LOGIN"Dengarkan aku," pangkas Caleb tegas. Ibu jarinya mengusap dagu Aurelia, memaksa wanita itu menatap lurus ke dalam manik matanya. "Selama aku masih bernapas, keputusan Nenek tidak berlaku. Hari ini juga aku yang akan membereskan masalah ini."Aurelia menepis tangan Caleb dari wajahnya. "Bagaimana caramu membereskannya? Dengan bertengkar lagi? Dengan membuat rumah ini makin panas?""Dengan menyingkirkan siapa pun yang berani mengusikmu dan Maxi," jawab Caleb mutlak tanpa keraguan.Suara ketukan pintu di lantai dasar menyela perdebatan panas mereka. Asistennya sudah berdiri di area foyer dengan raut wajah cemas ketika Caleb dan Aurelia turun dari tangga utama."Tuan Caleb," sapa Josh seraya membungkuk singkat. "Nyonya Moren baru saja tiba di ruang tamu utama bersama tim hukum keluarga Hamilton."Aurelia mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kehadiran Nenek Moren di rumah mereka pagi ini secara terang-terangan adalah bentuk deklarasi perang yang sengaja diumpankan.Caleb menggenggam
"Perisai tidak selalu bisa menahan luka dari dalam, Caleb."Aurelia membisikkan kalimat itu pelan seraya mengangkat kepalanya kembali. Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Caleb, tetapi pria itu justru mempererat kuncian jemarinya.Caleb mendekatkan tubuhnya. Dalam kegelapan kabin mobil yang temaram, aura dominannya terasa begitu menghimpit. "Maksudmu luka yang kubuat sendiri?"Aurelia berpaling, menatap jalanan kota dari balik kaca mobil. "Kau yang paling tahu jawabannya." Dalam hati, ia tahu Caleb tidak bersalah di sini. Hanya saja, ia memang butuh seseorang untuk disalahkan.Caleb tidak membalas lagi. Sepanjang sisa perjalanan menuju rumah, genggaman tangannya di jemari Aurelia tidak mengendur sedikit pun.Mobil berhenti sempurna di garasi utama. Begitu sopir membukakan pintu, Aurelia melangkah keluar lebih dulu sambil memasang jas Caleb lagi di bahunya. Pergelangan kakinya yang sempat terkilir masih menyisakan sedikit rasa pegal, membuat langkahnya agak perlahan saat
"Sayang sekali, selera gaun murah memang sangat mudah ditiru."Suara sinis Maya mengalun lembut namun cukup kencang untuk menarik perhatian beberapa tamu elit di sekitar meja prasmanan. Maya melangkah anggun menghampiri Aurelia dan Barbara. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah marun dengan potongan dada rendah dan aksen jahitan yang persis sama dengan gaun milik Aurelia.Aurelia membeku, menurunkan piring kecil di tangannya ke atas meja porselen. Pandangan orang-orang di sekeliling mereka mulai terarah pada kedua wanita itu, membandingkan penampilan mereka dengan bisikan-bisikan halus."Astaga, Maya," cetus Barbara tajam, matanya menyipit sinis. "Kau niat sekali memesan gaun yang sama hanya untuk mencari perhatian di acara ini?"Maya tersenyum tipis, merapikan tatanan rambutnya dengan gerakan elegan yang dibuat-buat. "Aku hanya memesan koleksi terbaru dari perancang langganan keluarga Sterling. Aku mana tahu kalau wanita seperti Aurelia bisa menyewa gaun yang sama persis."Aur
"Pegang tanganku dan jangan pernah melepaskannya meski hanya sedetik." Caleb membisikkan kalimat itu tepat di samping telinga Aurelia begitu mereka menginjakkan kaki di aula utama ballroom yang megah. Cengkeraman jemari Caleb di sela-sela jari Aurelia terasa begitu posesif, hangat, dan tidak terbantahkan. Pria itu menuntunnya membelah kerumunan tamu elit yang mulai mengarahkan pandangan penuh rasa ingin tahu pada mereka. Seorang pria paruh baya berjas abu-abu gelap melangkah mendekat, menyunggingkan senyum lebar sambil mengangkat gelas sampanyenya. "Caleb! Akhirnya kau muncul juga," sapa kolega senior itu dengan nada terkejut. Matanya melirik hangat pada jemari mereka yang saling bertautan. "Kami semua sungguh tidak tahu kalau kau sudah menikah lagi. Media bahkan tidak mencium kabar ini sama sekali." Caleb tersenyum tipis, merapatkan tubuh Aurelia ke samping pinggangnya. "Pernikahan kami digelar secara privat demi kenyamanan keluarga. Pesta resminya akan kami adakan nanti."
Masalah Aureli akhir-akhir ini, kesulitan mengancing bajunya. "Kenapa dia harus memilih gaun ini," ia terus menggerutu sambil berusaha menggapai kancingnya.Caleb yang baru keluar dari dalam toilet, tergelak mendengar gerutuannya. Alih-alih masuk ke ruang ganti, Caleb malah mendekati Aurelia.Aurelia melotot melihat penampilannya di cermin. Masih mengenakan handuk di pinggang."Apa yang kau lakukan?""Membantumu." Tangan Caleb dengan posesif mengancing baju Aurelia.Entah perasaan Aurelia atau tidak, Caleb seperti sengaja berlama-lama di sana. Jemari dinginnya terus menyentuh kulit punggungnya."Caleb...""Selesai," Caleb menyela."Gaun ini terlihat sangat indah," gumam Caleb. Pandangannya tidak lepas dari bayangan tubuh Aurelia di cermin besar di hadapan mereka.Aurelia mengangkat alisnya, menatap Caleb lewat pantulan kaca. "Hanya gaunnya yang indah?"Caleb tidak langsung menjawab. Pria itu mengunci tatapan mereka melalui cermin, membiarkan keheningan menggantung sejenak di udara.
"Kami pergi dulu," Caleb berpamitan pada Aurelia setelah membantu wanita itu turun ke lantai bawah."Ya. Hati-hati.""Tunggu aku."Aurelia mengerutkan dahinya, "kenapa aku harus menunggumu.""Kita dalam masa bulan madu, kita harus menikmatinya.""Aku tidak tahu apa yang harus dinikmati.""Memangnya kau mau menikmati apa?" kelakar Caleb dengan tatapan menggoda.Aurelia mendelik kesal. Ia kemudian meminta Maxi mendekat. "Semoga sekolah barumu menyenangkan, Sayang.""Bye, Ibu." Maxi memeluk dan mendaratkan kecupan di pipinya."Jangan banyak bergerak," Caleb ikut mengecup pipinya. Tubuhnya langsung tegang. "Kakimu masih harus diistirahatkan. Aku langsung pulang setelah mengantar Maxi. Selama aku pergi, pikirkan apa yang akan kita lakukan nanti."Mengabaikan wajah Aurelia yang terpaku, Caleb dan Maxi segera pergi. "Tuan Caleb manis sekali."Aurelia tersentak. Dia menoleh ke belakang dan menemukan Noer, pengasuh Maxi."Dia menyebalkan Noer.""Wajah Ibu sampai tersipu begitu.""Noer..." ia
Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi
“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka
Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.“Clarissa!”Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku







