Home / Zaman Kuno / Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa / Bab 56. Riuh yang Mengusik Keteguhan

Share

Bab 56. Riuh yang Mengusik Keteguhan

Author: nanadvelyns
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-08 15:43:44

Di ruang kerja Putra Mahkota, suasana pagi terasa lebih dingin dari biasanya.

Cahaya matahari yang masuk dari jendela tinggi hanya mampu menerangi setengah ruangan, sisanya tenggelam dalam bayangan rak buku dan tumpukan dokumen negara yang belum selesai ditandatangani.

Sai berlutut di tengah ruangan dengan satu lutut menyentuh lantai, punggungnya lurus, kepala sedikit tertunduk penuh hormat.

Ia baru saja kembali dari apa yang disebut Arthur sebagai penyelidikan khusus—tugas yang tidak tertuli
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 225. Murka Raja Debi

    Suasana di dalam kamar peristirahatannya yang tadi terasa dingin, kini mendadak terasa menyesakkan, seolah oksigen telah dihisap habis oleh kehadiran sosok pria paruh baya di hadapannya. Denada masih memegangi pipinya yang berdenyut panas. Rasa sakit akibat tamparan itu menjalar hingga ke telinganya, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih tajam.Raja Debi tidak berhenti di sana. Matanya yang merah karena amarah menatap Denada seolah-olah wanita itu adalah kotoran yang menempel di sepatunya. Ia melangkah maju lagi, membuat Denada mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang yang keras."Kau pikir siapa dirimu, Denada?!" Raja Debi berteriak, suaranya menggelegar hingga debu-debu di langit-langit kuil seolah berjatuhan. "Aku memberimu nama, aku memberimu kemewahan, dan aku memberimu takhta Permaisuri Kekaisaran Delore! Semua itu kulakukan agar kau bisa menjadi wajah kekuasaan kita di hadapan Norvenia! Bukan untuk menjadi an

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 224. Cahaya yang Menundukkan Bayangan

    Aula Utama Kuil Fan Gu adalah sebuah ruang yang diselimuti oleh aura keabadian. Langit-langitnya yang tinggi ditopang oleh pilar-pilar batu hitam yang dipahat dengan relief teratai dan naga yang melilit. Di tengah aula, sebuah patung Buddha raksasa yang dilapisi emas murni duduk bersila, memancarkan ketenangan yang kontras dengan gejolak politik di luar tembok kuil. Ribuan lilin merah berjejer di rak-rak kayu, apinya menari-nari ditiup angin pegunungan yang menyelinap masuk, menciptakan bayangan yang bergetar di lantai marmer abu-abu.Aroma dupa cendana dan gaharu bercampur dengan wangi bunga teratai segar yang diletakkan di dalam jambangan perunggu. Suara detak muyun—kayu yang dipukul secara ritmis oleh para biksu—bergema di ruangan itu, menciptakan frekuensi yang memaksa setiap jiwa untuk tunduk dan merenung.Diana Sinclair dan Denada duduk berdampingan di atas bantal sutra putih di barisan paling depan. Keduanya

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 225. Murka Raja Debi

    Suasana di dalam kamar peristirahatannya yang tadi terasa dingin, kini mendadak terasa menyesakkan, seolah oksigen telah dihisap habis oleh kehadiran sosok pria paruh baya di hadapannya. Denada masih memegangi pipinya yang berdenyut panas. Rasa sakit akibat tamparan itu menjalar hingga ke telinganya, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih tajam.Raja Debi tidak berhenti di sana. Matanya yang merah karena amarah menatap Denada seolah-olah wanita itu adalah kotoran yang menempel di sepatunya. Ia melangkah maju lagi, membuat Denada mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang yang keras."Kau pikir siapa dirimu, Denada?!" Raja Debi berteriak, suaranya menggelegar hingga debu-debu di langit-langit kuil seolah berjatuhan. "Aku memberimu nama, aku memberimu kemewahan, dan aku memberimu takhta Permaisuri Kekaisaran Delore! Semua itu kulakukan agar kau bisa menjadi wajah kekuasaan kita di hadapan Norvenia! Bukan untuk menjadi anjing kecil yang gemetar dan menyerahkan kehormatan pada

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 223. Dua Bayangan di Lorong Suci

    Angin pegunungan yang menggigit berhembus melewati celah-celah pilar kayu Kuil Fan Gu, membawa aroma pinus dan salju yang kian menebal. Di dalam salah satu kamar peristirahatan yang disediakan untuk tamu agung, Diana Sinclair berdiri diam sementara Embun membantunya melepaskan jubah beludru merahnya yang berat.Sesuai peraturan kuno Kuil Fan Gu, setiap penguasa atau anggota keluarga kerajaan yang datang untuk memohon berkat harus menanggalkan segala atribut kemewahan duniawi. Tidak boleh ada emas yang berkilau, tidak boleh ada permata yang mencolok, dan tidak boleh ada warna-warna yang menantang kesucian kuil.Diana kini mengenakan hanfu berbahan katun halus berwarna putih polos. Potongannya sangat sederhana, tanpa sulaman phoenix ataupun benang emas. Satu-satunya hiasan yang tersisa adalah sebuah tusuk rambut dari giok putih susu yang disematkan untuk menahan sanggul sederhananya. Pakaian itu membuat kulitnya yang

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 222. Persimpangan Dua Takhta

    Pagi itu, Diana Sinclair bersiap meninggalkan kehangatan istana demi sebuah janji suci di perbatasan.Ia berdiri di depan cermin besar, membiarkan Embun dan Bibi Erna memakaikan jubah luar berbahan beludru tebal berwarna merah tua. Di bagian kerahnya, bulu serigala putih memberikan kehangatan tambahan bagi lehernya yang kini terasa semakin sensitif terhadap hawa dingin. Diana menarik napas panjang, mencoba meredam rasa gatal di tenggorokannya yang seolah siap meledak menjadi batuk berdarah kapan saja. Ia telah mengonsumsi pil herbal dosis tinggi pagi ini, hanya demi menjaga agar tubuhnya tetap tegak di hadapan publik."Yang Mulia, kereta sudah siap," lapor seorang kasim dengan kepala tertunduk.Diana mengangguk pelan. Ia melangkah keluar dari kediamannya, menyusuri koridor panjang menuju gerbang utama istana. Ini adalah pertama kalinya ia melangkah keluar dari tembok perlindungan istana sejak kematian Kaisar Naga. Be

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 221. Rahasia di Ujung Napas

    Keheningan yang mencekam menyelimuti paviliun utama setelah hiruk-pikuk tabib berakhir. Aroma anyir darah yang tadi memenuhi ruangan perlahan tersamar oleh wangi dupa gaharu yang baru saja dinyalakan oleh Embun sebelum ia diperintahkan keluar. Di atas ranjang sutra yang luas, Diana bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya masih sepucat kertas meskipun sisa-sisa darah di sudut bibirnya telah dibersihkan.Arthur berdiri di sisi ranjang. Ia masih mengenakan jubah kebesarannya yang kini ternoda bercak merah di bagian lengan—darah Diana. Tangannya yang besar terkepal erat di sisi tubuh, rahangnya mengeras hingga otot-pikirnya menonjol. Matanya yang biru gelap menatap Diana dengan campuran antara kemarahan, keputusasaan, dan ketakutan yang murni."Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?" Tanya Arthur cepat. Suaranya rendah namun bergetar hebat, menembus kesunyian ruangan seperti getaran petir sebelum badai. "Sejak kap

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 26. Racun Yang Tidak Terlihat

    Diana tidak langsung bergerak ketika jarinya menyentuh permukaan kulit Arthur. Gerakan kecil itu, yang tampak sederhana dari luar, justru membuat seluruh tubuh Arthur menegang seperti busur yang ditarik. Ia tidak biasa disentuh—apalagi di bagian wajah yang ia anggap sebagai ai

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 19. Racun Dalam Porselen

    Diana menoleh dengan gerakan pelan namun mantap. Tatapannya tidak lagi selembut sebelumnya. Ada ketenangan dingin di sana, seperti permukaan danau yang terlihat diam namun menyimpan pusaran berbahaya di kedalamannya. Bibirnya terangkat sedikit, tipis seperti sayatan pedang.“Yang Mulia,” ucapnya

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 24. Hanya Kedermawanan

    Embun senja menggantung tipis di langit ketika kereta kerajaan memasuki halaman utama Istana Putra Mahkota. Suasana tampak lebih lengang dari biasanya—para penjaga berdiri berbaris rapi, sementara angin membawa aroma dedaunan yang basah. Kereta itu berhenti dengan guncangan le

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 18. Catur Politik

    Kereta kuda Diana bergerak pelan memasuki jalan utama menuju Gerbang Emas—pintu masuk terbesar yang menghubungkan dunia luar dengan pusat kekuasaan Kekaisaran. Gerbang itu menjulang tinggi, dilapisi ukiran naga dan burung phoenix yang dijahit dengan emas murni, memantulkan cahaya matahari pagi den

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status