Share

Bab 23. Harga Sebuah Bakpao

Author: nanadvelyns
last update publish date: 2025-12-06 00:02:15

Kereta kerajaan bergerak perlahan menyusuri jalan berbatu yang diterangi cahaya matahari sore.

Tirai tipis berwarna emas pucat bergoyang setiap kali roda kayu melewati guncangan kecil, menciptakan bayangan lembut yang menari di wajah Diana.

Wanita itu duduk dengan punggung tegak, tangannya bersedekap di pangkuan, sementara di hadapannya duduk Arthur—pria yang auranya memenuhi seluruh ruang kecil itu tanpa perlu bergerak banyak.

Arthur bersandar pada dudukan kereta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 277. Bisikan di Balik Dinding

    Denada mengerjapkan matanya perlahan, merasakan sensasi berat yang menyelimuti tubuhnya. Saat ia mencoba menggerakkan lengannya, ia tersadar bahwa ia tidak hanya dibalut oleh selimut sutranya sendiri, melainkan terbungkus rapat dalam sebuah mantel wol tebal berwarna kelabu gelap.Aroma cendana yang maskulin bercampur dengan dinginnya salju segera menyeruak ke indra penciumannya. Itu adalah aroma Althaf Rumi. Mantel yang semalam disampirkan ksatria itu dengan tegas untuk menutupi tubuhnya yang basah, kini masih melilitnya dengan sisa-basi kehangatan yang tertinggal. Denada memejamkan mata sejenak, menghirup aroma itu lebih dalam. Entah mengapa, di tengah istana yang penuh dengan duri dan mata-mata ini, aroma pria yang kaku itu justru memberikan rasa tenang yang asing di hatinya. Rasa tenang yang seharusnya tidak ia rasakan untuk pion dalam papan caturnya sendiri.Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Cucu masuk dengan langkah kaki yang teratur, membawa nampan berisi air maw

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 276. Perangkap Sutra

    Di dalam kamar pribadinya, Denada berdiri diam di depan sebuah cermin perunggu besar yang memantulkan bayangan seorang wanita yang tak lagi ia kenali. Sorot matanya sedingin es di puncak pegunungan, hampa dari binar kehidupan yang seharusnya dimiliki oleh seorang permaisuri di usia mudanya. Cahaya di dalam ruangan itu sangat redup, hanya ada beberapa batang lilin yang apinya menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah jendela, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan di dinding.Denada menatap pakaian tidur yang ia kenakan. Itu adalah sehelai sutra putih yang sangat tipis, nyaris tembus pandang, yang sengaja ia pilih untuk malam ini. Dengan jemari yang gemetar namun bukan karena takut, ia meraih sebuah gelas keramik berisi air di atas mejanya. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengangkat gelas itu dan menumpahkan isinya tepat ke atas dadanya.Air dingin itu seketika meresap ke dalam serat sutra, membuat kain tipis itu menempel erat pada kulitnya, mencetak lekuk t

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 275. Jebakan di Balik Kelambu

    "Berhentilah menangis, Embun. Aku tidak menyalahkanmu," ucap Diana dengan nada suara yang sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja lolos dari upaya pembunuhan.Diana menyodorkan sebuah sapu tangan sutra bersih ke arah pelayan setianya itu. Embun mendongak dengan mata sembab, wajahnya memerah karena panik dan duka. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, ia menerima sapu tangan itu dan segera menyeka air matanya."Berdirilah. Jika kau terus berlutut di sana, kau hanya akan mengotori pakaianmu dengan sisa susu beracun itu," lanjut Diana.Embun bangkit perlahan, kakinya terasa lemas. Ia berdiri dengan kepala tertunduk, memilin sapu tangan di jemarinya dengan perasaan bersalah yang luar biasa. Diana menatap genangan susu di lantai marmer itu dengan pandangan yang dingin dan analitis."Sekarang, jawab aku dengan jujur," Diana memulai interogasinya dengan suara rendah namun tajam. "Apa ada orang lain di dapur saat kau membuatkan aku susu itu? Pikirkan baik-baik.

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 274. Segelas Susu Mematikan

    Diana duduk dengan tenang di kursi kayu jati yang diletakkan tepat di samping ranjang besar milik Arthur. Jemarinya yang ramping bergerak perlahan, mengaduk sup obat di dalam mangkuk keramik kecil dengan gerakan ritmis yang konstan.Arthur, Sang Kaisar Norvenia yang biasanya tampak perkasa, kini berbaring dengan posisi yang diatur sedemikian rupa agar tampak seperti seorang pesakitan yang benar-benar tak berdaya. Lilitan perban di kening dan kakinya masih terpasang rapi—meskipun Diana tahu persis bahwa "luka parah" itu hanyalah tameng untuk menghindari kejaran para selir."Minum ini," ucap Diana pendek. Ia menyendokkan cairan kental berwarna gelap itu dan menyodorkannya ke arah bibir Arthur.Arthur menghirup aroma uap yang menguar dari sendok tersebut. Seketika, keningnya berkerut dalam, dan ia memalingkan wajahnya sedikit. "Baunya sangat menusuk, Diana. Bukankah luka-lukaku hanya di area luar? Mengapa aku harus meminum sup obat yang aromanya seperti empedu ini?"Diana menaikkan ali

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 273. Mantel Hangat dan Gerakan Baru

    Langkah kaki Denada di atas hamparan salju yang membeku terdengar seperti rintihan halus yang pecah di bawah beban berat hatinya. Perjalanan kembali dari Istana Isabella terasa jauh lebih panjang daripada saat ia berangkat. Di sekelilingnya, udara musim dingin Kekaisaran Delore begitu menusuk, seolah berusaha membekukan setiap jengkal kulit yang terekspos. Namun, rasa dingin itu tidak sebanding dengan kegaduhan yang sedang berkecamuk di dalam benaknya.Ucapan Isabella di meja teh tadi masih terngiang-ngiang, berputar seperti pusaran angin puyuh yang tak mau berhenti."Berhasil membuat pria itu jatuh cinta pada Anda... Dukungan militer klan Rumi akan menjadi pedang yang paling mematikan jika ia mengayunkannya demi cinta."Denada mencengkeram kain hanfu sutranya dari balik jubah mantel dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Itu gila, batinnya dengan napas yang mulai memburu. Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan hal sekeji itu? Menggunakan perasaan seseorang—perasaan tu

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 272. Pion Baru

    Denada melangkah menyusuri selasar panjang yang menghubungkan paviliun utama dengan kediaman Isabella. Jubah mantelnya yang berwarna kelabu kebiruan menyapu lantai marmer dengan suara seretan halus yang ritmis. Di belakangnya, Cucu berjalan dengan kepala tertunduk, membawa kotak obat kecil yang berisi ramuan pemulih luka. Dan tepat di samping mereka, berdiri sosok yang kini seolah menjadi bayangan tak terpisahkan dari Denada, Althaf Rumi. Althaf melangkah dengan ketegasan yang tak tergoyahkan. Zirah ringannya berkilauan meski cahaya matahari terhalang kabut, dan tangan kanannya selalu siaga di dekat gagang pedang. Sejak kejadian di ruang kerja tempo hari, Alon seolah memberikan instruksi mutlak agar ksatria ini menjadi pengawal pribadi Denada. Denada sering mencuri pandang ke arah pria di sampingnya itu, bertanya-tengah dalam hati, apakah Alon benar-benar ingin melindunginya karena rasa "cinta" obsesifnya yang palsu, ataukah Althaf sebenarnya adalah mata-mata paling berbahaya

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 135. Batas yang Tak Boleh Dilangkahi

    Harsa mengendarai kudanya dengan tergesa, derap tapal kuda memecah keheningan halaman istana. Jubahnya berkibar tak beraturan, napasnya sedikit memburu—bukan karena jarak, melainkan karena nama yang terus berdengung di kepalanya sejak kabar itu sampai ke telinganya.Diana.Begitu ia mendengar bahw

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 129. Malam Ketika Bunga Dipetik Paksa

    Karin membuka matanya dengan sentakan tajam. Jantungnya berdegup keras bahkan sebelum telinganya benar-benar menangkap apa yang sedang terjadi. Udara di kamarnya terasa aneh—terlalu dingin, terlalu sunyi, seolah seluruh Istana menahan napas. Lalu suara itu terdengar lagi. Denting logam. Lang

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 130. Benih Dendam di Balik Perlindungan

    Bangunan kayu itu berdiri sunyi di tengah hutan, sederhana dan nyaris tak mencolok jika tidak tahu keberadaannya. Dindingnya terbuat dari papan kayu tua yang tersusun rapi, atapnya rendah, dan hanya ada satu lentera kecil yang tergantung di depan pintu, memancarkan cahaya kuning temaram. Tempa

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 126. Saling Menjaga

    Keesokan paginya, cahaya matahari musim dingin menyelinap lembut ke dalam ruang makan Istana Putra Mahkota. Uap tipis mengepul dari hidangan hangat yang tersaji rapi di atas meja panjang, aroma kaldu dan daging panggang bercampur dengan wangi teh pagi yang menenangkan. Namun k

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status