LOGIN"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!"Roland melangkah tegap mendekati pusat kerusuhan dengan kening berkerut kaku. Pria itu menatap nanar pecahan porselen dan beberapa rak aksesori yang ambruk berantakan."Wanita ini yang lebih dulu cari gara-gara!" tuding Aurelia tajam, menunjuk lurus ke arah wanita bergaun mewah di depannya."Kau kenal dengan mereka, Roland?" Wanita angkuh itu langsung melingkarkan kedua tangannya dengan manja di lengan tegap Roland. "Wanita gendut itu... maksudku dia sengaja menyambar dan merebut barang yang ingin kubeli!""Sampai sejauh ini dia masih terus mempertahankan kebohongannya!" celetuk Barbara sinis, menyilangkan tangan di dada dengan napas memburu."Roland, kau lihat sendiri kan?!" adu wanita itu lagi, merengek dengan intonasi memelas yang sengaja dibuat-buat. "Dia sangat kasar padaku!"Adu mulut di antara ketiga wanita itu kembali meletup hebat, membuat pelipis Roland berdenyut nyeri menahan pusing. Situasi kian memanas saat Barbara dan wanita itu ke
"Lepaskan tas itu! Aku yang lebih dulu memegangnya!"Pekikan suara tajam berbau intimidasi menghantam pendengaran Barbara saat jemarinya baru saja melingkar di atas tali tas tangan kulit berkualitas tinggi.Usai memanjakan diri di salon, Aurelia dan Barbara memutuskan untuk melanjutkan agenda akhir pekan mereka dengan berbelanja. Keduanya berkeliling memilih deretan pakaian serta aksesori mewah. Saat Barbara hendak mengambil sebuah tas mungil edisi terbatas dari rak pajangan, sebuah tangan lentik bergaris tajam datang menyambar benda yang sama di waktu yang bersamaan.Seorang wanita tinggi semampai dengan paras cantik namun sarat akan keangkuhan menatap Barbara dengan pendar mata meremehkan."Jelas-jelas benda ini sudah ada di dalam genggaman tanganku," tegas Barbara kaku, menahan tarikan tas tersebut. "Aku yang mengambilnya lebih dulu dari rak."Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menyapu penampilan Barbara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyum ejekan yang amat si
"Masalah utamanya adalah tidak ada satu pun pria yang bisa kumanfaatkan untuk membuatnya cemburu!"Barbara membuang napas kasar dengan raut frustrasi yang membakar wajah cantiknya."Banyak pria di luar sana, Barbara," sahut Aurelia cepat tanpa membuang waktu. "Kau hanya tidak pernah sudi memberi mereka kesempatan sedikit pun. Masalah sebenarnya ada pada dirimu sendiri. Hati dan pikiranmu sepenuhnya terkunci hanya untuk Alex. Kau sudah tergila-gila padanya sejak kalian masih remaja."Barbara bungkam total. Wanita itu tidak mencoba membantah patah kata pun dari kalimat sahabatnya.Aurelia menarik napas panjang, menatap mata Barbara yang meredup. Ia paham betul apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu. Ia mengalami hal yang sama persis selama bertahun-tahun. Tergila-gila dan memperjuangkan satu nama pria tanpa kepastian yang jelas."Posisi kita memang sangat sulit," bisik Aurelia rendah dengan raut wajah melunak. "Kita diperbudak oleh perasaan kita sendiri."Barbara menghembuskan n
"Jadi maksudmu Serena berselingkuh dengan Peter?!"Pekikan kaget Barbara memotong alunan musik lembut yang mengalun di dalam ruang perawatan salon eksklusif. Barbara membelalakkan matanya lebar-lebar, menatap Aurelia dari balik cermin tempat mereka sedang menikmati perawatan wajah akhir pekan.Aurelia menganggukkan kepalanya pelan. Keheningan menyergap sejenak saat terapis mereka merapikan handuk hangat di bahu masing-masing.Caleb sebenarnya mengajak Aurelia pergi berkencan lagi hari ini. Aurelia menolak ajakan tersebut secara halus dengan alasan masih jengkel atas kelakuan suaminya yang mendoktrin Maxi soal wanita. Bertepatan dengan itu, Barbara mengontaknya untuk pergi berbelanja dan merawat diri."Sampai sekarang Caleb bahkan tidak menjawab panggilanku lagi," aku Aurelia seraya menatap layar ponselnya yang sepi. "Menurutmu, apa kemarahanku padanya bisa diterima?"Barbara langsung mengangguk mantap tanpa ragu. "Sangat wajar jika kau marah, Aurelia! Serena membawa malapetaka besar d
"Selamat pagi, Ibu!"Maxi menerjang masuk ke dalam kamar orang tuanya, melompat bebas ke tengah kasur empuk di antara Caleb dan Aurelia. Bocah kecil itu melingkarkan lengan mungilnya di leher ibunya, menduselkan wajahnya dengan manja.Caleb seketika meraih tubuh mungil putranya dari samping, merengkuhnya erat lalu mulai memutar tubuh Maxi hingga tawa riang bocah itu pecah memenuhi kamar. Gelak tawa keduanya bergaung hangat. Hari ini akhir pekan. Tidak ada jadwal pekerjaan, tidak ada berkas yang menunggu di kantor."Bagaimana, Buddy? Kau sudah memutuskan gadis mana yang ingin kau jadikan pacar?" tanya Caleb seraya mendudukkan Maxi di dadanya.Aurelia hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dua generasi Hamilton di depannya. Selalu saja topik wanita yang menjadi bahan pembicaraan mereka setiap pagi.Maxi mendesah berat, memasang raut wajah seolah menanggung beban hidup yang amat besar. "Sejauh ini Moza yang terbaik, Ayah. Tapi mau bagaimana lagi? Gadis-gadis lain di sekolah tida
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?"Langkah kaki Caleb terhenti seketika di ambang pintu kamar. Pria itu mematung kaku, menatap Aurelia yang baru saja selesai mandi dengan balutan jubah sutra putih. Caleb menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan raut canggung, memancarkan mata yang sarat akan permohonan.Aurelia memasang wajah ketus tanpa minat. Ia melangkah acuh menuju meja rias, mendaratkan bokongnya di atas kursi lalu mulai mengeringkan helai rambut basahnya di depan cermin besar."Bukankah kau sedang marah padaku dan tidak ingin tidur bersamaku?" cetus Aurelia sarkas, melemparkan sindiran tajam yang menghantam dada Caleb."Sekarang kenapa tiba-tiba kembali lagi."Aurelia meremas handuk di tangannya dengan perasaan dongkol yang membakar dada. Ia sudah ketakutan setengah mati membayangkan kehancuran rumah tangga mereka, namun Caleb justru sengaja memanfaatkan rasa takut itu untuk menarik perhatiannya. Alasan utama yang membuat amarahnya wajar meledak adalah keputusan Caleb yan
Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi
“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka
Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.“Clarissa!”Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku







