Home / Zaman Kuno / Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa / Bab 26. Racun Yang Tidak Terlihat

Share

Bab 26. Racun Yang Tidak Terlihat

Author: nanadvelyns
last update publish date: 2025-12-08 00:01:46

Diana tidak langsung bergerak ketika jarinya menyentuh permukaan kulit Arthur.

Gerakan kecil itu, yang tampak sederhana dari luar, justru membuat seluruh tubuh Arthur menegang seperti busur yang ditarik.

Ia tidak biasa disentuh—apalagi di bagian wajah yang ia anggap sebagai aib, kelemahan, dan sekaligus tembok terakhir yang ia biarkan berdiri di antara dirinya dan dunia.

Namun Diana menyentuhnya seolah menyentuh permukaan air.

Perlahan. Ringan. Tidak meng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 219. Darah di Atas Sutra Permaisuri

    Udara di dalam Paviliun Kediaman Permaisuri terasa begitu kering, membawa aroma campuran dari rempah-rempah yang direbus dan wangi kayu cendana yang biasanya menenangkan. Namun bagi Diana, aroma itu kini hanya menambah rasa sesak di dadanya. Di atas meja jati yang luas, berbagai macam botol porselen kecil berisi pil herbal dan ekstrak tanaman penguat stamina tertata rapi. Diana memasukkannya satu per satu ke dalam kotak kayu berlapis beludru dengan gerakan yang lambat namun pasti."Uhuk! Uhukk!"Diana terpaksa berhenti. Ia memegangi pinggiran meja, tubuhnya sedikit membungkuk saat batuk itu kembali menyerang. Rasa perih menjalar di tenggorokannya, seolah ada duri yang tersangkut di sana."Yang Mulia!" Embun segera mendekat, tangannya gemetar saat mencoba mengusap punggung Diana.Di sisi lain, Bibi Erna berdiri dengan wajah yang kian hari tampak kian menua karena kecemasan yang mendalam. "Apa tidak sebaiknya

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 218. Tradisi Kuil Fan Gu

    Denada membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan yang dingin di sisi tempat tidurnya. Alon sudah tidak ada di sana. Ia bangkit dari posisi meringkuknya. Tubuhnya terasa kaku, bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena ketegangan mental yang ia tahan sepanjang malam. Pakaian tidur sutranya yang robek masih tersampir di bahunya, sebuah pengingat bisu tentang betapa rendahnya harga dirinya di mata pria yang baru saja menjadi suaminya. Denada menatap kain yang terkoyak itu dengan pandangan hampa. Tidak ada air mata lagi pagi ini; yang tersisa hanyalah kedinginan yang membeku di dalam dadanya. Ia segera memanggil pelayan untuk menyiapkan pemandian. Di dalam bak kayu besar yang mengepulkan uap air hangat beraroma bunga krisan, Denada menggosok kulitnya dengan keras, seolah-olah ia bisa menghapus jejak sentuhan kasar dan aroma alkohol yang masih terasa menghantui indranya. Ia mem

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 217. Bayangan di Atas Ranjang Pualam

    Angin malam di wilayah Debi menderu melewati celah-celah pilar batu Istana Agung, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di dalam ruang kerja kekaisaran yang luas, suasananya jauh dari kata megah. Botol-botol porselen berisi arak gandum yang keras berserakan di atas meja jati, beberapa di antaranya sudah terguling dan menumpahkan isinya, membasahi dokumen-dokumen militer yang seharusnya menjadi prioritas utama sang penguasa baru. Alon duduk merosot di kursi kebesarannya. Mahkota naga peraknya diletakkan sembarangan di sudut meja, sementara rambut hitamnya berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang kini merah padam akibat pengaruh alkohol. Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini tampak sayu, namun berkilat dengan emosi yang gelap dan menyakitkan. "Diana..." gumam Alon, suaranya lemah dan parau. Ia mencengkeram sebuah botol alkohol di tangannya seolah-olah be

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 216. Arthur Demam

    "Aku mengganggumu?" tanya Arthur.Suaranya tidak setegas biasanya, ada nada serak yang terselip di balik baritonnya yang berat. Ia masih berdiri di ambang pintu, menatap Diana dengan mata yang tampak sedikit sayu.Diana memaksakan sebuah senyum tipis—jenis senyum yang ia gunakan untuk meyakinkan pasien bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski ia tahu kenyataannya berbeda. Ia merapatkan tangan di dalam lengan baju hanfu-nya, memastikan sapu tangan bernoda darah itu tersembunyi jauh di balik lipatan kain."Tentu saja tidak, Yang Mulia," jawab Diana lembut. Ia melangkah mendekat, mencoba menutupi kegugupannya. "Ada apa? Bukankah seharusnya Anda masih berada di ruang strategi bersama Perdana Menteri Mahen?"Arthur tidak menjawab. Ia justru melangkah maju dengan gerakan yang sedikit lunglai. Begitu sampai di depan Diana, ia tidak mengatakan sepatah kata pun, melainkan langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Diana.

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 215. Waktu Yang Menyempit

    Suasana di Aula Harem mendadak mencekam setelah kalimat tajam Isabella terlontar. Denada, yang duduk di singgasana Permaisuri, merasakan tenggorokannya mendadak gatal dan kering. Ia terbatuk pelan, sebuah reaksi fisik yang coba ia samarkan dengan mengangkat telapak tangannya yang terbalut lengan baju sutra lebar.Setelah berhasil menguasai diri, Denada menarik napas panjang. Ia berusaha menjaga martabatnya sebagai pemimpin tertinggi harem, meskipun guncangan di hatinya belum sepenuhnya reda. Ia kembali memaksakan sebuah senyum tenang, sebuah topeng yang telah ia pelajari sejak kecil di kediaman Raja Debi."Adikmu?" tanya Denada dengan nada ringan, seolah-olah ia hanya sedang mendiskusikan cuaca. "Siapa yang kau maksud, Selir Kehormatan? Aku tidak tahu kalau keluarga Sinclair memiliki putri lain yang kau anggap begitu berkesan."Isabella tidak langsung menjawab. Ia justru tertawa kecil—suara tawa yang terdengar hampa dan sediki

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 214. Denada

    Di dalam paviliun utama yang megah, Denada duduk dengan tenang di depan meja makan kayu hitam yang dipoles hingga mengilap. Di hadapannya tersaji mangkuk porselen putih berisi sup ayam dengan irisan ginseng dan beberapa piring kecil berisi kudapan ringan.Cucu, pelayan pribadinya yang paling setia, bergerak dengan cekatan di sampingnya. Gadis itu mengenakan seragam pelayan istana yang baru, tampak sedikit gugup namun berusaha memberikan pelayanan terbaik. Ia menuangkan teh melati hangat ke dalam cangkir giok milik Denada dengan tangan yang sedikit gemetar."Kaisar menolak datang?" tanya Denada pelan. Suaranya datar, tanpa nada kekecewaan sedikit pun, seolah ia sudah mengetahui jawaban itu sebelum pertanyaannya terucap.Gerakan tangan Cucu terhenti sejenak. Ia meletakkan teko keramik itu dengan hati-hati, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Raut wajahnya tampak sedih, seolah ia sendiri yang merasakan kepahitan dari penolaka

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 90. Lukisan yang Tak Pernah Dipamerkan

    Di Istana Pangeran Kedua, suasana sore terasa tenang, hampir terlalu tenang jika dibandingkan dengan hiruk-pikuk yang masih tersisa dari perburuan besar kemarin. Harsa duduk di depan meja rendahnya, menggenggam kuas dengan jemari ramping yang dipenuhi noda tinta dan cat. Di hadapannya terbentang

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 96. Trauma, dan Kepercayaan

    Diana menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke arah pintu dengan sorot mata tegas namun tenang. “Kalian semua keluar,” perintahnya pelan, tetapi tak memberi ruang untuk dibantah. “Ruangan ini harus benar-benar steril dan tenang.”Sai segera memahami maksudnya. Ia memberi isyarat pada Rany yang baru sa

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 98. Retakan Harga Diri

    PLAK!!Suara tamparan itu terdengar nyaring, memantul keras di ruang tengah kediaman Mahen yang megah dan sunyi. Udara seketika membeku.Tiara terhuyung dan jatuh ke lantai marmer dingin, telapak tangannya menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya terjerembap. Pipinya terasa panas dan perih, namun ra

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 91. Malam yang Dipenuhi Kesalahpahaman

    Diana duduk tegak di balik meja kerjanya, jemarinya bergerak cepat membalik halaman demi halaman laporan rumah tangga Istana Putra Mahkota. Lampu minyak di sudut ruangan memantulkan cahaya hangat, namun tak mampu sepenuhnya mengusir rasa penat yang menempel di pelipisnya. Mendekati musim dingin,

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status