LOGIN"Menikahlah demi keluarga kita! Toh, kamu tahu kan hanya orang kaya yang berhak punya mimpi?" Laras tercekat. Meski harus jatuh dan sakit, dia bersedia mengejar mimpinya. Bukankah itu lebih baik daripada harus menjadi istri kedua? Tapi, sayangnya tidak punya pilihan..... Lantas, bagaimana nasib Laras selanjutnya? Akankah dia bahagia kala harus menjadi Istri Kedua CEO Muda?
View MorePukul 10 pagi, Laras sudah berada di rumah sakit bersama Jovian dan Bella. Tujuannya tentu saja untuk menuruti permintaan Bella agar Laras melakukan prosedur bayi tabung. Laras tidak lagi bisa melawan permintaan Bella, sebab ia baru tahu bahwa perempuan itu memberi lebih banyak dari yang mereka sepakati untuk Ayah dan ibunya. Katanya, Bella bahkan memberikan sebuah restoran miliknya pada ayah Laras. Alasannya sudah pasti agar perempuan itu lebih leluasa untuk mengatur hidup Laras. Jadi, pada akhirnya Laras hanya bisa pasrah ketika Bella membawanya ke rumah sakit itu. Bukan rumah sakit milik keluarga Bella, melainkan rumah sakit yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Bella sengaja mengajak Laras ke rumah sakit yang berada di pinggiran kota, sebab ia tidak ingin menjadi bahan gosip diantara rekan-rekannya. Kini mereka sedang menunggu giliran untuk masuk ke ruangan dokter, bersama beberapa pasien lain yang sedang mengantre untuk memeriksa kandungannya. Hingga bermenit-menit setel
Pagi ini, Laras terbangun dengan perasaannya yang begitu kosong. Ia memang tinggal di rumah yang luas dan nyaman, ia juga sudah tidak lagi pusing soal uang atau hutang-hutang keluarganya. Namun, entah mengapa hal itu tidak membuat perasaannya membaik. Pernah dengar kalimat 'uang tidak menjamin kebahagiaanmu'? Laras akan membenarkan hal itu. Buktinya, ia tidak bahagia meski kini jumlah angka di rekeningnya lebih banyak dari yang pernah ia impikan.Setelah merapikan tempat tidurnya, kini Laras melangkah keluar dari kamarnya. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, maka tidak heran kalau rumah itu masih sepi. Bukankah orang-orang kaya memang akan bangun lebih siang dari orang lain? Setidaknya begitu menurut Laras.Perempuan berambut panjang itu berjalan menuju dapur. Laras dibuat terpesona dengan ruangan luas bernuansa putih itu. Kitchen set yang terlihat mewah, kulkas dua pintu yang terlihat sangat mahal, juga mini bar yang biasanya hanya ia lihat
"Dari mana kamu, Ras?" tanya Bella ketika Laras baru saja memasuki kediaman mereka. "Kamu nggak lihat ini udah jam 11 malem? Terus itu kamu dianterin cowok begitu, kamu pikir pantes?""Maaf, Mbak. Tadi aku main ke kafe dia, terus sekalian nunggu kafenya tutup. Karena udah malem, dia jadi anterin aku pulang.""Aku emang bebasin kamu mau ngapain aja di sini, Ras. Tapi tolong tau batasan."Laras hanya mengangguk dan menundukkan wajahnya begitu dalam. Ia sadar bahwa dirinya bersalah, karena pulang terlalu larut. Namun, kafe milik Chandra memang sedang ramai tadi, jadi Laras tidak tega untuk meninggalkan Chandra dan kedua karyawannya yang terlihat kewalahan dengan pengunjung kafe yang ramai."Dia siapa?" tanya Jovian yang baru saja datang dan duduk di sofa ruang tamu, "saya cuma pengen tahu siapa aja temen kamu, Ras.""Namanya Chandra, Jo. Dia temen kuliahku dulu," sahut Laras. Perempuan itu melihat sekilas ke arah Jovian, hanya untuk memastikan laki-laki itu mendengar suaranya yang memang
"Ras, kayaknya kamu bayi tabung aja, deh. Biar lebih cepet prosesnya."Laras mengacak rambutnya frustasi ketika mengingat ucapan Bella tadi sore. Saat itu Laras sedang duduk sambil menonton drama favoritnya di ponsel miliknya, lalu Bella tiba-tiba pulang ke rumah dan mengatakan sebuah kalimat yang menurut Laras sangat menyebalkan. Bukannya ia menunggu momen untuk tidur dengan Jovian atau apa pun itu, tapi menurut Laras ucapan Bella sudah keterlaluan. Kalau ujung-ujungnya ia harus menjalankan prosedur bayi tabung itu, lalu untuk apa dirinya menikah dan membatalkan beasiswanya?"Kenapa lagi kali ini?" tanya Chandra yang baru saja meletakkan minuman di hadapan Laras.Benar, perempuan itu sekarang sedang berada di kafe milik Chandra, sebab ia tidak ingin terus berduaan dengan Bella di rumah itu."Lo tau nggak, si Bella itu ngomong apa?" Laras mengaduk minumannya kasar. "Kayaknya kamu bayi tabung aja deh, biar cepet prosesnya," katanya sambil meniru gaya bicara Bella."Lah? Terus ngapain s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews