Share

Bab 190. Obsesi Alon

Author: nanadvelyns
last update publish date: 2026-03-18 18:36:51
Di tengah wilayah militer Debi yang luas, sebuah tenda komando berdiri paling besar di antara ratusan tenda lainnya.

Di dalamnya, suasana bahkan lebih dingin.

Alon berdiri di depan meja peta besar, tangannya bertumpu di tepi kayu.

Matanya menatap garis-garis wilayah Norvenia yang digambar dengan tinta hitam.

Beberapa pin merah tertancap di berbagai titik.

Salah satunya tepat di Ibu Kota.

Namun tatapan Alon tidak hanya memandang peta.

Pikirannya berada di tempat lain. Di wajah seseorang. M
nanadvelyns

Gais, maaf baru update yaa. Author sakit, tapi hari ini diusahakan nulis banyak supaya bisa kasih crazy up sebelum lebaran. Mohon doa dan dukungannya ya, jangan lupa ulasan positifnya untuk Dianaᕕ( ཀ ʖ̯ ཀ)ᕗ

| 15
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Netty Tya
Sehat slalu Thor
goodnovel comment avatar
Ruzita IChantique Abdulrashid
gws Thor..
goodnovel comment avatar
Hermilarsih
Cepet sehat ya Thor.. kami tunggu karya²mu..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 290. Jiwa yang Berlabuh

    Dua minggu telah berlalu sejak guntur peperangan di perbatasan Barat berhenti bergemuruh. Sisa-sisa reruntuhan benteng pertahanan Kekaisaran Delore yang hancur perlahan-lahan mulai dimusnahkan oleh pasukan gabungan Norvenia dan faksi klan Rumi. Tanah tandus yang dulunya bersimbah darah kini dibersihkan, mengubur dalam-dalam memori kelam tentang tirani Alon yang telah runtuh berkeping-keping. Kaisar Arthur tiba kembali di Ibu Kota Norvenia tepat di saat musim dingin benar-benar telah angkat kaki dari daratan. Hamparan salju putih yang membeku kini sepenuhnya menghilang, digantikan oleh hamparan rumput hijau dan kuncup-kuncup bunga krisan yang mulai bermekaran. Suhu udara yang hangat dan bersahabat menyambut kepulangan sang Dewa Perang beserta pasukan elitenya. Aroma kemenangan membubung tinggi di sepanjang jalan kota, di mana ribuan rakyat bersorak-sorai mengelu-elukan namanya. Namun, Arthur tidak memedulikan semua kemegahan itu. Ia bahkan melewati barisan sambutan upacara dari para

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 289. Penebusan Dosa Isabella

    Sorakan kemenangan menyerukan nama Kaisar Arthur dan kejayaan Kekaisaran Norvenia menggema dengan sangat lantang di sepanjang lembah perbatasan. Suara gemuruh dari ratusan ribu prajurit memecah keheningan pegunungan salju, mengubur sisa-sisa ketakutan yang sempat mencekam beberapa saat lalu. Begitu tubuh Kaisar Alon tumbang tak bernyawa di atas hamparan salju yang membeku, runtuh pula pilar Kekaisaran Delore. Kemenangan mutlak kini sah menjadi milik Norvenia.Namun, di tengah atmosfer euforia yang membara itu, kedamaian belum sepenuhnya mendarat. Tak lama setelah Alon mengembuskan napas terakhirnya, sepasang mata tajam milik Arthur menangkap pergerakan dari arah celah bukit. Pasukan lain yang mengenakan zirah perang lengkap tiba-tiba muncul dan merangsek masuk ke dalam area pertempuran.Melihat kedatangan rombongan asing tersebut, Arthur, Sai, dan Adipati Deon secara refleks kembali memasang raut wajah waspada. Tangan mereka kembali mencengkeram gagang pedang yang masih bersimbah dara

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 288. Tumbangnya Pengkhianat

    Diana masih duduk berlutut dengan khusyuk di atas bantalan beludru merah. Jemarinya yang ramping bergerak ritmis, memindahkan sebutir demi sebutir biji tasbih Buddha berukuran besar yang terbuat dari kayu gaharu hitam. Ia telah berada di posisi itu sejak fajar menyingsing, mengabaikan rasa kaku yang mulai menyerang persendiannya. Bibi Erna berdiri tidak jauh di belakangnya, meremas selendangnya dengan gundah. Matanya menatap cemas pada punggung Permaisuri yang tampak tegang. "Yang Mulia, Anda sudah berdoa terlalu lama hari ini. Saya khawatir Anda akan jatuh sakit nanti jika terus memaksakan diri dalam kondisi mengandung seperti ini," ucap Bibi Erna, suaranya sarat akan rasa cemas yang mendalam. Diana tidak beranjak sedikit pun dari posisinya. Tasbih besar di tangannya terus bergerak tanpa henti. Ia melirik Bibi Erna sekilas melalui sudut matanya, lalu menjawab dengan suara rendah yang datar namun bergetar oleh emosi, "Bagaimana mungkin aku bisa makan dan tidur dengan tenang, jika

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 287. Janji di Bawah Zirah dan Tabuhan Genderang Perang

    "Saya telah membunuh Raja Debi," ucap Althaf sekali lagi, suaranya terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati dalam keheningan kamar. Denada menatap ksatria di hadapannya dengan sepasang mata yang membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang, menabrak rongga dadanya hingga ia merasa sedikit pening. Segala skenario yang telah ia susun rapi bersama Isabella seolah koyak di bagian tepi oleh tindakan impulsif ksatria ini. "Apa... apa yang sebenarnya terjadi, Althaf? Kenapa kau bertindak sendiri tanpa perintah?" tanya Denada, mencoba menekan getaran dalam suaranya agar tetap terdengar seperti seorang permaisuri yang berwibawa, meski kedok rapuhnya semalam masih membekas. Althaf tetap berlutut dengan tegak, zirah peraknya yang ternoda darah memantulkan cahaya lilin yang temaram. "Yang Mulia Selir Isabella telah menceritakan semua fakta tentang Kaisar Alon kepada saya sore tadi, sebelum jamuan dimulai. Hamba telah mengetahui semuanya, Yang Mulia. Pengkhianat besar

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 286. Pembersihan Harem dan Pedang yang Ternoda

    BRAK! Pintu peraduan yang berat itu tiba-tiba terbuka dengan sentakan yang tidak sabaran. Sesosok gadis dengan jubah pelayan yang sedikit berantakan berlari masuk menembus tirai-tirai kelambu sutra dengan napas yang terengah-engah. "Yang Mulia! Yang Mulia Permaisuri!" panggil Embun dengan suara setengah berteriak, matanya berbinar-binar penuh dengan luapan emosi yang tak tertahankan. Bibi Erna yang sedang memegang handuk kering seketika mendongak. Wajahnya yang tegas berkerut dalam, memancarkan ketidaksetujuan yang nyata atas kelancangan pelayan muda tersebut. Ia berdiri dan langsung menghadang jalan Embun. "Perhatikan sikap dan suaramu, Embun! Kita saat ini berada di Istana Kediaman Kaisar, bukan di paviliun pribadi kita!" tegur Bibi Erna dengan nada berbisik namun tajam. "Kelancanganmu bisa dihukum cambuk jika terdengar oleh pengawal pribadi Yang Mulia!" Embun seketika menghentikan langkahnya, menyengir bersalah sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada untuk memoh

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 285. Sandiwara dalam Perjamuan

    Aula utama Istana Norvenia seketika berubah menjadi medan kekacauan yang tak terkendali. Pekikan histeris dari para selir bergema, bersahutan dengan deru derap langkah kaki para prajurit pengawal yang langsung menghunus pedang, membentuk barikade melingkar untuk melindungi podium kerajaan. Di tengah kegaduhan yang memekakkan telinga itu, seorang tabib istana dengan jubah yang sedikit berantakan tampak berlari terbirit-birit menaiki tangga podium, wajahnya pucat pasi seolah maut sendiri yang sedang mengejarnya.Sebelum tabib itu sempat menyentuh Diana, Embun bergerak cepat dari arah belakang kursi permaisuri. Dengan napas yang memburu namun tangan yang luar biasa stabil, ia menyodorkan sebuah kotak kayu cendana berukir rumit ke hadapan sang tabib."Tuan Tabib, gunakan ini saja! Ini adalah alat medis pribadi milik Yang Mulia Permaisuri!" seru Embun dengan suara yang lantang, memotong kepanikan pria tua itu.Tabib istana itu tidak memiliki waktu untuk berpikir panjang atau mempertanyakan

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 93. Di Balik Tirai Paviliun Seni

    Diana bersiap sesuai dengan instruksi yang Arthur berikan sore itu. Ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, membiarkan Embun merapikan lipatan terakhir hanfu merah yang dikenakannya. Warna merah pekat itu dipadukan dengan aksen hitam di bagian lengan dan pinggang, member

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 95. Di Balik Pintu yang Tertutup

    Rany melangkah setengah maju, suaranya dingin namun tegas, memotong suasana yang mulai dipenuhi ketegangan. “Anda tidak bisa menyela, Nona.” Kepalanya sedikit menunduk sopan pada kepala Pavilliun Seni yang tampak kebingungan, lalu ia kembali melanjutkan dengan nada datar yang sama sekali tidak mem

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 90. Lukisan yang Tak Pernah Dipamerkan

    Di Istana Pangeran Kedua, suasana sore terasa tenang, hampir terlalu tenang jika dibandingkan dengan hiruk-pikuk yang masih tersisa dari perburuan besar kemarin. Harsa duduk di depan meja rendahnya, menggenggam kuas dengan jemari ramping yang dipenuhi noda tinta dan cat. Di hadapannya terbentang

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 96. Trauma, dan Kepercayaan

    Diana menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke arah pintu dengan sorot mata tegas namun tenang. “Kalian semua keluar,” perintahnya pelan, tetapi tak memberi ruang untuk dibantah. “Ruangan ini harus benar-benar steril dan tenang.”Sai segera memahami maksudnya. Ia memberi isyarat pada Rany yang baru sa

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status