MasukKalea menatap piyama lusuh milik Diana, lengkap dengan sepasang pakaian dalam yang karet pinggangnya sudah cukup longgar. Gadis itu ingin mandi dan berganti pakaian, tapi dia datang ke rumah Hamish dengan tangan hampa. Jangankan baju, sepeser uang pun tidak ada. Dion benar-benar menyeretnya ke kediaman Hamish tanpa bekal apa pun. Alhasil, dia terpaksa menerima sejumlah pakaian lama milik Diana.
“Pakailah. Nanti aku carikan baju lain yang ukurannya lebih pas, juga yang sedikit lebih bagus,” kata Diana, wanita gemuk berusia hampir tiga puluh tahun itu.
“Terima kasih,” ucap Kalea lirih. Ia pun pergi ke kamar mandi dengan perasaan campur aduk.
Kalea meringis saat air shower mengguyur tubuhnya. Bekas tendangan Dion di punggung dan perut ketika ayahnya itu memaksa untuk datang ke tempat Hamish terasa linu. Dadanya sesak oleh rasa getir yang tak kunjung reda.
Perih itu semakin menjadi ketika dia mengenakan pakaian Diana yang serba kedodoran.
“Ibu…” bisiknya. Air mata jatuh deras ketika dia harus mengikat karet pinggang celana piyama dengan ikat rambut, agar celana itu tidak merosot.
Rasanya, ingin sekali Kalea mengadu. Mengurai segala pahit yang ia tanggung sejak ibunya meninggal dua tahun lalu.
Air mata merebak saat kata-kata sang ibu terngiang di benaknya.
“Lea, janji sama Ibu… tetap hidup. Karena hanya dengan bertahan, kamu bisa menemukan kebahagiaan yang Ibu tidak sempat berikan.”
Mengingat itu, Kalea mengepalkan tangan. Andai tak karena pesan terakhir sang ibu, mungkin dia sudah lama memilih jalan pintas. Sungguh, dia lelah. Ingin menyerah.
Dengan langkah gontai, Kalea keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamar yang ditempatinya bersama Diana.
“Ayo tidur, Kalea. Besok kita harus bangun jam tiga pagi. Segunung pekerjaan sudah menunggu. Apalagi May besok tidak masuk, mau antar anaknya berobat,” ujar Diana sambil menepuk kasur di sisinya.
Kalea mengangguk, lalu meringkuk di sisi Diana.
Gadis itu mencoba memejamkan mata, tetapi kantuk malah menjauh. Rasa gelisah kian kuat saat Diana mematikan lampu kamar. Kalea ingin protes, tapi ia tahu diri, dirinya hanyalah anak baru di sana.
Tubuhnya mulai gemetar. Kedua tangannya erat mencengkeram ujung-ujung selimut. Ia takut gelap. Bukan tanpa sebab, hampir dua tahun terakhir, setiap malam Dion selalu masuk ke kamarnya. Mematikan lampu, lalu melampiaskan amarah dan stres dengan menyiksa Kalea. Pukulan, jambakan, dan tendangan mendarat hingga pria itu merasa puas.
“Tidur, Lea. Ini bukan di rumah. Meski gelap, di sini aman. Ini rumah Tuan Hamish. Tak ada lagi iblis itu…” Kalea berusaha menenangkan diri. Da mengulang-ulang kalimat itu sampai akhirnya tertidur karena kelelahan.
**
“Jangan… ampun… jangan…”
Diana mengucek matanya. Suara lirih terdengar di telinganya. Dia pun menyalakan lampu, mendapati Kalea sedang mengigau.
“Kalea?” Diana menepuk bahu gadis itu, berniat membangunkannya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat wajah Kalea memerah seperti udang rebus.
Dia beringsut mendekat dan meraba dahi Kalea. Seketika dia terbelalak.
Panas. Suhu tubuh gadis itu tinggi sekali, bahkan napasnya terasa menyengat!
“Kalea? Kamu sakit?” Baru kalimat itu terucap, tiba-tiba tubuh Kalea kejang-kejang.
“Kalea! Kalea!” Diana membelalak panik.
“Tolooong!” teriaknya. Wanita itu segera turun dari ranjang dan berlari keluar kamar. “Tolooong! Tolooong!”
Suara teriakannya menggema, membangunkan penghuni rumah. Diana tak peduli lagi pada aturan yang melarang adanya suara ribut.
“Ada apa? Kenapa tengah malam bikin keributan?”
Diana terlonjak kaget. Dari sekian banyak orang yang diharapkan mendengar teriakannya, mengapa justru suara itu yang paling dulu menyahut?
“T-Tuan Hamish…” Diana buru-buru menunduk, wajahnya pucat.
Hamish yang baru tiba di rumah menghela napas berat.
“Ada apa?”
“Anu, Tuan… Kalea, orang baru itu. Dia kejang-kejang. Badannya panas sekali. Saya takut kenapa-kenapa. Saya juga bingung harus apa.”
“Apa?” Hamish tampak terkejut. Baru kali ini dia mendengar pekerjanya sakit parah seperti itu.
Dia segera berjalan menuju kamar pelayan dengan Diana mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di sana, Hamish langsung memeriksa Kalea. Gadis itu sudah berhenti kejang, tetapi suhu tubuhnya sangat tinggi.
“Ampun… jangan… jangan pukul…” bisik Kalea lirih. Matanya terpejam rapat, tetapi air mata mengalir deras di pipinya.
“Dia terus begitu, Tuan,” ucap Diana pelan.
Hamish terdiam sejenak. Kalea terlihat begitu menyedihkan.
“Ambil kompres, cepat!” perintahnya. Dia merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel, lalu menelepon dokter pribadinya.
“Sementara kompres dia. Dokter Stephen akan segera ke sini.”
Diana berlari mengambil kompres dan kembali dengan tergesa. Saat dia meletakkan kain basah di dahi Kalea, dia menoleh ragu.
“T-Tuan…” panggilnya takut-takut.
Hamish menoleh. “Kenapa?”
“Maaf, Tuan. Tapi… lihatlah ini.” Diana menunjuk punggung Kalea yang tak sengaja tersingkap ketika tubuh gadis itu meringkuk sambil menggigil.
Hamish mendekat, menunduk sedikit. Matanya membulat saat Diana perlahan menaikkan pakaian Kalea.
Kalea berdiri berhadapan dengan Ginna. Keduanya saling tatap sebelum akhirnya tertawa bersama-sama.Perut keduanya sudah besar, terutama Kalea karena terpaut empat minggu. Dan dengan sadar, mereka saling menempelkan perut satu sama lain.“Bukankah ini ajaib? Mungkin saja sebenarnya, kita saling menunggu agar bisa hamil bersamaan. Agar kita bisa bahagia sama-sama!” Ginna berseru dengan nada cerianya.“Bisa jadi!” Keduanya pun tertawa lagi.“Tapi … ya Tuhan, Lea. Serius kita mau nongkrong sama nenekmu juga?” bisik Ginna. Keduanya memang janjian untuk pergi jalan-jalan ke mall sekadar mencari sedikit kesenangan dan menggerakkan badan.Kalea tersenyum, lalu menoleh pada Sarah yang sedang sibuk menelepon Nina di rumah, menanyakan keadaan Eldan.“Dia tak akan melepaskanku sendirian, Ginna. Aku dipantau dua puluh empat jam oleh orang rumah.”Ginna manggut-manggut, paham kondisi yang tengah dialami Kalea.“Tapi, nenekmu kayaknya lebih proper dari kita. Dia badass abis. Keren sekali gayanya.”
“Apa?” Sarah yang sedang menggendong Eldan menatap Hamish dan Elias bergantian. Anak dan cucu lelakinya itu mendekatinya dengan wajah-wajah serius.“Ma, Mama yakin mau tinggal di sini?” tanya Elias.“Kalo tak yakin buat apa bicara?” jawab Sarah.“Terus rumah Mama bagaimana? Kosong?” lanjut Elias.“Ya biar saja, kosong. Aku masih bisa bolak balik seminggu atau dua minggu sekali. Aku ingin di sini setidaknya sampai Lea melahirkan. Aku tak ingin kehilangan penerus keluarga kita lagi.”“Iya, Ma. Tapi ….”“Nenek sama Lea itu gak cocok satu atap!” Hamish bicara tanpa basa-basi. Terang saja Sarah langsung memelototi cucunya itu.“Jangan cari penyakit! Nanti istriku stress kalau serumah denganmu, Nek. Sedangkan ibu hamil itu gak boleh stress!”“Kenapa kalian berdua ini? Kenapa menganggapku hanya akan membahayakan Kalea?” Sarah tak terima.“Karena nenek biasanya kan suka jahat pada Kalea. Mulut Nenek itu loh!”“Mulutmu! Dasar kurang ajar! Mana mungkin aku membahayakan Kalea. Aku ingin di sini
Hamish bertambah kesal pada Sarah. Wanita tua itu sangat ikut campur sekali. Seharusnya dia saja seorang yang masuk menemani Kalea untuk periksa. Tetapi, neneknya itu sangat pemaksa. INgin ikut masuk dengan alasan ingin menjadi salah satu yang pertama mendengar kabar tentang Kalea.“Kenapa Nenek tak di luar saja jaga Eldan?”“Eldan ada Nina. Lagipula memang selama apa sih periksa kehamilan? Tak akan sampai setengah jam!” Sarah mendelik galak. Aura judesnya memang tak pernah hilang.Sarah sendiri memang ingin menemani Kalea. Dulu, ketika Saraswati masih hidup, ia tak pernah turut ikut menemani masa-masa hamil menantunya itu karena memang keduanya tak pernah akrab.Ia pikir, ia akan memiliki momen itu saat Elias menikahi Marissa. Nyatanya, Marissa malah berkhianat. Dan kini … tak ada salahnya. Ia pun ingin memberikan curahan perhatian pada calon penerus keluarganya yang berharga.“Pokoknya aku akan masuk!” tegas Sarah memelototi Hamish.Tak hanya itu, Elias pun sama ngototnya. Tak mau m
Hamish mondar-mandir. Ia sedang menunggu satpam rumahnya yang sengaja ia telpon dan diminta tolong untuk membelikan beberapa tespek.Ia begitu gelisah. Antara harapan yang setinggi gunung dan juga ketakutan akan rasa kecewa.“Kalau misal nanti hasilnya negatif ….”“Ssstt! Tak masalah!” Hamish memotong ucapan Kalea.“Kita hanya ingin tahu saja. Penasaran. Aku memang berharap banyak. Kamu pun pasti begitu. Tapi, aku juga tahu, ruang besar dalam hati untuk rasa kecewa harus disiapkan.”Kalea menghela napas. Menunduk di tepi tempat tidur dengan perasaan campur aduk.Hamish langsung melompat dan berlari ke pintu kala terdengar ketukan dari sana.Seorang satpam rumah yang ia suruh sudah berdiri di depan pintu seraya menyodorkan satu kantung plastik kecil.“Kamu tak kasih tahu siapa pun soal ini, kan?” tanya Hamish. Tak ingin siapa pun tahu apa yang ia dan Kalea lakukan saat ini karena semua belum pasti.“Tidak, Tuan.”Hamish mengangguk. Berterima kasih seraya mengganti dan melebihkan uang s
“Hah? Sudah enam minggu? J-J-Jadi … selama ini … Ginna?” Stephen membekap mulutnya.“Jadi … sudah enam minggu,” ucapnya masih saja tak percaya jika Ginna ternyata tengah mengandung. Berkali-kali ia menampar pipinya sendiri agar yakin kalau yang terjadi bukanlah mimpi.Ginna sendiri sejak tahu hamil diam saja. Ia terlalu kaget sampai tak bisa berkata apa-apa. Sementara Ling Ling, wanita itu tak henti-henti menangis. Rasa bahagianya terlalu megah untuk dilukiskan.Dokter Jessica senyum-senyum melihat berbagai ekspresi keluarga tersebut.“Sepertinya, promil yang sudah kita rencanakan sudah tak perlu lagi. Selamat, Dok. Kamu akan jadi ayah. Aku turut berbahagia. Akhirnya, ya, Dok,” ucap Dokter Jessica.Stephen menoleh menatap Dokter Jessica. Matanya tiba-tiba memanas. Berkaca-kaca.“Aku beneran akan jadi ayah?” ucapnya serak menahan tangis.Dokter Jessica mengangguk.“Tolong dijaga baik-baik, ya. So far, janinnya cukup baik. Tapi, sebaiknya jaga kesehatan, jangan dulu capek-capek. Mama ja
“Aiyaaa! Kamu pergilah bekerja. Biar Ginna mama yang urus.” Ling Ling berusaha bersikap seceria mungkin saat menemui anak menantunya.“Iya. Kamu kerja saja. Kemarin kamu tak masuk demi menemani aku. Hari ini ada Mama. Kamu pergi saja. Aku juga sudah lebih baik.” Ginna meyakinkan Stephen yang tampak berat meninggalkannya.“Baiklah,” ucap Stephen. Pria itu akhirnya menuruti keinginan ibu dan istrinya.“Titip Ginna, Ma,” lanjutnya.“Aiyaaa! Memangnya kamu pikir mama akan apakan Ginna. Pake titip-titip segala!” Ling Ling protes.“Ya siapa tahu Mama tiba-tiba jadi mertua jahat.”“Mulutmuuu! Kapan aku pernah jadi mertua jahat!” Ling Ling langsung berseru dengan mata sipitnya yang melotot.Stephen nyengir, lalu kabur ke kamar mandi. Ia hendak bersiap untuk pergi ke rumah sakit. “Apa jangan-jangan kamu menganggapku jahat, Honey?” Ling Ling menatap Ginna yang sedang tersenyum melihat perdebatannya dengan Stephen.“Hah? Apa, Ma? Jahat?”Ling Ling mengangguk. “Siapa tahu ternyata sikap mama sel







