Share

Bab 23. Harga Sebuah Bakpao

Penulis: nanadvelyns
last update Tanggal publikasi: 2025-12-06 00:02:15

Kereta kerajaan bergerak perlahan menyusuri jalan berbatu yang diterangi cahaya matahari sore.

Tirai tipis berwarna emas pucat bergoyang setiap kali roda kayu melewati guncangan kecil, menciptakan bayangan lembut yang menari di wajah Diana.

Wanita itu duduk dengan punggung tegak, tangannya bersedekap di pangkuan, sementara di hadapannya duduk Arthur—pria yang auranya memenuhi seluruh ruang kecil itu tanpa perlu bergerak banyak.

Arthur bersandar pada dudukan kereta
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 280. Bisikan Berbisa

    Di dalam ruang kerja utama istana, lilin-lilin besar menyala temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding pualam. Alon duduk di balik meja besarnya yang terbuat dari kayu jati hitam berukir naga, wajahnya tampak kaku dan lelah. Di depannya berserakan tumpukan dokumen negara yang seolah tak ada habisnya, namun pikirannya tidak tertuju pada laporan pajak atau persediaan pangan. Fokusnya sedang terpecah oleh berita kedatangan delegasi dari Kerajaan Mora yang kini telah menempati paviliun tamu agung.Alon menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Kedatangan Mora seharusnya menjadi momen diplomatik yang gemilang, namun di balik itu, ia merasakan adanya ancaman yang merayap di bawah permukaan. Terutama setelah ia mencurigai adanya pergerakan bawah tanah dari pihak-pihak yang dulu setuju untuk bersekutu dengannya, namun kini mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan."Yang Mulia... Yang Mulia Permaisuri meminta izin untuk masuk."Sua

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 279. Orang Lemah yang Tak Mengenali Lawan

    Diana duduk dengan tenang di kursi cendana yang telah dipersiapkan, tangannya yang halus bertumpu pada perutnya yang membusung, memberikan kesan sebagai seorang ibu yang penuh kedamaian. Namun, sepasang mata birunya yang jernih menyapu pemandangan di tengah ruangan dengan ketajaman yang mampu menusuk hingga ke tulang belakang.Di sana, di atas lantai marmer yang dingin, Selina Agupta bersama dua rekan setianya masih bersujud. Tubuh mereka gemetar hebat, seolah-olah hawa dingin musim dingin telah meresap ke dalam sumsum tulang mereka. Selina, yang tadi begitu berani melempar hasutan beracun, kini hanya bisa menatap pola marmer di bawah dahinya. Wajahnya pucat pasi, dan buku-buku jarinya memutih saking kerasnya ia mengepalkan tangan di balik lengan bajunya. Ia telah terjebak, ia meremehkan ikatan antara Permaisuri dan Ibu Suri, dan kini ia merasa seolah-olah sedang berdiri di tepi jurang eksekusi."Ada apa ini?" tanya Diana dengan suara yang lembut dan merdu, seolah-olah ia benar-b

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 278. Sejarah Diana dan Nama Sinclair

    Suara dentingan kecapi yang lembut mengalun di udara Istana Ibu Suri Karin, menyusup di antara pilar-pilar giok yang megah dan tirai sutra yang berkibar pelan tertiup angin musim dingin. Aroma dupa kayu gaharu yang mahal memenuhi ruangan, memberikan kesan ketenangan yang semu. Di kursi utama yang beralaskan beludru merah, Karin duduk dengan keanggunan seorang wanita yang telah melewati badai kekuasaan. Di samping kanannya, terdapat sebuah kursi kayu cendana yang diukir dengan motif Phoenix, letaknya sedikit lebih rendah dari kursi miliknya, namun tetap menunjukkan kedudukan istimewa. Itulah kursi yang dipersiapkan khusus untuk Diana, Sang Permaisuri, yang kehadirannya tengah dinanti.Di hadapan Karin, para selir dari berbagai tingkatan duduk dengan rapi di meja-meja panjang yang saling berhadapan. Di atas meja mereka tersaji berbagai macam manisan, buah-buahan segar, dan teh kualitas terbaik. Namun, kecantikan wajah-wajah di ruangan itu tidak sepenuhnya mencerminkan ketenangan h

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 277. Bisikan di Balik Dinding

    Denada mengerjapkan matanya perlahan, merasakan sensasi berat yang menyelimuti tubuhnya. Saat ia mencoba menggerakkan lengannya, ia tersadar bahwa ia tidak hanya dibalut oleh selimut sutranya sendiri, melainkan terbungkus rapat dalam sebuah mantel wol tebal berwarna kelabu gelap.Aroma cendana yang maskulin bercampur dengan dinginnya salju segera menyeruak ke indra penciumannya. Itu adalah aroma Althaf Rumi. Mantel yang semalam disampirkan ksatria itu dengan tegas untuk menutupi tubuhnya yang basah, kini masih melilitnya dengan sisa-basi kehangatan yang tertinggal. Denada memejamkan mata sejenak, menghirup aroma itu lebih dalam. Entah mengapa, di tengah istana yang penuh dengan duri dan mata-mata ini, aroma pria yang kaku itu justru memberikan rasa tenang yang asing di hatinya. Rasa tenang yang seharusnya tidak ia rasakan untuk pion dalam papan caturnya sendiri.Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Cucu masuk dengan langkah kaki yang teratur, membawa nampan berisi air maw

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 276. Perangkap Sutra

    Di dalam kamar pribadinya, Denada berdiri diam di depan sebuah cermin perunggu besar yang memantulkan bayangan seorang wanita yang tak lagi ia kenali. Sorot matanya sedingin es di puncak pegunungan, hampa dari binar kehidupan yang seharusnya dimiliki oleh seorang permaisuri di usia mudanya. Cahaya di dalam ruangan itu sangat redup, hanya ada beberapa batang lilin yang apinya menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah jendela, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan di dinding.Denada menatap pakaian tidur yang ia kenakan. Itu adalah sehelai sutra putih yang sangat tipis, nyaris tembus pandang, yang sengaja ia pilih untuk malam ini. Dengan jemari yang gemetar namun bukan karena takut, ia meraih sebuah gelas keramik berisi air di atas mejanya. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengangkat gelas itu dan menumpahkan isinya tepat ke atas dadanya.Air dingin itu seketika meresap ke dalam serat sutra, membuat kain tipis itu menempel erat pada kulitnya, mencetak lekuk t

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 275. Jebakan di Balik Kelambu

    "Berhentilah menangis, Embun. Aku tidak menyalahkanmu," ucap Diana dengan nada suara yang sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja lolos dari upaya pembunuhan.Diana menyodorkan sebuah sapu tangan sutra bersih ke arah pelayan setianya itu. Embun mendongak dengan mata sembab, wajahnya memerah karena panik dan duka. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, ia menerima sapu tangan itu dan segera menyeka air matanya."Berdirilah. Jika kau terus berlutut di sana, kau hanya akan mengotori pakaianmu dengan sisa susu beracun itu," lanjut Diana.Embun bangkit perlahan, kakinya terasa lemas. Ia berdiri dengan kepala tertunduk, memilin sapu tangan di jemarinya dengan perasaan bersalah yang luar biasa. Diana menatap genangan susu di lantai marmer itu dengan pandangan yang dingin dan analitis."Sekarang, jawab aku dengan jujur," Diana memulai interogasinya dengan suara rendah namun tajam. "Apa ada orang lain di dapur saat kau membuatkan aku susu itu? Pikirkan baik-baik.

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 94. Panah di Balik Gemerlap Seni

    Di tengah sorak penyambutan yang menggema di seluruh Paviliun Seni, tidak semua mata memandang dengan kekaguman atau kegembiraan. Di balik tepuk tangan dan seruan hormat, ada tatapan-tatapan dingin yang tersembunyi rapi di balik senyum bangsawan dan sikap santun.Di ruang VIP t

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 92. Di Antara Rumor dan Pengakuan yang Tak Terucap

    Keesokan paginya, Diana bangun seperti biasa, tepat ketika cahaya matahari pagi menyelinap lembut melewati celah tirai tipis di kamarnya. Udara musim gugur yang dingin membuatnya sedikit menggeliat sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang. Tidak ada mimpi aneh semalam, tetapi perasaannya terasa ber

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 85. Malam yang Bergetar di Balik Tirai Harem

    Lantai marmer istana Selir Agung memantulkan cahaya lampu minyak yang bergetar lembut, menciptakan bayangan panjang yang tampak seolah menari di dinding. Di tengah ruangan luas itu, seorang pria berlutut dengan kepala tertunduk dalam, punggungnya kaku, napasnya ditahan hati-hati.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 83. Senyum Kemenangan

    Acara perjamuan penutupan akhirnya mencapai ujungnya. Lentera-lentera di lapangan utama masih menyala terang, memantulkan cahaya keemasan di atas permadani merah yang membentang dari pintu tenda hingga halaman terbuka. Musik telah berhenti, gelas-gelas anggur terakhir disingkirkan, dan para bang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status