ログインGwen berteriak-teriak. Wanita itu naik dari sungai ke darat. Berjalan cepat, membawa tubuhnya yang kuyup dengan rambut sebagian sudah terbakar. Wanita itu mengepalkan tangan. Ada amarah, juga cemas dalam yang menggelegak dalam dadanya.Mbah Ageng menatap Gwen yang berjalan ke arahnya. Rambut dan sekujur tubuhnya meneteskan air sungai. Dan seketika pria tua itu seperti baru tersadar akan sesuatu yang penting. Dia pun langsung menyongsong Gwen dengan kedua tangan terulur.“Mbah! Bagaimana ini? Apa ini masih bisa diulang? Ritual saya hancur!” Gwen menjerit-jerit, lalu menangis tersedu.“Bagaimana nasib saya sekarang! Bagaimanaaa!” jeritnya lagi. Menangis semakin kencang.“Pergilah. Pergi keluar pulau sebelum fajar datang.” Mbah Ageng memegang bahu Gwen yang gemetar.“Pergi sekarang juga.” Mbah Ageng berkata dengan sungguh-sungguh.Gwen menatap Mbah Ageng dengan nanar penuh air mata.“Apa? Keluar pulau? Sekarang juga?”“Iya. Mbah sudah bilang padamu, konsekuensinya berat. Perjanjian sudah
“Heh! Jangan macam-macam kamu, ya!” Leo berteriak seraya mengacungkan bilah kayu di tangannya. Tak peduli meski tubuhnya masih bergulingan di tanah yang menurun.“Jangan macam-macam sama istriku!” Leo kembali berteriak-teriak. Pria itu susah payah berusaha bangkit berdiri.“Papaaa!” Ling Ling menatap Leo dengan rasa cinta yang kembali menyala. Hatinya tersentuh. Leo terlihat gagah. Keren. Begitu berani demi membela dirinya.Mbah Ageng kini beralih mengacungkan pisaunya pada Leo. Pria dengan baju serba hitam itu mulai kuda-kuda. Waspada. Bersiap menyerang Leo.Leo tak gentar. Pria itu maju sambil mengayunkan bilah kayu di tangannya tinggi-tinggi.“HIyaaaaahh!” Leo berteriak dan ….KREKK!Leo tiba-tiba melotot, terdiam, mematung.“Adduuuuuuuhhh!” Pria itu tiba-tiba berteriak, mengaduh kesakitan. Pinggangnya keseleo sampai berbunyi.Kayu di tangannya pun terlepas dan berganti sibuk memegangi pinggangnya yang kesakitan.“Aiyaaa! Papa! Papanya Steveee! Haduuuhh!” Ling Ling langsung panik.
“Pa, kamu berjaga. Kalau misal lihat ada yang janggal cepat kasih kode.” Ling Ling memberi perintah pada suaminya.“Gak aku aja yang turun, kamu yang jaga?”“Aiyaaa! Pinggang dan kakimu sering cekot-cekot. Mana bisa kamu harus turun ke pinggir sungai sana. Jalannya banyak batu.”Leo akhirnya setuju.Ling Ling yang keluar lebih dulu dari persembunyian. Berjalan membungkuk-bungkuk, mengendap, menuju nampan sesajen di bawah obor yang cahaya apinya menyala meliuk-liuk tertiup angin.Tak lama, Martha ikut turun setelah membuang sepatu princess-nya dan menggulung celana panjangnya. Ia rela tak beralas kaki demi menemani Ling Ling.Setelahnya, kawan-kawan yang lain ikut turun satu per satu.“Cepaaat! Ambil saja semua!” bisik Martha seraya membuang penutup sangkar yang menaungi nampan sesajen tersebut.“Ini kita bawa pulang?” tanya Donna yang rebutan ayam hitam yang sudah disembelih dengan Maria.“Aiyaa! Kenapa dibawa pulang? Memang mau kau bikin sop, hah? Buang saja.”“Kemana?”“Ke sungai!”
Gwen sudah sangat bertekad. Ia lawan dinginnya air sungai. Tetap tenang berendam di cekungan. Duduk bersila di batu yang ada di dasar.Gwen memejamkan matanya. Berusaha memusatkan seluruh pikiran pada apa yang tengah diinginkannya.Hamish.Wanita itu menginginkan Hamish pergi selamanya dari muka bumi. Ia ingin Hamish membayar semua perbuatan buruk yang pernah dilakukan padanya. Ia ingin Hamish dikirim ke neraka. Mati menderita.Dendam kesumat menyala-nyala dalam dada Gwen. Kenangan demi kenangan masa lalu berkelebatan. Dari mulai kenangan manis nan indah, hingga memori-memori buruk yang sampai sekarang pun masih sukses membuatnya gemetaran.“Aku ingin pria iblis itu mati! Dia tak berhak bahagia! Dia harus tersiksa! Dia harus merana seperti halnya aku.” Gwen benar-benar sudah dibutakan dendam serta kebencian.“Kau mau Hamish mati seperti apa?” Sayup-sayup, ia merasa ada sebuah suara membisiki. Suara itu jenis suara yang berat, suara laki-laki.“Katakanlah dan aku akan mengabulkannya.”
Gwen tercengang saat mendengar syarat-syarat yang harus dipenuhinya. Wanita itu menatap Mbah Ageng, berharap bisa mendapat kemudahan, tetapi Mbah Ageng hanya bisa menggeleng.“Ini belum seberapa. Ini sudah diambil yang paling mudah buatmu. Sudah mbah bilang, pikirkan masak-masak soal ini. Lihatlah sekarang! Kamu malah jadi ragu-ragu. Dan seperti yang mbah katakan sebelumnya, sekali kamu terjun, maka tak ada lagi jalan kembali. Kita Sudah sepakat itu, kan?”Gwen tercenung beberapa saat, memikirkan segala resiko yang mungkin akan ditanggungnya. Namun, kemudian ia kembali menganggukkan kepala.“Saya akan menerimanya, Mbah. Saya akan lakukan semua ritualnya. Lalu, kapan kita mulai, Mbah?” Gwen benar-benar sudah tak sabar“Satu jam lagi,” ucap Mbah Ageng.“Nanti, kamu akan berendam di dekat hulu Sungai tak jauh dari sini sampai tengah malam. Jangan keluar dari sana apa pun yang terjadi sebelum mbah beri instruksi.”Gwen menangguk.“Mungkin nanti kamu akan mendapat gangguan. Tapi kamu harus
“Mati?” Pria tua itu mengerutkan alisnya.“Ya. Saya ingin dia mati.” Gwen berkata mantap, menatap sungguh-sungguh pria tua yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Ageng.Dulu, ia memang memuja dan begitu mencintai Hamish. Tapi kini, yang tersisa hanya dendam dan ketakutan yang tak berkesudahan.Gwen ingin mengakhiri segalanya. Ingin terbebas dari kungkungan kecemasan akan kehadiran Hamish. Ia ingin Merdeka. Lepas seutuhnya. Dan baginya, untuk mereguk kebebasan itu adalah dengan tidak ada Hamish di dunia ini.“Buat dia mati dengan cara paling menderita, yang paling menyakitkan, dia harus juga merasakan apa itu sakit. Apa itu menderita. Aku ingin dia tersiksa,” ucapnya dengan tangan mengepal. “Buat dia mati sesegera mungkin, Mbah.”Mbah Ageng tampak berpikir lama, lalu mengerjap seraya mengusap janggut tipisnya yang berwarna keperakan.“Kamu yakin?” tanyanya.“Tentu saja. Saya sudah jauh-jauh kesini, Mbah.”“Urusan nyawa itu sulit, loh. Bayarannya mahal. Sangat mahal,” ucap Mbah Ageng.
Sudah hampir tengah malam. Hamish masih berkeliling dengan mobilnya. Sendirian, tanpa tujuan jelas.Bar? Eksekutif klub? Atau kehidupan malam lainnya, kini sudah tak menarik lagi. Tak ada tempat pelarian yang pas saat ini untuknya. Ia butuh tenang, ia butuh pikiran waras.“Kenapa? Kenapa aku terje
“Bobby?” Kalea terkejut melihat kemunculan Bobby. Dan ia senang karena melihat pemuda itu tersenyum ramah padanya. Tandanya, insiden pesan balasan Hamish sudah benar-benar termaafkan.Di sisi Kalea, Hamish berdecak. Menatap malas Bobby yang hari ini diakuinya tampil lebih rapi. Pemuda itu memakai s
Kalea menangis saking leganya. Ia berhasil mengirimkan karyanya di detik-detik terakhir.Setelah ketiduran semalam di gudang, ia melanjutkan menggambar di pagi buta dan baru rampung pada pukul sembilan.Masalah berikutnya muncul: pengiriman karya. Kalea tak punya gawai, sedangkan ponsel May dan Dia
“Pergi bersenang-senang saja sendiri! Aku tak mau! Tak perlu menjemputku! Aku akan pergi dengan Tuan Hamish. Dan jangan pernah menghubungiku lagi!”Kalea membaca pesan yang dikirim Hamish dari ponselnya dengan ngeri. “Apa Tuan sudah tak waras?” desisnya.Pesan balasan dari Bobby yang penuh kebingun







