LOGINGais, maaf baru update yaa. Author sakit, tapi hari ini diusahakan nulis banyak supaya bisa kasih crazy up sebelum lebaran. Mohon doa dan dukungannya ya, jangan lupa ulasan positifnya untuk Dianaᕕ( ཀ ʖ̯ ཀ)ᕗ
"Maafkan aku," ucap Arthur pelan, suaranya parau dan sedikit pecah. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang entah mengapa terasa lebih sulit dicari daripada saat memimpin ribuan pasukan. "Alih-alih datang untuk meminta maaf padamu dengan benar, aku justru meledak marah dan membentakmu semalam. Maafkan aku, Diana. Saat itu... aku merasa bingung dan sangat marah pada diriku sendiri, juga padamu."Arthur berhenti sejenak, lalu mendongak sedikit untuk melirik reaksi Diana, meski ia segera menunduk kembali saat melihat ketenangan wajah istrinya. "Menurutku, seharusnya kau merasa senang atau setidaknya sedikit bangga karena aku berusaha menghindari mereka mati-matian hanya untuk menjaga kesetiaanku padamu. Namun, responmu yang justru memarahiku dan menganggap tindakanku ceroboh... itu membuatku berpikir bahwa kau tidak lagi memedulikanku. Aku berpikir jika kau tidak mencintaiku lagi, maka kau tidak akan keberatan mengirimku ke ranjang wanita lain sesering mungkin."Di
Aroma teh melati yang mengepul hangat dari cangkir porselen di tangan Diana seharusnya mampu memberikan ketenangan, namun suasana di paviliun pagi itu justru terasa gerah karena tumpahan emosi yang belum juga mereda. Di hadapannya, Rany masih mengoceh tanpa henti. Mantan kepala penjaga bayangan pribadinya itu, yang kini telah menjadi nyonya rumah dari kediaman Jenderal Sai, tampak benar-benar meledak. Ia menceritakan setiap detail kabar burung yang sampai ke telinganya, menyeka sudut matanya yang kering namun penuh amarah, dan sesekali memukul meja kecil di sampingnya untuk menekankan betapa hancurnya martabatnya sebagai seorang istri.Diana menyesap tehnya dengan tenang, matanya menatap permukaan air yang jernih sembari mendengarkan ocehan Rany. Ia tidak menyela, sebab ia tahu Rany hanya butuh wadah untuk mengeluarkan racun di hatinya. Namun, jauh di lubuk hati Diana, ia pun merasakan denyut pening yang serupa. Para pria di sekelilingnya benar-benar sedang berada di fase yang san
Embun berdiri di belakang Diana, jemarinya yang lincah bergerak pelan menyisir rambut panjang Diana yang sehalus sutra. Suasana pagi itu sangat sunyi, hanya terdengar suara gesekan sisir dan derak perapian yang mulai meredup."Apa ada kabar mengenai Kaisar semalam?" tanya Diana tiba-tiba. Suaranya tenang, namun Embun bisa menangkap nada kecemasan yang tersembunyi di baliknya.Tangan Embun sempat terhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan tugasnya. Ia melirik wajah majikannya dari cermin, lalu menjawab dengan suara rendah. "Hamba... hamba mendengar kabar dari para kasim jaga, Yang Mulia. Bahwa semalam Yang Mulia Kaisar tidak kembali ke paviliun mana pun. Beliau bermalam di ruang kerjanya bersama Tuan Sai."Diana mengerutkan keningnya, alisnya yang tipis tertaut. "Tuan Sai?""Benar, Yang Mulia," Embun mengangguk pelan. "Laporannya, keduanya menghabiskan sepanjang malam dengan minum-minum sampai mabuk berat. Kabarnya, ruang kerja Kaisar saat ini dipenuhi aroma anggur yang sangat taja
Denada dengan cepat menarik dirinya menjauh, gerakannya hampir terlihat panik. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena romansa, melainkan karena rasa terkejut yang belum sepenuhnya reda. Di istana ini, sentuhan pria biasanya berarti ancaman atau penghinaan, namun pria itu melakukannya dengan penghormatan yang sangat murni.Wajah Denada memerah padam, sebuah rona yang jarang muncul di kulit pucatnya yang biasanya sedingin salju. Tanpa menatap mata ksatria itu kembali, ia menggumamkan terima kasih yang nyaris tak terdengar, lalu buru-buru menaiki tandu kebesarannya. Begitu pintu tandu tertutup rapat, Denada menyandarkan punggungnya pada bantalan sutra, mencoba mengatur napasnya yang memburu."Jalan," perintah Denada dari dalam, suaranya kembali datar dan berwibawa.Tandu itu pun diangkat oleh para pengangkut yang kuat, mulai bergerak perlahan melintasi pelataran istana yang kini mulai memutih tertutup salju. Di dalam ruang sempit yang hanya diterangi oleh lampion kecil itu, Denad
Lorong-lorong Istana Norvenia yang biasanya dipenuhi oleh langkah kaki para pelayan yang sigap kini terasa sunyi senyap, seolah-olah seluruh penghuninya sedang menahan napas. Hanya suara derap langkah Arthur yang terdengar berat dan bergema di atas lantai pualam. Wajahnya suram, sepekat langit malam tanpa bintang, dengan rahang yang terkatup begitu rapat hingga otot-otot di wajahnya menonjol. Tak ada satu pun kasim atau pelayan yang berani sekadar menatap mata Sang Kaisar, apalagi menghadang langkahnya. Mereka semua buru-buru menepi, menundukkan kepala sedalam mungkin, seolah-olah sedang menghindari badai petir yang siap menyambar siapa pun di jalannya.Arthur sampai di depan pintu ruang kerjanya. Dengan sekali sentakan kasar, ia membuka pintu kayu mahoni itu. Namun, langkahnya terhenti seketika. Di dalam ruangan yang hanya diterangi beberapa lilin itu, ia melihat sosok yang sangat familier tengah sibuk membereskan tumpukan dokumen di atas meja besar."Kau belum kembali ke kediam
Arthur melangkah dengan raut wajah yang sangat suram. Jubah kebesarannya yang berwarna hitam dengan sulaman naga emas tampak kehilangan kegagahannya malam ini. Langkah kakinya, yang biasanya tegas dan cepat, kini terdengar lambat dan ragu-ragu. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai pualam seolah menjadi hitungan mundur menuju sebuah pengadilan yang sangat ia hindari.Di belakangnya, Kasim De berjalan dengan kening berkerut. Ia sudah mengabdi cukup lama untuk mengenali setiap perubahan suasana hati tuannya, namun hari ini, Sang Kaisar tampak benar-benar aneh. Arthur berjalan dengan bahu yang sedikit membungkuk, sesekali ia menghela napas panjang yang terdengar sangat frustrasi."Yang Mulia..." Kasim De memberanikan diri untuk membuka suara, nadanya penuh keraguan. "Apakah Anda merasa tidak enak badan? Atau... apakah ada dokumen penting yang tertinggal di ruang kerja sehingga Anda berjalan begitu lambat?"Arthur menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah Kasim De, menata
Isabella duduk diam di hadapan cermin besar berhias ukiran perak. Tirai kamarnya setengah tertutup, membiarkan cahaya sore masuk dengan malas, jatuh di wajahnya yang pucat. Sangat pucat—bahkan bagi standar kecantikannya yang selalu sempurna. Bibirnya sedikit kering, matanya sayu, namun bukan kare
Di Istana Selir Shofia, aroma dupa memenuhi udara, membungkus ruangan dengan ketenangan palsu yang rapuh. Wanita itu duduk bersila di depan altar Buddha, tasbih kayu cendana melingkar di jemarinya. Bibirnya bergerak pelan melantunkan doa, namun tak satu pun kata benar-benar me
“Bagikan semua ini kepada seluruh pelayan sebelum malam tahun baru,” ujar Diana sambil menyusun ulang daftar nama di tangannya, lalu menoleh pada dua wanita yang berdiri di sisinya. “Pastikan tidak ada yang terlewat.”“Baik, Putri,” jawab Bibi Erna dan Embun hampir bersamaan.Gu
Kereta yang membawa Diana berhenti perlahan di depan gerbang Istana. Salju tipis menyelimuti halaman batu, membuat suasana tampak sunyi dan dingin, berbeda dengan kehangatan yang biasa ia rasakan di Istana Putra Mahkota. Begitu pintu kereta dibuka, Embun segera turun lebih dul







