LOGINMalam harinya, kamar utama kediaman Hamilton tenggelam dalam kesunyian yang menekan.Aurelia baru saja selesai mengeringkan rambutnya di depan meja rias ketika pintu kamar mandi terbuka. Caleb melangkah keluar hanya dengan balunan celana panjang hitam, membiarkan dada bidangnya bertelanjang dada. Tetesan air di rambutnya jatuh perlahan menelusuri otot perutnya yang kaku.Aurelia menatap pantulan suaminya dari cermin. "Caleb, kau tahu soal kejadian di galeri tadi siang?"Caleb tidak menjawab. Pria itu melangkah mendekat. Ia mengambil alih pengering rambut dari tangan Aurelia. Jemarinya dengan lembut mengeringkan rambut istrinya itu."Ya, tapi aku terlambat mengetahuinya." Wajahnya masih menyiratkan kedongkolan begitu mengingat Nathaneil maju lebih cepat darinya."Pria itu menyelesaikan masalahmu dengan sangat efisien," ujar Caleb, suaranya rendah tapi sarat akan kecemburuan.Aurelia memutar tubuhnya menghadap Caleb. "Nathaneil punya koneksi di dewan pengawas.""Hm, tetap saja itu
Malam harinya, kamar utama kediaman Hamilton tenggelam dalam kesunyian yang menekan.Aurelia baru saja selesai mengeringkan rambutnya di depan meja rias ketika pintu kamar mandi terbuka. Caleb melangkah keluar hanya dengan balunan celana panjang hitam, membiarkan dada bidangnya bertelanjang dada. Tetesan air di rambutnya jatuh perlahan menelusuri otot perutnya yang kaku.Aurelia menatap pantulan suaminya dari cermin. "Caleb, kau tahu soal kejadian di galeri tadi siang?"Caleb tidak menjawab. Pria itu melangkah mendekat. Ia mengambil alih pengering rambut dari tangan Aurelia. Jemarinya dengan lembut mengeringkan rambut istrinya itu."Ya, tapi aku terlambat mengetahuinya." Wajahnya masih menyiratkan kedongkolan begitu mengingat Nathaneil maju lebih cepat darinya."Pria itu menyelesaikan masalahmu dengan sangat efisien," ujar Caleb, suaranya rendah tapi sarat akan kecemburuan.Aurelia memutar tubuhnya menghadap Caleb. "Nathaneil punya koneksi di dewan pengawas.""Hm, tetap saja itu
Malam harinya, kamar utama kediaman Hamilton tenggelam dalam kesunyian yang menekan.Aurelia baru saja selesai mengeringkan rambutnya di depan meja rias ketika pintu kamar mandi terbuka. Caleb melangkah keluar hanya dengan balunan celana panjang hitam, membiarkan dada bidangnya bertelanjang dada. Tetesan air di rambutnya jatuh perlahan menelusuri otot perutnya yang kaku.Aurelia menatap pantulan suaminya dari cermin. "Caleb, kau tahu soal kejadian di galeri tadi siang?"Caleb tidak menjawab. Pria itu melangkah mendekat. Ia mengambil alih pengering rambut dari tangan Aurelia. Jemarinya dengan lembut mengeringkan rambut istrinya itu."Ya, tapi aku terlambat mengetahuinya." Wajahnya masih menyiratkan kedongkolan begitu mengingat Nathaneil maju lebih cepat darinya."Pria itu menyelesaikan masalahmu dengan sangat efisien," ujar Caleb, suaranya rendah tapi sarat akan kecemburuan.Aurelia memutar tubuhnya menghadap Caleb. "Nathaneil punya koneksi di dewan pengawas.""Hm, tetap saja itu
Aurelia tidak tinggal diam. Dia segera mengemudikan mobilnya menuju mansion. Dia tidak menghubungi Caleb sama sekali. Peduli setan jika citranya makin buruk di hadapan keluarga Hamilton. Toh, sampai kapan pun ia yakin, ia tetap dianggap parasit oleh keluarga itu.Ia masih ingat betul waktu dia masih kecil, wanita tua itu selalu menyebutnya pencuri makanan, hanya karena Caleb selalu memberikan cemilan-cemilan mahal pada mereka.Aurelia turun dari mobil, melangkah lebar menuju pintu utama. Maya di sana. Ya, seperti kuman yang selalu menempel di tetua Hamilton."Wah, lihat siapa yang datang." Maya melayangkan tatapan sinis padanya. Aurelia mengabaikannya, dan berjalan begitu saja melewatinya."Kau mau kemana?!" Maya menarik tangannya dengan kasar. Aurelia menghempaskan tangannya."Kau tidak boleh masuk ke sini!" Maya menghadang jalan masuk."Kau pemilik rumah ini?" pertanyaan Aurelia membuatnya terdiam. Aurelia tersenyum sinis. "Jika bukan kau pemiliknya, jadi menyingkirlah!" dia men
"Maafkan aku," Caleb membantu Aurelia merebahkan diri di ranjang. "Aku memang berlebihan."Aurelia tersenyum simpul. Dia mengulurkan tangan, mengusap pipi Caleb. Caleb membawa tangan Aurelia ke bibirnya, mengecup dengan lembut."Ke depannya, aku akan lebih mengendalikan diri."Aurelia tergelak, entah percaya atau tidak dengan ucapan suami posesifnya itu. Yang jelas, ini bukan kali pertamanya Caleb mengatakan hal serupa."Aku bersungguh-sungguh kali ini," tegas Caleb dengan mimik yang terlihat sangat meyakinkan. Aurelia langsung tertawa. "Ya, aku percaya." Membawa Caleb ke dalam pelukannya.Wajah tegang Caleb langsung melunak. "Istirahatlah, aku akan mengurus putra kita.""Terima kasih," Aurelia melemparkan senyum lebar yang tulus.Caleb mengecup kening Aurelia sebelum pergi keluar kamar.***"Aurelia..." Suara Jake membuat Aurelia menoleh ke ambang pintu.Melihat wajah Jake yang tegang, dia langsung berdiri. Nathaneil yang sedang berdiskusi juga ikut berdiri."Ada apa?" Aurelia mende
"Maafkan aku," Caleb membantu Aurelia merebahkan diri di ranjang. "Aku memang berlebihan."Aurelia tersenyum simpul. Dia mengulurkan tangan, mengusap pipi Caleb. Caleb membawa tangan Aurelia ke bibirnya, mengecup dengan lembut."Ke depannya, aku akan lebih mengendalikan diri."Aurelia tergelak, entah percaya atau tidak dengan ucapan suami posesifnya itu. Yang jelas, ini bukan kali pertamanya Caleb mengatakan hal serupa."Aku bersungguh-sungguh kali ini," tegas Caleb dengan mimik yang terlihat sangat meyakinkan. Aurelia langsung tertawa. "Ya, aku percaya." Membawa Caleb ke dalam pelukannya.Wajah tegang Caleb langsung melunak. "Istirahatlah, aku akan mengurus putra kita.""Terima kasih," Aurelia melemparkan senyum lebar yang tulus.Caleb mengecup kening Aurelia sebelum pergi keluar kamar.***"Aurelia..." Suara Jake membuat Aurelia menoleh ke ambang pintu.Melihat wajah Jake yang tegang, dia langsung berdiri. Nathaneil yang sedang berdiskusi juga ikut berdiri."Ada apa?" Aurelia mende
Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela
“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka
Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.“Clarissa!”Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku
"Gantikan aku. Untuk malam ini saja." "Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga







