Home / Romansa / Mencintai Seorang Climber / bab 322. Keturunan Wiratama

Share

bab 322. Keturunan Wiratama

last update Last Updated: 2026-01-15 23:59:39

Maryam berada di ruang rawat inap kelas VIP, sebuah kamar buat satu orang pasien. Ada sofa untuk penunggu pasien bisa duduk santai ataupun berbaring. Ada juga TV layar datar.

Emaknya Maryam, yaitu Juwariyah, sudah datang ke Bandung dengan naik mobil travel. Tiba di pool travel Bandung, dia naik taksi menuju rumah sakit. Juwariyah sudah tidak bingung lagi ketika harus datang ke Bandung. Setelah tidak lagi menanggung biaya kuliah anak-anaknya, dia bisa menyimpan uang untuk keperluan mendadak.

“Ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mencintai Seorang Climber   bab 339. Kabar Baik atau Buruk?

    Bi Neti menghidangkan sarapan untuk Maryam.“Dimakan dulu sarapannya, Neng. Bibi buatkan bubur ayam. Tapi kalau Neng Maryam merasa eneg, bisa makan bubur sumsum yang manis, sudah bibi buatkan juga. Biasanya ibu yang baru melahirkan, makannya suka banyak.”“Terima kasih Bi, nanti saya makan.” Maryam tidak berselera makan, tubuhnya terasa tidak nyaman. Karena masih sakit bekas operasi caesar, dan ada hal lain lagi. Buah dadanya terasa bengkak dan penuh sesak. Maryam meringis merasakan sakit pada dadanya. Emaknya yang memperhatikan, menduga bahwa rasa sakit dan bengkak pada dada itu akibat ASI yang tidak bisa keluar. Mestinya ada bayi yang menyedot asi itu.Hari itu Maryam demam. Anita membawa Maryam ke rumah sakit bersalin yang ada di dekat kompleks perumahan mewah itu. Emaknya Maryam yang turut mengantar anaknya, mengira Maryam melahirkan di rumah sakit bersalin itu.“Enggak di sini, Mak. Aku lahiran di rumah sakit lain.” jawab Maryam.“Kenapa atuh kamu enggak dibawa berobat ke rumah s

  • Mencintai Seorang Climber   bab 338. Bayi Kita

    Pada malam harinya, usai makan malam, emaknya Maryam yaitu Bu Juwariyah menanyakan pada Anita, kenapa Maryam harus dioperasi caesar. Anita sengaja datang ke kamar Maryam, karena dia tahu cepat atau lambat, akan ada pertanyaan terhadap dirinya yang ketika itu membawa Maryam ke rumah sakit.“Mohon maaf ya Neng, kalau saya lancang bertanya. Saya hanya ingin tahu, apakah waktu itu Maryam sudah tidak sanggup untuk melahirkan secara normal?”“Iya Bu, waktu itu Maryam tiba-tiba saja kontraksi, padahal HPL-nya tiga hari lagi. Karena Maryam sudah kesakitan, lalu saya bawa ke rumah sakit. Di rumah sakit, air ketuban sudah merembes, jadi memang sudah waktunya bayi lahir. Tapi waktu itu kondisi Maryam sangat lemas, tensi darahnya rendah. Dokter menyarankan bayi lahir dengan cara operasi caesar, karena dokter khawatir Maryam enggak punya tenaga untuk mengejan. Kemudian Kang Zakki datang, dan menandatangani persetujuan operasi.”Bu Juwariyah menatap Maryam yang terdiam di tempat tidurnya, dalam pos

  • Mencintai Seorang Climber   bab 337. Sudah Tiada

    Di negeri tetangga, Bu Marianne telah mengetahui berita tentang penindakan aparat terhadap kelompok separatis dari pegunungan di wilayah timur. Penindakan yang memicu kontak senjata, dan mengakibatkan belasan korban jiwa, ada dari pihak aparat, dan juga ada dari pihak kelompok tersebut. Yang membuat Bu Marianne dan Pak Ardi merasa sesak di dada, adalah berita tentang salah seorang korban tew@s yang diperkirakan adalah sandera. Pak Ardi merasa ciri- ciri fisik korban tersebut mirip dengan Marco. Seluruh korban sudah dievakuasi ke sebuah rumah sakit umum di kota kabupaten terdekat dengan lokasi kontak senjata itu.Pak Ardi menghubungi pengacaranya, “Saya dan istri ingin mendapat akses untuk bisa melihat sandera yang menjadi korban. Kabarnya belum teridentifikasi. Saya harap bukan Marco, tapi saya tidak bisa hidup tenang jika sampai berhari-hari tanpa kejelasan siapa sandera yang meninggal itu. Apalagi istri saya, dia sudah ingin berangkat ke lokasi itu untuk melihat korban.”Pengacarany

  • Mencintai Seorang Climber   bab 336. Sesuai Rencana

    Tiba di rumah sakit, kondisi Maryam sudah tampak lemah karena kesakitan. Bi Neti membantu Maryam ke luar dari mobil. Ternyata sudah ada cairan yang menetes dari jalan lahir. Seorang petugas security segera mengambilkan kursi roda yang tersedia di dekat pintu utama rumah sakit itu. Maryam disuruh duduk dulu di kursi roda, sementara Anita mendaftar ke loket.Di lobi itu selain ada loket pendaftaran, juga menjadi ruang tunggu untuk pasien dan pengantarnya. Sebuah TV flat dengan layar cukup besar dipasang di dinding, sedang menayangkan breaking news. Berita yang muncul adalah tentang tindakan tegas terukur yang telah dilakukan aparat terhadap kelompok di pegunungan wilayah timur. Maryam segera menyimak berita itu, tidak lagi menghiraukan rasa sakitnya.Tindakan tegas itu adalah pengepungan lokasi yang diduga markas kelompok separatis. Ada perlawanan, sehingga terjadi saling tembak. Kemudian diperlihatkan video beberapa aparat berjalan ke bandara kecil dengan menggotong kantung mayat. Ada

  • Mencintai Seorang Climber   bab 335. RS Kelas C

    Anita menyuruh seorang ART untuk mengambilkan travel bag berisi pakaian yang sudah dipersiapkan di kamar Maryam. Anita menelepon dan mengirim pesan pada beberapa orang. Kemudian Anita meminta satpam rumah yang bernama Didin untuk mempersiapkan mobil. Didin adalah satpam berusia 45 tahun, sudah sepuluh tahun bekerja pada Pak Ardi. Dia membawa salah satu mobil ke luar dari garasi, lalu parkir di tepi jalan depan rumah, dan memanaskan mesinnya.“Saya yang nyetir?” tanya Didin, satpam itu.“Kalau Pak Didin ikut ke rumah sakit, nanti rumah ini enggak ada yang jaga. Biarlah saya saja yang bawa mobil.” jawab Anita.“Ke rumah sakit mana, Neng Nita? Siapa tahu nanti ada yang cari Neng Nita atau Neng Maryam, saya bisa kasi tahu ada di rumah sakit mana.”Anita menyebutkan nama sebuah rumah sakit yang sudah ditentukan untuk tempat Maryam melahirkan. Rumah sakit itu juga yang selama ini menjadi tempat Maryam biasa memeriksakan kehamilannya.“Iya, hati-hati ya Neng Nita, semoga Neng Maryam lancar m

  • Mencintai Seorang Climber   bab 334. Kontraksi

    Pagi itu Maryam dan Anita baru selesai sarapan. Zakki sudah berangkat ke tempat kerja. Maryam seperti biasa, berjalan-jalan di halaman rumput, walau langkahnya sudah terasa berat karena kakinya membengkak. Ketika terasa lelah, Maryam akan duduk di bangku teras yang terkena matahari pagi. Dia merasa mesti berjemur setiap pagi, walau sebentar, supaya tubuhnya lebih segar, dan berusaha mengurangi keinginan untuk rebahan. Karena di rumah itu tidak ada yang mesti dia kerjakan, pada awal tinggal di sana Maryam kerap rebahan, sambil melihat berita di TV dalam kamar yang ditempatinya.Maryam merasa sudah cukup berjalan-jalan walau baru tujuh menit, dia sudah lelah, lantas dia masuk ke dalam rumah dengan langkah perlahan. Di teras samping, ada pintu yang langsung terhubung dengan ruang tengah rumah. Maryam tidak melihat Anita di ruang tengah itu, tapi TV menyala, menampilkan drakor yang biasa ditonton oleh mereka berdua. Maryam mulanya duduk, hendak bersandar pada bantal kursi, namun urung kar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status