju kamar dan memeriksa barang-barang milik sang istri. Baju, kosmetik, dan barang-barang pribadi lainnya.

Abi bernapas lega saat melihat semua itu masih bertengger cantik di tempatnya. Setidaknya Rumi hanya keluar sebentar, bukan pergi dan tidak kembali.

"Mungkin dia hanya ingin menenangkan diri dengan jalan-jalan. Ah, aku terlalu banyak berpikir," gumam Abi seorang diri.

Bersambung...

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Permintaan Rumi

    "Aku udah tahu semuanya, Ma."Setelah keduanya saling mengurai pelukan dan kemudian duduk berdampingan di kursi usang, di dalam ruang tamu tersebut, Kanaya mulai membuka pembicaraan.Kepalanya masih tertunduk, sesak tak terkira dan seakan tak kuasa jika beradu tatap dengan ibunya. Sekadar tangannya yang begitu erat menggenggam jemari Rumi, yang kini jauh lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu."Siapa yang memberitahumu, Nak?" tanya Rumi dengan lirih.Entah bagaimana perasaannya kala itu. Antara lega, terharu, sedih, dan menyesal, bercampur menjadi satu. Membuatnya canggung dan hampir tak mengerti harus melakukan apa.Kanaya pun, detik itu ada di posisi yang sama. Ia tak ingin memberitahukan tentang Diana, tetapi ia juga tak bisa menutupinya dengan kebohongan. Alhasil, Kanaya sekadar diam dengan kepala yang masih setia menunduk.Melihat diamnya Kanaya, Rumi mulai bisa menebak. Pastilah Diana, seseorang di balik ini semua. Hanya dia, satu-satunya orang yang paling paham deng

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Terungkap

    Sudah tiga jam lebih Kanaya menunggu. Lima gelas iced coffee sudah dia pesan, pun sudah dihabiskan. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan Diana di sana.Kanaya mulai was-was. Apa jangan-jangan wanita itu tidak serius dengan pesannya tadi? Atau ... mungkinkah niat itu terlebih dahulu diketahui ibunya?"Ahh!"Kanaya mende-sah panjang. Gelas terakhir sudah tandas dari dua menit lalu. Haruskah ia memesan lagi sekarang? Atau lebih baik ia pulang? Mungkin saja penantian itu memang tidak akan berujung baik."Coba aku tanyain aja deh, dia jadi datang atau nggak," batin Kanaya.Lantas ia nyalakan lagi ponselnya dan kembali membuka pesan dari Diana.Namun, baru saja ia mengetik sedikit pesan, bahkan belum sempat dikirim, seseorang datang memangilnya. Saat Kanaya mendongak, ternyata Diana yang datang."Maaf ya kamu menunggu lama. Tadi setelah sidang, aku masih mengantar Rumi pulang," ucap Diana sembari menatap bekas gelas di hadapan Kanaya.Sebenarnya ia pun tak menyangka gadis itu akan datang

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Pesan Dari Diana

    "Mana papamu?"Satu pertanyaan dingin dan datar meluncur dari bibir Rumi. Alih-alih menanyakan kabar Kanaya, justru hal itulah yang ia tanyakan.Di depannya, Kanaya menatap miris. Dalam pikirannya muncul satu pertanyaan yang begitu mengusik.Sebenci itukah Rumi terhadap dirinya? Sampai-sampai pertemuan mereka saat ini layaknya dua orang asing yang tak ada ikatan apa pun."Papa nggak akan datang, Ma."Rumi mengernyitkan kening. Agak heran dengan jawaban Kanaya, karena yang dia tahu Abi tak pernah setuju dengan perceraian tersebut. Jadi, mana mungkin pria itu tidak datang."Aku yang menerima surat panggilannya, dan aku nggak menyampaikan itu ke Papa. Aku melakukan ini karena tahu Mama sangat mengharapkan perceraian. Aku cuma berniat bantuin Mama," lanjut Kanaya.Rumi sedikit tersentak dengan jawaban barusan. Tak disangka Kanaya akan berbuat sejauh itu untuknya. Namun, Rumi berusaha keras menyembunyikan gestur asli wajahnya. Ia tetap memasang tampang datar agar Kanaya berhenti berharap.

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Bertemu Rumi

    Sudah dua hari berlalu, tetapi surat panggilan sidang untuk ayahnya masih berada di tangan Kanaya. Sedikit pun gadis itu belum mengungkitnya. Bahkan terhadap Davin, ia juga masih bungkam. Entahlah. Kanaya masih betah menyimpannya sendiri.Malam ini, Kanaya yang sedang dilanda bimbang, memutuskan untuk mengirim pesan pada Davin yang kala itu sudah masuk ke kamarnya sendiri.'Kak, udah tidur belum?'Sampai beberapa saat, tak ada balasan darinya. Kanaya sempat mengira mungkin Davin sudah tidur. Namun ternyata, lelaki itu justru datang dan mengetuk pintu kamarnya.Kanaya langsung bangkit dan bergegas membuka pintu, menemui lelaki yang merangkap kakak tiri sekaligus kekasihnya itu."Kamu tadi katanya ngantuk. Kok belum tidur? Kenapa, hmm?" tanya Davin ketika keduanya sudah saling berhadapan di ambang pintu."Nggak tahu, Kak. Pas dibawa rebahan, ngantuknya malah ilang," jawab Kanaya setengah berbohong. Sebenernya, dari awal masuk ke kamar sekitar setengah jam lalu, sedikit pun tak ada rasa

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Surat Panggilan

    Keesokan harinya, seperti biasa Abi ke rumah makan sejak pagi dan akan pulang paling awal menjelang petang. Sementara Davin, dia ada kelas sampai sore. Hanya Kanaya yang siang itu sudah pulang dan berdiam diri di rumah, tanpa teman.Kanaya pun mengurung diri di kamar, mengisi waktu luang yang membosankan dengan membaca komik online. Meski itu bukan hobinya, tetapi daripada diam dan tak melakukan apa-apa, lebih suntuk lagi.Setelah hampir setengah jam berbaring tengkurap sambil menatap layar ponsel, tiba-tiba Kanaya dikejutkan dengan suara bel rumahnya."Siapa yang datang siang-siang gini?" gumam Kanaya sambil bangkit dari posisinya. Lantas, turun dari ranjang dan berjalan ke arah jendela.Ya, alih-alih langsung membukakan pintu, Kanaya justru mengintipnya terlebih dahulu dari dalam kamar.Di bawah sana, tepat di depan pintu gerbang rumahnya, dua pria dengan jas dan setelan formal tampak berdiri menunggu.Kanaya mengernyitkan kening. Dua sosok itu sangat asing. Ia saka sekali tidak men

  • Mencintai Anak Istri Kedua Papa   Terpaksa Mengalah

    Lewat petang Davin dan Kanaya baru tiba di rumah. Namun, masih aman. Abi pulang setelah satu jam mereka datang. Keduanya sudah membersihkan diri dan sudah menyiapkan makan malam. Jadi, tak ada yang mencurigakan.Kepergian mereka seharian penuh, semua kenangan yang terjadi di pantai pinggiran kota itu, hanya mereka berdua yang tahu. Abi yang sibuk dengan hidupnya, sedikit pun tak mengerti bahwa kini anak gadisnya telah mengenal cinta. Cinta dari seorang lelaki yang ia hadirkan sendiri, yang setiap hari tinggal di bawah atap yang sama."Buruan mandi, Pa. Nanti kita makan malam bareng. Aku udah masak sup ayam jamur, Pa," sambut Kanaya saat melihat ayahnya datang malam itu.Andai perhatiannya tidak terbagi dengan anak dan wanita di luar sana, seharusnya Abi peka dengan sikap Kanaya yang berbeda. Anak gadis yang biasanya tak pernah menyambut jika tidak ada kepentingan, malah terkadang memasang tampang masam, hari itu menyambut dengan senyum hangat. Bahkan, wajahnya tampak berseri-seri.Bod

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status