Mag-log inHari peresmian cabang baru restoran Alon akhirnya tiba, membawa serta hiruk-pikuk yang sejak awal sudah membuat kepala Diana berdenyut.
Sejujurnya, sejak pagi Putri Mahkota itu sama sekali tidak memiliki niat untuk datang.Bahkan, jika boleh jujur, ia lebih memilih menghabiskan waktu seharian penuh menggiling tinta di ruangan Arthur daripada harus melihat wajah Alon lagi.Namun niat hanyalah niat.Kenyataan datang dengan cara yang selalu menjengkelkan.Angin pegunungan yang menggigit berhembus melewati celah-celah pilar kayu Kuil Fan Gu, membawa aroma pinus dan salju yang kian menebal. Di dalam salah satu kamar peristirahatan yang disediakan untuk tamu agung, Diana Sinclair berdiri diam sementara Embun membantunya melepaskan jubah beludru merahnya yang berat.Sesuai peraturan kuno Kuil Fan Gu, setiap penguasa atau anggota keluarga kerajaan yang datang untuk memohon berkat harus menanggalkan segala atribut kemewahan duniawi. Tidak boleh ada emas yang berkilau, tidak boleh ada permata yang mencolok, dan tidak boleh ada warna-warna yang menantang kesucian kuil.Diana kini mengenakan hanfu berbahan katun halus berwarna putih polos. Potongannya sangat sederhana, tanpa sulaman phoenix ataupun benang emas. Satu-satunya hiasan yang tersisa adalah sebuah tusuk rambut dari giok putih susu yang disematkan untuk menahan sanggul sederhananya. Pakaian itu membuat kulitnya yang
Pagi itu, Diana Sinclair bersiap meninggalkan kehangatan istana demi sebuah janji suci di perbatasan.Ia berdiri di depan cermin besar, membiarkan Embun dan Bibi Erna memakaikan jubah luar berbahan beludru tebal berwarna merah tua. Di bagian kerahnya, bulu serigala putih memberikan kehangatan tambahan bagi lehernya yang kini terasa semakin sensitif terhadap hawa dingin. Diana menarik napas panjang, mencoba meredam rasa gatal di tenggorokannya yang seolah siap meledak menjadi batuk berdarah kapan saja. Ia telah mengonsumsi pil herbal dosis tinggi pagi ini, hanya demi menjaga agar tubuhnya tetap tegak di hadapan publik."Yang Mulia, kereta sudah siap," lapor seorang kasim dengan kepala tertunduk.Diana mengangguk pelan. Ia melangkah keluar dari kediamannya, menyusuri koridor panjang menuju gerbang utama istana. Ini adalah pertama kalinya ia melangkah keluar dari tembok perlindungan istana sejak kematian Kaisar Naga. Be
Keheningan yang mencekam menyelimuti paviliun utama setelah hiruk-pikuk tabib berakhir. Aroma anyir darah yang tadi memenuhi ruangan perlahan tersamar oleh wangi dupa gaharu yang baru saja dinyalakan oleh Embun sebelum ia diperintahkan keluar. Di atas ranjang sutra yang luas, Diana bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya masih sepucat kertas meskipun sisa-sisa darah di sudut bibirnya telah dibersihkan.Arthur berdiri di sisi ranjang. Ia masih mengenakan jubah kebesarannya yang kini ternoda bercak merah di bagian lengan—darah Diana. Tangannya yang besar terkepal erat di sisi tubuh, rahangnya mengeras hingga otot-pikirnya menonjol. Matanya yang biru gelap menatap Diana dengan campuran antara kemarahan, keputusasaan, dan ketakutan yang murni."Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?" Tanya Arthur cepat. Suaranya rendah namun bergetar hebat, menembus kesunyian ruangan seperti getaran petir sebelum badai. "Sejak kap
Kegelapan itu kembali. Kali ini terasa lebih dingin, lebih hampa, dan lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Diana merasa seolah-olah jiwanya sedang dipreteli satu per satu oleh keheningan yang absolut. Ia tidak bisa merasakan berat tubuhnya, tidak bisa mencium aroma obat-obatan yang tadi mengerumuninya, bahkan ia tidak bisa merasakan tendangan kecil di perutnya."Di mana aku?" gumamnya, namun suaranya tidak bergema. Ia hanya berupa titik kesadaran di tengah kekosongan.Tiba-tiba, sebuah titik cahaya muncul di kejauhan. Awalnya hanya seukuran jarum, namun dengan cepat membesar hingga menyilaukan mata. Cahaya itu memancar dengan warna putih keperakan yang murni, membawa serta gelombang energi yang terasa sangat familiar. Bersamaan dengan cahaya itu, sebuah suara yang sangat ia kenali—suara yang merupakan pantulan dari suaranya sendiri—terdengar memecah sunyi."Kau terlalu keras kepala, Diana. Sudah kukatakan, bukan? T
Udara di dalam Paviliun Kediaman Permaisuri terasa begitu kering, membawa aroma campuran dari rempah-rempah yang direbus dan wangi kayu cendana yang biasanya menenangkan. Namun bagi Diana, aroma itu kini hanya menambah rasa sesak di dadanya. Di atas meja jati yang luas, berbagai macam botol porselen kecil berisi pil herbal dan ekstrak tanaman penguat stamina tertata rapi. Diana memasukkannya satu per satu ke dalam kotak kayu berlapis beludru dengan gerakan yang lambat namun pasti."Uhuk! Uhukk!"Diana terpaksa berhenti. Ia memegangi pinggiran meja, tubuhnya sedikit membungkuk saat batuk itu kembali menyerang. Rasa perih menjalar di tenggorokannya, seolah ada duri yang tersangkut di sana."Yang Mulia!" Embun segera mendekat, tangannya gemetar saat mencoba mengusap punggung Diana.Di sisi lain, Bibi Erna berdiri dengan wajah yang kian hari tampak kian menua karena kecemasan yang mendalam. "Apa tidak sebaiknya
Denada membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan yang dingin di sisi tempat tidurnya. Alon sudah tidak ada di sana. Ia bangkit dari posisi meringkuknya. Tubuhnya terasa kaku, bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena ketegangan mental yang ia tahan sepanjang malam. Pakaian tidur sutranya yang robek masih tersampir di bahunya, sebuah pengingat bisu tentang betapa rendahnya harga dirinya di mata pria yang baru saja menjadi suaminya. Denada menatap kain yang terkoyak itu dengan pandangan hampa. Tidak ada air mata lagi pagi ini; yang tersisa hanyalah kedinginan yang membeku di dalam dadanya. Ia segera memanggil pelayan untuk menyiapkan pemandian. Di dalam bak kayu besar yang mengepulkan uap air hangat beraroma bunga krisan, Denada menggosok kulitnya dengan keras, seolah-olah ia bisa menghapus jejak sentuhan kasar dan aroma alkohol yang masih terasa menghantui indranya. Ia mem
Hari perjamuan pangan akhirnya tiba.Sejak pagi, Istana Kekaisaran Norvenia sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan hilir mudik membawa nampan makanan, kain meja baru dibentangkan, lentera-lentera emas digantung rapi di sepanjang koridor menuju Aula Utama.Namun bagi Diana, hari ini bukan sekadar p
Langkah Diana terasa ringan saat ia menuruni jalan menuju gedung klinik Ruyi. Pagi itu udara masih sejuk, namun semangat yang memenuhi dadanya membuat ia hampir tak merasakan dingin angin yang bertiup.Di dalam kantong kecil yang tergantung di pinggangnya tidak ada apa-apa, tetapi angka yang tersim
Harsa melangkah dengan tergesa ke halaman belakang istananya, jubah panjangnya terseret angin sore yang mulai menggigit. Langkahnya yang semula cepat perlahan melambat ketika sosok berbalut mantel putih itu memasuki pandangannya. Diana berdiri membelakanginya, rambut hitamnya terurai rapi dengan
“Bagaimana bisa Putra Mahkota diculik?!”Suara Kaisar menggema keras di aula dalam istana kekaisaran.BRAK!Telapak tangannya menghantam meja kayu ukir hingga tinta di atasnya bergetar. Wajahnya yang biasanya penuh wibawa kini tampak tegang dan panik. Garis-garis usia di dahinya semakin dalam, me







