ANMELDENGais, maaf baru update yaa. Author sakit, tapi hari ini diusahakan nulis banyak supaya bisa kasih crazy up sebelum lebaran. Mohon doa dan dukungannya ya, jangan lupa ulasan positifnya untuk Dianaᕕ( ཀ ʖ̯ ཀ)ᕗ
Hujan turun sejak dini hari.Langit Norvenia dipenuhi awan kelabu yang berat, seolah seluruh langit ikut merasakan duka yang menyelimuti istana.Di halaman pemakaman keluarga Kekaisaran, tanah basah menghitam oleh air hujan. Para pelayan dan pejabat berdiri dalam barisan rapi, masing-masing memegang payung putih. Di tengah halaman itu, sebuah peti mati besar yang terbuat dari kayu cendana diletakkan di atas panggung batu yang tinggi.Hari ini adalah hari pemakaman Pangeran Kedua. Harsa.Seluruh keluarga Kekaisaran mengenakan pakaian putih berkabung.Para menteri, jenderal, bangsawan. Semua hadir. Termasuk Arthur.Putra Mahkota berdiri di barisan paling depan, mengenakan jubah putih panjang yang basah di bagian ujungnya. Rambut hitamnya tertiup angin hujan, namun pria itu tidak terlihat terganggu. Wajahnya tetap tenang, namun tatapannya dingin dan dalam.Di belakangnya berdiri Diana.Wanita itu juga mengenakan pakaian putih sederhana. Embun berdiri di sampingnya dengan payung besar,
Alon turun dari kudanya, pria itu berhenti beberapa langkah dari gerbang. Tatapan tajamnya terpaku pada wajah wanita tersebut.Isabella.Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.Pikiran Alon berputar cepat.Wanita ini seharusnya tidak ada di sini. Lebih tepatnya—Wanita ini seharusnya sudah mati.Beberapa hari lalu, saat ia memutuskan menjadikan Isabella sebagai umpan untuk membuka jalannya kabur, Alon tidak pernah benar-benar peduli apakah wanita itu selamat atau tidak.Justru sebaliknya.Jika Isabella mati, segalanya akan jauh lebih mudah.Tidak ada beban. Tidak ada tuntutan. Tidak ada seseorang yang mengaku sebagai tunangannya.Namun sekarang—Wanita itu berdiri di hadapannya.Masih hidup dan tersenyum.“Alon?” Isabella memanggil pelan, suara itu penuh kelegaan. “Aku…”Ia menarik napas panjang. “Berhasil datang.”Beberapa penjaga Debi saling bertukar pandang, namun tidak ada yang berani berbicara.Alon akhirnya berjalan mendekat. Langkahnya tenang, ekspresinya perlahan berub
Ruang rapat utama Istana dipenuhi suasana tegang sejak pagi.Peta wilayah Norvenia dan perbatasan Debi terbentang lebar di atas meja panjang.Beberapa jenderal berdiri mengelilinginya.Para menteri militer sesekali menunjuk titik tertentu di peta, menjelaskan kemungkinan jalur serangan dan pertahanan.Di ujung meja, Arthur berdiri dengan kedua tangan bertumpu di permukaan kayu.Sorot matanya tajam.Setiap laporan ia dengarkan tanpa melewatkan detail sekecil apa pun.“Jika Debi menyerang dari sisi barat laut, pasukan kita akan lebih lambat sampai.”Salah satu jenderal menunjuk garis di peta.“Medannya terlalu curam.”Arthur mengangguk pelan. “Kalau begitu kita tidak menunggu mereka datang.” Ia berkata datar. “Kita kuasai jalur itu lebih dulu.”Beberapa jenderal saling berpandangan, namun tidak ada yang membantah.Keputusan itu masuk akal. Diskusi terus berlanjut selama hampir dua jam.Tentang logistik, pasukan cadangan, dan kemungkinan pengkhianatan dari wilayah perbatasan.Hingga akhi
Sejak kabar kehamilan Diana menyebar di seluruh Istana, kehidupan wanita itu berubah jauh lebih drastis daripada yang ia bayangkan.Bukan karena ia sakit.Bukan pula karena tubuhnya melemah.Melainkan karena semua orang tiba-tiba merasa berhak mengawasinya.Para pelayan hampir tidak pernah meninggalkannya sendirian.Tabib datang setiap pagi untuk memeriksa kondisinya.Bahkan para pejabat istana tampak berhati-hati saat berbicara dengannya.Dan yang paling berlebihan dari semuanya—Arthur.Pria itu hampir melarangnya melakukan apa pun.“Tidak boleh bekerja terlalu lama.”“Tidak boleh berdiri terlalu lama.”“Tidak boleh berjalan terlalu jauh.”Daftar larangan itu terasa semakin panjang setiap hari.Bahkan sekadar memeriksa persediaan obat di gudang medis pun sudah tidak diizinkan lagi.Akibatnya, Diana kini menghabiskan sebagian besar waktunya di kediamannya.Pagi itu, ia duduk di kursi panjang dekat jendela.Sinar matahari masuk melalui tirai tipis, menyinari halaman dalam yang tenang.
Jika dunia luar sedang sibuk mempersiapkan perang, maka kehidupan di dalam Istana tidak sepenuhnya dipenuhi suara pedang dan derap pasukan.Ada tempat-tempat yang tetap sunyi, tempat yang seolah terpisah dari kegelisahan dunia luar.Salah satunya adalah perpustakaan arsip Kekaisaran. Bangunan tua itu terletak di bagian paling dalam kompleks Istana.Dindingnya tinggi, dipenuhi rak kayu yang menjulang hingga hampir menyentuh langit-langit.Di dalamnya tersimpan ribuan dokumen, catatan sejarah, surat kerajaan, dan kisah hidup orang-orang yang pernah menjadi bagian dari Kekaisaran.Hari itu, cahaya matahari masuk melalui jendela tinggi yang dilapisi kaca buram. Debu-debu halus berkilau di udara.Di salah satu meja panjang yang dipenuhi tumpukan dokumen, seorang wanita duduk dengan tenang.Karin.Rambutnya yang panjang disanggul sederhana, beberapa lembar arsip terbuka di depannya.Tangannya bergerak cepat membalik halaman demi halaman. Matanya memperhatikan setiap baris tulisan dengan tel
Dua minggu berlalu sejak malam ketika Isabella dilemparkan ke dalam sel penjara kerajaan.Istana Norvenia tidak pernah benar-benar tidur selama waktu itu.Siang dan malam hampir tidak memiliki perbedaan lagi.Obor terus menyala di halaman militer.Suara kuda, langkah prajurit, dan perintah para komandan terdengar hampir tanpa henti.Seluruh kerajaan bergerak dalam satu arah yang sama. Perang.Di aula strategi, peta-peta baru terus digelar di atas meja besar.Utusan datang dan pergi dari perbatasan.Laporan pergerakan pasukan Debi dibacakan setiap hari.Arthur hampir tidak pernah meninggalkan ruang perang.Dan Diana… ia sama sibuknya.Jika Arthur mempersiapkan tentara, Diana mempersiapkan sesuatu yang tidak kalah penting.Logistik.Obat-obatan.Perbekalan bagi prajurit yang mungkin akan kembali dari medan perang dengan luka yang tidak terhitung jumlahnya.Pagi itu, Diana berdiri di dalam gudang medis Istana.Bangunan besar itu terletak di bagian belakang kompleks kerajaan.Biasanya han
“Sa—salam, Pangeran dan Putri Mahkota….”Pelayan pribadi Selir Shofia membungkuk dengan canggung, suaranya sedikit bergetar. Jelas sekali ia merasa muncul di waktu yang tidak tepat, terlebih setelah merasakan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya menguap di udara sekitar kereta.Diana terbatu
“Yang Mulia?” tanya Diana dengan senyum lembut yang nyaris sempurna. Ia melangkah mendekati Arthur tanpa ragu, lalu melingkarkan tangannya di lengan pria itu seolah tindakan tersebut sudah menjadi kebiasaan yang tak perlu dipertanyakan.Arthur sedikit terkejut.Bukan k
Kereta kuda berhenti perlahan di halaman Istana Putra Mahkota. Roda kayunya mengeluarkan suara lirih saat gesekan terakhir dengan batu marmer halaman yang luas dan bersih. Para penjaga istana segera berdiri tegak, menundukkan kepala dengan penuh hormat ketika pintu kereta dibuka.Arthur turun leb
“Maafkan aku karena membuatmu menunggu lama, Putri Mahkota.”Suara Kaisar terdengar hangat ketika pria paruh baya itu akhirnya melangkah masuk ke Paviliun Barat. Jubah kebesarannya bergoyang ringan mengikuti langkahnya, sementara wajahnya menunjukkan sisa kelelahan dari majelis







